Setelah gagal mendapatkan kontak Danis yang bisa dihubungi, Juda mulai berpikir bahwa kemungkinan memang bukan karena unfinished business-nya dengan Danis yang membuat hubungan percintaannya selama beberapa tahun terakhir ini menjadi kacau. Seperti kata Ema, masalah Juda kemungkinan hanya ada pada dirinya. Namun, ia malah seperti sengaja mengkambinghitamkan orang lain—dalam hal ini Danis—agar tidak dipandang terlalu buruk karena bermasalah dalam berhubungan dengan laki-laki hingga Mami harus turun tangan berkali-kali untuk ‘mencarikan’ dirinya jodoh. Yang sampai saat ini masih belum nampak juga hilalnya.
“Saran gue, lo harus berusaha gimana pun caranya buat buka hati. Mami lo bener waktu bilang kalau jodoh nggak akan datang cuma karena lo tungguin, tapi harus ada usaha juga buat ‘nemuin’ jodoh lo. Jangan nunggu ada orang lain yang bisa mendobrak benteng pertahanan hati lo. Lo udah ngalamin berkali-kali kalau kebanyakan orang nyerah duluan karena tahu kalau lo nggak bener-bener mau menerima mereka dengan tulus,” kata Ema beberapa hari kemudian.
Juda baru saja bertemu dengan teman yang dikenalkan oleh seniornya, dan lagi-lagi perkenalan itu tidak tampak akan berlanjut ke mana-mana dan hanya akan berakhir di pertemuan pertama, yang juga menjadi pertemuan terakhir. Alasannya adalah karena Juda tidak terlalu berminat menjalin hubungan dengan laki-laki yang terjun di dunia politik. Bayangkan saja, dua jam kencan dengan laki-laki itu, Juda terus-terusan dicekoki dengan pembahasan tentang perpolitikan di Indonesia yang hampir membuat kepala Juda berasap.
Gagal menjalin hubungan dengan laki-laki yang dikenalkan seniornya, Juda berpikir untuk menyerah dan pasrah saja dengan keadaan. Ingin membiarkan waktu yang akan memberinya jawaban. Namun, setiap mengingat Mami, Juda tahu bahwa ini belum saatnya menyerah. Mami masih akan terus mendesaknya untuk bertemu dengan si A sampai Z, memastikan bahwa dirinya mendapatkan pasangan hidup yang tepat, menikah, dan memberikan cucu yang lucu-lucu.
Juda memandang kosong ke sebuah titik di belakang Ema seraya bergumam, “Gue udah setua ini tapi konsep ‘menerima laki-laki dengan tulus’ aja gue nggak paham. Emangnya gue nggak pernah tulus sama orang, ya?”
“Gue sih setidaknya tahu kalau lo tulus temenan sama gue,” sahut Ema. Kemudian ia menjentikkan jari dengtan semangat. “Nah, coba gini aja. Kalau lo kenalan sama cowok, bayangin aja kalau dia bakal jadi teman ngobrol yang asyik, kayak gue. gue cukup yakin ini bakla berhasil.”
Juda mengernyit. Tak mengerti maksud Ema.
Ema membenahi posisi duduknya. Menatap Juda lurus-lurus. “Menurut gue, pasangan yang cocok buat dijadiin pendamping hidup bukan cuma karena lo ngerasa klik dengan dia sebagai pasangan. Tapi juga sebagai teman. Teman hidup yang nggak bakal bikin lo bosan karena bisa diajak ngobrol.”
Ekspresi di wajah Juda menunjukkan bahwa ia tengah berpikir keras. “Kalau gitu kenapa gue nggak nikah sama lo aja?”
Ema mendengkus malas. “Kalau nikah dengan sesama jenis dilegalkan di Indonesia, gue yakin nggak cuma lo doang yang pengen nikah sama gue karena ngerasa cocok sama gue. maksud gue nggak gitu. Ah, capek gue ngomong sama lo.”
Juda mendesah keras. “Soalnya selama ini cuma lo doang yang bisa ngobrol sama gue tentang banyak hal. Oh, Danis juga.”
“Wow, stop!” Ema langsung waspada. “Lo kenapa jadi bawa-bawa Danis terus sekarang? Masih kesel karena nggak dapet kontaknya? Gue heran kenapa lo kesannya jadi obsesif gini ke Danis.”
“Gue nggak obsesif,” snagkal Juda. “Tapi soal temen ngobrol itu gue serius, Em. Walaupun udah bertahun-tahun lalu, gue sadar kalau cuma Danis yang bisa jadi teman ngobrol, di saat yang sama juga jadi pasangan—”
“Pasangan cinya monyet,” komentar Ema menyela penjelasan Juda.
“Kenapa?” Juda tampak tersinggung sekarang. “Lo mau bilang kalau gue sama Danis masih terlalu muda waktu itu, dan Danis bukan jawaban dari pertanyaan gue tentang siapa jodoh gue....”
Ema menjawab dengan tegas, “Yes, Danis udah bukan jadi bagian dari cerita hidup lo, Ju. Jangan lo bandingin semua yang ada di diri cowok-cowok yang lo kenal dengan apa yang pernah lo punya sama Danis. Karena lo nggak bakal menemukan apa yang ada pada diri Danis di cowok-cowok lain.”
“Gue tahu, Em. Gue cuma ngerasa kalau gue udah terlalu lama nutup hati gue karena gue selalu takut bakal ngulang kejadian yang dulu. Tiap gue mulai ngerasa cocok sama gebetan atau pacar gue, gue selalu kebayang Danis sama Laras.”
Ema memandang sahabatnya dengan serius. “Oh my God, Juju! Lo lupa ya, setelah kelulusan dan Danis berangkat ke Belanda, kita udah cari tahu soal hubungan Danis sama Laras dulu. Mereka nggak seperti yang lo pikirkan. Danis nggak pernah selingkuh dari lo. Lo cuma berasumsi nggak jelas karena ngelihat mereka pelukan tanpa cari tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Lo malah sibuk deketin cowok-cowok seangkatan kita, pura-pura bikin taruhan, terus lo putusin Danis gitu aja cuma buat bikin dia sakit hati.”
Juda tersentak karena ucapan Ema yang menohok hati. Ia pun tersenyum kecut. Ia memang bermasalah dengan dirinya sendiri. Ia yang harus instrospeksi diri, bukannya malah terus-menerus mengkambinghitamkan orang lain karena masalah yang ada pada dirinya sendiri.
“Gue nggak berhak dapet cowok yang baik dan cocok sama gue kayaknya,” gumam Juda yang semakin lesu.
Ema mulai geram karena Juda terus berputar-putar di masalah yang sama. “Nggak gitu konsepnya, Ju. Lo kenapa jadi pesimistis gini sih?”
Juda menundukkan kepala yang mulai terasa berat. Pening sekali rasanya memikirkan masalah pasangan hidup. “Menurut lo gue masih kurang berusaha? Gue sampe lupa siapa aja yang pernah Mami gue coba kenalin ke gue saking banyaknya.”
“Lo dari kemarin-kemarin cuma berusaha buat nggak ngecewain nyokap lo. Lo kalang kabut cari pasangan potensial menurut kacamata nyokap lo, tapi ternyata semuanya nggak sesuai dengan kriteria yang cocok menurut lo. Makanya lo ketemu jalan buntu terus.”
“Kepala gue bentar lagi meledak kayaknya,” keluh Juda. “Gue beneran mau pasrah aja. Capek gue.”
“Jangan cemen dong, Beb. Kalau kata pepatah, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.” Ema kemudian sibuk memainkan ponsel Juda yang tadinya tergeletak di atas meja. Mungkin ada sekitar dua atau tiga menit sebelum kemudian wanita itu menyerahkan ponsel Juda ke pemiliknya kembali dan berkata, “Gue install Tinder di hape lo.”
Juda langsung mengecek ponselnya seraya melotot kesal. “What?”
“Gue udah tulis bio tentang lo, dan juga kriteria pasangan yang cocok sama lo. Tinggal swipe kiri atau swipe kanan aja,” jawab Ema tanpa dosea.
Juda memandang Ema dengan tatapan tak percaya. “Setelah kegagalan demi kegagalan gue sama setiap calon yang dipilihin nyokap gue, lo sekarang kasih solusi ini? Dating app?” juda meletakkan ponselnya kembali di atas meja. “Lo sengaja mau bikin gue masuk kandang singa? Dikenalin sama anak-anak temen nyokap gue yang orangnya udah nyata ada aja gue gagal.”
“Lo bisa pilih sendiri sesuai kriteria yang menurut lo cocok. Kalau dapet match, lo bisa mulai ngobrol ringan dulu by chat. Walaupun banyak yang zonk, di Tinder tuh juga banyak yang beneran cari pasangan serius kok. Makanya gue bilang tadi, ngobrol-ngobrol ringan dulu. Kalau sekiranya cocok ya ketemuan.”
“Kalau di chat orangnya kelihatan baik, pas ketemu ternyata nggak sesuai dengan yang kuta bayangin gimana?”
“Ya udah, berarti lo belum beruntung.”
Juda bergidik ngeri membayangkan apa yang mungkin ia alami jika bertemu dengan laki-laki aneh. “Serem tau, Em!”
Ema mengibaskan tangan. “Udah, lo coba dulu aja. Ntar gue temenin kalau emang ada yang nyantol sama lo. Gue juga nggak mungkin ngebiarin temen perawan gue yang masih polos ini ketemuan sama cowok Tinder.”
“Kampret!” umpat Juda.
Ema tertawa keras.
Setelah membiarkan Ema menertawakannya, Juda kembali menyambung topik sebelumnya. “Lo serius nyuruh gue main Tinder?”
Ema mengangguk. “Kenalan gue banyak yang ketemu sama suami atau istri mereka sekarang lewat Tinder. Dating app nggak seburuk kelihatannya kok, kalau emang kitanya bisa filter mana yang beneran serius dan mana yang enggak. Mau kenalan dari dating app atau dikenalin langsung sama orang lain menurut gue bisa sama-sama dapet yang zonk. Buktinya lo udah ngalamin sendiri, kan. Nah, karena lo udah mulai capek dikenalin ke banyak cowok dan belum berhasil ketemu yang cocok, makanya sekarang lo hunting sendiri.”
“Hunting? Gue bukan mau berburu cowok.”
Ema berdecak. “Udah, deh. Pokoknya lo coba aja dulu. No pressure. Karena lo bisa pilih sendiri siapa yang mau lo. Simple kan. Tinggal swipe kiri atau swipe kanan aja kok. Bisa jadi lo nanti bakal ketemu orang yang udah lo kenal dan ternyata cocok setelah ngobrol. Atau bisa jadi lo bener-bener ketemu orang baru yang klik sama lo. Sebulan deh paling lama. Kalau ternyata nggak ketemu yang cocok, ya udah, uninstall aja.”
Juda ingin melontarkan alasan lain yang membuatnya ragu, tetapi ia urungkan. Ema sudah sangat membantu dirinya mencari solusi dan mungkin saja memang tidak ada salahnya bermain dating app. Kalau memang tidak menemukan pasangan dari sana, setidaknya ia bisa mendapat pengalaman menggunakan dating app. “Oke. Tapi cuma sebulan,” putusnya kemudian.
Ema pun tersenyum puas.
“Di grup alumni pada ngomongin reuni,” kata Juda beberapa saat kemudian sambil membaca chat yang masuk di ponselnya.
“Udah dari kapan bahas reuni tapi sampe sepuluh tahun dari kita lulus cuma wacana doang,” sahut Ema yang sibuk menghabiskan makanan yang tadi ia pesan.
“Yang ini kayaknya beneran. Soalnya ketua OSIS kita dulu udah nongol. Dia udah nunjuk beberapa orang buat jadi panitia,” balas Juda. Masih fokus pada layar ponselnya. “Eh, eh, lo di mention di grup, Em. Diminta jadi seksi acara.”
“Kok gue?” Ema buru-buru membuka ponselnya. “Dih, kampret! Masih aja diktator ya si Fikri. Main nunjuk orang aja,” geram Ema. Ia mengetikkan sesuatu dengan gemas.
“Lo ditunjuk karena lo pernah jadi ketua acara pensi tahunan kali. Terima aja udah.”
Ema menghentikan ketikan dan menatap Juda. “By the way, kalau kita beneran mau bikin acara buat reuni, itu artinya lo harus siap ketemu temen-temen kita, yang gue yakin banget kalau sebagian besar dari mereka bakal berlomba-lomba pamer kesuksesan mereka dari segi kerjaan dan percintaan.”
Juda tampak kebingungan. “Ya, terus?”
“Itu artinya lo butuh pasangan. Kecuali lo mau dateng sendirian, sih.”
Juda langsung paham arah pembicaraan itu. “Gue bakal maksimalin main Tinder kalau gitu.”
Jawaban itu seketika membuat Ema kembali menyemburkan tawa. “Oke deh. Tapi aslinya ke reuni tanpa bawa pasangan juga nggak papa sih. Siapa tahu lo ketemu jodoh di sana.”
Juda mendengus. Tidak mau berharap banyak.
***