Meski Ema berkata sejak jauh-jauh hari−sebenarnya hanya berjarak satu minggu sebelum acara−bahwa keduanya akan datang bersama-sama ke reuni dan meminta Juda untuk tidak terlalu memikirkan soal tidak memiliki gandengan, Juda tetap saja kepikiran. Hingga keduanya meninggalkan gerbang indekos Juda dan bergabung dengan kendaraan-kendaraan di jalanan kota metropolitan yang sore itu ramai lancar, wanita itu masih saja tidak bisa tenang. Justru ia malah dilanda kepanikan yang berlipat ganda.
Ema, walaupun tidak membawa gandengan tetap bisa tenang karena statusnya jelas. Ia punya pacar−Astu, kekasih Ema adalah seorang offshore engineer yang bekerja di pengeboran minyak lepas pantai yang hanya pulang tujuh bulan sekali−yang sudah bersamanya hampir empat tahun. Jadi, sudah pasti Ema tidak akan menjadi bahan empuk untuk diperbincangkan selama acara. Sedangkan Juda, ia tidak punya pacar. Ia adalah seorang jomblo menyedihkan yang masa depan percintaannya suram. Mengingat track record-nya yang cukup menakjubkan di masa SMA-nya, Juda tahu betul, bahwa dirinya akan menjadi bulan-bulanan hari ini.
“Udah santai aja,” ujar Ema yang fokus menyetir mobilnya sambil sesekali melirik Juda yang gelisah di kursi penumpang di samping kirinya. “Lo tinggal cerita kalau lo udah taken sama si Guntur. No pressure. Toh, walaupun lo sama dia baru sekali ketemu, kalian bakal jadian juga pada akhirnya. Nggak bakal ada yang nyudutin lo. Gue yakin serratus persen.”
Juda mendengus. “Gue udah bilang sama lo kalau lo jangan sok jadi peramal.”
Ema sedikit menaikkan kecepatan mobilnya saat jalanan mulai sedikit lengang setelah berbelok ke kiri di sebuah pertigaan jalan. “Gue nggak lagi ngeramal. Gue cuma kasih tahu fakta yang pada akhirnya nanti bakal kejadian juga. Kemarin-kemarin kan lo juga optimis banget kalau sama Guntur rasanya paling tepat buat lo setelah sekian lama mencari.”
Juda tidak menimpali apa-apa karena sibuk berkutat dengan pikirannya yang berkelana dengan tak tenang.
Ah, jika saja Guntur bisa datang bersamanya. Sudah pasti ia bisa lebih santai. Karena meskipun belum resmi menjadi pasangan, setidaknya ia menggandeng seseorang yang bisa melibas pertanyaan-pertanyaan kejam terkait jodoh dan pernikahan−yang hampir selalu menjadi tolok ukur kesuksesan dalam hidup bagi banyak orang. Sayangnya, Guntur benar-benar tidak bisa datang. Bahkan di beberapa kesempatan saat mereka berkirim pesan−masih melalui kolom chat di Tinder−Juda sempat dengan samar menyinggung tentang acara reuninya, namun Guntur tak lantas merelakan acaranya sendiri dan mengalah untuk menemani Juda.
Juda tak punya waktu untuk kecewa karena ia masih berpegang pada wejangan Ema bahwa ia tidak boleh dengan mudahnya terbawa perasaan karena seseorang yang baru dikenalnya, apalagi baru sekali ia temui. Namun, tidak ada waktu untuk mencari gandengan baru. Kecuali jika benar-benar terpaksa harus ‘menyewa’ gandengan untuk satu malam saja. Tentu saja hal ini ditentang oleh Ema habis-habisan. Katanya terdengar sangat menyedihkan. Seolah kehidupan percintaan Juda masih belum cukup menyedihkan saja.
Itulah mengapa, Juda mau tidak mau datang bersama Ema. Tentu saja menyesuaikan jadwal Ema, yang datang satu jam lebih cepat sebelum acara dimulai. Karena para panitia memang harus mengurus banyak hal lebih dulu demi kesuksesan acara reuni yang mereka gelar itu. Reuni akbar pertama di angkatan mereka yang digelar sepuluh tahun setelah lulus dari SMA mereka itu.
“Menurut gue, ini cuma soal waktu,” ucap Ema bersamaan dengan saat mobilnya mendekati hotel tempat diadakannya acara reuni akbar itu. “Jangan pesimis gitu lah, Ju. ”
“Gue deg-degan banget, Em.” Entah mengapa, Juda malah menjadi semakin tidak tenang. Tidak hanya perkara tidak punya pasangan yang bisa digandeng ke acara reuni, tetapi juga karena ada hal lain yang mengganjal di hatinya. Namun, Juda tidak tahu karena apa.
Ema memutar bola mata. “Nggak ada waktu buat galau, Juju. Lima menit lagi kita sampai dan gue butuh lo buat jadi Juju yang selama ini gue kenal,” ujar Ema dengan gemas. “Asli deh, gue kangen lo yang super pede. Yang cuek dan nggak peduli apa kata orang. Yang paling judes dan galak tapi banyak cowok yang suka. Be that super cool girl, Ju. I really miss the old you. C’mon!”
Juda sekali lagi mendengus. Entah sudah berapa kali dengusan yang terlontar sejak ia memasuki mobil Ema tadi. “Gue udah lupa sama jati diri gue. Gue nggak tahu gimana caranya jadi cewek super jutek dan galak.”
“Tuh, tuh, nada suara lo udah mulai balik jadi Juju yang gue kenal,” seru Ema dengan cukup puas.
Juda menaikkan satu alis. “Gue nggak ngerasa ada bedanya,” cetus Juda selanjutnya.
“Lo emang nggak terlalu peka, sih, dari dulu. Jadi wajar aja kalau lo kadang nggak sadar udah bikin anak orang nangis gara-gara lo jutekin.”
Kalau perkara itu, Juda mulai cukup peka setelah bertahun-tahun belajar dan terus belajar mengontrol kata-katanya. Dulu, sebelum ia pindah ke sekolahnya yang baru−di mana ia mulai mengenal Ema, mengenal cinta rasa suka terhadap lawan jenis, dan hingga akhirnya mengenal Danis−Juda masih terlalu sulit mengendalikan diri. Namun, di sekolah baru, karena ia diterima dengan sangat baik, Juda bisa menjadi dirinya yang apa adanya. Tidak ada pem-bully dan penindas yang mengucilkan dirinya hanya karena ia dikenal dengan pribadi yang jutek dan galak−dan selebihnya canggung jika tidak didekati lebih dulu−sehingga Juda benar-benar bisa menunjukkan warna dirinya tanpa merasa tersisihkan.
Mobil yang disetiri Ema tiba di hotel beberapamenit kemudian. Dan Juda sudah tidak punya waktu untuk kabur, seperti yang sejak tadi terus menghantui kepalanya.
“Thanks, karena lo nggak kabur,” cetus Ema saat keduanya melangkah ke ballroom hotel dengan kaki-kaki ramping berbalut high heels.
Juda melirik Ema dari samping sambil terus berjalan. “Kalau gue kabur, lo bakal musuhin gue atau enggak?”
“Gue doain lo masih bakal jadi perawan sampai lima tahun ke depan,” jawab Ema dengan sadis.
Meski bercanda, Juda ngeri membayangkan jika dalam lima tahun, yang artinya ia sudah akan menginjak usia 33 tahun. Masih perawan di umur menjelang 35, atau itu berarti Juda masih belum menikah juga, tentu saja menjadi momok menakutkan.
“Amit-amit. Gue jauh lebih ikhlas jadi bahan bully-an anak-anak hari ini ketimbang ngebayangin gue masih harus berhadapan sama nyokap gue ceramah soal jodoh sampe lima tahun ke depan.
Ema mungkin sedang membayangkan hal itu karena sekarang ia tertawa cukup keras. “Lo lebih takut ngebayangin tiap hari denger omelan nyokap lo soal jodoh daripada kenyataan kalau lo masih perawan?”
“Kampret suara lo kenceng banget!” sergah Juda. “Sorry to say, tapi gue nggak akan kemakan bujukan setan. Gue nggak minat seks bebas.”
Ema masih tertawa. “Padahal kalau lo mau, malem ini gue jamin ada nggak cuma satu orang yang pasti punya harapan besar buat bisa ngajak lo ngamar di hotel ini.”
Mata Juda hampir copot mendengarnya.
“Gue kasih bocoran dikit, deh. Selama gue ketemu sama temen-temen kita buat nyusun acara reuni kita, lo hampir selalu jadi topik yang dibahas.”
Juda langsung merasa pening. Sisa-sisa ‘kejayaannya’ saat SMA ternyata masih belum hilang. Ia masih populer. Sesuatu yang berkonotasi agak tidak menyenangkan sebenarnya. Karena Juda populer sebagai si judes penakluk para cowok keren semasa SMA mereka. Padahal, Juda hanya punya empat mantan termasuk Danis saat SMA. Namun, tetap saja, track record-nya itu memang susah dilupakan.
“Lo nggak ikut ngomongin gue, kan? Awas aja!” ancam Juda dengan galak.
Ema meringis lebar. “Gue cuma bilang ke mereka kalau lo berlipat-lipat kali lebih hot ketimbang waktu kita masih sekolah dulu.”
Mata Juda sekali lagi melotot. “Kurang ajar lo!”
Juda sudah akan menggebuk lengan Ema karena kesal dengan sahabtnya itu, namun tidak sempat karena mereka sudah sampai di ballroom. Ema melesat masuk dengan setengah berlari sambil tertawa tanpa dosa.
Sementara itu, Juda memilih berjalan pelan sambil mengatur napas sebelum menghadapi teman-teman lamanya di dalam sana.
***
Karena Danis menutup diri dari teman-teman SMa-nya sejak kuliah di Belanda, terkecuali Martin, sama sekali tidak ada yang tahu kehidupan laki-laki itu selama sepuluh tahun terakhir. Danis menolak saat diundang untuk bergabung di grup angkatan. Bertahan untuk tidak mengikuti perkembangan dengan membuat media sosial meski berkali-kali didorong oleh Martin yang begitu giat meng-update rutinitasnya di i********: maupun melalui cuitan di Twitter.
Saat memutuskan menikah dengan Renata, tanpa restu dari kedua belah pihak keluarga, ia dan Renata hanya menggelar syukuran kecil. Itu pun hanya dengan beberapa kenalan yang tidak sampai sepuluh orang, yang mereka undang untuk makan malam di apartemen lama Danis. Martin juga salah satu yang diundang. Danis yang mengakomodasi tiket PP dari Indonesia ke Belanda untuk sahabatnya itu.
Martin adalah teman yang setia, yang bertahun-tahun menjadi penyimpan rahasia yang cukup apik, melindungi privasi sahabat karibnya. Setiap ada kawan yang bertanya tentang kabar Danis kepada Martin, pada tiga tahun pertama, Martin mengabarkan kalau Danis sibuk beradaptasi dengan tempat baru di bangku perkuliahan. Di tahun selanjutnya, Martin menjawab kalau Danis sudah lulus S1, mendahului teman-temannya yang masih penasaran dengan kehidupan laki-laki itu, kemudian langsung melanjutkan S2 sehingga belum akan kembali ke Indonesia dalam waktu dekat. Saat di tahun-tahun berikutnya masih ada yang bertanya, Martin selalu menjawab bahwa Danis sudah makmur dan hidup bahagia di Belanda. Tidak pernah ditambah info lain.
Dan jika ada yang bertanya apakah Danis sudah menikah, Martin hanya akan menjawab jika tidak ada kesempatan bagi para kaum hawa yang sejak masa SMA menaruh perasaan kepada Danis, untuk mendekati laki-laki itu. Ada yang berasumsi bahwa Danis masih single, sedang menikmati masa-masa jayanya di dalam urusan karir dan percintaan yang tak mengikat. Ada juga yang beranggapan bahwa Danis sudah menikah−yang memang benar adanya, itulah mengapa Martin berkata tidak ada kesempatan lagi bagi para wanita untuk mendekati Danis. Yang paling menarik perhatian, yaitu saat ada yang berasumsi bahwa Danis belum move on dari Juda. Sang mantan kekasih yang memutuskan dirinya tepat di hari kelulusan mereka.
“Lo beneran nggak pernah bikin gosip jelek soal gue, kan?” Danis memicing penasaran.
Danis dan Martin dalam perjalanan dari parkiran menuju ballroom hotel tempat diadakannya acara reuni.
Martin, yang pada akhirnya memilih untuk datang tanpa pasangan−katanya agak kasihan jika membiarkan Danis yang sudah lama menghilang itu muncul sendirian di tengah-tengah teman mereka dan terlihat menyedihkan−tersenyum misterius.
“Gue serius, Tin.”
“Gue nggak punya bahan gosip yang bisa gue sebarin ke temen-temen kita selain kenyataan kalau lo sama Juda pernah pacaran,” kata Martin dengan enteng. “Ngomong-ngomong, itu masih jadi bahan gosip yang nggak bakal habis dibaicarain selama kita-kita belum pikun. Kalian legend banget, sih.”
Danis seketika mendesah. “Emangnya kalian nggak ada bahan gosip yang lebih bagus?”
“Banyak. Tapi kalian tetap jadi bahan gosip paling seru. Orang-orang nggak pernah bosen ngebahas masa lalu.”
“Gue nyesel udah nurutin lo dateng ke sini,” keluh Danis.
“Gue bisa nebak kalau malam ini bakal ada banyak pasangan yang ribut setelah balik dari reuni. Bakal ada banyak juga yang end up check in di hotel ini.”
Danis paham betul apa yang dimaksud Martin. Selain sebagai ajang pamer kehidupan mereka setelah ‘berhasil’ menjadi orang sukses menurut tolok ukur masing-masing, acara reuni tidak akan lepas dari mengenang kembali momen-momen penting hingga hal-hal sepele yang terjadi semasa sekolah dulu, yang masih membekas di ingatan.
Yang rentan terjadi adalah CLBK atau cinta lama belum kelar, bagi mereka-mereka yang pernah terlibat dalam hubungan percintaan, atau yang dulu kisahnya belum terwujud karena terhalang gengsi sebab malu mengakui perasaannya sendiri, dan kisah-kisah asmara lain yang belum selesai. Di acraa reuni yang belum tentu akan diadakan lagi dalam beberapa tahun mendatang, tentu saja momen ini menjadi kesempatan yang tidak akan mereka sia-siakan, bagi mereka yang punya nyali untuk jujur pada perasaan mereka sendiri.
Danis dan Martin sampai di depan ballroom beberapa saat kemudian.
Di depan ballroom, ada dua orang teman seangkatan mereka yang bertugas menjaga buku tamu. Danis tidak benar-benar dekat dengan mereka, namun ia ingat pernah satu organisasi dengan keduanya. Mereka adalah mantan pengurus OSIS. Sama seperti dirinya dulu.
Dan kedatangannya bersama Martin seperti tidak pernah terbayangkan oleh mereka yang begitu takjub melihat dirinya, seperti sedang melihat setan tetapi dalam bentuk yang tidak terlalu menyeramkan.
Seolah memastikan bahwa ia memang sosok yang selama ini telah menghilang seperti ditelan bumi, dua orang itu memastikan dengan mata yang tak lepas dari buku tamu saat Danis menuliskan namanya di sana.
“Lo beneran Danis? Daniswara?” tanya salah satu dari mereka seolah masih tak percaya melihat dirinya ada di sana.
Danis mendongak setelah selesai menuliskan namanya dalam tulisan yang serupa ceker ayam dan menyunggingkan senyum mafhum. “Iya, ini gue. Danis. Gue juga masih inget kalian berdua. Melisa sama Adel, kan?” tuturnya dengan ramah.
Dua teman yang Danis sebut Melisa dan Adel itu setengah memekik. Dengan heboh menyalami Danis−melupakan Martin yang memlilih melenggang masuk terlebih dahulu.
Danis masuk tak lama kemudian setelah berbasa-basi singkat dengan Melisa dan Adel.
Laki-laki itu sempat terpaku sejenak di depan pintu saat memasuki ballroom yang ditata sedemikian rupa hingga terasa begitu hangat dan familiar. Sudah cukup banyak orang yang hadir di sana. Danis tidak menemukan Martin yang entah sudah kabur ke mana. Namun, seolah merasakan tarikan magnet yang begitu besar, matanya terpaku pada satu sosok wanita yang duduk manis yang sedang berbincang dengan sekelompok teman di salah satu meja bundar yang tertata di sana.
Juda. Atau yang selama ini akrab di telinganya adalah Juju. Sang mantan. Yang dulunya hanya seorang remaja SMA yang masih begitu belia, begitu polos, kini telah tumbuh menjadi sosok wanita dewasa yang menakjubkan. Danis sampai lupa mengambil napas.
Bahkan, setelah sepuluh tahun berlalu, efek yang ditimbulkan oleh Juda pada jantungnya masih sama. Jantungnya seperti ditabuh bertalu-talu. Danis menjadi tidak yakin apakah selama ini ia benar-benar sudah move on dari mantannya itu.
“Ngelihatin mantan nggak usah sampai ngiler gitu, dong!”
Teguran itu menyentak Danis. Ia menoleh dan mendapati Fikri, sang ketua OSIS, merangkul lehernya dengan akrab. Seolah sepuluh tahun yang sudah lewat tanpa pernah saling berkabar itu tak jadi masalah.
Dan Danis pun merasakan hal yang sama. Sambutan yang hangat itu membuat hatinya bergetar. Ia balas merangkul Fikri dan mereka berpelukan singkat.
“Man, di Belanda nggak ada matahari apa gimana, sih? Bening banget lo! Parah!” seru Fikri melihat Danis yang kulitnya terlihat lebih bersih jika dibandingkan saat masih SMA dulu.
Danis mendengkus malas. Ia yakin tidak ada yang banyak berubah selain tubuhnya yang lebih berisi dan tegap karena rajin berolahraga. Warna kulitnya juga tidak mendadak berubah menjadi putih hanya karena tidak banyak terpapar matahari selama tinggal di Belanda jika dibandingkan dengan saat tinggal di Indonesia.
“Lo mau nyamperin temen-temen lo yang udah nggak sabar ketemu sama lo, atau mau nyamperin Juju dulu?”
Danis tidak langsung menjawab. Ia melarikan pandangan ke arah Juda. Yang saat ini sedang tertawa−suaranya memang tidak terdengar karena jarak yang cukup jauh, diselingi dengan suara musik dan obrolan teman-temannya yang lain, namun Danis masih ingat suara tawa Juda, yang mengejutkan dirinya.
Ia sudah akan kembali menoleh untuk memberikan jawaban kepada Fikri saat dalam sepersekian detik kemudian Juda menemukan tatapannya. Dan kedua bola mata Juda seketika membeliak. Seolah sedang melihat sosok yang tidak ia inginkan berada di sana.
Apakah penglihatannya nyata? Atau ia hanya salah mengartikan jenis tatapan Juda kepadanya?
Danis tidak ingin semakin banyak menerka. Ia berpaling dari Juda secepat yang ia bisa dan langsung memberikan jawaban yang sudah ditunggu-tunggu Fikri dengan tidak sabar.
***