BAB 8. Terikat Masa Lalu [2]

1248 Words
Renata tidak terima diceraikan begitu saja 'hanya' karena ia kepergok berciuman dengan Samuel. Itulah kenapa setelah Danis mengikrarkan perpisahan, Renata tidak terima. Awalnya ia memohon sambil menangis-nangis, meminta maaf atas segala kesalahannya, tetapi setelah dua minggu tidak ada progres dan malah membuat Danis semakin menjauh, Renata kehilangan kesabaran. Ia berang dan meluapkan kemarahan dengan membanting piring. Awalnya, hanya karena satu buah piring yang baru saja ia pakai untuk makan yang tidak sengaja meluncur dari tangannya dan kemudian jatuh ke lantai hingga pecah berkeping-keping. Ada perasaan puas yang terasa ganjal yang terlintas di kepalanya, merasa bahwa dengan memecahkan piring ia bisa merasa lega. Maka, setiap kali Renata pulang ke apartemen dan lagi-lagi harus mendapati kenyataan kalau Danis masih tidak mau bicara dengannya, wanita itu akan melampiaskan rasa frustrasinya dengan membanting piring. Semakin banyak piring yang ia banting, seraya meluapkan amarahnya, Renata merasakan ketenangan yang tidak pernah lagi ia dapatkan sejak hubungannya dengan Danis perlahan hancur. Hari ini, tepat tujuh minggu sejak Danis memergoki dirinya berkhianat. Ia sudah melibas habis semua stok piring yang ada di apartemennya. Bahkan ia kemarin membeli dua lusin piring baru hanya untuk ia banting semuanya. Saat Renata sudah mulai lelah dan ingin pergi keluar untuk mencari udara segar, Danis mendadak muncul dari kamarnya dan mengajak wanita itu untuk bicara. Setelah berbagai usaha yang Renata lakukan, tak membuahkan hasil, pada akhirnya hari ini, Danis kembali mengajaknya bicara. "Dua minggu lagi aku pulang ke Indonesia," kata Danis. Tatapannya kosong. Seolah tidak pernah ada kehidupan di sana. "Kerjaan kamu gimana?" "Aku cuti panjang," jawab Danis singkat. Renata tidak "Oke. Berapa lama di Indonesia?" "Satu atau dua bulan." Renata mengernyit. "Kenapa lama banget? Mau apa?" “Mau apa lagi kalau bukan buat mengurus perceraian kita?" Danis menjawab dengan ekspresi datar di wajah. "Sekaligus mau memulangkan kamu ke kedua orang tua kamu.” Bukannya Renata tidak pernah memikirkan hal itu setelah Danis menggugat cerai dirinya. Namun, saat akhirnya Danis akan mewujudkan gugatan itu, Renata baru benar-benar disadarkan bahwa dalam waktu dekat ia akan segera menjadi seorang janda. Dan membayangkan status itu melekat pada dirinya, Renata tidak ingin membayangkannya. “Kamu nggak akan melakukan itu.” “Kenapa enggak?” tantang Danis. Renata tampak sangat frustrasi. Kebingungan bagaimana caranya agar ia bisa menahan Danis tetap tinggal. “Kamu lupa kalau kita menikah tanpa restu? Kalau kamu pulang buat ngabarin kegagalan pernikahan kita, kamu cuma akan ditertawakan.” Danis memandang Renata lurus-lurus. “Aku bisa ikut menertawakan kehidupanku yang penuh kesialan ini kalau gitu.” “Danis, please. Ini nggak adil banget buat aku,” ratap Renata yang berada diambang batas keputusasaan. “Kalau kamu bicara soal keadilan, seharusnya kamu tahu kalau ini lebih menyakitkan dan nggak adil buat aku,” tukas Danis. “Kamu butuh aku ingatkan rupanya," cetus Renata dengan mata yang tak pernah lepas memandang Danis yang berdiri kaku di hadapannya. "Kamu sendiri yang bilang kalau kamu pernah disakiti mantan kamu, tapi apa kamu sadat kalau sampai hari ini kamu bahkan belum melupakan dia. Aku tahu, Danis. Aku tahu itu. Dan aku selalu berusaha memahami kamu, tetap tinggal di sisi kamu, mencintai kamu….” Renata menyunggingkan senyum pahit. “Kamu pikir cuma aku yang mengkhianati pernikahan kita? Nggak, Danis. Kamu juga! Aku mungkin ketahuan ciuman sama Samuel satu kali di depan mata kamu. Tapi hati kamu pun udah sejak lama berkhianat. Kamu nggak pernah benar-benar memberikan hati kamu buat aku. Karena selalu ada orang lain yang menghuni hati kamu sejak sebelum aku datang. Foto perempuan yang ada di dompet kamu, itu dia kan?” Danis terbungkam. Matanya terbelalak. Mungkin tak menyangka kalau Renata akan membalasnya dengan senjata yang tak laki-laki itu ketahui pernah dimiliki istrinya. Danis sama sekali luap kalau ia masih menyimpan foto Juda di dompetnya. Dan ia juga sama sekali tidak tahu sudah sejak kapan Renata melihat foto Juda di dompet Danis−foto Juda dalam balutan seragam SMA, yang selama sepuluh tahun terakhir ini menghuni dompet usang milik Danis yang juga merupakan pemberian dari mantan kekasihnya itu saat ulang tahunnya yang kedelapan belas−dan menahan diri untuk tidak bertanya apa-apa kepada suaminya itu. Jika sudah seperti ini, siapa yang patut disalahkan? “Ini nggak ada hubungannya sama Juda atau masa laluku sama dia,” sangkal Danis beberapa saat kemudian, yang justru membuatnya terlihat seperti seorang pecundang. Dan Renata pun gagal menyembunyikan tawa sinisnya karena jawaban Danis. Bersamaan dengan jatuhnya air mata yang meluncur di pipi. “Lihat, sekarang kamu bahkan menyebutkan namanya terang-terangan.” “Kamu selingkuh sama Samuel karena melihat foto itu di dompetku? Kenapa kamu nggak pernah tegur aku? Kenapa kamu cuma diam dan membiarkan kita jadi seperti ini, Renata? Kenapa?” cecar Danis. Ekspresinya amat sangat keruh. Renata menghapus air mata yang jatuh di pipi dengan kasar. “Karena aku pikir walaupun aku nggak memiliki hati kamu, setidaknya raga kamu ada di sini bersamaku. Setidaknya akulah yang kamu cium dan kamu peluk waktu kamu tidur. Karena aku yang berbagi hidup sama kamu, bukan dia. Tapi... lama-lama aku mulai ragu. Bukan kamu yang aku ragukan, tapi aku meragukan diriku sendiri. Aku mulai ngerasa kalau aku nggak akan mampu terus-menerus menyembunyikan fakta kalau aku tahu tentang perempuan itu. Semakin berusaha keras menyimpannya, semakin sakit setiap harinya, Danis. Setiap hari, aku ketakutan kalau suatu saat kamu akan meninggalkan aku demi perempuan itu." Danis tak bisa berkata-kata selama beberap saat karena informasi itu terlalu mengejutkannya. Kalau saja hubungannya dengan Renata tidak sedang jatuh ke titik terendah, ia pasti akan langsung memeluk istrinya dan menenangkan wanita itu. Tetapi ia tak bisa melakukannya karena terbayang saat Renata dan Ssmuel b******u. Untuk berdekatan dengan Renata di satu ruangan saja rasanya terlalu berat. Apalagi harus bersentuhan dengannya, Danis tidak mampu lagi melakukannya. "You know what, Renata. Selama dua tahun menikah sama kamu, aku nggak pernah berpikir untuk mengkhianati kamu. Hanya kebahagiaan yang aku pikirkan. Dan selama dua tahun ini aku benar-benar bahagia memiliki kamu." "Bullshit." "Aku selalu menyayangi kamu, Ren. Dan itu sama sekali bukan kebohongan." Renata menggeleng. "Kalau kamu menyayangi aku, kenapa kamu masih menyimpan foto perempuan itu?" "Kalau aja kamu langsung bilang sama aku, aku pasti akan langsung buang foto itu, Ren. Aku bahkan udah lupa pernah menyimpan foto itu di dompetku. Asal kamu tahu, Renata. Setelah menikahi kamu, nggak ada yang aku inginkan selain bisa hidup bahagia sama kamu." Danis tersenyum kecut. "Tapi kamu malah menodainya dengan ketidakpercayaan kamu sama aku." "Bohong." Renata kembali mengusap air mata yang masih terus jatuh membasahi pipi. "Kalau kamu menyayangi aku sebesar itu, kenapa kamu nggak pernah mau pulang ke Indonesia? Itu karena kamu masih belum melupakan dia. Karena kamu terlalu takut jika bertemu dia lagi kamu akan berharap bisa mengulang masa lalu kamu bersama dia." "Silakan kalau kamu mau terus berkutat dengan asumsi-asumsi kamu. Itu akan semakin memudahkan kita untuk berpisah," tukas Danis. Mata Renata yang badaha oleh air mata itu membeliak. "Dan kamu benar-benar akan kembali kepada perempuan sialan itu?" "Kamu nggak berhak mengatai dia begitu!" Mendengar pembelaan itu, Renata murka. Ia langsung melemparkan gelas ke, yang kebetulan ada di meja di sampingnya, ke arah Danis. Danis tidak berkedip sama sekali saat wanita itu melakukannya meski kakinya tergores pecahan beling dari gelas itu hingga berdarah. "Jangan membuat masalah menjadi semakin rumit, Renata. Dengan kamu bertindak brutal seperti ini, nggak ada alasan lagi buat memikirkan ulang apa yang aku sudah putuskan." "Terserah kamu, Danis! Terserah!" Dan Renata pun membanting semua benda yang ada di dekatnya untuk meluapkan amarahnya. Danis sudah terlalu kecewa. Ia sama sekali tidak berniat menghentikannya kegilaan Renata. Yang kemudian ia lakukan adalah berbalik pergi. Keluar dari apartemen untuk menenangkan diri. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD