Anindya sudah berada didalam lift untuk keruangannya yang berada dilantai 9. Saat pintu lift terbuka dilantai 9 dengan cepat Anin keluar dari lift dan buru-buru untuk keruangannya.
Tanpa melihat kanan kiri Anin terus berjalan keruangannya, sudah banyak orang yang berada dilantai 9, Tanpa memperdulikannya Anin masih terus berjalan menuju ruangannya, Anin merasa dirinya dilahati banyak orang sambil berbisik, Anin masih berusaha cuek sampai ia mendengar secara langsung Siska teman seruanganya berbicara ia pun berhenti sejenak membuat Siska dan yang lainnya menatap sinis
"Dasar perebut calon suami orang, mau aja dijadiin selingkuhan bos, pakaiannya aja yang tertutup dan berhijab padahal mah aslinya jual diri tuh," cibir Siska pada teman-temannya
Deg
"Perebut Calon suami orang? Apa maksudnya?" Tanya Anin pada dirinya sendiri
Anin sudah mengepal tangannya kesal, ingin rasanya ia marah tapi ia harus bersabar dan tak boleh terpancing emosi, "Yang dilontarkan mereka tidak benar Anin jadi kenapa kamu harus marah," ucap Anin pada dirinya sendiri
"Iya tuh bener, parah banget ya masih berani lagi dia masuk kerja mana pake mobilnya pak Adnan lagi, gak tau malu banget sih," cibir Debby memandang Anin sinis
"Iya cantikan juga bu Kartika dari pada dia, lagi pak Adnan bisa ya kepincut dengan dia jangan-jangan si Anin pake pelet lagi," ucap Merry, Anin sempat menatap ketiga orang itu tetapi mereka menatap jijik Anin.
"Kartika? Siapa itu Kartika? Apa dia yang mengaku calon istri suamiku?" Tanya Anin pada dirinya sendiri, ia tak mau ambil pusing untuk memikirkannya
Setelah menatap mereka Anin berjalan kembali dan berusaha cuek dan tak memperdulikannya. Ia pun sampai diruangan kerjanya. Lalu ia berjalan ke arah mejanya yang sudah ada Rere dan Lina sedang berbalik berdiri disana menutupi meja Anin.
"Assalamualaikum, oy kalian ngapain didepan meja gue?" Rere dan Lina berbalik badan kaget
"Waalaikumsalam Anin," ucap Rere dan Lina bersamaan, Anin hendak ke arah mejanya tetapi dihalangi oleh kedua temannya dengan bergeser Anin kekiri, mereka kekiri, Anin kekanan mereka juga kekanan, membuat Anin kesal
"Kalian kenapa sih, misi ah gue mau duduk," ucap Anin sambil menggeser tubuh temannya, saat Rere bergeser dan Anin ingin duduk ia kaget melihat mejanya berantakan penuh dengan kertas dan banyak tulisan dan kursinya kotor tersiram air yang gak tau air apa
"Astaghfirullahaladzim," ucap Anin kaget lalu ia mengambil kertas-kertas itu dimeja dan membacanya
DASAR WANITA MURAHAN
DASAR PEREBUT CALON SUAMI ORANG
JALANG
SELINGKUHAN KOK BANGGA
NGAKU BERHIJAB TAPI KELAKUAN BEJAT
dan masih banyak lagi kata-kata kasar di kertas itu, Anin bergetar saat membaca itu, ia tak sangka akan menjadi seperti ini, ia dihina dan dicaci banyak orang, tanpa sadar cairan bening turun dipipinya, Rere dan Lina melihat sahabatnya menangis pun tak tega, Rere mengambil kertas kertas itu dari tangan Anin dan membuangnya ketempat sampah dan Lina memeluk Anin dan membawanya duduk ditempatnya.
"Sorry Nin baru tadi kita mau buang kertas-kertas itu tapi lo sudah keburu dateng, jangan dipikirin ya Nin," Anin mengangguk lalu menghapus air matanya
"Iya Nin itu hanya sampah, jangan dipikirin itu kan gak benar, andai semuanya tahu pasti lo gak akan kaya gini Nin," ucap Rere, Anin menatap kedua temannya
"Gue gapapa kok Re, Lin, biarkan mereka mau ngomong apa, gue cuma kaget aja sampe-sampe nangis begini hehe," ucap Anin sambil tertawa pelan sebenarnya dalam hati Anin sangat sakit membaca tulisan-tulisan itu tetapi ia akan mengikuti kata hatinya untuk terus bersabar dan abaikan kata mereka, inilah resiko yang harus dihadapi Anin karena merahasiakan pernikahannya.
Setelah membersihkan kursi dan meja kerjanya Anin kembali duduk dan berniat melanjutkan pekerjaan.
Ditengah pekerjaannya Anin merasa ponselnya bergetar dan ternyata Adnan suaminya yang menelpon. Anin sempat ragu untuk mengangkat atau tidak karena masih jam kerja dan ada karyawan lainnya. Panggilan pertama pun tak dijawab oleh Anin, tetapi Adnan menelponnya lagi membuat Anin mengangkat telponnya
"Assalamualaikum mas,"
"Waalaikumsalam sayang, kamu lagi sibuk ya? Sampe gak jawab telpon aku," ucap Adnan disebrang sana membuat Anin tersenyum disini
"Iya mas ini kan masih jam kantor, mas sudah sampe di Surabaya?" Ucap Anin pelan ia takut ada yang mendengar telfonnya lalu ia memutar kursinya menghadap jendela membelakangi meja, tanpa ia sadari ada orang tengah berdiri disamping mejanya
"Iya sudah yang satu jam yang lalu, maaf ya baru hubungin kamu,"
"Iya gpp kok mas, Yasudah mas Adnan semangat kerjanya ya, cepet pulang kalau sudah selesai,"
"Iya sayangku Anin, baru beberapa jam ditinggal sudah kangen aja,"
"Hehehe iya mas tiba-tiba aja aku kangen, mas cepet pulang,"
"Aku juga kangen kamu, jangan lupa makan ya, aku tutup telfonnya dulu ya yang, nanti aku telfon lagi ya mmuaachh," kecupan Adnan disana membuat hati Anin sedikit membaik, sejenak melupakan hal tadi
"Iya mas Adnan ku sayang, nanti telfon lagi ya, semangat kerjanya muach," kecup Anin balik
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," tuttt tuttt panggilan pun terputus, Anin menaruh hpnya di kantong bajunya lalu memutar kembali kursinya ia kaget melihat Nindy disamping mejanya melipatkan tangan didada, Anin sungguh tak sadar ada atasannya disitu
"Bagus ya telpon-telponan saat jam kerja," kata Nindy sambil menghentakan kakinya pelan, Anin tak menjawab ia sungguh takut karena bu Nindy pasti mendengarnya menelpon
"Sekarang berani ya telponan sama pak Adnan, pakai sayang-sayangan lagi terus pake kecup segala lagi, dasar wanita gak tau diri," ucap Nindy, Anin menunduk setelah itu ia berani menatap atasannya, Anin berfikir kenapa ia harus takut
"Maaf ya bu karena saya menerima telpon lagi pula kerjaan saya sudah selesai dan masalah saya menelpon dengan siapa itu bukan urusan ibu," ucap Anin tenang
"Eh kamu Anin sudah mulai berani ya, kamu tau calon istri pak Adnan akan datang kemari, tahu rasa nanti kamu bertemu dia," ucap Nindy lalu berjalan keluar ruangan, Anin menghembuskan nafasnya lalu menatap layar komputernya tajam, lelah ia tak ingin menanggapi orang-orang yang menghinanya tetapi pikirannya bertolak belakang dengan tubuhnya, pikirannya selalu memikirkan hal-hal yang diucapkan teman kantornya membuat emosi Anin meningkat tetapi ia masih harus bersabar menjalani permainan yang telah ia buat dan lakukan.
"Anin lo gpp?" Tanya Rere yang sudah berada di depan meja Anin
"Ahh ya gue gpp,"
Anin POV
Aku menghembuskan nafasku kasar lalu aku memandang komputer dengan tatapan tajam tak tau apa yang sedang aku lihat, setelah bu Nindy keluar dari ruangan kerjaku aku berfikir sebenarnya apa yang dimaksud dengan calon istri mas Adnan, Kartika nama yang kutahu dari Marry, siapa dia sebenarnya? Kenapa dia tiba-tiba mengaku calon istri mas Adnan sungguh aku bingung.
Aku sedikit menyantai karena memang pekerjaanku sudah selesai. Teman seruanganku menatapku tak suka mereka semuanya mendengarkan percakapan ku dengan bu Nindy dan mungkin mereka tak menyangka aku bisa-bisanya telponan dengan bosnya menggunakan kata-kata sayang.
"Dasar Anin gak tau diri beraninya dia telponan dengan bos kita pake sayang-sayangan,"
"Wanita perusak hubungan orang, bu Kartika pasti sebentar lagi ngamuk liat aja,"
Hufft aku benar-benar gak nyangka bisa jadi seperti ini, pertama kali aku ingin merahasiakan statusku adalah untuk tenang tetapi tanpa disangka kejadiannya malah menyulitkanku akibat perkataan yang dikeluarkan suamiku dilift beberapa waktu yang lalu. Aku sudah tak kuat rasanya ingin mengakhiri semuanya
Hemm sabar Anin kamu harus bisa bersabar dan menahan emosimu.. tidak lama lagi ini semua akan terbongkar. Batin Anin selalu menyemangati
Aku mematikan komputer dan membereskan mejaku lalu mengambil tas dan berlenggang keluar ruangan tanpa memperdulikan panggilan kedua sahabatku yang berteriak memanggilku
Aku berjalan ingin menuju lift, tetapi saat aku berjalan aku melihat wanita cantik berpakaian seksi sedang berdiri dengan bu Nindy disampingnya sedang berkoar-berkoar marah didepan karyawan yang berada di lantai 9, semua karyawan menunduk takut
Aku memilih untuk bersembunyi dibalik pintu tangga darurat menunggu sampai wanita itu selesai berkoar. Sebenarnya siapa sih wanita itu? Apa mas Adnan mengenalnya? Setauku mas Adnan kan gak pernah pacaran lalu dia itu siapa berani-beraninya mengaku mas Adnan calon suaminya?
Aku merasakan sakit hati saat dihina oleh wanita yang menyebutku perebut calon suami orang didepan semua karyawan, tetapi aku mencoba untuk tak memikirkannya karena semua tuduhan itu tak benar
"Sampai aku bertemu dengannya aku habisi dia, jalang tak tau diri,"
"Mana wanita itu wanita perusak hubungan ku dengan calon suamiku,"
"w************n itu tak pantas bekerja disini, pecat dia,"
Masih banyak lagi ucapan yang terlontar dari mulut wanita itu, Aku tak sanggup rasanya tetapi aku masih memilih untuk mengalah terlebih dahulu.
Menunggu lumayan lama akhirnya Kartika wanita itu berjalan menjauh dari depan lift menuju ruanganku bersama bu Nindy disampingnya. Masih banyak orang diluar sana karena memang waktu menunjukan jam istirahat, aku tak bisa berdiam diri bersembunyi disini, Aku pun memutuskan untuk keluar dari persembunyianku dan menuju lift untuk bisa ke lantai 23, aku ingin bertemu dengan mba Asri pasti ia tahu tentang Kartika Kartika itu
Saat aku keluar semua orang memandangku rendah dan mulai berbisik bahkan ada yang berbicara secara terang-terangan dan aku pun memilih cuek dan tak memperdulikannya seperti biasa, aku sudah terlalu biasa dengan semua omongan mereka.
Aku sudah berada didepan lift lalu menekan tombol ke atas, lift masih berada di lantai 1, kenapa lama sekali sih liftnya gerutuku kesal karena liftnya masih lama sedangkan telingaku sudah panas mendengar ocehan para karyawan sampai aku mendengar suara salah satu karyawan berteriak
"Bu Kartika, Anin ada disini," teriak salah satu karyawan, aku sedikit panik karena aku sangat malas untuk bertemu wanita itu lebih baik aku menghindar dulu setelah aku tahu sebenarnya siapa wanita itu baru aku akan keluar menghadapi dia
Karena lift masih lama dan aku baru mengingat sesuatu, aku pun dengan cepat berpindah ke lift khusus pejabat, semua orang bingung melihat ku berada di lift khusus pejabat yang hanya bisa dipakai kalau ada kartunya.
Dengan cepat aku mengeluarkan kartu yang baru saja diberi oleh suamiku. Ah benar suatu saat aku membutuhkannya makasih masku.
Ting
Lift pun terbuka dengan cepat aku pun masuk dan menekan tombol 23 dan lift pun tertutup saat Kartika sudah berada didepannya, aku pun tersenyum didalam lift.
Orang-orang yang berada di lantai 9 kaget bukan main, mereka tak menyangka Anin mempunyai kartu itu sedangkan Kartika calon istri bosnya tidak mempunyai, itu membuat curiga para karyawan dan memperhatikan Kartika. Kartika yang tak peduli pun meninggalkan mereka semua ke arah lift biasa.
Sekarang aku sudah berada di ruangan mas Adnan bersama mba Asri
"Jadi, sebenarnya ada apa Anin?" Tanya mba Asri sambil meletakan cangkir berisi teh yang baru ia ambil dari pantry dilantai ini.
"Itu loh mba masa ada yang ngaku jadi calon istrinya mas Adnan, ah namanya Kartika, apa mba tahu Kartika?" ucapku sambil mengesap teh yang dibuat mba Asri
"Kartika?" aku mengangguk
"Kartika kenapa itu orang datang lagi?" aku mengangkat kedua bahuku tanda tak tahu
"Emang sebenarnya siapa sih Kartika itu? Mba bisa tolong ceritain mba?" Mba Asri mengangguk lalu memulai menceritakan Kartika
"Kartika itu anak salah satu teman bisnis om Kenan, dulu Kartika itu sempat dijodohkan oleh pak Andreas ayahnya Kartika kepada Adnan, Kartika itu sering mengejar-ngejar bang Adnan, membuat bang Adnan tak suka dengan wanita itu lalu bang Adnan menolak keras perjodohan itu begitu juga dengan om Kenan ia sangat tak suka dengan Kartika, singkat cerita Kartika frustasi karena ditolak oleh bang Adnan lalu ia pergi keluar negeri bersama papanya dan tak ada kabar dan sepertinya ia juga tak tahu kalau bang Adnan sudah menikah," aku mengangguk paham
"Kita harus kasih tau bang Adnan Nin," aku menggeleng
"Jangan mba, nanti mas Adnan jadi kepikiran, dia kan baru saja berangkat ke surabaya,"
"Tapi Nin, nanti takut jadi masalah,"
"Iya aku tahu mba, biarkan saja dulu setidaknya sampai mas Adnan pulang, mba kalau aku mengaku aku istri mas Adnan sekarang apa mereka percaya?" Tanyaku pada mba Asri, Mba Asri menatapku tajam lalu tersenyum
"Kenapa tidak? Aku yakin kalau mereka semua tahu pasti mereka semua langsung pada takut sama kamu Nin," ucap mba Asri
"Yaa tapi aku gak mau itu terjadi mba, aku masih ingin bekerja jika mereka mengetahui statusku apa bisa mereka menerimaku sebagai teman bukan sebagai istri bos mereka,"
"Why not? Kamu orang yang baik Nin, dan kamu masih bisa bekerja walapun status kamu diketahui semua orang, dari pada begini kamu dikira selingkuhan bang Adnan," aku menatap mba Asri, benar juga yang dikatakannya tapi ini tak akan terjadi jika mas Adnan tak menciumku dan mengatakan aku selingkuhannya waktu di lift dan membuat aku seperti selingkuhannya benaran.
Apa aku harus mengakhirinya sekarang? Tapi nanggung aku kan sudah bilang ke mas Adnan bahwa akan mengumumkan pernikahan kami bulan depan saat ulang tahun kantor.
Ya jadi lebih baik aku bersabar saja, masalah Kartika aku harus menunggu mas Adnan pulang dari surabaya. Semoga saja semuanya berjalan lancar.