Setelah menyusul Ema memasuki ballroom, ia mendapat sambutan yang cukup heboh dari beberapa teman yang cukup ia kenal yang juga menjadi panitia acara reunis selain Ema. Mereka berpelukan dengan agak dramatis. Namun, tidak ada yang sempat menggodanya karena mereka sedang cukup sibuk mendengarkan briefing dari ketua panitia acara, Fikri sang mantan ketua OSIS pada zamannya. Walaupun tidak ditunjuk menjadi panitia sejak awal, Juda tetap menawarkan diri jika mereka membutuhkan tambahan tenaga untuk menyukseskan acara hari ini.
Selepas maghrib, mendekati waktu acara yang dimulai jam tujuh, teman-teman seangkatannya satu per satu datang. Dan seperti yang sudah Juda perkirakan, sebagian besar teman yang dulu menjadi ‘bestie’ di masa SMA mereka yang datang bersama pasangan maupun yang datang sendirian−Juda menjadi sedikit lega karena ternyata cukup banyak yang datang tanpa bersama pasangan−langsung bertanya hal yang sama saat pertama melihat Juda.
“Pacar lo sekarang siapa?”
Semacam itulah pertanyaannya.
Seharusnya, itu bukan pertanyaan yang menyinggung karena selama mereka saling mengenal, tak satu kali pun Juda tidak punya pacar.
“Gue aslinya males dateng ke reuni tuh ya karena gue udah tahu kalau kalian pasti bakal nanya itu,” jawab Juda dengan agak jutek.
“Makin dewasa bukannya jadi lemah lembut, malah makin judes ini anak,” komentar Monica, salah satu temannya. Nadanya bercanda. Dan tidak ada alasan bagi Juda untuk tidak menganggapnya begitu.
“Bisa-bisa kalian kena serangan jantung kalau ngelihat gue jadi lemah lembut,” sahut Juda sambil mengendikkan bahu.
“By the way, mau sampai kapan lo cuma menclok sana menclok sini, Ju? Apa nggak capek ganti-ganti pacar mulu kayak ganti baju? Nggak ada niatan buat nikah?”
Nah, kalau yang barusan itu adalah pertanyaan super sensitif. Tidak tahu saja kalau Juda sedang stress karena tidak kunjung mendapatkan si jodoh yang bisa ia nikahi.
Juda tersenyum kecut. Ia tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapan teman-temannya. Tetapi pada dasarnya ia memang menyedihkan. Temannya tidak salah jika menganggap Juda tidak pernah serius. Karena bisa dibilang memang begitu. Selalu ada alasan untuk menolak setiap laki-laki yang mendekatinya, seolah tidak ada yang benar-benar membuatnya puas.
Belum sempat Juda menimplai pertanyaan itu, Monica tiba-tiba mengibas-ngibaskan tangan dengan heboh sambil memekik tertahan, “OMG, itu Larasati! Makin glowing aja si Laras setelah kawin.”
Mata Juda langsung awas. Ia mengikuti arah pandang Monica dan teman-temannya yang lain yang juga penasaran dengan sosok Laras.
Selain menghadapi teman-teman yang nyinyir soal kesuksesan dalam hal mendapatkan pasangan dan jenjang karir yang mumpuni, datang ke reuni juga artinya harus siap menghadapi masa lalu yang tidak terlalu menyenangkan. Salah satunya adalah perkara ini. Ah, bukan. Terutama karena ini.
Ada sejarah yang tidak terlalu menyenangkan antara Juda dan Laras. Atau setidaknya menurut Juda. Laras adalah alasan terbesar Juda memutuskan Danis dengan kejam. Singkatnya, dulu Juda pernah tak sengaja memergoki Danis dan Laras sedang berpelukan di taman belakang sekolah beberapa minggu setelah ujian akhir selesai. Saat itu Danis sudah menjadi pacar Juda selama hampir tiga bulan. Itu adalah momen terburuk bagi Juda selama masa SMA-nya selain fakta bahwa ia pernah di-bully di sekolahnya yang lama.
Juda terlalu patah hati hingga tidak menanyakan secara langsung kepada Danis tentang kejadian hari itu. Juda merasa sangat dikhianati. Tidak menyangka bahwa Danis bisa sebegitu tega membuatnya remuk dan membuatnya kehilangan rasa percaya. Dan setelah air mata yang ia habiskan di dalam kamar untuk menangisi Danis, Juda kembali ke sekolah dengan membawa kemarahan di dalam hatinya. Maka, Juda menghimpun kebohongan dengan meminta beberapa temannya untuk bersandiwara bersamanya. Juda ingin menyakiti Danis dengan cara yang lebih jahat, yaitu dengan menyebarkan desas-desus bahwa ia hanya memacari Danis untuk sebuah taruhan. Dan tepat di hari kelulusan, Juda menegaskan kepada Danis bahwa taruhan itu benar. Bahwa ia tidak benar-benar menyukai Danis. bahwaia tidak benar-benar tulus menjadi pacar Danis. Yang menyakitkan adalah bahwa Danis dengan legowo menerima setiap kata yang Juda lontarlan kepadanya.
Walau sudah sepuluh tahun terlewati, nyatanya masih ada kobar api di hati Juda jika mengingat hari itu.
“Kalau nggak pernah ada kesalahpahaman antara lo, Danis sama Laras, kira-kira lo sama Danis masih bisa bertahan sampai berapa lama ya dulu?”
Dan itu adalah pertanyaan paling bodoh yang Juda dengar hari ini.
“Nggak usah berandai-andai, Mon.”
“Lo masih sakit hati?”
Juda memutar bola mata. “Gue cuma nyesel aja kenapa dulu gue bertindak t***l kayak gitu. Buat apa juga gue pura-pura bikin taruhan cuma buat putusin Danis. yang ada malah gue jadi kelihatan kayak pecundang.”
“Wow, easy girl. Kita dulu masih bocah, Ju. Lebih sering bertindak karena perasaan daripada pake logika.”
Seolah perbincangan itu masih belum cukup untuk membuat Juda merasa buruk. Salah satu temannya mendadak menyinggung soal Grita, teman seangkatan mereka yang dulu sangat membenci Juda karena track record-nya dalam menggaet cowok-cowok populer di sekolah. Sebelum Juda pindah ke sekolah mereka, ada Grita yang sebut saja menjadi ‘ratu’ di angkatan mereka. Cantik, kaya, dan berkelas. Para kaum adam memuja Grita. Dan Grita yang memang tahu bahwa penggemarnya banyak, menjadi sombong dan sesumbar. Ia hanya memacari cowok yang ia anggap setara dengannya. Di saat ia sedang berada di puncak kejayaannya, memacari Fikri, sang ketua OSIS yang juga memiliki prestasi gemilang di bidang akademik, kemudian datanglah Juda. Yang tiba-tiba merebut ketenaran Grita dengan memacari kakak kelas yang kepopulerannya melebhi snag ketua OSIS. Saat itulah mendadak ada kubu Juda dan kubu Grita.
Seperti ada tarikan magnet, orang yang sedang mereka bicarakan muncul dari pintu ballroom hotel dengan menggandeng seorang laki-laki. Seketika itu jantung Juda mencelus. Laki-laki yang digandeng Grita sama sekali tidak asing bagi Juda. Laki-laki itu yang baru seminggu yang lalu ia temui dan ia kenal lewat dating app. Guntur.
“Gila, suaminya hot banget!”
Pekikan tertahan itu menghantam Juda hingga ia hanya bisa terpaku menatap ke arah Grita dan Guntur yang juga menjadi pusat perhatian hampir semua mata. Telinga Juda berdenging.
Suami katanya? Juda benar-benar merasa sangat bodoh sekarang. Ia dan Ema tidak hanya satu kali membahas tentang kemungkinan bahwa Guntur akan menjadi pasangan paling potensial yang pernah Juda miliki. Namun, semudah itu juga khayalan itu sirna. Digantikan rasa jijik kepada dirinya sendiri yang dengan bodohnya terperangkap dalam jerat laki-laki peselingkuh. Juda sama sekali tidak menyangka jika acara penting yang dimaksud Guntur adalah acara yang sama dengan acara yang Juda datangi. Acara penting yang harus didatangi Grita, yang juga menjadi penting bagi Guntur sebagai suami.
“Grita pernah nggak ya deket sama cowok jelek?” gumam salah satu teman Juda.
“Gue yakin nggak pernah. Buat seorang Grita pasti yang pertama dilihat dari cowok ya penampilan luarnya. Wajahnya, pakaiannya, mobilnya,” jawab Monica.
“Mitos banget kalau orang-orang bilang ‘cewek cantik sukanya sama cowok jelek tapi tajir. Buktinya si Grita selalu dapet yang ganteng dan tajir. Semesta selalu berpihak sama cewek cantik. Kita mah apa, cuma butiran debu. Punya pasangan serba pas-pasan dari segi materi sama tampang.”
Juda ingin muntah mendengar setiap kata yang diucapkan teman-temannya. Ia merasa prihatin untuk dirinya sendiri dan untuk Grita. Sosok Guntur yang terlihat sempurna, nyatanya hanya seonggok sampah yang menjijikkan. Di balik senyum menawannya, di balik keramahannya, ia menyimpan racun yang membunuh.
Juda sudah ingin kabur mencari Ema yang sejak tadi berkeliling menyapa teman-temannya sambil memastikan bahwa acara berjalan dengan baik. Di saat yang sama, saat mata Juda masih sesekali terpaku pada Grita dan Guntur yang tampak serasi, tak sengaja ia melihat sosok yang tidak ia bayangkan akan hadir di sana.
Danis. Daniswara. Mantan kekasihnya. Yang sejak tadi menjadi perbincangan paling disukai teman-temannya. Laki-laki itu berdiri di dekat pintu bersama Fikri−bukannya bersama Martin yang Juda tahu bahwa hanya laki-laki itu yang masih berhubungan dengan Danis selama bertahun-tahun belakangan−yang merangkul pundak Danis dengan akrab.
Juda yakin. Amat sangat yakin bahwa Danis sempat melihatnya. Bahkan cukup lama memandangi dirinya. Namun, kemudian laki-laki itu berpaling dan melangkah pergi bersama Fikri menuju genk-nya di masa SMA dulu, yang saat ini bergerombol di pojok ruangan. Di dekat panggung di mana sebuah band sedang tampil membawakan lagu-lagu jadul bertema persahabatan.
“Gue ke toilet dulu,” kata Juda. Dengan cepat ia beranjak dari tempatnya duduk, tanpa menghiraukan seruan Monica yang memintanya untuk kembali ke sana dan tidak kabur begitu saja.
Isi kepala Juda sedang sangat ruwet sekarang. Ia membutuhkan udara segar. Ia harus pergi ke suatu tempat yang tidak membuat dadanya sesak. Namun, seolah tidak dapat mengalihkan pikirannya dari Danis, yang mendadak muncul setelah bertahun-tahun tidak pernah kembali, Juda tidak bisa pergi begitu saja. Juda merasa kalau ini satu-satunya kesempatan untuk menyelesaikan urusannya, seperti yang pernah ia katakan kepada Ema yang sempat ia paksa untuk mendapatkan nomor ponsel Danis yang tentu saja gagal didapat.
Dengan langkah-langkah lebar, Juda berjalan ke arah gerombolan laki-laki yang kini heboh menyambut Danis. Detak jantung Juda berkejaran dan seolah menggila seiring semakin dekatnya ia dengan mereka.
***
“Gila, Man! Gue kira bisik-bisik tetangga yang bilang kalau Danis muncul d reuni cuma halu doang. Ternyata beneran. Welcome home, Bro!”
Salah satu kawan menyambutnya dengan sangat ramah. Memberikan pelukan yang sama dengan yang diberikan Fkiri tadi. Kemudian, teman-temannya yang lain juga melakukan hal yang sama.
Sambutan hangat itu benar-benar terasa melegakan dan membuat Danis menyesal karena melupakan mereka selama berthun-tahun terakhir.
“Lo dikasih pelet apa sama si Martin sampai mau diseret ke sini?”
Danis tertawa ringan. Datang ke reuni seolah memberinya ruang yang cukup untuk bernapas, meninggalkan sejenak masalah rumah tangganya yang berantakan. “Gue kebetulan lagi mabil cuti.”
“Udah ketemu Juju?”
Pertanyaan itu seharusnya tidak boleh dilontarkan.
“Tadi udah lihat, lagi ngobrol sama temen-temennya,” jawab Danis jujur. Karena memang hanya itu yang terjadi. Ia hanya melihat Juda drai kejauhan dan memutuskan untuk tidak menyapanya. Lebih tepatnya karena ia tidak tahu harus bersikap seperti apa jika berhadapan dengan Juda.
“Ngomong-ngomong, ngelihat lo nggak bawa gandengan, boleh dong gue berasumsi kalau lo lagi sendiri?” tanya salah satu teman Danis. “Ada kemungkinan balikan sama Juju nggak nih? Gue lihat dia juga nggak bawa gandengan.”
Danis tampak sangat tidak nyaman dengan pertanyaan frontal itu.
“Juju masih single tuh kayaknya,” cetus Fikri. “Banyak yang udah coba ngajak ngobrol dia dari tadi. Kalau gue perhatiin, banyak yang masih berharap bisa luluhin Juju.”
“Nggak heran sih. Gue kalau nggak ingat temenan sama Danis, udah gue gebet tuh si Juju. Makin seksi aja dia.”
“Gimana, nih, lo kasih restu buat temen lo atau enggak, Dan?”
Danis mengernyit. “Restu buat apa?”
“Deketin Juju. Boleh nggak nih? Kalau boleh mau langsung gue gas mumpung ada kesempatan.”
Danis melirik Martin yang ternyata juga sedang melirik dirinya. Dan tidak alasan bagi Danis untuk menutup-nutupi tentang kehidupannya selama ini. Tidak ingin membuat Martin terus-terusan menjadi perantara yang hanya bisa setengah-setengah menyampaikan kabar Danis kepada teman-temannya. Untuk menghentikan pembahasan tentang Juda yang mulai tidak terkendali, ia perlu membuat klarifikasi.
“Gue sebenernya−”
Baru dua kata yang terucap dari mulut Danis saat pergelangan tangannya ditarik dari belakang disusul dengan namanya yang terucap merdu oleh sosok yang sedang diperbincangkan teman-temannya.
Dan belum sempat Danis berkata-kata, ia sudah dibungkam dengan kalimat yang dilontarkan Juda. Mengagetkan setiap telinga yang mendengar pernyataan gamblang yang menggegerkan itu.
“Danis, ayo kita balikan!”
Tidak hanya sampai di situ saja, Juda memangkas jarak hingga tubuhnya hampir tidak berjarak dengan Danis.
“What are you doing?” Danis berusaha menjadi pihak yang waras di sini.
Namun, di depannya kini, Juda tampak sangat tegang dan serius. Matanya seakan menunjukkan sebuah tekad besar. Dan hal ini membuat Danis tidak bisa berpaling.
Waktu seolah melambat. Dan tanpa persetujuan Danis, Juda merangkum wajah laki-laki itu dengan luwes seolah sudah sering melakukannya dan sedetik kemudian wanita itu menciumnya tepat di bibir.
Membuat setiap mata yang memandang semakin geger. Di antaranya ada yang memekik girang, ada yang terlalu kaget hingga tak bisa berkata-kata, dan yang paling syok dari mereka adalah Danis.
Danis tidak pernah menyangka jika datang ke reuni malah menjadi bencana.
***