Setelah mulai kuliah di Belanda, Danis hanya beberapa kali pulang ke Indonesia. Kepulangannya dalam sepuluh tahun terakhir bisa dihitung jari. Dan selalu hanya orang-orang terdekatnya yang tahu. Salah satunya Martin. Bukan karena ingin menjadi sok misterius seperti kata Martin. Namun, karena ia sedang berusaha untuk melupakan banyak hal menyesakkan yang terjadi di tanah kelahirannya itu.
Yang pertama adalah karena perceraian orang tuanya yang membuat hidupnya menjadi tak sama lagi. Dan alasan yang kedua karena Juda, mantan kekasihnya yang membuat hatinya patah.
Orang tuanya mengikrarkan perceraian saat Danis pulang membawa berita kelulusan bersamkaan dengan saat Danis mengais-ngais sisa-sisa keping hatinya yang patah karena Juda.
Hari itu menjadi hari terburuk yang terjadi dalam hidupnya. Danis diputuskan oleh Juda, yang sangat ia sayangi meski hanya tiga bulan berpacaran. Dan saat Danis ingin mengadu kesedihannya ketika kembali ke rumah, ia malah mendapati banyak koper dan tumpukan kardus yang berisi barang-barang milik ayahnya. Tanpa menjelaskan apa-apa kepada anak semata wayangnya yang baru pulang, pria itu memilih pergi begitu saja. Meninggalkan Ibu merintih dalam tangis dan seonggok surat cerai lusuh dalam genggaman tangan wanita itu.
“Bu, kenapa Ayah pergi?” Danis yang kala itu begitu kebingungan—yang Danis tahu, kedua orang tuanya adalah sepasang suami istri yang paling romantis yang pernah Danis tahu—bertanya dengan sedih. Melihat keluarganya tiba-tiba terpecah belah tentu saja membuat dirinya tidak tahan hanya diam saja.
Dan jawaban Ibu cukup mengejutkan.
“Jangan pernah menyebut dia Ayah lagi. Dia sudah berkhianat dan menghancurkan keluarga kita! Dia nggak pantas kamu panggil Ayah!” sergah Ibu dengan suara yang sarat akan kebencian.
Hati Danis tercabik perih mendengar Ibu menaikkan suara. Sesuatu yang nyaris tidak pernah Danisa dengar selama delapan belas tahun ia hidup. “Bu... tapi kenapa?”
“Kamu benar-benar mau tahu? Apa yang kamu mau tahu?” Ibu menggertak dengan nada sinis dan penuh rasa sakit. “Perselingkuhan ayahmu di belakang Ibu? Kamu mau mendengar ceritanya? Iya? Atau kamu mau mendengar tentang bagaimana ayah kebanggaan kamu itu melepaskan kamu bahkan tanpa berkedip satu kali pun.
Danis ikut hancur. Sama seperti ibunya, ia terlalu sakit hingga hanya bisa termangu.
Malam harinya, saat rumah tidak lagi terasa seperti rumah, karena diselimuti kemuraman, Danis mengambil keputusan bahwa ia tidak akan pergi ke Belanda. Ia tidak tega meninggalkan Ibu di saat wanita itu sedang jatuh di titik terendah dalam hidupnya. Namun, Ibu mendorong Danis agar tetap pergi. Katanya, mimpi anaknya untuk bisa bersekolah tinggi di luar negeri tidak boleh gagal hanya karena krisis yang sedang melanda keluarga. Kegagalan dalam rumah tangga orang tuanya tidak boleh menjadi penghalang Danis meraih mimpi dan masa depan.
“Aku nggak mau pergi,” kata Danis saat itu. Ia sudah tidak peduli lagi dengan mimpi. Karena baginya, Ibu adalah yang terpenting.
“Kalau kamu nggak mau pergi, Ibu akan merasa bersalah seumur hidup. Pergilah, Nak. Jangan membuat Ibu menjadi orang jahat yang merenggut semuanya dari kamu. Kamu sudah kehilangan keluarga yang hangat dan bahagia. Dan Ibu nggak ingin kamu kehilangan mimpi karena itu.”
Danis tidak ingat kapan terakhir kali menangis sebelum hari itu. Kebesaran hati Ibu membuat Danis remuk redam. Ia pun pergi ke Belanda membawa kepingan hatinya yang tidak bisa direkatkan kembali begitu saja.
Ibu melarang Danis pulang hingga tahun ketiga perkuliahan. Kata Ibu, sayang uang dan waktu. Dan lagi-lagi Danis tidak bisa menyanggah kata-katanya Ibu. Pada tahun ketiga, Danis pulang karena kata salah seorang kerabatnya, Ibu jatuh sakit. Kala itu, Ibu pun masih terus melarangnya agar tidak perlu pulang. Namun, Danis sudah terlalu rindu pelukan Ibu.
Danis kembali dan tebak apa yang ia dapat?
Ia melihat ayahnya—yang kata Ibu dulu pernah berkhianat dan dengan teganya meninggalkan mereka begitu saja—duduk menemani Ibu yang terbaring lemas di rumah sakit.
“Kami rujuk.” Begitu penjelasan yang didapat Danis dari ibunya saat mempertanyakan keberadaan ayahnya di sana.
Danis sama sekali tidak mengerti. Ibunya kembali berhubungan dengan pria yang telah mengkhianati keluarganya. Yang telah membubuhkan luka hingga bernanah dan tak kunjung sembuh. Yang telah menahan kebahagiaan Danis karena berkali-kali terbayang akan pengkhianatan itu.
Danis merasa kepulangannya sia-sia. Ia marah sekali karena merasa dikhianati berkali-kali. Tidak hanya karena ayahnya, tapi juga karena Ibu. Terutama oleh Ibu. Selama tiga tahun, ia tidak pernah melupakan bagaimana ibunya pernah hancur saat perceraian akibat pengkhianatan itu terjadi. Dan sekarang, Ibu dengan mudahnya menerima pria pengkhianat itu kembali masuk dalam hidupnya, seolah tidak pernah mengalami masa-masa terburuk dalam hidup setelah berpisah dari ayahnya.
“Ayahmu datang meminta pengampunan pada Ibu. Bagaimana Ibu bisa mengusir dia? Ibu bisa melihat ketulusan dalam matanya,” jawab Ibu saat itu dengan mata berbinar.
Danis benar-benar tidak bisa mempercayai apa yang ia lihat. Ia juga meragukan bahwa ayahnya telah benar-benar menyesali perbuatannya di masa lalu. “Kata Ibu dia pernah selingkuh! Dia sudah mengkhianati keluarga kita, bagaimana bisa Ibu menerima dia kembali?”
“Ibu dan ayahmu nggak pernah berhenti saling menyayangi. Kami sama-sama tersiksa karena berpisah. Ibu mohon, restui kami kembali, Nak.”
Itu adalah jawaban terburuk yang sangat tidak ingin Danis dengar. Karena baginya, pengkhianatan tidak bisa dimaafkan.
“Bagaimana kalau Ayah menyakiti Ibu lagi suatu hari nanti?” lirih Danis.
“Ayahmu sudah berjanji sama Ibu kalau dia nggak akan melakukan itu lagi, Nak. Kamu juga harus memaafkan ayah kamu. Sudah saatnya berdamai.”
“Dulu Ibu dan Ayah bercerai tanpa satu kali pun bertanya apa pendapatku. Ayah pergi tanpa memberi aku penjelasan. Dan Ibu mengusir aku dari sisi Ibu, nggak mengizinkan aku tinggal bersama Ibu setelah hari itu. Lalu, Ibu berkali-kali menahan aku supaya aku nggak pulang. Ibu melakukan itu karena nggak mau aku tahu kalau Ibu rujuk dengan Ayah. Karena sebenarnya kalian nggak mau melibatkan aku dalam setiap keputusan yang kalian ambil untuk keluarga kita. Jadi, sebenarnya apa aku benar-benar masih di harapkan di keluarga ini?”
Airmata membanjiri wajah Ibu. “Ibu minta maaf kalau kami membuat kamu merasa seperti itu, Nak. Ibu sama sekali nggak bermaksud menyakiti kamu. Ibu hanya ingin kamu bahagia, Nak. Itulah kenapa Ibu memintamu tetap mengejar mimpimu ke Belanda.”
Alasan itu terlalu dangkal. Danis muak dan pergi meninggalkan rumah sakit. Terlalu kecewa kepada Ibu yang dengan mudahnya termakan bujuk rayu palsu dari ayahnya. Tanpa pamit dan tanpa peduli dengan keadaan Ibu, Danis kembali ke Belanda.
Setengah tahun kemudian Danis lulus kuliah. Meski masih ada setitik rasa kecewa terhadap kedua orang tuanya, ia tetap meminta Ibu dan Ayah datang ke upacara wisudanya. Sekaligus memperkenalkan Renata—yang sudah ia pacari selama enam bulan—kepada mereka. Teman seperjuangan Danis selain Samuel selama tinggal di negeri orang untuk meraih mimpi.
Danis tidak pulang ke Indonesia setelah lulus karena mendapat tawaran untuk melanjutkan kuliah S2, yang langsung ia terima dengan penuh rasa syukur.
Hubungan dengan Ibu dan Ayah berangsur membaik. Seperti yang Ibu pernah katakan, ayahnya memang tidak lagi berulah. Dan mereka hampir kembali menjadi keluarga yang harmonis. Seperti tidak pernah ada kehancuran yang meluluhlantakkan keluarga mereka. Setelah lulus S2, Danis langsung mendapatkan pekerjaan. Tidak ada alasan untuk menolak.
Di tahun kedua bekerja, saat keuangannya mulai cukup stabil untuk menghidupi dirinya dan ia tabung untuk masa depan, Danis memutuskan untuk melamar kekasihnya, Renata.
Mereka berdua pulang ke Indonesia membawa kabar bahagia. Namun, ternyata berbuah kepahitan. Saat Danis membawa keluarganya untuk melamar Renata, mereka dikejutkan dengan satu kenyataan bahwa ternyata ayah Danis dulunya berselingkuh dengan adik ipar orang tua Renata.
Restu pun tidak didapat karena perselisihan yang terjadi antara dua keluarga.
Danis dan Renata batal tunangan. Cincin lamaran yang Danis berikan kepada Renata dikembalikan. Perpisahan itu rasanya terjadi begitu cepat. Mereka berdua dilanda patah hati. Namun, saat Danis dan Renata bersiap kembali ke Belanda—karena meski sedang patah hati, pekerjaan tak bisa menunggu—mereka berdua tak sengaja bertemu. Seolah mendengar bisikan dan dorongan kuat dari hati, mereka menyebut pertemuan itu sebagai takdir, keduanya nekat menikah tanpa restu. Keluarga mereka tahu setelah satu bulan mereka kembali ke Belanda.
Ibunya Danis begitu kecewa terhadap anak semata wayangnya. Keluarga Renata juga melakukan penentangan yang sama. Mereka tidak mau menerima Renata lagi jika wanita itu masih berkeras ingin berhubungan dengan Danis.
Dan hari ini, dua tahun kemudian, Danis kembali pulang. Membawa berita yang seperti kata Renata, kemungkinan akan ditertawakan oleh keluarganya dan keluarga Renata. Kegagalan pernikahan mereka kemungkinan sudah dinanti-nantikan oleh masing-masing keluarga, yang masih saling berselisih.
“Danis, woy!”
Teriakan familiar itu menyapa gendang telinga Danis. Ia menolehkan kepala dan mendapati Martin berjalan dengan setengah berlari mendekat ke arahnya. Kemudian mendapat pelukan yang terlalu erat dari sahabatnya.
Hiruk pikuk di bandara yang penuh manusia—yang datang dan pergi—tidak menghentikan Martin untuk berseru, “Gila, udah berapa tahun kita nggak ketemu! Kangen banget gue!”
Danis mendorong pundak Martin. Tidak terlalu nyaman mendapat pelukan yang terlalu akrab itu di tengah-tengah lautan manusia, meski orang-orang tidak ada yang peduli. “Setengah tahun lalu lo baru aja nyamperin gue ke Amsterdam,” tutur Danis yang membuat Martin tertawa kering.
“Lo cuma bawa satu koper ini?” tanya Martin saat keduanya berjalan ke parkiran.
“Gue nggak lama di sini,” kata Danis. Bertentangan dengan apa yang laki-laki itu katakan kepada Renata bahwa ia akan tinggal di Indonesia selama satu atau dua bulan. Danis hanya berniat tinggal paling lama tiga minggu.
Martin tampak kecewa. “Lo nggak dapet cuti panjang? Bukannya lo jarang make cuti lo?”
“Aslinya gue cuma dapet cuti dua minggu, tapi gue sih bilang kalau butuh sebulan buat ngurus urusan gue. Atasan gue ngasih cuti sebulan asal gue nggak mendadak resign karena terlalu betah berlama-lama di Indonesia.”
“Lah terus kenapa lo nggak di sini sampe sebulan sekalian?”
“Gue balik ke sini kan niatnya cuma mau ngurus perceraian gue sama Renata,” jelas Danis. “Lo udah cariin gie pengacara, kan?”
Martin mengangguk. Masih tampak keberatan karena sahabatnya terlihat sangat tidak senang kembali ke tanah air. “Gue ikut prihatin soal perceraian lo. Tapi apa lo nggak bisa bersenang-senang dikit di sini bareng gue? Temen-temen kita juga bakal seneng kalau tahu lo balik ke sini.”
Keduanya masuk ke dalam mobil Martin.
“Gue emang butuh waktu sebelum balik ke Belanda. Tapi gue rasa Indonesia bukan tempat yang tepat buat menenangkan diri,” ujar Danis saat mobil Martin keluar dari area bandara. Matanya terpaku ke luar jendela. Memandangi sepanjang jalan yang ramai dengan isi kepalanya melayang ke mana-mana. “Lo tahu sendiri gimana hubungan gue sama orang tua gue sekarang. Kalau bukan karena urusan gue sama Renata, gue nggak berniat balik ke sini.”
Martin mendesah. “Complicated banget hidup lo,” komentarnya. “Tapi lo dateng ke reuni, kan?”
Danis melirik sahabatnya yang fokus menyetir. “Kenapa sih lo kayaknya terobsesi banget pengen gue dateng ke reuni?”
“Emangnya lo nggak pengen ketemu Juju?”
“Gue udah bilang kalau gue ke sini mau urus perceraian gue sama Renata. Gue nggak ada waktu buat mikirin yang lain,” jawab Danis penuh dusta.
Nyatanya, Danis memang menantikan hati di mana ia bisa kembali melihat Juda. Meski akhir kisahnya dengan mantan kekasihnya itu tidak terlalu baik, setelah bertahun-tahun telah lewat, Danis penasaran juga akan kabar Juda. Ada rasa yang menggebu-gebu yang membuatnya tak sabar ingin berjumpa lagi dengan mantan kekasihnya itu.
“Lo mau cerai bukan berarti lo nggak boleh nikmatin hidup. Dateng ke reuni juga bukan dosa,” bujuk Martin walau sesungguhnya tidak benar-benar perlu.
Danis hanya tidak ingin menunjukkan di depan Martin bahwa ia memang begitu ingin melihat Juda kembali, di saat hubungannya dengan istrinya belum selesai.
“Kapan acaranya?” tanya Danis dengan setengah tidak peduli.
“Tiga hari lagi.”
Danis manggut-manggut. “Lo bawa gandengan?”
“Bawa, dong.” Martin tersenyum lebar. “Tapi lo tenang aja, gue udah bilang sama cewek gue kalau kita berangkat bareng bertiga sama lo.”
Seketika Danis mendengkus. “Lo bikin gue kelihatan menyedihkan.”
“By the way, lo nggak mau tanya siapa cewek gue sekarang?”
“Gue nggak berniat tahu koleksi cewek-cewek lo yang cuma lo pacarin paling lama tiga bulan,” ucap Danis dengan malas.
Martin tertawa keras. “Lo butuh gandengan? Gue bisa minta temen gue buat jadi plus one lo buat semalam.”
“Nggak usah repot-repot,” tolak Danis tanpa berpikir.
Di sisa perjalanan mereka menuju apartemen Martin—Danis dipaksa sahabatnya untuk tinggal bersama sahabatnya itu selama di Indonesia karena Danis tidak berniat pulang ke rumah dan tidur di satu atap yang sama dengan kedua orang tuanya—keduanya bernostalgia, kembali mengenang masa-masa saat masih SMA.
***