BAB 22. Buah dari Kegilaan [2]

1370 Words
Juda sudah sampai di indekos sejak beberapa saat yang lualu, namun ia tidak langsung masuk ke dalam kamar. Ia duduk di kursi teras yang sore itu kosong. Sejak dalam perjalanan pulang tadi, Juda terus memikirkan hubungannya dengan Danis—mendadak balikan tanpa tahu persis perasaan masing-masing. Juda sudah tidak membenci Danis seperti saat ia memutuskan laki-laki itu, yang ternyata hanya buah dari kesalahpahaman sehingga kebencian itu sudah sejak lama meluntur. Namun, Juda juga tidak yakin jika ia masih memiliki perasaan suka terhadap laki-laki itu. Bohong kalau ia tidak merasakan getaran di dadanya saat berdekatan dengan Danis dan menatap matanya. Sentuhan tangan Danis juga menggetarkan hati dan setiap inci dalam tubuhnya. Senyum menawan Danis dengan mudah membuat Juda kembali tertawan. Hanya saja Juda tidak benar-benar yakin apakah itu rasa suka yang sama seperti yang ia rasakan dulu atau rasa yang berbeda. Yang Juda tahu, ia cukup nyaman berdekatan dengan Danis. Namun, ia ragu jika Danis merasakan hal yang sama. "Kenapa Danis ngotot banget ngajak gue balikan, sih?" gerutu Juda. "Semua berawal dari kebodohan lo, Ju. Lo yang bikin Danis jadi ikut gila," Juda kembali bermonolog. "Dan lo juga semakin gila karena mau-mau aja diajak balikan," tukas Juda sambil mengantuk-antukkan kepala di atas meja. "Sekarang gue harus gimana? Kalau ternyata gue udah nggak bisa suka sama Danis kayak dulu. Kalau ternyata Danis yang masih suka sama gue. Gue harus menanggung rasa bersalah lagi?" erang Juda. Saat sedang berkutat dengan pikirannya yang sedang ruwet, Danis mengirim pesan kepadanya. Daniswara Jati Praba Ju, udah sampe di kosan? Kabarin ya kalau udah sampe Juda memandangi layar ponselnya tanpa berkedip. Rasanya seperti sudah sangat lama ia tidak mendapatkan pesan yang berisi perhatian serupa dari laki-laki yang dekat dengannya. Dan itu semakin membuat kepalanya makin terasa pening. Kenapa Danis harus menunjukkan perhatiannya? Kenapa laki-laki itu tidak bersikap cuek saja? Dengan setengah hati, Juda pun membalas pesan dari Danis itu dengan singkat, mengatakan bahwa ia sudah sampai sejak beberapa menit yang lalu. Dan tak sampai dua menit, Danis membalas pesannya. Daniswara Jati Praba Aku minta maaf kalau tadi bikin kamu nggak nyaman Aku sama sekali nggak bermaksud buat menutup diri dari kamu, Ju Aku cuma butuh waktu Please, jangan marah Juda menduga jika Danis memiliki hubungan rumit dengan mantan kekasihnya—selain dirinya—dan masih mencoba berdamai dengan masa lalunya itu. Sehingga masih belum benar-benar bisa membuka diri di hadapan Juda, yang sudah lama tidak ia temui. Juda bisa mengerti, bahwa tidak mudah membuka diri begitu saja di hadapan seseorang yang bisa dibilang masih asing. Butuh adaptasi. Juda kembali membalas pesan dari Danis, menjelaskan bahwa ia tidak marah namun ia benar-benar serius soal permintaannya agar Danis tidak menutup diri. Belum selesai mengetikkan balasan, layarnya berganti tampilan. Abang Ghani is calling..... "Halo," ucap Juda dengan hati-hati. "Bisa kamu jelasin ke Abang soal foto sama video yang barusan Abang kirim? Itu benar-benar kamu dan bukan cuma editan?" Suara Ghani, kakak pertama Juda, terdengar cukup serius. Laki-laki itu bahkan tidak berbasa-basi sama sekali. "Iya. Itu aku. Tadi malam waktu di reuni," jelas Juda. "Astaga, Juju," erang Ghani, yang membuat Juda meringis kecil. "Apa yang sebenarnya kamu pikirkan? Berapa kali Abang bilang kalau kamu harus berhenti bersikap kekanak-kanakan? Jadilah dewasa, Ju. Kamu udah bukan anak kecil lagi. Kalau kamu marah sama Mami karena dijpdoh-jodohin sama anak temen Mami, nggak perlu balas dengan cara begini. Coba kamu tengok di grup keluarga besar, mereka semua membicarakan kamu. Kamu bikin Mami malu." Juda mendadak panik. Grup keluarga besarnya memang sejak siang tadi cukup ramai, yang biasanya dalam satu hari tidak akan lebih dari 50 pesan masuk. Hari ini sampai ratusan bahkan mendekati seribu. "Mami baik-baik aja, kan?" "Kamu bisa tanya sendiri ke Mami." Samar-samar terdengar suara tangis dari seberang telepon yang semakin lama semakin jelas. Juda langsung tahu bahwa keponakannya sedang menangis. Ghani membisikkan sesuatu yang kemudian meredam tangis keponakan Juda itu dengan mudah. Selama itu pula, Juda tidak memutus sambungan telepon mereka begitu saja karena ka tahu bahwa abangnya masih jauh dari kata selesai. "Sampai mana tadi?" Suara Ghani kembali menyapa telinga Juda. "Keponakan aku kenapa nangis?" Juda bertanya balik. "Lagi agak demam." "Udah dibawa ke dokter, kan?" Juda cukup dekat dengan anak laki-laki Ghani yang baru berusia empat tahun itu. Mendengar bahwa keponakannya sakit membuat Juda jadi cemas. "Udah. Cuma agak susah kalau mau minum obat," jelas Ghani. Kemudian mengalihkan pembicaraan, kembali ke topik awal. "Kamu sama laki-laki di video itu benar-benar serius atau cuma main-main? Kalian pernah pecaran?" Sesi interogasi ini pasti akan memakan waktu yang lama. Juda pun beranjak dari teras untuk masuk ke dalam kamar sambil menjawab pertanyaan Ghani. "Mantan pacarku waktu SMA," jawab Juda jujur. Ia sedang tidak berada di posisi yang cukup baik untuk bisa menutup-nutupi apa yang telah ia perbuat. "Kamu serius mau menikah dengan dia?" tanya Ghani. "Nggak tahu." "Kenapa nggak tahu?" "Ya karena aku agak setengah mabuk waktu ngomong begitu," gerutu Juda lebih ke dirinya sendiri. Ghani langsung meradang. Terdengar jelas saat ia berkata, "KAMU MABUK?! Berapa kali Abang bilang supaya kamu nggak bermain-main sama alkohol?" "Aku nggak beneran mabuk, Bang. Itu cuma kiasan. Jangan galak-galak, dong," Juda merajuk. Ia merebahkan tubuh di atas ranjang. Matanya menatap langit-langit kamar, pikirannya melayang ke mana-mana. "Jadi, kenapa kamu mengajak laki-laki itu menikah? Jangan bilang kalau kamu mau buat kesepakatan dengan laki-laki itu untuk membuat Mami berhenti jodoh-jodohin kamu?" "Mana ada! Abang kira drama Korea?" "Juda, Abang serius!" seru Ghani yang terdengar gemas terhadap dirinya. "Bagaimana kamu akan menyelesaikan masalah yang kamu perbuat ini? Mau bilang apa ke keluarga besar kita?" "Nanti aku pikirin." "Nanti? Seharusnya kamu udah mikir—" "Aku bakal urus masalah ini sama Danis. Lagian aku nggak perlu jelasin ke keluarga besar kita, biar mereka berasumsi sendiri. Mau aku jelasin sampai capek juga mereka masih bakal ngatain aku begini begitu." "Danis laki-laki yang ada di video itu? Mantan pacar kamu yang kamu putusin waktu kelulusan kamu dulu? Yang kamu tangisin berhari-hari sampai nggak doyan makan?" "Nggak usah diingetin!" Ghani tiba-tiba tertawa. "Nyali kamu besar juga ngajak mantan balikan setelah kamu putusin bertahun-tahun lalu." Juda mengerang. Benar-benar tidak menyenangkan memiliki saudara yang terlalu dekat dengannya hingga setiap hal yang ia lakukan selalu menjadi perhatian yang terkadang baginya terasa terlalu berlebihan. Terlebih tentang yang satu itu. Juda sama sekali tak menyangka jika Ghani masih ingat tentang Danis, yang memang sempat ia tangisi selama berhari-hari. "Kalian balikan?" "Iya," jawab Juda. Tidak ada alasan untuk tidak jujur mengenai hal ini. "Danis mau balikan sama kamu?" Juda berdecak. Suara Ghani terdengar begitu meremehkan dirinya. "Aku nggak sejelek itu buat jadi pacar kali." "Emangnya Danis nggak dendam ya?" Juda sudah sangat terbiasa dengan sikap kakak pertamanya yang bisa dengan cepat berubah. Sedetik yang lalu benar-benar serius menginterogasi dirinya. Dan di detik selanjutnya laki-laki itu mulai menggodanya. "Kayaknya dia masih mau dekat sama aku karena berniat balas dendam," sahut Juda bercanda. Kemudian terdengar helaan napas. "Abang udah kasih tahu Haikal buat nggak nelpon kamu juga. Tapi siap-siap aja kalau dia tiba-tiba muncul di kos kamu." Haikal adalah kakak kedua Juda yang berkali-kali lebih protektif terhadap Juda. Juda bisa membayangkan bagaimana reaksi kakak laki-lakinya itu saat tahu bahwa dirinya membuat masalah dengan melibatkan seorang laki-laki. Entah Juda yang akan diomeli habis-habisan, atau malah Danis yang akan menjadi sasaran Haikal nantinya. "Maaf, Bang. Aku nggak bermaksud bikin Mami, Papi, dan kalian malu." "Lain kali berpikir dulu sebelum bertindak," nasihat Ghani. "Iya." Juda mengangguk-angguk meski Ghani tidak melihat langsung. "Titip kiss kiss buat Nakula. Semoga keponakan aku cepet sehat," sambung Juda. Beberapa saat kemudian panggilan telepon itu berakhir. Juda kembali membuka ruang obrolannya dengan Danis dan sudah ada beberapa pesan baru dari laki-laki itu. Daniswara Jati Praba Please, Juju Jangan marah Juda tersenyum tipis. Hanya dari pesan singkat itu Juda bisa tahu bahwa Danis sudah cukup panik karena ia tidak kunjung membalas pesan laki-laki itu padahal sudah membacanya sejak beberapa saat yang lalu. Juda pun kembali mengetikkan pesan bahwa ia tidak marah dan mengatakan bahwa mereka perlu membahas tentang perkara 'membuka diri' besok saat mereka bertemu lagi. Setelah membalas pesan Danis, Juda memutuskan untuk menghubungi Mami untuk memastikan bahwa Mami tidak syok berat karena tingkah anak gadisnya yang membuat geger seluruh keluarga. "SIAPA YANG NGAJARIN KAMU JADI BAR-BAR BEGITU?!" semprot Mami dengan sangat nyaring yang langsung membuat Juda mengelus dadanya karena terkejut. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD