BAB 5. Terikat Masa Lalu

2279 Words
Sepulang Hamish dari rumah Mami−setelah Juda diomeli Mami sampai telinganya panas karena katanya menyia-nyiakan calon suami potensial−wanita itu buru-buru masuk ke kamar dan menghubungi Ema. Menceritakan semuanya dari awal hingga akhir pertemuannya dengan Hamish tadi. “Gila sih, duitnya emang banyak. Tapi ritme hidupnya gila banget. Nggak seimbang sama ritme hidup gue,” keluh Juda. “Seriusan lo tolak langsung orangnya? Please, dia nggak lo judesin karena lo nggak sreg sama orangnya, kan?” “Gue nolaknya classy kok. Nggak sambil ngomel-ngomel kayak ibu-ibu,” tukas Juda sebelum Ema mengejeknya. Kemudian ia mendesah lirih. “Gue bisa bilang kalau Hamish ini mantu idaman banget, Em. Tutur katanya halus kayak sultan, santun banget sama orang tua, murah senyum, nggak suka main mata selama ngobrol sama gue, udah gitu ganteng, tajir, pokoknya paket lengkap. Tapi tetap aja a big NO buat gue. Bisa mati muda kayaknya hidup sama laki-laki penganut paham patriarkis kayak dia. Gue belum ngomong aja dia udah ceramah soal kodrat wanita yang harusnya tinggal di rumah, jadi istri yang nurut sama suami blablabla,” cerocos Juda. Ia sampai terengah karena lupa memasok udara ke dalam paru-parunya. “Lo maunya punya suami yang kayak gimana, sih?” tanya Ema bingung. “Yang jelas bukan kayak Hamish atau kayak mantan-mantan gue sebelumnya.” Juda merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya melayang. “Lo sendiri tahu kalau gue belum benar-benar serius mikir ke arah sana, Em. Makanya gue juga kadang nggak ngerti siapa dan kayak gimana yang aslinya gue mau buat jadi pasangan hidup gue.” Ada sekitar lima detik terjeda dalam hening sebelum Ema menimpali, “Kalau kata Astu, waktu lo ketemu orang yang tepat, saat itu juga lo akan tahu. Kalau dialah yang lo inginkan buat jadi pasangan hidup lo.” “Lo sama Astu gitu?” Ema berdeham kecil kemudian menjawab dengan yakin, “Awalnya gue nggak tahu. Tapi makin ke sini gue sadar kalau gue emang mau Astu yang jadi pasangan hidup gue. Gue udah nggak mau cari-cari yang lain lagi. He’s the one whom I want to spend the rest of my life with.” Dari cara Ema mengucapkan kata demi katanya, Juda tahu jika sahabatnya itu sedang tersenyum berseri-seri. Ada rasa iri menggelayut di hati setiap kali ia melihat kebahagiaan memancar ketika Ema membicarakan Astu−bahkan saat tidak saling berhadapan pun Juda bisa merasakan pancaran kebahagiaan yang terbentuk dari rasa cinta mereka berdua itu. Juda tersenyum kecut. Dalam satu minggu, ada dua orang yang mengucapkan hal yang hampir sama kepadanya. Tentang menemukan orang yang tepat. Tentang menemuka the one. Sekali lagi, Juda bertanya-tanya, kapan momentum itu datang kepadanya? Apakah di luar sana ada orang yang tepat untuknya? Bagaimana jika tidak ada? Apakah seumur hidupnya ia hanya akan terus mencari seseorang yang menurutnya tepat, yang belum tentu ada? Berbagai kelebatan pikiran itu membuat Juda panik. “Menurut lo, semua orang bakal ketemu sama orang yang tepat dalam hidupnya nggak, sih?” tanya Juda yang lebih mirip gumaman untuk dirinya sendiri. “I guess so.” Juda lagi-lagi mendesah. “Orang-orang yang memutuskan buat nggak nikah itu gimana dong? Tuhan lupa nggak masukin mereka ke list umat-Nya yang butuh pasangan? Terus gimana sama orang yang udah nikah lama, pernah saling mencintai dan berjanji akan sehidup semati, tapi akhirnya cerai? Gimana sama orang-orang yang kawin cerai kawin cerai kayak ganti celana dalam? Gimana−” “Shut up! Gue juga nggak tahu! Gue bukan pakar percintaan, oke?” potong Ema dengan tidak sabaran. “Listen, lo cuma lagi stress aja karena hubungan lo sama cowok berkali-kali nggak work out. Makanya lo freak out gini.” “Nggak usah diperjelas ‘berkali-kali’-nya juga. Gue juga nggak bangga gagal mulu,” sela Juda. “Mau tahu kenapa lo gagal mulu urusan cowok?” Juda bangkit dari posisi rebahannya dan duduk bersandar di headboard, meletakkan bantal di sandaran. “Kenapa?” “Karena lo nggak tulus,” tutur Ema yang langsung menohok hati Juda. “Lo ketemu sama cowok-cowok yang dipilihin nyokap lo karena lo terpaksa. Lo nggak benar-benar mau ketemu mereka, makanya lo selalu cari kesalahan sekecil apa pun buat mendorong mereka menjauh dari lo. Lo bukan lagi kena karma karena pernah bikin Danis dan selusin cowok lain patah hati. I’m so sorry to say this to you, tapi masalahnya ada di diri lo sendiri. Lo yang menutup diri. Membatasi akses buat orang-orang yang tulus mendekati lo.” Juda tahu. Sebelum Ema menjabarkannya dengan begitu jelas, Juda sudah tahu. Dirinya memang bermasalah. Dan ia juga tahu bahwa jalan satu-satunya adalah menyelesaikan masalah itu. Itu artinya yang pertama yang harus ia lakukan adalah dengan menuntuskannya dari sumber masalahnya terlebih dahulu. “Em, lo bisa bantu gue kan?” Tiba-tiba saja adrenalin di dalam tubuhnya terpacu dengan kuat, yang selalu terjadi ketika ia mengharapkan sesuatu dengan penuh harap. “Gue sama Astu udah nggak ada temen atau kenalan yang bisa gue kenalin ke lo. Kalau itu bantuan yang lo maksud,” ujar Ema penuh antisipasi. Juda langsung menukas, “Bukan. Bukan itu. Gue butuh nomor hape, email, atau akun sosmed-nya Danis. Pokoknya yang terhubung sama dia. Gue harus banget ngobrol sama Danis. kalau bisa secepatnya.” “Biasanya lo paling males kalau gue ngomongin Danis. Mau ngapain lo?” Suara Ema sarat akan rasa curiga. “Lo tadi bilang kalau masalah gue ada di diri gue sendiri. Nah, masalah gue adalah… gue ngerasa kalau urusan gue sama Danis belum tuntas. Lo juga tahu kalau Danis yang bikin gue jadi begini. Gue mau nuntasin masalah gue sama dia. Closure, Em. Gue butuh closure.” “Menurut gue, lo cuma jadiin masa lalu lo sama Danis sebagai alasan. Percaya sama gue, nggak akan ada gunanya ngehubungin Danis. Lo cuma bakal nambah drama nggak penting.” “Gue nggak drama!” sangkal Juda dengan suara agak keras. “Gue kasih tahu satu fakta kalau lo lupa. Lo sama Danis tuh udah sepuluh tahun lalu putusnya. Gue malah nggak yakin kalau dia masih inget sama lo. Apalagi inget pernah pacaran cuma tiga bulan sama lo.” Juda seketika lemas. “Gue seenggak penting itu ya?” “Nggak gitu maksud gue, Ju,” koreksi Ema cepat-cepat. “Kalaupun Danis masih inget, gue yakin dia cuma nganggep lo sebagai cinta monyetnya.” “Bagus kalau gitu. Gue juga bukannya berharap Danis masih belum bisa lupain gue atau apa. Bukannya malah lebih gampang kelarin masalah gue kalau Danis udah lupa tentang gue?” Terdengar helaan napas Ema. “Lo yakin kalau ini ada hubungannya sama Danis? Karena gue nggak yakin.” Kalau tadinya Juda cukup yakin, sekarang tidak lagi. Ia mulai ragu. Karena barangkali memang Danis tidak berperan dalam membuat hati Juda tertutup rapat. Bisa jadi orang lain−mantan pacarnya yang lain. Lalu sekilas terbersit satu hal tentang dirinya dan Danis yang sempat ia mimpikan beberapa waktu yang lalu. “Gue mau minta maaf sama Danis.” “Soal?” Juda membayangkan ekspresi Danis yang sama-samar masih ia ingat. “Soal gue yang sengaja nyakitin dia dengan pura-pura bikin taruhan dan mutusin dia tanpa perasaan.” “Well, kalau memang harus, berarti lo perlu minta maaf ke semua cowok yang pernah lo sakiti, kalau mau hidup lo jadi lebih tenang dan lo bisa mulai berburu calon suami potensial.” Kalimat terakhir yang diucapkan Ema yang bernada penuh ejekan itu membuat Juda mencebik. “Gue minta tolong ya, Em. Please. Pasti ada temen kita yang masih kontakan sama Danis.” “Kenapa lo nggak coba cari sendiri?” Juda berdecak malas. “Gue males kalau dikira belum move on dari cinta monyet gue!” Dan Ema pun tertawa keras hingga terbatuk-batuk. Juda harus menunggu sampai tawa itu reda sebelum kembali mendesak Ema untuk benar-benar serius mempertimbangkan permintaannya. “Gue harus mulai dari mana dulu nih kira-kira,” gumam Ema. “Martin. Gue yakin Danis pasti masih temenan sama Martin.” “Kok lo tahu banget, sih,” goda Ema. Juda memutar bola matanya. Mulai bosan. “Terus-terusin aja ngebully gue.” “Sensi amat, Sis! Gue udah DM Martin di i********:. Gue bilang gue mau kasih undangan kawinan.” Juda mengernyit tidak mengerti. “Ngapain lo kasih undnagan kawinan buat Martin?” “Buat mantan lo, Bego!” “Ngapain juga lo ngundang Danis?” Juda makin tidak mengerti. Sessat terdengar erangan gemas Ema. “Please, ini kan undangan boongan doang.” “Boongan atau bukan, harusnya yang meyakinkan dikit dong alasannya,” geram Juda. “Wih, langsung dibales nih.” Ema kembali bergumam. Mengabaikan protes Juda. Jantung Juda mendadak berdebar keras. Menanti dengan harap-harap cemas balasan dari sahabat mantan pacarnya. “Nggak dikasih,” kata Ema. “Katanya bisa nitip undangan ke Martin aja, nanti dibakal dia terusin ke Danis.” Dan Juda pun tertunduk lesu.   ***   Laki-laki yang dibicarakan oleh Juda dan Ema itu hidup dan tinggal di belahan bumi yang lain. Namanya Daniswara Jati Praba. Nama poemberian dari orang tuanya yang terdengar kuat dan gagah. Sudah sepuluh tahun Danis tinggal di Belanda. Mengejar mimpi berkuliah di negeri kincir angin itu, bekerja di sana, dan berniat untuk menetap di sana, sampai bayangan masa depan itu diruntuhkan oleh seseorang yang sudah ia beri kepercayaan besar sebagai pasangan hidupnya. Kehidupan yang sudah susah payah ia bangun, dengan harapan ada kebahagiaan di dalamnya, kini seolah tak ada artinya. Ia dihempas oleh rasa sakit yang membuatnya kehilangan pegangan dalam hidup. Danis sedang menatap keluar jendela kamarnya yang berada di lantai lima dengan mata yang menerawang jauh seakan bisa menembus langit. Sudah beberapa minggu terakhir ini hanya aktivitas itu yang ia lakukan selepas pulang dari kantor. Ia mengunci diri di kamar, tak membiarkan siapa pun menginterupsi aktivitasnya. Terutama penghuni lain di apartemennya, yang membuat Danis menjadi seperti ini. Satu jam berlalu, Danis masih duduk di kursi yang sengaja ia tempatkan di samping jendela, kali ini ada kepulan asap yang keluar dari sebatang rokok di tangan−jendela ia buka, menghantarkan angin sore yang cukup dingin membelai wajah−saat kemudian terdengar suara pecahan piring, gedoran di pintu yang cukup keras hingga kemungkinan bisa merobohkan pintu itu, dan juga teriakan kemarahan. Tiga hal itu juga sudah menjadi lagu yang didengar Danis sehari-hari dalam satu bulan terakhir. Pelakunya adalah Renata, istrinya. Si penghuni apartemen selain dirinya, yang memang sengaja menciptakan keributan untuk membuatnya keluar dari sarang persembunyian. “Udah aku bilang kalau aku nggak mau cerai, Danis. Kita nggak akan pernah bercerai!” teriak Renata dengan suara yang cukup keras untuk bisa di dengar para penghuni di unit apartemen di gedung itu. Dan seperti biasa, Danis mengabaikan teriakan itu. Karena pada akhirnya Renata akan lelah sendiri dan pergi setelahnya. Danis pun tidak lagi mau peduli meski Renata menungguinya di depan pintu sampai tengah malam atau sampai besok pagi. Yang Danis tahu bahwa hal itu tidak akan terjadi. Renata tidak sesabar itu untuk menunggunya membukakan pintu. “AKU NGGAK MAU CERAI, DANIS! KAMU DENGAR ITU, KAN?! NGGAK AKAN PERNAH ADA PERCERAIAN!” Kemudian terdengar bantingan piring yang ke sekian kali. Kalau dihitung dari jumlah piring yang mereka miliki, seharusnya sudah habis dari kemarin-kemarin karena dibanting semua oleh Renata. Jadi, kemungkinan piring-piring itu masih baru, yang sengaja dibeli Renata untuk menciptakan keributan. “Mau sampai kapan kamu mengabaikan aku? Aku kangen kamu. Aku kangen ‘kita’. Please, talk to me, Danis. Kita selesaikan masalah kita baik-baik. Jangan hukum aku.” Kali ini Renata meratap. Danis masih bergeming di tempat. Menyulut rokok yang kedua. Membiarkan Renata lelah sendiri dengan segala ocehannya tentang apa pun itu. Danis sudah tidak ingin lagi peduli. “Aku sayang kamu. Aku selalu sayang dan cinta sama kamu, Danis. Nggak pernah sedetik pun aku melupakan perasaanku buat kamu. Selalu kamu yang ada di hati dan pikiranku. You have to believe me.” Danis melirik ke arah tempat tidur saat ponselnya yang berada di dalam tas kerjanya yang teronggok menyedihkan di atas tumpukan pakaian kotor di ujung tempat tidurnya itu berdering keras. Ia lupa mematikan nada deringnya saat keluar dari kantor. “Danis, kamu mau aku bersujud di kaki kamu? Fine, akan aku lakukan! Aku akan melakukan semua yang kamu inginkan selain perceraian, kalau itu bisa membuat perasaan kamu lebih baik.” Dering panjang itu berhenti setidaknya sepuluh detik sebelum kemudian berbunyi kembali. Meningkahi suara Renata yang masih meratap putus asa dan memohon dalam sesal−Danis tidak benar-benar tahu dan tidak peduli apakah Renata benar-benar menyesal atas perbuatannya. Panggilan kedua itu masih Danis biarkan tak terjawab hingga panggilan ketiga yang membuat telinga Danis mulai terganggu. Dengan langkah tersaruk, Danis mendekat ke sumber suara. Menarik ponselnya dari dalam tas, membuat sebagian dari tumpukan baju kotornya jatuh ke lantai. Martin. Nama itu berkedip-kedip di layar ponselnya. Ia adalah teman dekat Danis yang tinggal di Indonesia. “Halo,” sapa Danis dengan malas. “Lo pasti nggak percaya kalau Ema, temennya Juju, mantan terindah lo itu barusan ngehubungin gue. Katanya dia butuh nomer hape lo buat kirim undangan kawinan.” Pundak Danis menegang sesaat. Ia langsung memusatkan seluruh perhatiannya. “Juju mau nikah?” “Ema yang mau nikah!” koreksi Martin dengan sebal. “Bisa-bisanya lo salah fokus.” Kernyitan dalam hadir di keningnya. “Gue nggak deket sama Ema. Ngapain dia ngundang gue?” “Mana gue tahu. Kasih nomer lo atau nggak nih?” “Jangan kasih.” “Oke, deh.” “Dua minggu lagi gue balik ke Indonesia,” kata Danisa kemudian. “Lo serius mau pisah sama Renata?” Martin bertanya dengan snagat hati-hati. Bersamaan dengan pertanyaan itu, terdengar sumpah serapah Renata yang mulai kehabisan cara membujuk Danis. Kemudian suaranya menghilang. Dan yang terakhir terdengar adalah suara bantingan pintu. Lalu hening. “Gue serius mau pisah sama Renata,” ujar Danis sambil menatap lurus pintu kamarnya yang masih terkunci rapat dari dalam.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD