BAB 11. Teman Kencan

1922 Words
Mengenal Guntur selama satu minggu membuat Juda serasa kembali ke masa-masa SMA, saat ia baru pertama mengenal rasa suka terhadap lawan jenis. Ia begitu bersemangat setiap memulai hari—bahkan di hari Senin yang sangat ia dan sebagian besar orang benci—menunggu-nunggu pesan ucapan selamat pagi dari Guntur, mengobrol sebentar sebelum berangkat ke kantor. Awalnya, Juda tidak terlalu yakin. Namun, mengingat ia tidak punya banyak waktu menjelang acara reuni yang tinggal seminggu lagi dan juga berkat Ema yang gigih mendorong dan menyemangati, Juda mau tidak mau meyakinkan diri bahwa tidak ada salahnya untuk bertemu dengan Guntur setelah beberapa kali laki-laki itu mengajaknya bertemu. Hari ini, sepulang ia dari tempat kerja, Juda datang ke tempat yang ia dan Guntur sepakati untuk bertemu. Juda tiba lima belas menit lebih awal dari janji yang mereka sepakati. Di sebuah kedai kopi—yang tidak hanya menyuguhkan kopi, tetapi juga makanan yang menggugah selera—yang cukup terkenal. Sore itu tidak terlalu ramai. Juda datang bersama Ema. Yang dengan sedikit memaksa—tipikal seorang Juda—meminta Ema untuk menemani dirinya. "Lo kelihatan banget lagi gugup," cetus Ema. Menyeruput es kopinya dengan cukup kuat karena dahaga yang menyerangnya. Cuaca hari ini memang sedang panas-panasnya hingga sebentar-sebentar membuat kerongkongan kering. Juda melirik Ema dengan malas. Sejak dalam perjalanan menunju kedai kopi itu—Ema terlebih dahulu menjemput Juda ke tempat kerjanya—tak henti-hentinya ia digoda oleh Ema yang tampak lebih bersemangat ketimbang Juda. "Gimana kalo si Guntur ternyata freak dan nggak sesuai foto yang selama ini dia pajang?" "Gampang. Tinggal unmatch dia dari Tinder. Terus nggak perlu ketemu lagi setelah hari ini," sahut Ema ringan. Jawaban itu sangat tidak memuaskan. "Gimana kalau ternyata dia penipu?" Ema pun menatap Juda dengan serius. "Makanya gue dari awal udah ngewanti-wanti, jangan oversharing sama orang yang baru lo kenal, jangan kasih tahu alamat rumah dan alamat tempat kerja, jangan kasih nomer hape pribadi lo, sebelum lo bener-bener yakin kalau orang yang lo kenal itu bukan penipu." "Em, banyak penipu ulung yang berkeliaran di mana-mana. Lo nggak bakal tahu kalau doi penipu sebelum lo ngerasain ditipu," tukas Juda yang terlihat semakin panik. "Ju, lo datang ke sini bukan buat ngeluh dan curhat ke gue soal keraguan lo ke teman kencan lo hari ini. Oke? Santai aja, nggak usah panik gitu," ujar Ema. Berusaha menenangkan Juda. "Mana bisa nggak panik. Astaga, gue harusnya nggak nurutin usul lo main Tinder. Harusnya gue uninstall aja dari awal," keluh Juda. Ema tertawa. "Nggak usah lebay, deh. Percaya sama gue kalau kencan hari ini bakal berjalan lancar. Date lo bukan ornag yang freak, bukan penipu, dan lo bakal suka sama dia." Juda mengerang kecil. "Lo bisa ngomong gitu karena bukan lo yang mau ketemu orang asing karena desperate pengen punya pasangan yang bisa diajak ke reuni dan bisa dikawinin." Ting! Layar ponsel Juda menyala. Satu notifikasi masuk. Guntur mengiriminya pesan singkat melalui kolom chat di Tinder. Mengabari bahwa laki-laki itu sudah hanpir sampai dan akan tiba dalam sepuluh menit. Guntur 10 menit lagi saya sampai sana Maaf ya agak telat, di sini agak macet Selama seminggu terakhir, Juda selalu terkesan dengan setiap kata yang Guntur rangkai dalam pesan-pesan yang terkirim untuknya. Padahal kata-katanya selalu sederhana, tetapi Juda seolah kena pelet karena merasa bahwa kata-kata sederhana itu indah. Membuat jantungnya berdesir. Benar-benar seperti remaja yang baru pertama tahu rasanya menyukai lawan jenis. Mendebarkan dan membuat senyum dengan mudahnya terukir di wajah. Masih dengan senyum yang tak sadar telah menghiasi wajah, Juda memberikan balasan singkat bahwa ia sudab berada di tempat bersama seorang teman. "Yang katanya panik, tapi baca chat-nya langsung mesem-mesem," gerutu Ema yang tidak bisa menahan kegelian. Juda tak menggubris Ema yang kembali melontarkan godaan demi godaan. Belum ada sepuluh menit saat seorang laki-laki yang mirip sekali dengan foto Guntur yang dipasang di profil Tinder-nya—memasuki kedai kopi dengan langkah-langkah mantap. "Orangnya udah dateng, Em," pekik Juda tertahan. Ema mengikuti arah pandang Juda ke arah pintu. Hanya ada satu orang yang baru saja masuk dan berjalan mendekat ke arah tempat Juda dan Ema duduk. "Gue cabut sekarang?" tanya Ema. Juda tidka langsung menjawab karena bersamaan dengan Guntur yang melihat ke arahnya dan menyunggingkan senyum. Juda balas tersenyum. Guntur tidak memalsukan foto di profil Tinder-nya. Setidaknya satu hal sudah terkonfirmasi bahwa laki-laki itu bukan penipu. "Gue pindah ke situ aja," kata Ema sbil menunjuk kursi yang masih kosong, yang berada cukup jauh dari tempat mereka duduk saat ini. Juda menoleh. "Oke. Wish me luck." Ema geleng-geleng kepala. Meraih gelas panjang berisi es kopi miliknya dan meninggalkan Juda beberapa saat sebelum teman kencan Juda sampai di tempatnya duduk. "Hai, kamu benar Juda, kan? Teman kencan saya hari ini?" Juda mengangguk pasti. Kemudian mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Guntur. "Betul. Kamu persis dengan yang ada di foto." Guntur tersenyum. "Kamu juga. Menurut saya, kamu lebih cantik aslinya." Gombal abis! Namun, Juda tetap menyukainya. Juda memang cantik dan ia cukup percaya diri hari ini dengan penampilannya. Mendapatkan pujian terang-terangan dari Guntur membuat dirinya semakin percaya diri. Ia sudah merias diri dengan riasan tipis, mengenakan pakaian rapi dan wangi yang sengaja ia bawa ke tempat kerja. Karena tidak mungkin ia bertemu teman kencannya dengan mengenakan pakaian kerja yang pastinya sudah penuh keringat dan apek karena dipakai seharian untuk bekerja. "Yang tadi itu teman kamu?" Juda mengangguk. "Maaf kalau itu mengganggu kamu. Saya baru sekali ini kenalan dengan orang lewat dating app, jadi saya sengaja mengajak teman." Guntur mengibaskan tangan di depan wajah. "Santai aja. Saya malah berniat berterima kasih ke teman kamu karena mau menemani kamu ketemu saya." Guntur memesan makanan dan minuman setelah menawari Juda. Juda berkata bahwa ia sudah lebih dulu pesan dan tinggal menunggu makanannya diantarkan—sementara itu, minumannya sudah lebih dulu diantar beberapa saat lalu. Keduanya pun mulai mengobrol ringan. Saling bertukar kabar dna cerita tentang kegiatan mereka hari ini. Guntur adalah lulusan psikologi yang saat ini bekerja di bagian Human Resource di sebuah kantor yang bergerak di bidang finance yang berada di daerah Sudirman. Hari ini, ia banyak bercerita kepada Juda tentang pekerjaannya itu. Tentamg bagaimana ia bertemu dengan banyak orang dengan berbagai karakter saat mewawancarai para pelamar pekerjaan di kantornya. Sesuatu yang sangat laki-laki itu sukai. Bekerja dan bertemu dengan banyak orang adalah hal yang tampaknya memang sangat sesuai dengan pribadi Guntur yang hangat, ramah, namun juga serius di saat yabg bersamaan. Guntur juga bercerita tentang struggle-nya sebagai seorang perantau sejak masa kuliah. Bagaimana laki-laki itu merangkak dan memulai karir dari titik nol hingga bisa sampai di titik ini. Di mana ia sudah cukup sukses dalam karirnya. Yang membuat Juda sangat terkesan. Laki-laki itu memiliki cara pandang kehidupan yang luas dan dewasa. Bukan seorang penganut paham patriarkis—yang dihindari Juda. Tidak terlibat dalam kegiatan politik. Bukan anak mami—Juda teringat saat berkencan dengan salah satu anak dari teman arisan Mami yang amat sangat manja—sudah terbukti bahwa laki-laki itu pekerja keras "Nggak ada rencana buat pulang kampung?" "Maksudnya bekerja di sana?" Juda mengangguk. Guntur tersenyum tipis, matanya menerawang, sebelum menjawab, "Saat saya memutuskan untuk merantau ke Jakarta, saya juga sudah berkomitmen pada diri saya sendiri kalau ada kemungkinan untuk menetap di sini atau bahkan bisa jadi malah ke luar negeri—saya sejak dulu bercita-cita ingin bekerja dan tinggal di Singapura. Jadi, jawabannya tidak. Kebetulan saya juga sudah punya rumah di sini." Usia Guntur saat ini 32 tahun. Bekerja sejak usia 22 tahun tepat setelah ia lulus kuliah. Saat itu, ia tidak punya tabungan sama sekali, bahkan ia sempat harus menumpang di kontrakan temannya karena diusir dari indekos lamanya karena berkali-kali telat membayar. Berdasarkan cerita laki-laki itu, keluarganya yang tinggal di Yogjakarta lumayan berkecukupan. Namun, memang dasarnya Guntur ingin berproses menjadi dewasa tanpa membebani orang tua, sehingga saat sedang kesulitan keuangan, laki-laki itu tidak mau merepoti ayah dan ibunya. Ah, lagi-lagi Juda terkesan. Jika dipikir-pikir lagi, belum ada satu pun hal jelek yang dapat Juda temukan pada laki-laki ini. Tadi, saat pelayan mengantarkan pesanan, Guntur bersikap ramah, tidak lupa mengucapkan terima kasih setelah semua pesanannya di hidangkan. Tindakan kecil yang normal yang terkadang dilupakan oleh orang-orang. Juda bisa melihat kalau Guntur benar-benar memperlakukan setiap orang dengan cara yang sama. Ramah dan menghargai. "Sebenarnya saya agak nggak enak mau bilang ini, tapi saya butuh teman untuk menghadiri acara reuni. Hari Sabtu depan, kamu senggang atau nggak?" tanya Juda dengan agak sungkan saat kencan mereka sore itu hampir berakhir. "Haru Sabtu ya...." Guntur mencoba mengingat-ingat sambil mengutak-atik ponsel untuk mengecek agendanya. "Saya bisa kalau acaranya pagi atau siang. Sore sampai malamnya saya sudah ada acara lain," sambung laki-laki itu yang sudah kembali meletakkan ponselnya dan menatap Juda. Juda seketika lemas. Ia sama sekali tidak memikirkan kemungkinan bahwa ajakannnya untuk kencan selanjutnya ditolak. Entah karena laki-laki itu memang sudah ada acara atau karena tidka berminat untuk melanjutkan perkenalan mereka dengan kembali bersua. Guntur tampak tak enak hati melihat gestur Juda. Dan ia pun langsung berucap, "Maaf, Juda. Kalau saja saya bisa membatalkan acara saya untuk menemani kamu, pasti saya akan lakukan. Tapi sayangnya saya tidak bisa. Acaranya cukup penting." Juda menggeleng. Kemudian tersenyum tipis, menghapuskan raut kecewa yang sempat membayangi wajah. "Kamu nggak perlu minta maaf. Ini bukan masalah besar." Senyum pun kembali mewarnai wajah Guntur. "Mungkin kita bisa ketemu lagi di lain waktu? Hari Minggu-nya saya free. Mau jalan-jalan? Saya tiba-tiba pengen main ke Dufan." Meski pikirannya bercabang—memikirkan acara reuni dan ajakan kencan Guntur—Juda masih bisa memfokuskan diri pada laki-laki itu. "Saya cukup takjub karena laki-laki dewasa seperti kamu pengen main ke Dufan," unar Juda dengan jujur. Guntur tertawa. "Sejauh yang saya tahu, tidak ada batasan umur untuk pengunjung di Dufan. Jadi, bukan masalah bukan? Atau kamu pengen ke tempat lain?" Juda menggeleng. "Dufan is fine." "Great. So, kita ketemu lagi minggu depan." "Kita ketemu lagi minggu depan." Mungkin karena alasan kesopanan atau masih ingin menjaga jarak aman, Guntur tidak menanyakan nomor telepon Juda atau menanyakan tentang alamat tempat tinggalnya. Alasan apa pun itu, Juda bersyukur karena ia juga belum berminat memberikan nomor ponsel pribadinya di hanya karena satu kali kencan mereka berhasil. Mereka pun berpisah setelah mengobrol panjang selama satu jam. Satu jam yang tidak pernah sedikit pun terasa canggung. Karena Guntur selalu bisa menghidupkan suasana menjadi menyenangkan. Setelah Guntur lebih dulu pamit, Juda bergegas menghampiri Ema—yang sedang mengobrol dengan salah satu pelayan dengan seru. Ema yang melihat Juda berjalan ke arahnya langsung terlihat heboh. "How is he?" "Dari tampangnya sih udah jelas ya. Oke punya Gorgeous abis. Badannya juga bikin gue nyebut mulu." Juda bersemangat sekali. "Dia juga enak diajak ngobrol. Beneran sama persis kayak yang gue bayangin." "Udah yakin kalau dia bukan penipu?" tanya Ema dengan kerlingan jail. "Gue yakin 80% kalau dia bukan penipu," ujar Juda dengan cukup yakin. "Wow. Berarti kalian bakal lanjut kan? Lo ajak ke reuni atau enggak?" "Gue ajakin, tapi katanya udah ada acara." "Wait, itu maksudnya nggak lanjut atau gimana?" "Gue nggak tanya sih acaranya dia apa, yang kelihatannya emang penting banget, tapi dia ngajak ketemu hari Minggu-nya." "Wow... dan lo mau?" "Gue sih mau, tapiiii gimana sama reuni besok?" Juda tampak memelas. Ema mengibas-ngibaskan tangan. "Kan gue juga nggak bawa gandengan. Kita berangkat bareng aja lah." "Lo nggak punya gandengan pun udah pada tahu kalau lo ada pacar, Em," gerutu Juda dengan lesu. "Lo juga bisa bilang kalau lo punya gebetan. Kalian ada foto bareng atau nggak tadi?" "Kagak lah! Mana kepikiran?" "Biasanya orang-orang yang suka pamer gitu nggak bakal lupa update status. Apalagi lo tadi kencan sama cowok super hot!" "Justru karena dia super hot, makanya gue lupa diri!" "Sableng!" Ema tertawa terbahak-bahak. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD