BAB 9. Berburu Calon Potensial

2243 Words
Danis membuka dompetnya dengan perasaan campur aduk. Ia benar-benar telah melupakan keberadaan foto Juda yang ada di dompetnya. Dulu, Juda sendiri yang memasukkan fotonya ke sana saat memberikan dompet itu sebagai hadiah ulang tahun untuknya. Meski sudah tidak terlalu mengingat momen itu, Danis samar ingat bahwa Juda sempat berkata, "Biar kamu semangat belajarnya, aku taroh foto aku di dompet kamu. Kamu bisa pandangin foto aku kalau kamu kangen aku." Saat itu, Juda mengatakannya dengan senyum yang menghiasi wajah tirusnya. Juda yang lebih sering menampilkan wajah judes dan galaknya, hari itu menyuguhkan senyum manis yang membuat hati Danis berbunga-bunga. Sudut hati Danis seolah berdenyut nyeri saat foto Juda ia keluarkan dari dompetnya. Juda tampak sangat belia di foto yang sudah termakan usia itu. Bagaimana penampilan Juda versi dewasa? Apakah semakin cantik? Apakah bertambah galak dan judes seperti saat masih menjadi kekasihnya? Bagaimana kehidupan Juda saat ini? Apakah Juda berhasil menjadi dokter seperti yang pernah menjadi cita-citanya dulu? Lucu sekali. Sudah bertahun-tahun lamanya Danis berpisah dari Juda. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, memorinya tentang mantan kekasihnya itu sudah memudar karena kehadiran Renata di dalam hidupnya. Namun, setelah Renata dengan sengaja menyinggung tentang masa lalu yang seharusnya sudah menjadi kenangan itu, Danis jadi tidak bisa berhenti memikirkannya. Yang lebih mengesalkan lagi, Danis jadi ingin cepat-cepat kembali ke Indonesia. Walaupun kemungkinannya sangat kecil untuk bisa berjumpa dengan Juda, Danis berharap bahwa kepulangannya ke Indonesia bisa mempertemukan dirinya kembali dengan Juda. Seharusnya ia tidak boleh memikirkan opsi itu di saat ia memiliki hal lain yang menjadi tujuan utamanya kembali, yaitu untuk mengurus perceraiannya dengan Renata. Seketika, Danis teringat saat Ema, salah satu teman terdekat Juda menghubungi Martin untuk bisa mendapatkan nomor pribadinya. Danis kala itu tidak terlalu memikirkan alasan Ema yang tiba-tiba menginginkan nomor pribadinya. Untuk apa Ema mencarinya? Benar hanya untuk mengirimkan undangan pernikahan? Walaupun pernah berpacaran dengan Juda, Danis tidak benar-benar dekat dengan Ema. Ia dan Juda hanya berpacaran dalam waktu yang sangat singkat sehingga tidak sempat untuk menjadi dekat dengan teman masing-masing. Jadi, rasanya terlalu janggal kalau Ema benar-benar berniat memberinya undangan pernikahan, sementara ia cukup yakin bahwa teman-temannya seangkatan saat SMA mengetahui bahwa ia tidak lagi tinggal di Jakarta sejak lulus kuliah. Danis merogoh saku jaket yang ia kenakan untuk mengambil ponselnya. Bersamaan dengan pesan dari Martin yang baru saja masuk. Martin Siahaan Gue lupa bilang sama lo, kita dapet undangan reuni. Dua minggu lagi lo jadi balik ke Indo kan? By the way, gue juga cukup yakin kalau Ema nggak bener-bener mau nikah dalam waktu dekat. Gue udah tanya-tanya sama temen-temen kita dan nggak ada satu pun yang dapet undangan. Si Ema aja sekarang sibuk jadi panitia acara reuni sama anak-anak yang lain. Nggak paham kenapa dia pake bohong mau kasih undangan nikahan ke lo cuma buat dapetin nomer hape lo. Kalau lo mau, gue bisa tanya balik ke dia Danis membaca pesan dari Martin itu beberapa kali. Tanpa bisa dicegah, ia berasumsi macam-macam tentang niat Ema mencari dirinya. Dan yang paling masuk akal adalah bahwa Ema hanyalah penghubung antara dirinya dan Juda. Bukan Ema yang sedang berusaha mencari dirinya, tetapi Juda. Untuk apa Juda mencari dirinya? Apakah mantan kekasihnya itu yang sebenarnya akan menikah? Pemikiran yang spontan terlintas di pikirannya itu mendadak membuatnya pening. Ia tidak pernah membayangkan momen saat Juda menikah dan menjadi istri dari laki-laki paling beruntung di muka bumi. Danis buru-buru mengetikkan balasan untuk Martin. Namun, setelah merasa bahwa ketikan saja tidak cukup, Danis menghapus ketikannya dan memilih untuk langsung menelepon sahabatnya itu. "What's up, My Bro?" sapa Martin yang langsung mengangkat telepon darinya setelah dering ketiga. Danis tidak ada waktu berbasa-basi. "Waktu Ema minta nomer hape gue, dia nggak cerita soal hal lain selain mau kasih undangan?" "Nggak ada," jawab Martin sekenanya. "Setelah gue bilang kalau lo nggak bisa kasih nomer lo, dia cuma bilang makasih." Danis mengerutkan dahi. "Menurut lo, kenapa Ema tiba-tiba cari gue sampe bohong gitu?" "Mana gue tahu. Iseng doang kali. Soalnya lo sok misterius. Sok-sokan nggak mau gabung grup angkatan, nggak punya sosmed, nggak berhubungan sama temen-temen lo lagi selain gue, nggak pernah balik ke Jakarta...." Martin menyebutkan semua hal yang memang benar adanya. Danis sengaja menutup akses dengan teman-temannya semasa SMA karena ingin mengubur luka yang Juda torehkan menjelang dan ketika kelulusan mereka. Itulah mengapa Danis nyaris tidak pernah pulang ke Indonesia sejak berangkat ke Belanda setelah lulus SMA—ia mendapat beasiswa penuh untuk berkuliah di Belanda. "Dia beneran nggak bilang apa-apa? Nggak ada nyinggung soal Juju atau yang lain?" "Wait... gue nggak salah dengar kan? Lo barusan nyebut nama mantan lo." Dari suara Martin, terdengar bahwa laki-laki itu tidak begitu percaya dengan pendengarannya sendiri. "Lo barusan nyebut nama Juju," ulang Martin. "Ada yang aneh kalau gue nyebut nama Juju?" Danis agak defensif saat membalas ucapan Martin. "Nggak aneh. Cuma bikin kaget aja. Gue kira lo nggak mau inget lagi soal mantan terindah lo," sahut Martin yang menekankan suara pada kata 'mantan terindah', yang bernada ejekan. Danis merengut. "Gue serius, Tin. Ema nggak nyinggung soal Juju?" "Nggak. Lo kenapa tiba-tiba bahas Juju setelah sekian lama lo nggak mau denger nama dia?" tanya Martin yang mulai curiga. "Gue abis berantem sama Renata," jawab Danis dengan jujur. "Bukannya kalian emang udah berantem berminggu-minggu?" Danis menggeleng meski Martin tidak bisa melihatnya. "Gue udah tahu alasan Renata selingkuh dari gue." Martin tidak mengatakan apa-apa. Menunggu Danis menjelaskan lebih lanjut. "Ternyata ada hubungannya sama Juju. Renata ngira gue belum move on," cerita Danis. "Kenapa Renata bisa ngomong gitu?" Martin bertanya dengan hati-hati. "Dia nemuin foto Juju di dompet gue." "She... WHAT?! Renata nemu foto siapa?!" Suara Martin cukup keras hingga membuat Danis menjauhkan ponsel dari telinganya. "Foto Juju. Di dompet gue," ulang Danis. "Lo masih nyimpen foto mantan lo? Gila ya?!" Martin kembali berteriak meski tidak lebih keras dari sebelumnya. "Lo boleh percaya atau enggak. Tapi gue beneran lupa kalau gue masih nyimpen foto Juju. Fotonya keselip di kartu-kartu gue yang nggak pernah lagi kepake. Makanya gue nggak sadar kalau ternyata fotonya belum gue buang," jelas Danis. "Terus sekarang gimana? Fotonya udah lo buang? Lo jelasin alasannya? Lo maafin Renata atau enggak?" cecar Martin dengan banyak pertanyaan. "Gue sama Renata tetap bakal pisah. Itu tujuan utama gue balik ke Indonesia. Buat ngurus surat cerai." "Tapi kan...." Martin tidak melanjutkan kata-katanya. "Lo yakin nggak mau pertimbangin lagi?" Danis mendongak. Menatap langit malam Amsterdam yang sudah semakin gelap. "Kalau gue bisa menghapus ingatan gue waktu Renata sama Samuel ciuman dan hampir having s*x di apartemen gue, mungkin gue bisa dengan mudah memaafkan Renata. Tapi sayangnya gue nggak bisa. Ada di satu tempat yang sama sama Renata aja gue nggak bisa. Apalagi harus bertahan seumur hidup sama dia. Gue bisa gila. Yang jelas, nggak ada yang bisa diperbaiki lagi. Gue nggak bisa menoleransi perbuatan Renata ke gue." Terdengar helaan napas dari seberang telepon. "Gue turut menyesal karena rumah tangga lo berantakan." "Thanks, man." "Gue bakal tahan buat nggak interogasi lo soal Juju sekarang sampai lo balik ke Indonesia," ucap Martin kemudian. "Oh, berarti lo bakal dateng ke reuni, kan?" Danis berpikir selama beberapa saat sebelum menjawab, "Gue belum tahu." "Lo harus dateng sih kalau lo penasaran kenapa Ema cari-cari lo. Ema udah pasti dateng dan lo bisa langsung tanya ke anaknya. Fyi, kemungkinan besar Juju juga bakal dateng," kata Martin yang seperti sengaja memancing Danis. Dan Martin memang berhasil memancing Danis. Karena kemudian Danis merasakan dorongan menggebu-gebu yang memaksa laki-laki itu memikirkan ulang tentang rencananya saat berada di Indonesia. Mungkin, memang tidak ada salahnya untuk datang ke reuni dan kembali menjalin pertemanan dengan teman-teman lamanya yang hampir terlupakan. "Fine. Gue usahakan," ujar Danis. Masih dengan tatapan menerawang jauh, menatap langit. *** Ketika pertama kali membuka laman dating app yang diunduh Ema di ponselnya, Juda langsung disuguhi dengan ratusan foto laki-laki. Tidak hanya memperlihatkan foto saja, pengguna juga bisa mengatur lokasi sedemikian rupa, sehingga bisa memperlihatkan seberapa jauh jarak antara pengguna dengan pengguna lain, yang tentu saja semakin memudahkan pengguna dating app tersebut. Swipe ke kanan jika merasa tertarik dengan orang tersebut atau swipe ke kiri apabila tidak tertarik atau tidak suka. Dan kini, terhitung dua minggu sudah terlewati sejak Juda pertama kali bermain Tinder. Namun, ia belum menemukan 'match' yang benar-benar sesuai dengan kriterianya. Ada sekitar lima puluh orang yang ia swipe kanan, ada sekitar dua puluhan orang yang 'match'—atau bisa dibilang kedua belah pihak sama-sama saling men-swipe kanan—dan hanya sembilan di antaranya yang sampai ke tahap chatting-an. Yang mana merupakan tahap paling sulit bagi Juda, karena ia harus membangun percakapan yang menyenangkan. Dan meski kelihatannya memiliki interest yang sama—dilihat dari foto-foto yang diunggah dan juga deskripsi singkat yang diterangkan pada bio di profil—belum tentu bisa terjalin komunikasi dua arah yang menyenangkan. Dari sembilan orang tersebut, hanya satu orang yang cukup asyik untuk diajak mengobrol. Namanya David. Juda seperti menemukan 'Ema' pada diri David. Rasanya seperti bertemu teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak ditemui. Mereka tidak pernah kehabisan bahan untuk mengobrol. Benar-benar sangat seru bisa mendapatkan teman curhat selain Ema. Sayangnya, David tidak menetap di Jakarta. Laki-laki itu hidupnya nomaden. Tidak pernah tinggal di satu tempat dalam waktu yang lama, karena seringkali merasa bahwa tempatnya singgah sementara sudah tidak terlalu menantang. Itulah mengapa Juda dan David hanya sebatas menjadi teman mengobrol melalui chat karena David baru saja meninggalkan Jakarta dan sekarang sedang ada di Surabaya. Sementara itu, delapan orang yang lain hanya berhenti pada saling memperkenalkan diri, bertanya tentang tempat tinggal, pekerjaan, hobi, bahkan ada yang langsung to the point mengajak ketemuan di hotel—yang tentu saja langsung Juda tolak, dan setelah itu tidak ada kelanjutan apa-apa. "Kayaknya dating app pun juga musuhin gue. Jari gue sampe kapalan gara-gara kebanyakan main Tinder," keluh Juda kepada Ema melalui telepon. Dua minggu telah berlalu dan itu artinya waktunya juga tersisa dua minggu lagi sebelum acara reuni—di mana Juda berharap bisa datang dengan pasangan agar tidak dipandang terlalu menyedihkan oleh teman-teman seangkatannya. "Mending lo coba perluas aja lokasi pencarian jodoh lo. Jangan cari yang daerah Jakarta doang," usul Ema. "Makin sia-sia kalau memperluas jarak, Em. Gue nggak minat cari jodoh yang di luar Jakarta. Maksud gue, kalaupun bukan orang Jakarta, setidaknya orangnya sekarang kerja dan stay di Jakarta." "Kalau gitu lo ubah deskripsi lo aja. Kemarin di setting-nya kan gue atur biar lo bisa dapet yang sama-sama mau long term relationship, lo bisa tambahin yang lain yang short term relationship. Bisa kok. Yang penting bisa dapet match yang bisa lo ajak ke reuni dulu." "Gue udah males. Capek banget ngeliat cowok-cowok cakep yang gue swipe kanan tapi nggak match. Sekali dua kalinya dapet match ternyata cuma ngajak fwb-an. Eh, malah ada yang langsung to the point ngajak check in hotel," cerita Juda. "Kan janjinya sebulan, Ju. Nggak ada yang tahu, kan. Siapa tahu dalam sisa dua minggu ini lo dapet match yang bener-bener cocok sama lo. Lagian nggak ada ruginya juga tinggal swipe kanan atau swipe kiri doang." "Em, lo kira dua minggu terakhir ini gue belum usaha? Lama-lama capek juga." "Gue nggak ada bilang kalau lo nggak ada usaha." "Ternyata walaupun gue cantik, badan oke, cowok-cowok Tinder pun nggak semuanya ngelirik gue. Bahkan gue yakin 99% pada nge-swipe kiri foto gue karena gue nggak semenarik itu di mata mereka," Juda kembali mengeluh. Bermain dating app benar-benar menguras tenaga—meski hanya tinggal swipe kanan atau swipe kiri saja—hingga membuat Juda seringkali insecure. Ia merasa sangat tidak beruntung. "Gue nggak tahu pasti, tapi pengguna Tinder pasti sampe puluhan juta atau mungkin malah ratusan juta orang dari seluruh dunia. Dan dari situ diperkecil dari kecocokan profil lo sama pengguna yang lain. Founder Tinder nggak bakal kepikiran bikin dating app buat memfasilitasi orang-orang yang kesulitan cari jodoh kalau lo bisa gampang ketemu 'match' dari sekian juta orang itu," ujar Ema dengan menggebu-gebu. "Gue curiga kalau lo sebenenrya kerja jadi brand ambassador-nya Tinder," komentar Juda dengan agak jutek. Ema tidak terlalu mengindahkan Juda dan menyahut, "Udah deh, Ju. Daripada waktu lo habis buat ngeluh, mending buka lagi Tinder lo. Benerin lagi profil lo. Gue dapet firasat kalau hari ini lo bakal dapet match yang oke. Calon potensial yang nggak bakal bisa lo tolak pesonanya." Juda mendengkus. "Sejak kapan lo jadi tukang ramal?" Ema berdecak. Kemudian dengan gemas ia berkata, "Nggak usah banyak cingcong, Juju Sayang. Pokoknya nurut aja sama gue. Kalau lo nggak punya kuota buat buka Tinder, gue beliin. Kurang baik apa gue sama lo? Pokoknya jangan nyerah dulu. Jodoh lo nungguin lo di luar sana buat lo jemput," seru Ema dengan semangat. Setelah sambungan terputus, Juda menuruti kata Ema. Ia kembali membuka aplikasi Tinder yang sudah dua hari tidak ia buka. Ia juga menambahkan informasi di profilnya. Kemudian, ia kembali berburu. Swipe kiri, swipe kanan, begitu seterusnya tanpa benar-benar fokus hingga matanya tertumbuk pada foto yang menarik perhatiannya. Sebenarnya foto itu sama seperti foto para laki-laki yang lain, tidak ada yang spesial. Hanya saja, seperti ada tarikan magnet yang membuat Juda berlama-lama memandangi wajah si laki-laki setengah blesteran di layar ponselnya. Laki-laki bernama Guntur ini tampak lebih mirip dengan Hamish Daud jika dibandingkan dengan Hamish, anak dari teman arisan Mami yang pernah ia tolak. Juda men-swipe kanan foto itu dan saat muncul pemberitahuan bahwa mereka 'match', Juda memekik girang. Tidak sampai lima menit, ada satu pesan masuk dari laki-laki bernama Guntur itu. Mengawali perkenalan mereka yang berlangsung cukup mulus. Sepertinya firasat Ema memang tidak salah. Hanya dari bertukar pesan selama hampir dua jam saking serunya, Juda merasa bahwa Guntur adalah calon potensial sebagai pasangan yang selama ini ia cari-cari. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD