BAB 4. Jodoh di Tangan Mami [2]

2458 Words
Sejujurnya, Juda belum seputus asa itu untuk bisa segera menikah. Ini semua karena tuntutan dan desakan Mami yang membuat Juda nyaris gila. Jika diberi pilihan, tentu saja Juda akan memilih untuk tidak menikah dulu, setidaknya sampai ia bisa menuntaskan masalah hatinya. Juda ingin dan berharap bisa menemukan seseorang yang bisa membuatnya kembali percaya kepada laki-laki. Yang bisa mengajarinya arti cinta, bukan sebuah pertemuan yang diatur oleh Mami dengan paksaan yang membuatnya tertekan hingga membuatnya tak bisa tidur nyenyak. Ema, teman terdekatnya sejak SMA, berkali-kali berkata, “Sekali-kali lo tegasin aja ke nyokap lo, Ju. Bilang ke beliau kalau lo udah gede dan bisa ngatur masa depan lo sendiri.  Lo bisa tegas ke orang-orang, tapi sama nyokap sendiri lembek banget. Dengan lo bersikap kayak gitu, nyokap lo pasti jadi ngerasa kalau dia punya kuasa buat ngatur lo harus begini begitu.” Hari ini, setelah Juda bercerita tentang Sakha dan juga Hamish, ia langsung disembur Ema dengan omelan serupa. Juda mengaduk-aduk kopinya yang tinggal tersisa separuh gelas tanpa berminat menghabiskannya. “Nyokap gue begitu karena khawatir sama gue, Em. Karena nyokap gue sayang sama gue.” “Ngerti gue.” Ema bersedekap. Duduk tegak di kursinya yang berseberangan dengan Juda. “Gue juga bukannya nyuruh lo jadi anak durhaka. Gue cuma minta lo buat ngomong lebih tegas aja. Gue bilang tegas ya, bukan yang cuma ngomel galak terus ngadu ke bokap lo kalau nyokap lo nggak mau dengerin pendapat lo. Gue yakin bokap lo juga bakal dukung lo kalau lo mau tegas soal hidup dan perasaan lo sendiri.” Ema memberikan tatapan galak dan serius di waktu yang bersamaan. Satu-satunya orang terdekat Juda−selain orang tua dan kedua kakaknya−yang bisa membuat Juda mengkeret saat diceramahi. “Katanya lo berharap ketemu sama cowok yang bisa bikin lo nyaman dan bisa buka hati lo buat dia, kan? Percaya sama gue, mau sampai seratus laki disodorin nyokap lo, kalau lo nggak beneran ikhlas ketemu mereka, bakal sia-sia. Bisa-bisa sampai umur empat puluh lo bakalan masih perawan.” “Doa lo jelek banget, sih! Gue juga bukannya pengen jadi perawan tua.” Juda melemparkan gumpalan tisu ke wajah Ema dengan kesal. Ema menghindar dengan mudah hingga tisu itu jatuh di lantai. “Ya, makanya. Daripada lo tiap saat ngeluh mulu ke gue tiap nyokap lo mulai gencar jodoh-jodohin lo, mending lo turutin nasihat gue. Atau gini aja, kalau lo beneran nggak bisa ngomong ke nyokap lo, lo tetepin hati lo dulu sebelum ketemu calon yang dipilihin nyokap lo. Jangan langsung kasih red flag cuma gara-gara dia nggak bisa bedain warna lilac sama lavender.” “Gue nggak pernah kasih red flag ke cowok yang nggak bisa bedain warna lilac sama lavender! Gue kan juga buta warna. Gue cuma tahu warna pelangi mejikuhibiniu,” cerocos Juda. Ema menyemburkan tawa karenanya. “Tapi lo pernah kasih red flag ke siapa tuh, cowok berkacamata yang nembak lo pake 25 tangkai bunga mawar waktu lo ulang tahun ke-25.” “Oh si Gibran yang dokter saraf itu ya. Waktu dua kali jalan sama dia, gue udah cerita kalau gue tuh nggak suka bunga, tapi masih aja dikasih. Gue sebel aja soalnya dia tuh kelihatannya aja pendengar yang baik, ternyata pura-pura doang. Udah gitu ternyata anaknya pamrih banget. Dia bilang ‘Sia-sia sekali menghabiskan waktu bersama perempuan yang nggak punya masa depan’,” gerutu Juda yang mulai mengais ingatan tentang salah satu mantan pacarnya. “Siapa juga yang mau tiba-tiba langsung diajak kawin padahal baru kenal empat bulan. Satu bukti lagi kalau dia emang nggak bener-bener dengerin tiap gue ngomong. Di date pertama setelah dikenalin sama senior gue aja gue udah bilang kalau gue mau hubungan yang nyantai. Eh, dia malah ngegas, kan gue males juga jadinya.” “Kalau gue jadi lo juga bakal langsung kabur sih walaupun doi duitnya banyak,” gumam Ema. “Tapi yang masih bikin gue heran, kenapa lo kenal sama cowok nggak jelas semua.” Warna muka Juda semakin keruh. “Gue curiga kalau ada yang ngutuk gue biar gue nggak bisa punya hubungan yang adem ayem sama cowok.” “Coba lo inget-inget lagi, deh. Menurut lo, dari semua mantan lo, siapa yang paling tersakiti waktu kalian putus?” Itu adalah pertanyaan paling mudah yang bisa dijawab Juda tanpa perlu berpikir. “Lo tahu pasti siapa, Em,” ujarnya dengan pahit. Perlu beberapa detik sebelum Ema paham. “Danis. Dia juga yang bikin lo patah hati nggak sembuh-sembuh,” cetus waniat berkuncir kuda itu dengan nada setengah prihatin dan setengah bosan. “Gue jadi penasaran gimana kabar pujaan hati lo itu.” “Danis bukan pujaan hati gue,” elak Juda dengan galak. Ema tidak mengindahkan suara keras Juda dan malah berkata, “Gue dengar-dengar sih, katanya Danis belum pernah balik ke Indonesia dari sejak dia berangkat ke Belanda sepuluh tahun lalu. Setelah lulus S1, doi langsung lanjut S2. Sebelum lulus S2 dia udah dapet kerjaan di sana.” “Gue nggak peduli. Nggak usah bahas Danis lagi, bisa kan?” Ema mengerling geli. “Duh, ada yang galau.” “Gue nggak galau.” Juda memutar bola matanya dengan malas. Ema sudah ingin kembali menggoda Juda, namun saat melihat jarum jam pendek di angka sepuluh, ia urung. “Udah ah, yuk balik. Udah mau jam sepuluh nih,” ajaknya masih sambil menatap arloji di pergelangan tangan. “Gue besok harus ke bandara pagi-pagi banget.” “Jemput Astu? Bukannya bulan lalu dia pulang ke Jakarta? Masa udah pulang lagi?” tanya Juda. Ema menggeleng. “Gue mau dinas ke Bali.” Juda langsung menggerutu, “Dinas mulu kerja lo. Apalah gue yang tiap hari cuma duduk di depan komputer ngitung duit sampai b****g gue tepos.” Juda sudah lima tahun−ia belum pernah pindah sejak lulus kuliah−bekerja sebagai akuntan di bagian Subag Akuntansi di sebuah rumah sakit di daerah Kebon Jeruk. Berkutat dengan angka-angka miliaran yang imajiner yang tidak pernah ia lihat wujudnya. “Gue ikut lo ke Bali aja kali ya biar gue bisa mangkir dari acara arisan nyokap gue,” desah Juda. “Besok masih Jumat, dodol! Mau bolos lo?” Ema berdiri, dan Juda pun ikut berdiri dari tempat duduknya. Keduanya beranjak meninggalkan kafe. “Ketemu aja dulu, Ju. Kali aja si Hamish ini lebih hot dari Hamish Daud.” “Gue nggak mau expect terlalu tinggi. Cepak gue dapet zonk mulu.” Ema tertawa. Sebelum keduanya berpisah, Ema sekali lagi menawari Juda untuk ikut mobilnya saja ketimbang naik grab menuju indekosnya. Juda menolak karena indekos dan apartemen Ema beda arah. “Inget kata-kata gue, Ju. Hadapi nyokap lo dengan tegas!” seru Ema setelah grab yang dipesan Juda saat keduanya masih di dalam itu sudah datang dan Juda masuk ke dalamnya setelah mencium pipi kiri dan pipi kanan sahabatnya. Juda melambaikan tangan dari kursi penumpang kepada Ema sambil tersenyum bosan. Setelah mobil grab yang membawanya berbelok ke arah jalan raya, Juda menyandarkan punggung dan memejamkan mata sejenak. Empat hari berlalu dengan cepat. Dan lusa sudah akhir pecan. Kalau biasanya akhir pekan selalu dinanti-nanti, sekarang tidak lagi. Sejak desakan Mami kepada Juda untuk segera menikah dan memintanya untuk sering-sering pulang, akhir pekan tidak lagi menjadi hal yang paling Juda hindari.   ***   Seperti yang sudah Juda prediksi, laki-laki yang bernama Hamish−bukan Hamish Daud−jauh dari apa yang Juda harapkan. Tinggal di luar negeri cukup lama tidak membuat Hamish menjadi pribadi yang liberal. Laki-laki itu sangat konservatif bahkan cenderung patriarkis. Juda berkali-kali ingin menampar wajah laki-laki berparas tampan itu−terlalu putih untuk ukuran laki-laki Jawa tulen−karena mendominasi percakapan dengan segala pencapaiannya selama hidup. Mereka bahkan baru bertatap muka tidak sampai dua jam dan laki-laki itu “Kalau kita menikah, saya sangat berharap kamu mau ikut saya ke Kanada dan menetap di sana. Saya di sana sudah punya rumah, cukup besar untuk menampung satu keluarga dengan dua sampai empat anak. Saya sudah siapkan tabungan masa depan, biaya sekolah anak dari sekolah dasar sampai kuliah. Insyaallah cukup dan masih akan bertambah selama saya masih bekerja sampai pension dua puluh tahun lagi. Kamu juga nggak perlu khawatir, saya menanam saham di banyak perusahaan besar, jadi setelah pensiun dari pekerjaan saya sekarang, hidup kita masih tetap akan terjamin, nggak akan kekurangan sedikit pun.” Juda terbengong-bengong. Masa depan yang sudah terencana dengan sistematis itu sama sekali tidak sampai di otak Juda. Untuk berpacaran yang menjurus ke arah serius saja Juda kerap kali gagal, lalu tiba-tiba ia dihadapkan dengan seorang Hamish yang langsung membombardirnya dengan rencana besar untuk belasan bahkan puluhan tahun ke depan. Menikah, membangun keluarga kecil yang bahagia, punya anak. Terlalu banyak informasi yang dijejalkan laki-laki itu ke otak Juda, membuatnya pening dan ingin muntah. “Maaf, Hamish, saya mau ke dapur sebentar,” sela Juda sebelum Hamish kembali menjabarkan satu demi satu rencana masa depannya. “Kamu mau sekalian nambah minum atau makanan?” Hamish tersenyum seraya melirik meja yang penuh hidangan makanan dan minuman. “Ini udah lebih dari cukup, Juda. Terima kasih.” “Oke, kalau gitu saya tinggal sebentar ya.” Juda membalas dengan senyum canggung sebelum beranjak pergi. Sejujurnya, saat pertama kali dihadiahi senyum manis laki-laki itu, jantung Juda kembang kempis kesenangan. Senyum Hamish sangat memikat. Namun, senyuman saja tidak cukup. Hamish tidak memberikan kenyamanan, bahkan tidak mau berusaha membangun percakapan dua arah. Sepanjang mengobrol, semua hanya tentang dirinya. Terlebih lagi, laki-laki itu menawarkan kehidupan rumah tangga di mana Juda akan ditahan di dalam rumah. Sementara Juda tidak bisa melepaskan kehidupannya, terutama pekerjaannya di Indonesia hanya untuk menjadi ibu rumah tangga yang dalam sisa hidupnya untuk ia baktikan kepada suami dan anak-anaknya kelak. Ia jelas tidak akan sanggup dengan kehidupan semacam itu. Juda berlama-lama di kamar mandi yang berada di samping dapur. Mengulur waktu selama mungkin sambil berharap acara arisan di rumahnya itu segera berakhir agar ia tidak terjebak dengan Hamish lebih lama lagi. Agar ia bisa segera memberikan penolakan dan membuat Hamish mundur teratur tanpa pertimbangan dua kali. Saat Juda sedang melamun, ia dikagetkan oleh ketukan agak kasar dari luar. “Ju, Hamish-nya kenapa kamu tinggalin di belakang?!” Itu adalah suara Mami. Juda mengerang dengan gemas. “Aku kebanyakan makan puding, Mi. Mules, nih,” dustanya dengan setengah berteriak. “Ya ampun, malu-maluin banget kamu itu. Jangan lama-lama, Ju. Kasihan anak orang kamu anggurin sendirian kayak anak ilang.” “Nggak kayak anak ilang juga kali, Mi. Udah tiga puluh tahun umurnya,” cetus Juda. “Terserah. Pokoknya jangan bikin malu Mami, ya. Mami percaya kamu bisa mengambil hati Hamish. Jangan terlalu galak dan tertutup.” “Iya, Mami tenang aja.” Kemudian Juda meminta Mami pergi setelah berkata bahwa ia akan segera keluar. Setelah terdengar langkah kaki Mami menjauh, Juda menggerutu kecil, “Nggak usah repot-repot mengambil hatinya, Mi. Si Hamish sibuk promosi sendiri.”   ***   Juda merasa waktu sudah berlalu cukup lama, tetapi nyatanya hanya sepuluh menit ia menghabiskan waktunya di kamar mandi. “Maaf agak lama,” ucap Juda sembari duduk. Pura-pura merasa tak enak hati dan menunjukkan ekspresi penuh sesal yang dibuat-buat. “Nggak apa-apa.” Hamish kembali menampilkan senyum manisnya yang memikat. “Sampai mana tadi kita ngobrolnya?” Juda menahan diri untuk tidak mengungkapkan rasa muaknya dengan tersenyum singkat dan kemudian membiarkan Hamish kembali bicara tentang visi misi dalam hidupnya. Juda akui bahwa Hamish adalah orang hebat. Sukses membangun karir di negeri orang bukanlah hal yang remeh dan bisa dilakukan semua orang. Namun, jika laki-laki itu terus membicarakan tentang dirinya sendiri, tanpa sekali pun bertanya tentang kehidupan Juda, bagaimana mereka bisa membangun rumah tangga seperti yang diinginkan laki-laki itu? “Untuk biaya pernikahan, saya juga sudah siapkan. Mau yang mewah atau yang sederhana, saya mengikuti saja. Semua saya serahkan ke kamu.” Hamish menyebutkan nominal yang cukup besar, yang bahkan junlah tabungan di rekening Juda saja tidak mencapai setengahnya. “Kita bisa mulai mendiskusikannya hari ini kalau kamu mau−” “Maaf, Hamish,” Juda menyela dengan agak sungkan sebelum Hamish makin melantur, “saya yakin kalau sejak tadi kamu belum bertanya ke saya, apa saya bersedia menikahi kamu hanya dari CV yang kamu jabarkan dari sejak kamu dan saya duduk di sini. Kamu bahkan nggak bertanya tentang umur saya, di mana saya bekerja, kesibukan saya apa, apa kamu yakin memang mau menikah dengan saya? Atau kamu hanya mau mencari istri yang segala-galanya kamu atur sampai istri kamu kehilangan hak suaranya untuk berpendapat?” Hamish terlihat cukup syok karena Juda yang sejak tadi hanya bicara sepatah dua patah kata dengan nada lembut nan canggung itu tiba-tiba mencerocos panjang lebar dengan suara yang bisa dibilang cukup keras dan tegas−lebih tepatnya galak dan judes kalau mengutip kata Mami dan orang-orang. Laki-laki itu terlihat ingin membuka mulut untuk menjelaskan. Namun, Juda masih belum selesai dengan ganjalan yang mendesak agar segera dikeluarkan dari kepalanya. “Look, saya sangat menghargai kamu yang mau datang ke sini dan menemui saya untuk… katakan saja melamar saya. Kalau kamu berniat membuat saya terkesan dengan semua pencapaian, jumlah tabungan sekian M dan berbagai aset yang kamu miliki, jujur saja saya memang terkesan. Amat sangat terkesan. Dan saya yakin dengan semua itu, kamu bisa memenuhi kebutuhan saya tanpa saya perlu bekerja keras untuk mendapatkannya. Tapi maaf, bukan itu yang saya inginkan, Hamish. Saya nggak mau hidup hanya dengan bergantung pada orang lain walaupun itu suami saya sendiri kelak.” Juda mengambil napas dalam satu tarikan, mengembuskannya perlahan kemudian lanjut bersuara, “Saya senang dengan apa yang saya miliki sekarang di sini dan saya nggak berniat melepaskan pekerjaan saya dalam waktu dekat. Walaupun saya harus bekerja dari pagi sampai sore dan terus-terusan mengeluh karena banyak deadline. Walaupun saya sudah bekerja bertahun-tahun tapi nggak punya tabungan masa depan sebanyak yang kamu miliki. “Kamu mungkin nggak mau tahu, tapi saya dididik orang tua saya untuk menjadi mandiri dan independen. Menjadi wanita karir adalah cita-cita saya sejak kecil. Kalau diminta, apalagi dipaksa untuk melepaskan pekerjaan saya untuk mengabdi menjadi istri dan ibu, dengan segala hormat saya untuk kamu, saya harus menolak,” sambung Juda tanpa gentar. “Saya sadar, saya mungkin terlalu sombong karena menolak laki-laki sekaliber kamu. Tapi saya benar-benar nggak bisa.” “Kamu baru saja menolak saya?” Hamish mungkin tidak menyangka akan mendapat penolakan sejelas dan setegas itu. Kepercayaan diri yang terpancar sejak menginjakkan kaki di halaman rumah Juda itu mulai pudar digantikan seraut wajah gelisah yang ia coba samarkan. Juda menatap Hamish dengan penuh sesal. Kali ini bukan sebuah kepura-puraan. Ia benjar-benar menyesal karena tidak bisa menerima niat baik Hamish. “Maaf. Saya harus bilang kalau banyak wanita yang lebih siap untuk menjadi istri dan ibu rumah tangga. Dan orang itu bukan saya.” “Kalau saya mengizinkan kamu tetap bekerja setelah kita menikah, kamu mau menerima saya?” Kalau saja Juda tidak terlanjur illfeel dengan kenarsisan laki-laki itu, mungkin saja ia masih mau mempertimbangkan tawaran itu. Namun, tidak. Keputusan Juda sudah bulat. Juda menggeleng tegas. “Maaf, Hamish.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD