BAB 23. Desakan Mami

1825 Words
Juda disemprot habis-habisan oleh Mami yang tampak sangat marah perkara videonya yang viral hingga keluarga besarnya yang sebagian besar tinggal di Bandung itu meneror Mami, menanyakan tentang kebenaran akan video itu. Juda sampai tidak sempat mengatakan apa pun sebagai pembelaan karena membuat Mami berada di posisi yang cukup sulit. Namun, bukan karena diomeli hingga telinga panas, yang membuat Juda terjaga semalaman penuh hingga paginya ia merasa menjadi zombie yang lupa caranya tidur. Tetapi karena Mami memaksa Juda agar membawa tawanannya—sebutan Mami untuk Danis yang kata Mami terlihat sangat pasrah di dalam video yang telah ditonton Mami—ke rumah. Jadi, begini ceritanya. Setelah hampir satu jam Mami mengomeli Juda dengan nada yang tidak mengenakkan, tiba-tiba Mami mengubah nada suaranya menjadi agak lembut. Mulanya Juda mengira bahwa Mami sudah tidak terlalu kesal akan kelakuan anak gadisnya yang membuat pusing kepala karena bertindak gila tanpa berpikir. Namun, ternyata itu hanya strategi Mami sebelum menjatuhkan bon. "Mami mau ketemu pokoknya," desak Mami dengan nada merajuk yang membuat Juda kesal setengah mati. Mami selalu saja menggunakan cara-cara yang sulit untuk ditolak. "Nggak sekarang, Mi. Dia bisa kabur kalau langsung aku bawa ke rumah buat ketemu Mami sama Papi," sahut Juda sambil menanggalkan satu per satu pakaian yang melekat di tubuhnya hingga hanya menyisakan bra dan celana dalam. Kemudian berjalan ke arah lemari baju yang berada di sisi kiri tempat tidur dan mengambil daster dari sana. "Justru itu, Ju. Mami harus ketemu dengan laki-laki itu sekarang sebelum kamu sama dia berjalan lebih jauh." Juda meletakkan ponselnya di atas tempat tidur setelah menyalakan loud speaker untuk bisa mengenakan daster—pakaian paling nyaman saat berada di kos maupun di rumah—dengan mudah. Kemudian berkata, "Mami pengen aku cepet-cepet nikah kan?" "Mami memang berharap kamu bisa segera menikah, tapi Mami juga mau kenal dulu sama laki-laki yang mau kamu nikahi. Baru setelah Mami yakin kalau laki-laki itu cukup baik buat bersanding sama kamu, Mami baru izinin kamu sama dia membicarakan masa depan kalian dengan lebih lanjut." Sejujurnya, Juda sama sekali tidak mengharapkan ini. Rasanya benar-benar menyebalkan karena dipojokkan. Juda merebahkan badan ke atas tempat tidur. Posisinya menjadi telentang menghadap langit-langit kamar. "Kalau Mami maksa aku buat bawa Danis ke rumah, mendingan aku nggak jadi jalan aja sama dia." "Berarti kamu mau Mami jodohin lagi sama anak temen Mami?" "Nggak. Mami nggak lihat kalau selama ini aku nggak pernah cocok sama semua laki-laki yang Mami pilih buat aku?" sergah Juda. "Ya udah kalau nggak mau. Makanya sekarang nurut aja apa kata Mami. Memangnya apa susahnya bilang sama dia kalau Mami mau ketemu? Ghani bilang kalau kalian dulu pernah pacaran waktu SMA. Berarti dia juga pernah main ke rumah kan?" cecar Mami. "Mami bukan mau mendesak kalian buat segera menikah atau apa. Mami cuma mau kenal aja." "Mi, aku aja belum bener-bener kenal dia lebih jauh lagi setelah ketemu lagi," keluh Juda. Ia ingat saat Danis mengatakan kepadanya dengan cukup jelas bahwa ia tidak akan langsung menemui kedua orang tua Juda. Dan Juda juga setuju bahwa tidak mau melibatkan keluarga dulu sebelum hubungan mereka benar-benar sudah jelas. Bukankah itu tujuan mereka berdua untuk satu bulan ke depan? "Please, Mami. Kasih aku waktu sebulan kalau gitu," sambung Juda. "Memangnya apa yang lagi kamu rencanakan dalam sebulan? Tolong, Ju, jangan bikin Mami jantungan lagi. Kamu mau ngelihat Mami masuk rumah sakit karena stress gara-gara kelakuan kamu?" Jantung Juda seperti tertohok oleh sesuatu yang keras. "Mami kok ngomong gitu sih?" "Hari Sabtu atau hari Minggu, Mami mau kamu pulang ke rumah sama dia," kata Mami final. Juda hampir melemparkan ponselnya karena terlalu kesal dan gemas akan sifat pemaksa Mami yang makin hari makin parah saja. "Nanti aku coba ngomong sama Danis dulu," jawab Juda dengan lesu. *** Di lain tempat, Danis sedang duduk menghadap kedua orang tuanya. Suasana di antara mereka tidak terasa cukup baik. Ada ketegangan yang mengudara, membuat ruang tamu rumah itu yang dulunya hangat dan nyaman, kini terasa dingin dan menyesakkan. Itulah kenapa Danis tidak betah lama-lama duduk di sana. Ia ingin segera pergi setelah menuntaskan apa yang harus ia ceritakan kepada kedua orang tuanya itu. "Aku pulang ke sini untuk kasih tahu Ibu sama Ayah tentang pernikahanku dengan Renata. Kami memutuskan untuk bercerai." Ibu tampak sangat kaget mendengar berita itu terucap dari bibir anak laki-laki semsta wayangnya. "Setelah kalian kawin lari tanpa restu orang tua, nggak pernah mengabari keluarga tentang keadaan kalian, kamu bisa begitu saja pulang dengan membawa surat cerai? Apa yang ada di otak kamu?!" "Ini bukan urusan Ayah!" sergah Danis. "Kamu boleh benci sama Ayah, tapi setidaknya kamu harus bisa menjaga kelakuan kamu! Kamu lupa kalau kamu sudah membuat keluarga ibumu menanggung malu karena cibiran dari sana sini?" "Lebih memalukan daripada kenyataan kalau Ayah mengkhianati kami berdua?" Setelah bertahun-tahun lamanya Danis bungkam dan mencoba untuk tidak menyinggung masalah perselingkuhan ayahnya dulu, Danis akhirnya meledak. "Kalau Ayah nggak main gila, aku sama Renata nggak perlu menjadi korban. Siapa yang membuat keluarga kita dibenci keluarga Renata? Bukan aku, tapi Ayah yang membuat aku yang akhirnya menanggung akibat dari kelakuan b***t Ayah!" Sementara Danis dan ayahnya berdebat sengit tentang siapa yang paling salah, Ibu hanya mematung di tempat. Memandangi suami dan anaknya yang sudah tidak akur selama bertahun-tahun dengan sedih. "Kamu baik-baik saja, Nak?" tanya Ibu setelah keadaan sudah cukup tenang. Ayah Danis sudah beranjak pergi entah ke mana setelah cukup muak berhadapan dengan anak laki-lakinya yang semakin hari semakin kurang ajar terhadapnya. Danis mungkin masih sangat membenci ayahnya karena kesalahannya di masa lalu. Danis juga masih merasakan kekecewaan yang mendalam terhadap ibunya karena kembali rujuk dengan ayahnya tanpa berdiskusi dengan dirinya. Namun, ia tidak bisa menunjukkannya secara langsung kepada ibunya seperti yang ia lakukan kepada ayahnya. "Aku baik-baik aja," jawab Danis dengan suara tercekat. Ia bisa dengan jelas melihat bahwa ibunya mengharapkan sesuatu darinya. Sesuatu yang tidak bisa ia berikan. "Aku tinggal sama Martin selama di sini," lanjutnya. "Kamu nggak ada niatan untuk menetap di Indonesia, Nak?" Pertanyaan itu terlalu berat untuk dijawab. Walaupun ia kemarin bisa dengan spontan berkata kepada Juda bahwa ia bisa saja tinggal di Indonesia jika hubungan mereka benar-benar bisa berjalan lancar, saat ditanya langsung oleh ibunya dengan penuh harap, Danis menjadi ragu. Apa ia bisa kembali pulang dan menetap di Indonesia? Berada di satu tempat yang sama dengan ibu, ayah, dan keluarganya yang lain, tanpa terpaksa? "Aku belum tahu. Kontrak kerja dengan perusahaan yang sekarang baru aku perbarui beberapa bulan yang lalu untuk lima tahun ke depan." "Ibu berharap kamu mau pulang ke sini, Nak." Danis bisa merasakan kerinduan yang mendalam hanya dari tatapan lembut Ibu. Membuat Danis merasakan rasa sakit yang menohok dadanya. Ia terlalu fokus dengan hidupnya sendiri di negeri orang hingga lupa bahwa selama bertahun-tahun terakhir, Ibu menunggunya untuk pulang. *** Di tempat kerja, seperti yang sudah Juda perkirakan, rekan-rekan kerjanya pun tidak membiarkan Juda melewati hari Senin dengan tenang. Mereka langsung menodong Juda tentang kelanjutan lamaran dadakannya begitu wanita itu muncul di ruang kerja mereka tadi pagi. "Lamaran lo nggak ditolak, kan?" "Kalian bentar lagi nikah, dong?" "Akhirnya Juju nggak perlu lagi dengan terpaksa ketemu laki-laki random yang dipilihin nyokapnya." "Gila, gue salut banget sama lo, Ju. Gede banget nyali lo sampe berani nembak cowok di depan banyak orang." "Pokoknya kita semua ikut seneng kalau lo akhirnya bisa ketemu sama cowok yang beneran lo mau." "Kita-kita dapet traktiran nggak nih? Buat ngerayain status Juju yang udah nggak jomlo lagi setelah dua tahun!" "Semoga yang ini nggak gagal di tengah jalan, Ju. Good luck!" Dan masih banyak lagi yang dilontarkan rekan-rekan kerjanya sepanjang pagi hingga waktu makan siang tiba. Juda tidak bisa berkonsentrasi bekerja karena rekan-rekan kerjanya tidak bisa diam. Benar-benar tidak menyenangkan menjadi pusat perhatian dan terus-menerus digoda hanya karena statusnya yang telah berubah menjadi pacar orang. "Ju, mau makan di kantin atau di mana?" tanya salah satu rekan kerjanya yang sudah menutup laptopnya dan bersiap-siap untuk makan siang. "Gue mau makan di luar sama temen gue." "Sama temen atau sama cowok lo?" godanya. "Ciye, Juju mau maksi bareng pacar barunya. Duh, jadi kangen laki gue," rekan kerjanya yang lain ikut menimpali. Juda mendengus. "Kalian nggak bosen gangguin gue?" "Baru setengah hari digodain udah nggak kuat, nih?" Juda geleng-geleng kepala. Ia beranjak dari kursi kerjanya setelah merapikan meja seraya berkata, "Terserah kalian aja. Gue duluan." Tanpa menunggu rekan-rekan kerjanya yang protes, Juda beranjak pergi ke luar ruangan. Seraya berjalan menuju ke tempat ojek online telah menunggu, Juda mengirimkan pesan kepada Danis bahwa ia sudah dalam perjalanan menuju tempat makan siang yang mereka sepakati tadi pagi. Juda memilih lokasi untuk makan siang yang tidak terlalu jauh dari rumah sakit tempatnya bekerja, tetapi juga jarang didatangi oleh dirinya dan rekan-rekan kerjanya. Sehingga ia bisa lebih leluasa saat bertemu dengan Danis. Hanya sekitar sepuluh menit perjalanan menuju lokasi. Rupanya, Danis sudah lebih dulu tiba saat Juda turun dari ojek online yang mengantarkannya ke sana dan mengabarkan bahwa ia sudah sampai. Juda masuk ke restoran yang cukup ramai itu dan langsung melihat keberadaan Danis yang cukup mencolok, karena ia menjadi satu-satunya orang yang duduk sendirian. "Hai, sorry. Udah nunggu lama?" tanya Juda begitu mendudukkan p****t di kursi. Danis menggeleng. "Baru aja sampe sini kok." Juda menghela napas lega. Pasalnya ia sempat khawatir jika Danis menunggu terlalu lama dan berujung kesal seperti kemarin. "Langsung pesan aja ya. Kamu mau makan apa?" Danis menyebutkan pesanannya tanpa berpikir lama. Juda pun langsung memilih menu yang sekiranya tidak lama disajikan. Setelah selesai memesan, Danis yang lebih dulu memulai pembicaraan dengan sedikit berbasa-basi. "Kamu kurang tidur, ya?" Mungkin memang hanya sekadar basa-basi, tetapi Juda merasa bahwa itu adalah sebentuk perhatian yang membuat jantungnya berdesir. "Balik dari ketemu kamu kemarin, aku diteror abangku sama mamiku soal apa yang terjadi." "Mereka marah?" "Lebih ke kecewa karena aku bikin masalah yang bikin mereka malu," jawab Juda dengan jujur. "Ngomong-ngomong soal Mami, Mami maksa mau ketemu sama kamu." Danis tidak bereaksi berlebihan seperti yang Juda harapkan. "Aku sih nggak keberatan." "Yakin?" Juda mengernyit. "Kayak yang aku bilang kemarin, setahun terakhir ini Mami lagi gencar-gencarnya cariin jodoh buat aku biar cepet-cepet nikah sebelum umur tiga puluh. Ketemu sama Mami itu artinya kamu harus siap ditanya banyak hal." "Nggak masalah." "Aku yang keberatan," tukas Juda. "Oke. Jadi, kamu nggak mau aku ketemu orang tua kamu, tapi orang tua kamu maksa buat ketemu aku. Kamu mau aku gimana?" "Aku keberatan, tapi nggak punya pilihan lain," keluh Juda. "Hari Sabtu atau Minggu ini Mami mau ketemu," tambahnya dengan tidak enak hati. Danis tersenyum tipis. "Kalau kamu keberatan, aku bisa bicara sama mami kamu lewat telepon aja dulu. Gimana?" "Mami maunya ketemu. Kalau enggak, katanya aku mau dijodohin lagi sama anak temen arisannya Mami." Pupil mata Danis melebar sejenak, selam sepersekian detik. "Mami kamu beneran udah nggak sabar pengen punya menantu, ya?" Juda mendengus malas. "Mami udah punya menantu dua. Udah punya cucu juga. Tapi masih belum tenang kalau anak bungsunya masih belum kawin." Danis memandang Juda dengan serius saat menyahut, "Kalau aku ketemu mami kamu dan beliau langsung meminta kita berdua buat cepet-cepet nikah, kamu siap?" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD