Part 8 - Nikahan Sang Adik

2280 Words
Hari ini adalah pernikahan Firman dan Alisha walau terkesan dadakan tetapi segala persiapan sudah siap. Dari dekor ruangan, pakaian, makanan, dan yang lainnya telah siap sempurna. Adnan dan Anin sudah berada dikediaman Papa Adnan pagi ini. Anin melihat Alisha yang sudah selesai dirias dan ia sangat cantik memakai kebaya putih dan rambutnya yang disanggul rapih. "Alisha kakak ga nyangka kamu bakalan nikah sama adik kakak itu, semoga kalian bahagia ya sayang," ucap Anin, Alisha mengangguk lalu memeluk kakak iparnya "Iya mba makasih, mba juga harus bahagia ya sama bang Adnan," ucap Alisha "Itu mah sudah pasti Alisha gak usah khawatir abang akan selalu bahagiain kakak ipar kamu," ucap Adnan tiba-tiba "Iya deh iya yang sudah cinta begitu deh," ledek Alisha membuat Anin tersipu malu mendengarnya "Sekarang adik abang bakalan jadi istri, jadi istri yang baik ya Alisha, turuti perintah suami kamu," ucap Adnan lalu mengusap kepala Alisha, Alisha mengangguk lalu memeluk abangnya. "Iya bang, Alisha gak nyangka bakalan nikah secepat ini," "Maafin Firman ya Sha kalau dia nakal, kalau dia nakal lagi kamu bilang sama mba, biar mba pukul dia," ucap Anin, Alisha memandang kakak iparnya lalu tersenyum "Gak kok mba, Firman itu baik banget mba dari awal kita pacaran Firman gak pernah nakal sama aku, jadi mba jangan pukuli dia ya, nanti wajahnya jadi jelek," ucap Alisha "Huh dasar kamu, Yasudah mudah-mudahan pernikahan kalian lancar sampai kedepannya," Ijab qabul telah selesai diucapkan dan kini Firman telah resmi menikahi Alisha. Mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri secara agama dan hukum. Semua yang hadir ikut berbahagia atas pernikahan ini, walau sederhana tetapi kedua mempelai terlihat bahagia. Para tamu pun menyalami kedua mempelai lalu menikmati hidangan yang telah disediakan. Acara pun telah selesai jam 12 siang karena memang tak banyak yang diundang. Setelah itu semua keluarga pun berkumpul diruang tengah masih bersama pengantin "Alhamdulillah, gimana perasaan kalian Alisha, Firman," tanya Kenan "Kami bahagia pah," jawab Alisha dan Firman "Alhamdulillah kalau begitu, setelah ini kalian masih harus tinggal dirumah masing-masing sampai kalian lulus sekolah dan mengadakan resepsi ya," ucap Farhan, kedua pasangan yang baru saja menikah ini cemberut, membuat yang lainnya ingin ketawa "Hahaha emang enak gak malam pertama," ledek Adnan membuat semua orang tertawa "Ihh abang mah," Alisha makin cemberut karena diledeki abangnya "Sabar ya yang, kita pending 3 bulan lagi," ucap Firman, Alisha mengangguk "Hemm nanti mama dapet cucu dari siapa duluan ya?" Ucap Rina membuat semua orang menatap Firman, Alisha dan Adnan, Anin. "Iya jeng kita tinggal menunggu cucu saja ya," timpal Rinanti "Mama ihh aku kan masih sekolah, minta cucu sama bang Adnan dan mba Alisha aja," ucap Alisha, mama Rina manggut-manggut "Anin gimana masa Adnan gak tokcer sih, kalian kan sudah menikah lama," Ucap Rina pada menantunya, Anin yang ditanya hanya tersenyum kecil bingung menjawab mama mertuanya "Mama apa sih, kan aku sudah bilang aku tuh masih mau pacaran dulu sama Anin kalau buru-buru minta Alisha aja," ucap Adnan "Hahaha bang Adnan kan belom pernah pacaran mah, biarin dia pacaran dulu mah sama mba Anin," ucap Alisha membuat semuanya tertawa "Jadi selama ini kamu gak pernah punya pacar mas?" Tanya Anin, Adnan menyengir "Hehehe iya yang, kamu pacar pertama aku," Anin hanya ber oh ria saja lalu ia mengalihkan pandangannya ke Firman "Man kamu harus bahagiain Alisha lho, kalau kamu sampai nyakitin Alisha awas aja," ucap Anin sambil menunjukan tangan yang dikepalnya ke arah Firman, Firman bergidik ngeri melihat kakaknya yang galak itu "Iya mba ku sayang, bang Adnan abang harus hati-hati ya sama macan betina ini kalau ngamuk bisa abis barang dirumah," ucap Firman sambil beralih ke abang iparnya "Iya Man ternyata mbak kamu ini galak banget ya, sakit gak kemarin waktu ditonjok?" jawab dan tanya Adnan "Emang mas mau ngerasain?" Ucap Anin sambil melotot ke arah suaminya, Adnan menggeleng "Gak lah yang emang kamu rela wajah aku jadi jelek nanti," "Mangakannya jangan macem-macem ya," Adnan mengangguk seperti anak kecil yang menurut perintah ibunya "Hahaha bang Adnan takut sama istrinya," ucap Asri adik sepupu Adnan yang baru datang. Asri sudah dikenalkan dengan Anin waktu dikantor. Pada saat Adnan menikah, Asri memang tidak sempat hadir dipernikahan kakak sepupunya "iya mba kalau bang Adnan nakal pukul aja, biar kapok hahaha," ucap Alisha sambil tertawa karena melihat tampang abangnya yang takut "Enggak kok mas tenang aja aku gak bakal apa-apain kamu, nanti wajah tampan suamiku hilang lagi," Adnan senang mendengar ucapan istrinya  "Gitu dong yang," ucap Adnan sambil bersender di bahu Anin Mereka pun mengobrol ini dan itu, para orangtua sudah berpindah tempat untuk mengobrol dan membiarkan yang muda mengobrol tanpa gangguan yang sudah tua "Bang, nanti kalau Alisha sudah lulus sekolah boleh ga Alisha tinggal dirumah kalian?" Tanya Alisha pada abangnya "Alisha kita tinggal dirumahku saja ya," ucap Firman "Hemm gue pengen tinggal bareng sama mba Anin Man, kan lo tau gue pengen banget punya kakak perempuan," ucap Alisha "Yasudah terserah lo dah Sha, emang mereka mau nampung kita," ucap Firman "Ya bang boleh ya? Mba boleh kan ya?" Alisha memohon kepada kedua kakaknya "Yasudah Sha gpp biar ga sepi rumah, gpp kan mas?" ucap Anin "Yasudah terserah kamu aja yang," kata Adnan "Tuhh boleh kan Man," "Iya iya gue mah ngalah dah Sha, selama gue belom bisa beliin lo rumah," "Nah gitu dong suami penurut," ucap Alisha lalu mengecup pipi Firman "Giliran ada maunya baru deh dicium," gumam Firman pelan "Kalian masih ngomong lo-gue? Inget kalian sudah menikah lho bukan pacaran," ucap Anin "Eh iya mbak sudah kebiasaan," "Sha ke kamar lo yuk gue gerah nih mau ganti baju," ucap Firman "Yasudah ayo Man gue juga gerah pake baju beginian, eh tapi gue cantik kan?" tanya Alisha pada suaminya "Lo selalu cantik Alisha," ucap Firman sambil mencubit kedua pipi Alisha, Alisha tersenyum malu, lalu mereka berdua pamit untuk kekamar "Jangan aneh-aneh dulu lo Man," teriak Adnan, Firman menengok lalu mengangkat jempolnya **** Adnan dan Anin kembali pada rutinitasnya yaitu bekerja, hari ini Anin sudah siap kembali bekerja walau masih sedikit was-was karena masih banyak yang bertanya ini itu tentang kedekatan Anin dengan bos dikantor. Anin POV "Inget gak usah dipikirin omongan orang nanti, jangan dengerin kata orang, biarin mereka mau bilang apa sampai mereka bosen, kalau kamu gak suka boleh bilang kok," ucap mas Adnan disela perjalanan kami menuju kantor "Iya mas, aku tetap bakalan ngerahasiain hubungan kita," kataku "Terserah kamu, kalau dibully jangan nangis ya," aku memukul lengannya pelan "Ihh mas mah gitu emang mau apa kalau aku dibully," "Sudah jangan terlalu dipikirin oke kamu kan bisa bela diri kamu tonjok aja kalau mereka buat yang macem-macem," aku pun mengangguk, mas Adnan kembali fokus ke jalanan dan aku juga hanya menatap lurus kedepan sampai aku menanyakan hal yang sudah berputar di otakku dari tadi "Mas kalau ada yang nanya mas itu siapa aku, aku jawab mas teman dekat aku, mas marah gak?" Tanyaku pelan, aku takut mas Adnan marah Kulihat mas Adnan sudah memasuki area kantor dan ia pun memarkirkan mobilnya di parkiran khusus pejabat kantor dimana semua orang berlalu lalang disitu. Aku melihat banyak orang yang berada di depan kantor, untung saja kaca mobil ini gelap jika dilihat dari luar jadi aku tak khawatir orang melihatku. "Mas gak akan marah kok, terserah kamu mau akuin mas apa aja, mas tunggu sampai kamu siap dan mengakui mas, bos kamu sebagai suami kamu, oke sayang," ucap mas Adnan sambil mengusap kepalaku, itu membuat aku jadi merasa bersalah karena tak mengakuinya sebagai suamiku. Kukira tadi mas Adnan tak akan menjawabnya "Maaf ya mas," "Gpp Anin," ucap mas Adnan sambil membuka seat beltnya Aku pun membuka seat belt ku juga "Makasih ya mas Adnanku sayang," ucapku lalu mengecup singkat pipinya "Sama-sama istriku sayang," lalu ia mengecup dahiku lama, lalu ia mengecup bibir ku dan melumatnya, kebiasaan kami sekarang sebelum turun dari mobil Dan kami pun keluar mobil barengan dan pada saat itu banyak pasang mata yang melihat dan juga ada yang berbisik, kulihat mas Adnan biasa saja dengan tampangnya yang datar. Aku berusaha formal dan menyapa para karyawan yang kukenal maupun tidak seperti biasanya tetapi mereka malah menyapa mas Adnan dan mengabaikan sapaanku. Mas Adnan tidak menjawab satupun sapaan dari karyawannya sampai kami memasuki Lobby dan terdengar pak satpam menyapa tetapi mas Adnan benar-benar tak peduli. Mas Adnan ini benar-benar sombong sekali dia. Aku pun yang menyapa pak satpam "Pagi pak," kataku sambil tersenyum "Pagi," hanya itu yang kudengar dari pak satpam gak biasanya. Biasanya kan dia selalu mengajak ngobrolku sebentar Aku pun masih mengikuti mas Adnan sampai suara wanita memberhentikan mas Adnan aku pun ikut berhenti dibelakangnya "Pagi bang," ucap Asri menyapa mas Adnan "Pagi Asri," "Halo kakak ipar," bisik mba Asri padaku walau mba Asri menjadi adik iparku tetapi aku memanggilnya mbak karena ia lebih tua dua tahun dariku Baru kusadari aku dan mas Adnan serta mba Asri sedang berada ditengah-tengah lobby dan menjadi pusat perhatian para karyawan dengan cepat aku pun pamit kepada dua orang ini. "Kalau begitu saya duluan ya pak, bu permisi," ucapku lalu berjalan meninggalkan mas Adnan dan mba Asri menuju lift. Gak tau kenapa saat aku didepan lift yang tadinya ramai semuanya bergeser. Aku pun cuek gak peduli dan tetap menunggu lift terbuka. Lalu tak lama lift terbuka  dengan cepat aku masuk ke dalam lift, saat membalikan badan ternyata mas Adnan mengikutiku masuk kedalam lift yang kebetulan kosong dan semua orang yang berada di depan lift tidak jadi masuk sampai pintu lift tertutup. "Maaf Bapak kenapa ngikutin saya naik lift ini, kan bapak ada lift sendiri," dikantor memang ada lift khusus pejabat kantor. Dan biasanya memang mas Adnan selalu naik lift khusus pejabat tumben sekali dia naik lift bersamaku, Aku menekan tombol lantai 9 tempatku bekerja dan mas Adnan menekan tombol lantai 23. "Suka-suka saya dong, emang masalah buat kamu," ucapnya lalu menarik pinggangku, aku pun tersentak lalu berusaha bergeser "Maaf ya pak ini kantor, anda tidak sopan sekali," aku berusaha formal kulihat mas Adnan tersenyum kecil lalu makin merapatkan tangannya di pinggangku, aku berusaha melepaskannya saat sudah terlepas mas Adnan malah mendorongku ke dinding lift dan ia mendekatkan wajahnya, aku tahu mas Adnan pasti mau menciumku aku ingin menolaknya tetapi mas Adnan mencengkram kedua tanganku didinding membuat aku tak bisa bergerak, tas yang ku pegang saja sampai terjatuh lalu mas Adnan mencium bibir ku dan melumatnya kasar. Ya Allah aku seperti orang yang mau diperkosa saja. "Saya bos kamu dan kamu selingkuhan saya jadi suka-suka saya dong," ucap mas Adnan  lalu menciumku lagi dan tangannya masih memegangi tanganku didinding aku hanya bisa diam saja saat mas Adnan menciumku. Dan tanpa ku sadari lift sudah terbuka dari tadi dilantai 5 membuat orang yang diluar kaget, mas Adnan pun langsung melepaskan tangan ku merapihkan jasnya lalu mengambil tasnya di lantai dan ia kembali memasang muka datarnya. "Apa kalian lihat-lihat," ucap mas Adnan lalu menatap mereka tajam, dan aku hanya berdiri dibelakang shock Semua yang diluar sana hanya tersenyum kaku lalu menunduk takut tanpa berbicara apa-apa. Ya Allah bagaimana ini pasti mereka berfikiran yang tidak-tidak. Sampai lift tertutup kembali mereka pun tak jadi masuk. "Mas gimana ini pasti mereka lihat dan denger ucapan mas tadi, mas sih ngapain sih cium aku," ucapku panik "Ya mana aku tahu yang, kan kamu duluan yang ngajakin aku bicara formal, maaf ya abis aku gak tahan tadi lihat bibir kamu," ucap mas Adnan santai. Aku benar-benar gak habis fikir sama mas Adnan dia bisa sesantai itu emang gak takut apa namanya jadi jelek gara-gara selingkuh "Tau ahh, pasti abis ini jadi gosip," ucapku lalu menjauh dari mas Adnan "Ihh ngambek, Yasudah akui saja lah yang," mas Adnan mendekat padaku untung saja lift terbuka di lantai 9 dengan cepat aku segera keluar lift dan mas Adnan tak mengikutiku sampai lift tertutup. Dilantai 9 masih sepi, aku pun bernafas lega lalu dengan cepat aku memasuki ruangan tempatku bekerja. Kulihat Lina sudah berada dikursinya sambil memainkan hpnya, dan kulihat yang lainnya belum datang. "Assalamulaikum Lina," Lina menengok "Waalaikumsalam Nin, ehh Nin sini dah cepetan," ucap Lina heboh, aku pun menaruh tas dikursiku lalu menghampiri Lina, Lina langsung menunjukkan hpnya kepadaku "Gila, Pagi-pagi lo sudah digosipin sama pak Adnan Nin digrup kantor, coba lu baca," aku pun membacanya, ah sudah kuduga pasti begini, aku pun menarik bangku lalu duduk didekat Lina "Hemm tau nih emang gara-gara si Adnan, gosip kemarin hampir aja selesai eh sekarang malah ditambah, kesel gue jadinya Lin," kataku santai "Iya kata orang yang di lantai 5 mereka lihat dengan jelas kalau pak Adnan mencium lu dilift, Ett dah kenapa sih gak akuin aja kalau Adnan laki lu biar gak jadi gosip begini," kata Lina sambil menarik lagi hpnya "Gak segampang itu Lina, biarin aja lah mau orang berkata apa, lo mau tau gak gimana kejadiannya tadi," Lina mengangguk cepat, aku pun menceritakan kejadian di lift tadi "Iya? gila yaa laki lo, pasti mereka nyangkanya beneran Nin apalagi itu pak Adnan sendiri yang ngomong, orang yang di lantai 5 sudah menyebarkan gosip Nin dan mengatakan kalau lu murahan pengen hartanya pak Adnan doang," aku mengangguk "Iya Lin, biarin aja dah apa kata mereka," "Ya sudah terserah lu Nin, awas ntar kena bully apalagi sama bu Nindy dia kan suka sama laki lo," aku baru menyadari kalau bu Nindy kan suka sama mas Adnan, duh gawat nih tapi bodolah aku mau tau gimana reaksinya bu Nindy kalau tahu aku selingkuhan mas Adnan hahaha "Woy lo malah senyum-senyum sendiri," "Hahaha tau lah pusing gue Lin, emang nih laki gue bener-bener dah bikin masalah aja, dia mah nyantai aja tau Lin," "Hahaha mungkin dia kesal gak diakuin sama lo," ucap Lina "Tau ah pokoknya fix gue kesel banget sama bos lu," ucapku lalu mengembalikan kursi ketempatnya tadi dan aku beralih ke mejaku. "Siap-siap diserbu Anin.." teriak Lina, aku tak menjawab teriakan Lina, aku harus menyiapkan diri sebelum mereka berkata yang aneh-aneh kepadaku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD