BAB 21. Make it Right

1960 Words
"Ju, kenapa bengong, sih?" Juda tergagap saat Danis menegurnya serta memegang tangannya yang berada di atas meja. Segala ingatan saat kali pertama ia bertemu dengan Danis langsung buyar dari pikirannya. Dengan canggung Juda menarik tangannya yang berada di genggaman tangan Danis dan meletakkannya di pangkuan. "Kenapa, Ju?" tanya Danis lagi. Juda memaksakan sebuah senyum tipis untuk menepis kecanggungan yang sepertinya hanya ia rasakan seorang diri. Ia masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi hingga pikirannya melayang ke mana-mana. "Aku ngerasa aneh aja. Ini... kayak nggak nyata." Mendengar jawaban itu, Danis mengulas senyum. Senyum yang persis seperti yang pertama kali disuguhkan Danis saat perkenalan mereka bertahun-tahun yang lalu. Senyum yang membuat Juda jatuh hati. Dengan mudahnya menyingkirkan Pandu, idolanya saat masih sekolah dulu, dari hatinya. Juda tidak pernah mengakui hal ini di depan Danis karena ia memiliki gengsi yang cukup tinggi. Setiap kali Danis bertanya tentang apa yang membuat Juda suka kepadanya—kenapa lebih memilih dirinya ketimbang melanjutkan kekagumannya kepada Pandu atau memacari laki-laki populer lainnya, Juda selalu mengelak dan mengalihkan pembicaraan. Hingga hari ini, Juda cukup yakin bahwa Danis masih belum tahu apa yang membuatnya jatuh hati pada laki-laki itu dulu. "Rasanya emang terlalu aneh, sih," gumam Danis. "Padahal kita baru ketemu lagi tadi malam. Dan kita sekarang di sini, kayak nggak pernah pisah selama bertahun-tahun." Juda menatap Danis dengan penasaran. "Kamu selama ini kayak sengaja menghilang. Tapi kenapa tiba-tiba muncul di reuni?" "Banyak hal yang terjadi setelah hari kelulusan," jawab Danis. Namun, hanya sampai di situ saja. Ia tidak menjelaskannya lebih lanjut. "Dan ini kebetulan aja aku lagi ambil cuti, terus dipaksa sama Martin buat dateng ke reuni. Tapi, kalau boleh jujur, aku datang ke reuni dengan harapan bisa ngelihat kamu lagi." Mata Juda melotot hingga hampir keluar dari sarangnya. "Kamu... apa?" Danis kembali tersenyum. "Aku terus-menerus kepikiran soal Ema yang tiba-tiba ngontak Martin buat cari aku. Aku ngerasa ada yang aneh, kenapa Ema ngundang aku ke nikahannya? Padahal kan aku nggak dekat sama Ema. Aku kenal dia cuma karena aku pacaran sama kamu. Martin bilang kalau Ema kemungkinan cuma bohong soal itu. Aku jadi mikir kalau bisa jadi kamu yang nikah..." Penjelasan itu entah kenapa membuat jantung Juda bergetar. Saat itu, Juda berpikir bahwa Danis hanya tidak ingin berhubungan kembali dengan orang-orang di masa lalunya. Sengaja tidak mau bergabung di grup angkatan, tidak memiliki sosial media, dan tidak memberikan nomor ponselnya kepada siapa pun kecuali Martin seorang. Sehingga saat Danis menolak memberikan nomor ponselnya saat Ema meminta lewat Martin, Juda sudah menganggap bahwa Danis benar-benar harus disingkirkan dari pikirannya. Agar tidak mengganggu kehidupan percintaannya yang selalu kacau. "Kalau aku yang nikah, kamu mau dateng emangnya?" Danis mengendikkan bahu. "Kalau aku kebetulan lagi di Indonesia, aku bakal dateng sih. Tapi, aku pikir kamu nggak akan ngundang aku." "Emang enggak," sahut Juda. "Ngapain juga ngundang orang yang tinggalnya nggak di sini." Jawaban itu lebih ketus dari yang Juda kira. Namun, Juda adalah Juda. Tidak akan mengoreksi ucapannya meski tahu bahwa ia bisa saja membuat orang lain kesal karena keketusannya. Namun, Danis pun seperti masih cukup terbiasa dengan sosok Juda yang seperti ini. "Boleh aku tahu, kenapa Ema cari aku? Kamu tahu sesuatu?" Pundak Juda menegang. Ia mengerang dalam hati. Tentu saja Danis akan bertanya-tanya tentang hal itu. Tentu saja Danis tidak akan diam saja karena keanehan itu. Dan Juda tidak mungkin bisa mengarang alasan karena ia akan langsung ketahuan jika berbohong. "Sejujurnya, aku yang cari kamu," ucap Juda tanpa mengalihkan tatapan dari Danis yang terus memperhatikan dirinya. Danis tidak tampak terkejut mendengar jawabannya. Entah karena laki-laki itu bisa menyembunyikan perasaannya dengan baik atau kenyataan itu memang tidak begitu mengejutkan. Dari tatapannya hanya terlihat bahwa laki-laki itu menunggu penjelasan Juda lebih lanjut. Seolah momen ini memang sudah ia tunggu-tunggu sejak lama. Dan seolah dihipnotis, Juda tidak bisa untuk tidak mengungkapkan denga jujur tentang apa yang selama ini ia rasakan. "Seperti yang aku bilang, aku mau menyelesaikan apa pun yang mengganjal di hati aku selama bertahun-tahun. Dan yang aku tahu, aku harus memulai dari kamu. Aku selalu ngerasa walaupun kita udah putus, kita belum benar-benar selesai. Ada sesuatu yang menahanku di masa lalu. Yang membuat aku nggak pernah bisa berhubungan dengan seseorang dalam jangka waktu yang lama..." "Sejak dulu kamu begitu, bahkan sebelum pacaran sama aku," komentar Danis. Juda tidak menyangkal hal itu. "Awalnya aku juga ngira kalau aku belum benar-benar berniat berhubungan serius dengan siapa-siapa, makanya aku selalu gagal punya hubungan yang jangka panjang. Tapi lama-lama aku sadar, setelah berkali-kali putus dari cowok, kalau aku membatasi hati aku karena aku nggak percaya sama mereka. Sama kayak yang aku lakukan dulu ke kamu. Aku mendepak kamu gitu aja dari hidupku karena aku nggak percaya sama kamu." "Dan sekarang kamu percaya sama aku?" Juda tidak langsung menjawab. Karena ia sendiri pun belum memikirkan tentang itu hingga Danis bertanya. Apa sekarang ia percaya kepada Danis sehingga mau kembali bersama meski sadar bahwa dulu mereka gagal karena tidak ada rasa percaya yang mampu membuat Juda bertahan? Atau hanya karena terdesak di dalam masalah yang ia buat, sehingga sulit menolak Danis saat laki-laki itu memojokkan dirinya agar mau kembali bersama? Juda gamang. Benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Karena ia memang tidak tahu apakah dirinya bisa begitu saja percaya kepada sosok Danis yang telah lama menghilang. Terlalu banyak hal yang tidak ia ketahui soal Danis. Juda pun seketika sadar, bahwa belum saatnya ia memberikan jawaban itu. Tidak untuk sekarang. Ia perlu waktu untuk memikirkan hal ini sendirian. "Soal Laras, aku minta maaf," kata Juda tanpa menjawab pertanyaan Danis. Dan pernyataan itu yang akhirnya memunculkan kekagetan di wajah laki-laki itu. "Kamu berubah. Kamu kayak bukan Juju yang aku kenal dulu," tutur Danis. Juda harus bersyukur karena berhasil mengalihkan pikiran Danis sehingga ia tidak harus menjawab pertanyaan Danis sebelumnya. "Aku bilang juga apa. Kita udah nggak sama kayak dulu lagi." "Kita mungkin jadi lebih dewasa seiring bertambahnya usia, karena tuntutan kehidupan juga, tapi akan selalu ada sifat-sifat dan kebiasaan yang nggak pernah bisa lepas dari kita gitu aja," ujar Danis dengan serius. "Aku cuma nggak nyangka aja kalau kamu udah nggak sejudes dulu." "Kayaknya itu sekarang malah melekat di diri kamu," ujar Juda sewot. "Aku sama sekali nggak ingat kalau kamu dulu segalak yang sekarang. Kamu juga jadi pemaksa, padahal seingatku kamu dulu nggak begitu." Danis hanya tertawa. "So, how's life, Danis?" tanya Juda kemudian. Setelah berdebat sejak semalam. Terus-menerus mengelak dan berusaha mendepak Danis, yang berujung kegagalan, akhirnya ia bisa menanyakan ini. Pertanyaan yang seharusnya ia lontarkan semalam saat menghampiri laki-laki itu, bukannya malah menciptakan keributan dengan mengajak laki-laki itu kembali bersama. Tawa Danis perlahan mereda, hingga sesaat kemudian lenyap tak bersisa. "Seperti yang kamu lihat," jawab Danis. "Aku baik-baik aja. How about you?" Danis bertanya balik. Sama sekali tidak menjelaskan apa pun. Danis benar-benar tidak terlihat mau bercerita lebih banyak. Juda tidak ingin memaksa. Hanya saja, ada sesuatu yang seolah ingin Danis sembunyikan darinya. Tentang segala hal yang dilewati laki-laki itu setelah mereka berpisah. Sesuatu yang tidak boleh Juda tahu. *** Danis sepenuhnya sadar bahwa ia tidak seharusnya melakukan ini. Bahwa apa yang ia perbuat dengan setengah memaksa Juda agar mau benar-benar kembali bersamanya adalah sebuah kesalahan besar yang tidak seharusnya ia lakukan. Seharusnya ia mendengarkan apa kata Martin agar tidak melibatkan Juda dalam hidupnya yang sedang kacau balau karena itu hanya akan membuat segalanya semakin rumit jika Juda pada akhirnya tahu tentang dirinya dan tentang statusnya yang pernah—masih menikah. Tetapi, Danis tidak bisa berhenti begitu saja. Berada dalam jarak yang begitu dekat dengan Juda membuatnya menyadari bahwa sejak dulu ia selalu menyimpan Juda di sudut paling dalam di hatinya. Danis ingin egois dengan membawa Juda kembali masuk ke dalam hidupnya. "Hidupku juga gini-gini aja," cerita Juda yang menyentak Danis yang pikirannya mulai ke mana-mana. "Ngomong-ngomong, ini mungkin bakal terdengar menyedihkan, tapi aku lagi di fase jenuh banget karena hampir setiap jam diteror Mami karena aku nggak nikah-nikah." "Jangan bilang ini ada hubungannya sama apa yang kamu lakukan semalam?" Juda meringis. "Sedikit. Tapi ada hal lain yang bikin aku bertindak segila itu." "And... what is that?" "Rahasia," jawab Juda sambil tersenyum misterius. Kemudian wanita itu mengalihkan pembicaraan." By the way, kamu mungkin pengen tahu ini. Aku nggak melanjutkan mimpiku buat jadi dokter." "You don't?" Juda menggeleng. "Aku anak akuntansi. Dan sekarang kerja jadi akuntan di rumah sakit." Danis mengerling geli. Meski dulu mereka tidak terlalu banyak bicara soal mimpi—perkenalan mereka dan juga hubungan mereka terlalu singkat—mereka sama-sama tahu mimpi masing-masing. Juda selalu ingin menjadi dokter setelah ia menjalani operasi usus buntu. Sementara itu, Danis selalu ingin menjadi diplomat. "Aku juga nggak berhasil meraih mimpi. Aku kerja jadi senior consultant sekarang." Keduanya pun larut begitu saja membicarakan tentang pekerjaan dan keseharian mereka masing-masing. "Let's make it right," ucap Danis setelah mereka cukup lama berbincang. "Kita manfaatkan waktu satu bulan ke depan untuk saling mengenal lebih dalam." Juda menatap Danis dengan serius. "Kalau kamu benar-benar mau kita melakukan itu, kamu juga harus membuka diri, Danis." Kening Danis mengernyit dalam. "Maksud kamu?" "Aku nggak tahu apa yang terjadi sama kamu selama sepuluh tahun terakhir." "Kenapa kamu mau tahu?" tanya Danis spontan. Juda menggeleng-gelengkan kepala. "Pertanyaan kamu aneh. Apa kamu mau kita memulai ini lagi seolah-olah sepuluh tahun berpisah nggak ada apa-apa?" "Kita sama-sama melanjutkan hidup," sahut Danis yang semakin merasa bersalah. Karena satu hal yang ia sembunyikan dari Juda, tentang statusnya saat ini, membuat dirinya tidak bisa leluasa bercerita tentang dirinya sendiri. Ia harus menata satu demi satu cerita dengan hati-hati hanya agar tidak menyinggung soal kisah cintanya dengan Renata yang berakhir menjadi mimpi buruk dalam hidupnya. "Jadi, cuma aku aja yang tertahan dengan perasaan campur aduk karena masa lalu. Sedangkan kamu bisa melanjutkan hidup dengan normal." "Nggak gitu, Ju." "Menurut aku begitu," balas Juda dengan ketus. Menyadari bahwa atmosfer yang mengelilingi mereka tidak terlalu baik, Danis mencoba mengais alasan. Namun, apa yang harus ia utarakan? Bahwa ia punya istri yang sebentar lagi akan ia ceraikan? Danis tidak bisa mengatakan itu. Ia tidak bisa memutus hubungan dengan Juda setelah bisa membuat wanita itu mau kembali bersamanya. "Kamu pikirkan lagi aja dulu," tukas Juda yang sudah bersiap-siap untuk pergi. "Kalau kamu mau kita menjalani hubungan ini dengan benar. Kalau kamu udah cukup dewasa, aku yakin kamu juga akan sadar kalau tanpa saling jujur tentang perasaan kita masing-masing selama beberapa tahun terakhir, kita nggak akan bisa lanjut ke mana-mana. Hubungan ini nggak akan ada artinya." "Juju..." "Aku pulang dulu." Juda berdiri dari tempat duduknya dan Danis langsung menyusul seraya menyambar pergelangan tangan Juda. "Aku antar," katanya. Juda menarik tangannya, berusaha lepas dari genggaman tangan Danis. "Emangnya kamu bawa kendaraan sendiri ke sini?" Danis menggeleng. Sudah bertahun-tahun meninggalkan Jakarta, ia tidak terlalu ingat jalanan. Serta melihat kemacetan dan ketidaktertiban orang-orang yang menggila di jalanan, membuat Danis memilih mencari jalan aman dengan naik taksi. "Kita pulang sendiri-sendiri aja," putus Juda. Tidak terlihat mau dibantah. Danis pun pasrah. Tidak mau memaksa Juda yang terlihat badmood. "Kita ketemu lagi besok?" "Aku besok kerja." Danis lupa bahwa di sini Juda punya kehidupan sendiri. "Kalau kamu mau dan nggak sibuk, kita bisa makan siang bareng," kata Juda lagi. Danis langsung mengangguk antusias. "Ada beberapa hal yang harus aku urus, tapi aku nggak sibuk. Aku bisa samperin kamu ke tempat kerja." "Jangan!" seru Juda dengan cepat. "Kita janjian di luar aja. Aku nggak mau jadi pusat perhatian di kondisi kayak gini." Danis mengerti. Orang-orang terdekat mereka sedang heboh membicarakan tentang kegilaan mereka berdua. Dan bukan tidak mungkin jika foto dan video mereka sudha tersebar hingga ke teman-teman kerja Juda. Saat mereka berjalan ke luar kafe, ponsel Danis yang berada di saku celana bergetar. Danis membukanya dan mendapati beberapa pesan dari Renata—yang sejak Danis mendarat di Indonesia terus-terusan mengirimkan pesan yang isinya hampir sama kepadanya. Renata I miss you, Danis Please, aku mohon sekali lagi Jangan ceraikan aku ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD