Part 9 - Diserbu

2591 Words
  Anin POV Sekarang aku sudah duduk dikursiku dan kalian tahu sekarang didepanku sudah banyak teman kantorku yang menyerbuku dengan berbagai pertanyaan. Mereka sudah ribut sendiri menanyakan ini itu kepadaku. "Ehh gila lo nin jadi selingkuhan pak Adnan," "Parah lo Nin kok lu mau sih jadi selingkuhannya," "Gue kira lo hanya teman atau saudaranya pak Adnan ternyata lo jadi jalangnya pak Adnan parah," “Gue gak nyangka sama lo Nin,"  "Jaga sikap lo dong masa pake hijab kelakuannya begitu,"  "Ciuman pak Adnan enak gak Nin?" "Lo dibayar berapa sama pak Adnan?" "Dasar w************n, mau-maunya jadi selingkuhan bos,"  "Tau masa berhijab kelakuan begitu," Dan masih banyak lagi ucapan yang mereka lontarkan untukku. Cukup sesak mendengar ucapan mereka semua, aku hanya mendengarkan tanpa berkomentar sama sekali sampai bu Nindy datang menghadangku. "Anin apa-apaan kamu, baru juga beberapa bulan kerja sudah godain bos besar aja," ucapnya sambil menggebrak mejaku, orang-orang yang berada didepan mejaku langsung menyingkir kebelakang saat bu Nindy datang. Aku dengan sabar tersenyum kepadanya, sabar Nin ini pilihan kamu untuk merahasiakan status kamu dikantor "Ehh Anin jauhi pak Adnan, atau gak kamu saya pecat," ucap bu Nindy, dihh emang lo siapa berani pecat gue segala "Maaf ya bu Nindy saya rasa urusan pekerjaan dan pribadi gak bisa disatukan, jadi saya mohon sama kalian juga jangan urusi pribadi orang lain, karena itu urusan pribadi saya," bu Nindy melotot kepadaku, Aku hanya tersenyum manis didepannya "Kamu benar-benar ya Anin, kalian bubar, Anin ikut saya," ucap bu Nindy marah, yang lainnya pun bubar, bu Nindy mengajakku tetapi aku menolak "Maaf ya bu, saya mau kerja dan ibu gak berhak ngatur-ngatur hidup saya," ucapku santai semakin membuat bu Nindy kesal "Awas kamu Anin," ucapnya lalu keluar ruangan. Lina dan Rere menghampiriku "Gila lo Nin gak takut sama ancaman nenek lampir?" Ucap Rere "Biasa aja, sudah kalian duduk gih gue mau kerja," Lina dan Rere pun mengangguk lalu kembali ketempat duduknya. Aku kembali menatap komputer. Aku pun kembali melanjutkan pekerjaanku dan melupakan sejenak ucapan orang biarlah mereka berkata apa. Aku fokus pada pekerjaan sampai tak sadar jam sudah menunjukkan waktu istirahat. Drrttt drrrtt drrtt hp ku bergetar sudah dari tadi dengan malas aku mengangkatnya ternyata mas Adnan yang menelpon "Halo," ucapku malas "Halo Anin ayo kita makan siang," aku menghembuskan nafas "Hemm makan sendiri-sendiri aja ya mas," ucapku pelan karena masih ada teman lain diruangan "Ehh kenapa kamu takut ya? aku sudah tahu tentang gosip kita," mas Adnan ternyata sudah tahu dan ia nantangin aku "Enggak siapa yang takut," ucapku lantang mas Adnan tertawa disebrang sana "Yasudah kamu kesini keruangan aku, aku sudah pesan makan kita makan diruangan aku aja," "Iya iya," mas Adnan pun langsung menutup telponnya. Aku merapihkan mejaku lalu bergegas meninggalkan mejaku menuju ruangan mas Adnan, sampai depan pintu aku mendengar suara bu Nindy memanggilku. Mau apa lagi sih nih bu Nindy "Mau kemana kamu?" "Mau makan," jawabku "Nih sekalian kasih berkas ini ke resepsionist ya," ucapnya sambil menaruh setumpuk berkas ditanganku, gak tau apa aku mau kelantai atas, terpaksa aku menerimanya. Sepanjang aku berjalan dari ruanganku ke lift lalu dari lift ke meja resepsionist semua orang menatapku tajam sambil berbisik bahkan ada juga yang dengan terang-terangan mengatai aku, aku berusaha untuk tetap cuek sampai aku kembali ke depan lift lagi. Aku pun menunggu lift yang masih turun dari lantai 15 sampai seorang perempuan menarik ku lalu menamparku begitu saja, aku kaget karena dia menampar pipi kiriku didepan umum, semua orang memperhatikanku "Dasar wanita jalang," teriaknya diwajahku, aku memandang wajahnya sambil memegangi pipi kiriku yang terasa nyeri karena tamparannya yang kuat. "Apa maksud anda?" Tanyaku pada perempuan yang baru kulihat pertama kali dikantor "Ya lo adalah jalang yang sudah menarik perhatian pak Adnan, lo tau gue selama ini selalu dekatin pak Adnan tetapi dia selalu menghindar, dan selama ini pak Adnan gak pernah lirik perempuan yang ada disini dan lo seenaknya dekat sama pak Adnan, lo jadi selingkuhan aja bangga," ucap perempuan itu sambil berteriak, aku menarik nafas lalu membuangnya, sabar Anin, rasanya aku ingin teriak bahwa mas Adnan adalah suamiku, semua orang menatapku tak suka "Maaf tapi saya bukan selingkuhan pak Adnan dan saya rasa ini bukan urusan anda," kataku lalu berbalik dan aku segera masuk ke lift karena kebetulan pintu lift sudah terbuka. Kulihat wanita cantik berpakaian seksi itu menggeram kesal. Anin sudah sampai di lantai 23 dimana ruangan suaminya bekerja. Anin baru pertama kali berada di lantai ini, sepi itulah kata yang terucap dari Anin saat ini. Anin mencari dimana ruang CEO berada lalu ia melihat Asri yang baru keluar dari sebuah ruangan "Mba Asri," panggil Anin yang dipanggil pun menengok "Eh kakak ipar," ucap Asri ramah "Iya mba," "Ehh Nin sudah ditunggu bang Adnan didalam," ucapnya Anin mengangguk. Lalu Asri mengantarkan Anin sampai depan pintu ruangan Adnan "Yasudah makasih ya mba aku masuk dulu," Asri pun mengangguk lalu Anin masuk kedalam ruangan "Lama banget sih kamu yang," kata Adnan saat Anin masuk keruangannya. Anin berjalan kearah suaminya sambil melihat ruangan suaminya yang cukup besar dan nyaman itu lalu Anin langsung duduk di sofa disamping suaminya. "Iya tadi aku disuruh kebawah dulu nganter berkas," ucap Anin, Adnan mengangguk lalu mengecup kening istrinya "Gimana hari ini?" Tanya Adnan "Gimana apanya?" "Itu gimana?" tanya Adnan lagi sambil tertawa membuat Anin bingung, beberapa detik kemudian Anin menyadarinya dan mengerti yang dikatakan suaminya "Gak gimana-gimana mas, aku masih kesal ya sama mas," Adnan memandang istrinya "Haha ceritanya masih ngambek nih," Anin tak bergeming "Maaf ya, sumpah loh waktu di lift aku hanya ingin menggodamu dan aku gak nyangka ternyata godaanku bisa jadi gosip seperti ini," Anin masih diam tak bergeming, Adnan tahu istrinya sedang ngambek "Anin ngomong dong, aku akan klarifikasi ini semua kamu tenang aja," Anin memandang suaminya bingung "Mau klarifikasi apa?" "Klarifikasi ya kalau kamu itu istri aku bukan selingkuhan aku," Anin menggelengkan kepalanya tanda tak setuju "No, jangan mas aku belum siap, kalau semua orang tahu aku istri kamu pasti mereka akan bersikap beda kepadaku mas," "Tapi Anin aku gak rela kamu ditampar dan dipermalukan didepan semuanya," "Kamu tahu mas?" Adnan memegang dan mengelus pipi Anin yang masih terlihat merah dikulit putihnya "Ya aku tahu itu semua," Anin menunduk lalu memegang tangan Adnan yang berada dipipinya "Aku gpp kok mas," Anin kembali menatap mata suaminya yang terlihat khawatir pada dirinya "Tapi aku khawatir sama kamu, aku akan umumkan besok," "Tapi mas," "Anin nurut ya sama aku, kamu masih mau kerja kan? Atau kamu mau resign saja," tanya Adnan membuat Anin menatap mata suaminya tajam "Mas kamu gak ingat apa janji kamu sebelum menikah? Aku baru ngerasain kerja mas bahkan belum sampai 1 tahun aku bekerja," "Aku ingat sangat ingat Anin, oke aku minta maaf, aku tahu kamu ingin jadi wanita karir maaf bukan aku menghalangimu untuk bekerja tapi aku khawatir sama kamu Nin kamu hari ini ditampar besok apa lagi? tolong nurut sama aku Nin," "Oke mas tapi jangan besok, satu bulan lagi saat ulang tahun kantor ?" "Tapi Nin aku takut kamu dibully lebih dari pada ini," "Aku gpp kok mas kamu tenang aja," Akhirnya Adnan mengalah setelah berdebat kecil dengan Anin, setelah itu mereka melanjutkan makan siang yang telah tertunda. Adnan POV Sampai kapan istriku merahasiakan statusnya? Aku bener-bener heran kenapa Anin selalu saja keras kepala, aku ingin sekali memberi tahu semua orang bahwa Anin istriku. Aku sudah muak mendengar gosip ini itu dari para karyawan, memang itu semua salahku gara-gara ucapanku di lift membuat semua salah sangka. Setelah berdebat dengan Anin beberapa hari yang lalu akhirnya aku setuju untuk memberi tahu semuanya bahwa Anin adalah istriku saat ulang tahun kantor bulan depan. Aku berharap waktu cepat berlalu. Hari demi hari terlewat begitu saja, setiap hari aku pun masih berangkat dan pulang bareng serta makan siang bareng dengan istriku. Semua orang dikantor mulai melupakan kejadian yang lalu walau masih ada yang menghujat dan bersikap tak suka pada Anin tetapi Anin tak pernah menanggapinya. Semakin hari aku makin sibuk dengan pekerjaanku, bulan ini penjualan sedang meningkat secara drastis membuat pemasukan perusahaan bertambah begitu pesat. Aku dan Anin sama-sama sibuk sampai kami pun lembur barengan. Aku sibuk mengechek semua dokumen yang telah dibuat oleh istriku dan timnya dan hasilnya sangat memuaskan. "Adnan," teriak sesorang saat sudah masuk ruanganku, seperti kukenal suaranya "Woy bro kapan dateng?" ucapku kaget saat melihat Rio yang datang keruanganku "Baru aja gue sampe, Gimana kabar lu bro?" sapa Rio sambil berpelukan khas laki-laki kepadaku "Seperti lo liat, gue baik," ya Rio Anggara dia adalah sahabatku yang dulunya memegang perusahaan ini sebelum aku kembali kesini, Rio baru saja pulang dari Surabaya mengurusi kantor cabang yang ada disana, kurang lebih 3 bulanan Rio berada di Surabaya Karena Rio sudah kembali Rio akan bergabung kembali di kantor ini dan kami akan kembali merintis bersama. Rio adalah pria berusia 24 tahun dia selain sahabat sudah kuanggap sebagai adik sendiri. Kami pun mengobrol membahas hal pribadi lalu ke bisnis. Drrt drtt aku merasakan hp ku bergetar, saat kulihat ternyata Anin yang menelpon tumben "Halo Assalamualaikum," "..." "Oh begitu, ya sudah aku juga baru kedatangan sahabatku yang," "..." "Yasudah kamu makan yang banyak ya," "..." "Iya sayangku waalaikumsalam," Aku mematikan telpon lalu menaruh kembali hpku "Istri nih yang nelpon?" Tanya Rio "Iya dong, biasa nya gue makan bareng tapi katanya dia mau makan bareng sama teman-temannya," "Ohh begitu.. enak ya sekarang sudah punya bini," "Makannya nikah Yo, ngomong-ngomong lu sudah ketemu belom sama cewek yang selama ini lu cari?" Tanyaku penasaran, Rio ini mempunyai pacar dari SMA tapi karena kesalah pahaman akhirnya pisah begitu saja dan belum putus "Rani? Hemm belum Nan, gue belom cari lagi kan gue di Surabaya, gak tau deh Rani sudah punya pasangan lagi apa belum," ucap Rio dengan nada putus asanya "Ehh lo gak boleh putus asa Yo, siapa tau dia masih menunggu lo," "Ya ya gue harap gitu, Rani cinta pertama gue di SMA Nan sampai sekarang gue masih cinta sama dia," "Semangat Rio mencari cinta pertama lo," ucapku lalu menepuk bahu Rio, Rio hanya mengangguk **** "Anin besok mas akan ke Surabaya selama dua hari kedepan karena ada sedikit masalah dikantor cabang sana," ucap Adnan pada istrinya yang sedang memasak, Anin menengok ke arah suaminya yang sedang berada di meja makan "Oh begitu, aku ditinggal dong," ucap Anin lalu beralih kepada kompornya lagi, Adnan memeluk istrinya dari belakang secara tiba-tiba membuat Anin kaget dan menjatuhkan spatulanya. Prangg "Aduh mas ngagetin aja ngapain sih peluk-peluk," ucap Anin sambil melepaskan tangan yang melingkar diperutnya, tetapi Adnan makin erat memeluknya, Anin mengambil spatulanya lalu ditaruhnya di wastafel cuci piring dan mengambil spatula yang baru di rak piring dengan tangan Adnan yang masih memeluknya erat "Nanti kamu kangen dipeluk aku loh selama dua hari," bisik Adnan ditelinga Anin membuat Anin geli seketika "Dua hari doang kan mas aku gpp kok," ucap Anin sambil membalik ayam yang digorengnya "Yakin ntar kangen lagi," "Paling itu mah kamu yang kangen," "Iya makannya sebelum aku pergi aku mau minta jatah hehehe," bisik Adnan lagi ditelinga Anin lalu mengecup leher jenjang Anin yang memang kebetulan rambutnya sedang dicepol tinggi membuat leher jenjangnya terlihat, Anin merinding seketika saat suaminya mengecup lehernya "Iya, ayo kita makan malam dulu mas," ucap Anin sambil mematikan kompornya lalu mengangkat ayam yang sudah matang dari wajan. Setelah makan malam bersama Adnan mengajak Anin untuk sholat isya terlebih dahulu lalu setelah itu Adnan dengan semangatnya mengajak Anin ke ranjang. Anin hanya menurut saja dengan ajakan suaminya. Setelah mengobrol ringan mereka melakukan hubungan suami istri pada umumnya. Kring kringg bunyi Alarm berbunyi pada pukul 04:00 pagi, Anin yang biasanya memang bangun pagi bersegera untuk bangun. Saat ingin bangun dilihatnya sang suami yang masih memeluk erat tubuhnya, Anin menatap suami tampannya yang masih memejamkan mata. Adnan membuka matanya tiba-tiba, membuat Anin salah tingkah karena ketahuan sedang menatap suaminya. Cup Adnan mengecup bibir Anin sekilas "Aku ganteng ya sampai kamu ngelihatinnya begitu banget," "Ihh enggak tuh siapa yang ngelihatin kamu," kilah Anin lalu membuang mukanya dan tak menatap suaminya "Bilang aja begitu, nyenengin suami dapet pahala loh," ucap Adnan membuat Anin menatap kembali suaminya "Iya aku ngaku kamu ganteng banget mas Adnanku sayang," Cup Adnan mengecup bibir manis Anin lagi "Makasih istriku sayang yang cantik," Anin menunduk malu "Anin I love you," bisik Adnan, Anin tak menjawab ia hanya tersenyum dibalik d**a bidang suaminya Pagi ini Adnan akan berangkat ke Surabaya Anin menyempatkan diri untuk mengantar suaminya ke bandara. Adnan bilang Anin harus naik mobilnya saat pergi ke kantor, Anin sempat menolak tetapi tetap dipaksa oleh suaminya. "Sayang aku berangkat dulu ya, kamu hati-hati ya dikantor," ucap Adnan saat mobil sudah sampai di bandara "Iya sayang, kamu juga hati-hati, kalau sudah beres semua kamu cepet pulang ya," ucap Anin, Adnan mengangguk lalu mengecup kening istrinya lama "Yasudah mas berangkat ya Assalamualaikum," "Waalaikumsalam," ucap Anin mencium punggung tangan suaminya, Adnan mengelus kepala Anin lalu setelah itu Adnan keluar dari mobil dan berlalu masuk ke bandara, Anin menatap punggung suaminya dari dalam mobil lalu setelah itu ia pindah duduk dari tempat duduk penumpang pindah dibagian kemudi mobil. Anin melajukan mobil suaminya keluar dari bandara dan mengemudikan mobil Adnan dengan kecepatan sedang. Mobil Adnan termasuk mobil mewah kalangan atas, Anin sempat tidak pede membawanya, saat kepepet kemarin pun rasanya gimana gitu, memang Anin tidak pernah pake mobil mewah paling hanya BM* yang pernah Anin pakai itu juga punya ayahnya. Anin juga sempat takut memakai mobil suaminya karena takut membuat lecet mobil suaminya tapi Adnan bilang kepada Anin 'no problem yang penting kamu aman dan nyaman' itulah yang membuat Anin berani memakainya. Satu jam perjalanan akhirnya Anin sampai di kantor. Ia melihat banyak orang yang berlalu-lalang didepan kantor, Anin memarkirkan mobilnya di parkiran khusus pejabat kantor dengan sangat terpaksa Anin harus memarkirkan disitu karena sepertinya parkiran biasa penuh. Setelah mematikan mesin Anin menghela nafasnya lalu keluar dari mobil dengan tas ditangan kirinya. Saat Anin sudah keluar dari mobil semua mata tertuju padanya, mereka melihat Anin sinis dan saling berbisik, Anin yang sudah biasa pun cuek saja lalu masuk kedalam kantor. "Pagi pak," sapa dan senyum Anin kepada pak satpam "Pagi mba Anin," sapa kembali Pak Rahmat satpam yang disapa Anin "Gila lo ya, berani banget bawa mobil pak Adnan, lo sudah ngasih apa ke pak Adnan," ucap seorang wanita kepada Anin secara tiba-tiba. Anin menoleh dan dilihatnya wanita yang kemarin menamparnya, karena tak peduli Anin melanjutkan jalannya tetapi ditahan karena jilbab Anin ditarik oleh wanita itu "Anda kenapa sih, ada masalah sama saya?" Ucap Anin yang membetulkan kembali jilbabnya "Ya lo ngapain bawa mobil pak Adnan, pak Adnan nya mana?"tanya wanita itu "Bukan urusan anda," kata Anin lalu berjalan kembali, wanita itu tak mau kalah dan menghadang jalan Anin "Dasar lo jalang, mending buka tuh hijab lo!!" Ucap wanita itu didepan wajah Anin, Anin diem saja ia tak mau mencari ribut Wanita itu melayangkan tangannya ingin menampar Anin tetapi ditahan oleh seseorang "Mending lo gak usah cari gara-gara sama Anin," ucap pria itu yang ternyata Adit salah satu teman yang dikenal Anin yang mengetahui status Anin "Apa sih lo gak usah ikut campur deh, jalang ini tuh harus diberi pelajaran," ucap wanita itu, Adit masih menahan tangan wanita itu "Lo bisa pergi Anin," ucapnya, Anin mengangguk dan berlalu setelah berterima kasih "Lo kenapa sih Dit belain dia, lo suka sama dia?" Tanya wanita itu "Bukan begitu Putri, lo tau Anin itu sebenarnya...." ucapan Adit terpotong oleh ucapan wanita yang baru datang "Adit stop," ucap wanita itu sambil melotot lalu menarik Adit menjauh "Kenapa sih Len?" "Lo gak lupa kan kita sudah janji gak boleh kasih tau siapa-siapa," ucap wanita itu yang ternyata Lena, pacar Adit "Ya ya gue inget oke gue gak bakalan ember," ucap Adit lalu berlalu meninggalkan Lena
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD