Hari berlalu begitu saja, hari ini Anin kembali pada aktivitas utamanya sebagai seorang istri, hari sabtu yang memang hari libur Anin gunakan untuk melayani suaminya.
Seminggu sudah Anin menjadi omongan kantor karena ketahuan berangkat pulang dan makan siang bareng bos setiap harinya. Anin selalu menghindari teman-temannya yang bertanya ini itu sampai teman kantornya bosen menanyakan. Anin masih bersikap biasa saja seperti tak terjadi hal apa-apa karena menurutnya wajar teman kantornya menggosipi Anin karena memang mereka tak tahu yang sebenarnya, Anin masih memaklumi selama masih pada batas wajarnya.
"Mas ini tehnya," ujar Anin sembari memberi cangkir teh di meja lalu duduk disamping suami. Adnan yang memang sedang tak sibuk sedang bersantai menonton tv di ruang tengah
"Makasih sayang," ucap Adnan lalu meminum teh buatan istrinya
"Mas hari ini kita ke rumah orangtua kita yuk," ucap Anin
"Hmmm ayo deh sudah lama setelah kita menikah belum berkunjung kesana ya?"
Anin mengangguk
"Iya mas kangen aku sama ayah ibu, mama papa juga," Adnan mengelus kepala Anin lembut
"Iya sayang, Yasudah yuk siap-siap,"
Adnan dan Anin sudah berada di mobil menuju rumah Anin terlebih dahulu. Didalam mobil Adnan selalu menggoda istrinya dengan candaan yang dibuatnya.
Hingga tak terasa 1 jam perjalanan mereka sudah sampai dirumah minimalis yang masih terlihat mewah dan besar bertingkat 3. Setelah dibukakan pagar oleh satpam dirumah itu, Adnan melajukan mobilnya kedalam rumah
"Makasih pak Rahmat," ucap Anin dari jendela mobil nya yang sudah ia buka kepada pak Rahmat satpam dirumahnya, pak Rahmat tersenyum dan mengangkat jempolnya lalu menutup pagar
"Selamat datang nyonya tuan," ucap Rahmat pada majikannya setelah menutup pagar dan menghampiri kedua majikannya yang baru turun
"Jangan panggil nyonya pak, bapak ih kebiasaan," ucap Anin saat mereka sudah turun dari mobil dan melihat pak Rahmat menyambutnya
"Eh iya mbak Anin, selamat datang tuan," ucap Rahmat saat Adnan menghampiri istrinya
"Panggil mas aja pak, mas Adnan kan bukan tuan hihi," ucap Anin sambil tertawa kecil. Adnan hanya menatapnya datar sedangkan Rahmat hanya tersenyum kecil melihat tingkah anak majikannya.
Anin memang selalu begitu kepada orang yang bekerja dirumahnya tidak suka dipanggil nyonya, non atau apapun itu, begitu juga dengan Ayah ibunya mereka juga sama seperti Anin menganggap orang yang bekerja dirumahnya adalah keluarganya.
"Ayah ibu adakan pak?" Tanya Anin
"Ada ibu saja mbak didalam, ibu sama bapak nanyain mbak terus loh. Oh iya mba, Firman sekarang sudah punya pacar loh," jawab Rahmat lalu menceritakan adiknya Anin
"Ohh yaa wahh gawat nih, bapak pantau terus Firman ya nanti kasih tau keaku biar aku jotos tuh anak," ucap Anin yang sepertinya kesal mendengar adiknya berpacaran
"Sipp mbak," ucap Rahmat sambil mengangkat jempolnya
"Yasudah aku masuk dulu ya pak,"
Anin pun masuk kedalam rumah bersama Adnan suaminya yang dari tadi diam saja.
"Assalamualaikum bu," teriak Anin ketika sudah sampai di ruang tengah
"Waalaikumsalam ya Allah Anin," ucap ibu Anin yang baru saja keluar dari dalam rumah yang sudah rapi memakai gamis dan jilbabnya langsung memeluk putrinya erat
"Iya ini Anin bu, ibu gimana kabarnya? Maaf ya bu baru ngunjungin ibu," ucap Anin setelah ibunya melepas pelukan dan Anin mencium punggung tangan ibunya, Adnan pun juga ikut mencium punggung tangan ibu Rinanti ibu mertuanya.
"Sehat bu?" Sapa Adnan
"Alhamdulillah ibu sehat nak, ayo duduk-duduk," ucap Rinanti mempersilahkan duduk. Mereka pun sudah duduk di sofa.
"Mae mae," teriak Rinanti memanggil Mae anak gadis asisten rumah tangganya, yang dipanggil pun datang dari arah dapur
"Iya buk," ucap gadis yang dipanggil Mae oleh Rinanti
"Tolong buatin minum ya," kata Rinanti pelan
"Iya buk, Ehh ada mba Anin, apa kabar mba?" Sapa gadis yang masih memakai celemek itu pada Anin
"Mae sini, mba baik kamu gimana? Mbak kangen, peluk," ucap Anin manja dan merentangkan tangannya minta dipeluk, Mae pun memeluk Anin. Anin menganggap Mae ini adiknya.
Mae pun memeluk anak majikannya yang sudah menganggap dirinya adalah adik. Mereka pun berpelukan. Adnan diam saja disamping Anin memperhatikan istrinya yang berpelukan. Sungguh Adnan baru mengetahui bahwa Anin sangat baik kepada pekerja dirumahnya.
Adnan sedang berfikir, Anin dikantor adalah seorang pegawai yang ramah tamah, supel dan perhatian apa ini yang membuat Anin merahasiakan pernikahannya sepertinya Anin selalu ingin berbaur dengan siapa saja dan pasti akan berbeda saat Anin dikenal sebagai istri CEO. Ya sekarang Adnan paham dengan alasan istrinya yang tidak ingin mengumumkan pernikahannya.
"Mas ini kenalin Mae adik aku yang lainnya," Anin memperkenalkan Mae pada suaminya. Mae pun menyalimi Adnan dan Adnan hanya tersenyum tipis. Setelah itu Mae pamit kebelakang untuk membuatkan minuman.
"Ayah kemana bu?" Tanya Anin pada ibunya
"Ayah kamu lagi dirumah mertuamu Nin,"
"Ohhh abis ini Anin sama mas Adnan mau kesana, ibu mau ikut?"
"Iya Nin ibu baru saja mau kesana nyusul ayah kamu yang sudah duluan, sebenarnya.." Rinanti sedikit ragu untuk berbicara pada anak dan mantunya
"Sebenarnya kenapa bu?" Tanya Anin penasaran
"Sebenarnya ini masalah adik kamu dan adik kamu, adik kalian berdua," jawab Rinanti sambil menunjuk Anin dan Adnan
"Memangnya ada apa dengan Alisha bu?" Kali ini yang bertanya Adnan karena ia penasaran ada apa dengan adiknya
"Nanti kalian tahu, ayo kalau mau kita kerumah kamu Adnan sekarang," ucap Rinanti lalu berdiri dari duduknya.
Anin, Adnan dan Rinanti sedang menuju perjalanan kerumah mertua Anin atau rumah orangtua Adnan. Sekitar 1 jaman akhirnya mereka sampai disalah satu rumah kawasan Kemayoran.
Anin dan Adnan yang penasaran, dengan cepat turun dari mobil diikuti Rinanti mereka pun masuk kedalam rumah dan dilihatnya banyak orang yang sedang duduk diruang tengah.
"Assalamualaikum," salam Anin, Adnan dan Rinanti
"Waalaikumsalam Adnan, Anin," wanita paruh baya yang tadinya duduk langsung memeluk putranya lalu memeluk menantunya.
"Jeng Rinan," Rina menghampiri besannya
"Rina maafkan putra saya ya sungguh saya gak nyangka akan seperti ini maafkan saya," ucap Rinanti ibu Anin, Rina mamanya Adnan memeluk besannya sambil sedikit menangis, Rinanti mengusap punggung besannya
"Sebenarnya ada apa ini?" Tanya Adnan bingung karena melihat mamanya yang menangis dan melihat kedua remaja yang masih menundukkan kepala
"Duduk dulu Adnan, Anin ayo duduk, bu Rinan silahkan duduk, mah sini duduk lagi," ucap Kenan. Semuanya telah duduk di sofa. Rinanti duduk disamping Farhan suaminya samping Farhan duduk Kenan dan istrinya Rina, lalu Anin duduk disebelah Adnan dan dihadapan keempat orangtua ada Firman dan Alisha yang masih menunduk.
"Bisa kalian cerita apa yang terjadi sebenarnya? Alisha kamu kenapa nangis?" Tanya Adnan, Alisha mendongakan kepalanya kearah kakaknya dengan matanya yang memerah dan masih ada bekasan air mata dipipi
"Mereka akan kami nikahkan besok," ucap Farhan tegas, matanya memperhatikan kepada dua remaja didepannya
"Apa?" Ucap Anin dan Adnan bersamaan
"Ya Anin, Adnan adik kalian harus dinikahkan karena.." ucap Farhan menggantungkan kalimatnya ia menatap anak lelaki angkatnya sinis
"Adik kamu meniduri Alisha, Nin,"
"Apa?" Ucap Anin shock lalu ia memandang adiknya tajam, Adnan sebenarnya sudah naik darah ingin menojok adik iparnya tetapi ia tahan karena masih ada istrinya
"Tapi yah aku gak ngapa-ngapain sama Alisha," bantah Firman sambil menatap ayahnya, Alisha hanya diam saja
Anin yang kesal langsung berdiri dihadapan adiknya
"Apa itu benar Firman?" Tanya Anin sinis, adiknya mengangguk pelan
"Tapi sumpah mba aku gak ngapa-ngapain," Anin langsung menampar adiknya kencang, Firman memegang pipi kirinya
"Sudah mba bilang jangan pacaran Firman!! lihat sekarang kamu mempermalukan keluarga, anak kurang ajar," Anin menampar pipi adiknya lagi lalu menarik Firman ke sisi ruang tengah yang kosong tak ragu-ragu Anin menonjok wajah adiknya sampai ia terjatuh
"Bangun kamu!! Alisha adik mba Firman kenapa kamu lakuin itu hah, mba ga habis fikir kamu ini cowok Firman," ucap Anin tinggi, Adnan kaget melihat istrinya yang marah langsung memukul adiknya, sedangkan para orangtua hanya diam saja.
Anin menonjok perut adiknya hingga tersungkur, Anin sudah memperingati adiknya jika suatu saat ia melakukan sesuatu diluar batas Anin akan memukulinya. Anin memang pernah mengikuti taekwondo sampai sabuk hitam.
"Cukup mba cukup, ini semua salah Alisha mba," ucap Alisha sambil menangis lalu ia membantu Firman yang sudah terjatuh membangunkannya dan memegang pundak Firman. Firman lelaki remaja itu sebelumnya sudah dipukuli oleh ayahnya dan sekarang dipukuli kembali oleh kakaknya
Anin wanita itu langsung merosot kelantai dan menangis menutup wajahnya dengan tangannya. Adnan yang melihat istrinya menangis menghampirinya dan langsung memeluknya
"Maafin adik aku mas hiks hiks maafin hiks hiks," ucap Anin sambil menangis didada suaminya, Adnan hanya mengusap punggung Anin lalu membawanya duduk ke sofa kembali
"Firman maafin gue hiks hiks," ucap Alisha disaat ia membantu Firman bangun
"Kamu gak salah Sha, aku memang pantas mendapatkan ini," ucap Firman sambil memegang ujung bibirnya yang berdarah, Alisha membantu Firman untuk duduk di sofa kembali
"Mba jangan salahin Firman, aku yang salah mba, karena aku yang ngajak Firman tidur dikamarku mba, Firman sudah menolak tetapi aku memaksanya mbak hiks hiks waktu itu jam 10 malam aku baru pulang dan diantar Firman, malam itu hujan besar lalu mati lampu dan juga gak ada orang dirumah mba, mama papa lagi keluar kota dan aku takut sendirian hiks hiks," cerita Alisha sambil terisak, Anin dan Adnan mendengarkan cerita Alisha tanpa komentar
"Karena itu aku memaksa Firman untuk tidur dikamarku tapi sumpah kami gak ngapa-ngapain mba, kami hanya tidur seranjang dan hanya berpelukan sampai pagi mba dan saat itu mama dan papa melihat kami, maafin Alisha mba," lanjut Alisha yang sudah tidak terlalu terisak
"Aku yang salah mba, bang maafin Firman bang karena tidur sama Alisha tapi sumpah Firman gak ngapa-ngapain," ucap Firman sambil menatap abang iparnya
"Kalian sudah berpacaran berapa lama?" Tanya Adnan menatap Firman dan Alisha bergantian
"Satu tahun bang," jawab Alisha
"Oke kalau begitu besok kalian harus tetap menikah," ucap Adnan
"Tapi bang," ucap Alisha dan Firman bersamaan
"Lebih baik begitu Alisha, kamu anak perempuan, mba gak mau kalian terus berbuat dosa karena pacaran," ucap Anin
"Tapi mba aku sama Alisha masih sekolah, terus aku nafkahin Alisha gimana aku belum kerja mba," ucap Firman
"Kalian masih bisa sekolah Firman, lagian sekolahkan tinggal 3 bulan lagi terus lulus, dan pernikahan ini bisa dirahasiakan dulu sampai kalian lulus," ucap Farhan
"Dan masalah kerjaan kamu bisa kerja dikantor abang Man," ucap Adnan
"Ya Farhan dan Adnan benar, setelah kalian nikah kalian masih tinggal dirumah masing-masing sampai lulus dan diadakannya resepsi, kalian masih bisa berpacaran kan seperti biasanya tetapi bedanya kalian sudah halal," ucap Kenan
Firman menatap pacarnya lama sampai mereka berdua mengangguk setuju.
Dan para orangtua bernafas lega.
"Jeng Rinanti kita jadi besan lagi," ucap Rina pada besannya
"Ahh iya Rina, gak nyangka ya kita bisa jadi satu keluarga besar," jawab Rinanti
Lalu kedua wanita paruh baya itu pindah duduk dan saling berbincang ini dan itu, begitu juga bapak bapak tak kalah saling berbincang, dan mereka tak lupa untuk membicarakan pernikahan putra-putri mereka yang sederhana besok.
"Sayang kamu beneran siap nikahin gua?" Tanya Alisha sambil menyenderkan kepalanya di bahu Firman
"Insyaallah siap, gua janji untuk bahagiain lu Sha," ucap Firman lalu memegang dan mengelus tangan Alisha lalu mencium tanganya
"Ekhem," suara deheman membuat Alisha dan Firman langsung membuat jarak
"Nempel terus ya.. inget bukan mukhrim," ucap Adnan yang memperhatikan kedua adiknya, keduanya hanya nyengir tanpa bersalah.
"Anin kamu sudah ngisi belum?" Tanya Rina pada menantunya, Anin yang mengerti maksud mertuanya menggeleng pelan
"Hehe belum mah,"
"Mama apaan sih aku sama Anin baru menikah mah biarin kami berpacaran dulu," ucap Adnan
"Mama kan pengen punya cucu Adnan,"
"Iya mah insyaallah doain aja ya mah," ucap Anin
"Jangan sampai kalah sama adik kalian loh," ucap Rina sambil tertawa lalu melirik pasangan muda yang masih duduk dikursi yang sama, dengan posisi Alisha memeluk pinggang Firman dan tangan Firman berada di punggung Alisha
"Astaghfirullah kalian bukan mukhrim Alisha Firman," teriak Anin
"Hehe iya mba besok kan sudah mukhrim jadi gpp dong," ucap Alisha tanpa dosa
"Alisha kamu tuh dikasih apa sih sama Firman sampai segitunya?" Alisha menggelengkan kepalanya sambil senyum-senyum, Firman mencium pipi Alisha
"Apa sih mba bilang aja iri iya kan?" Anin memutar bola matanya malas lalu ia lebih memilih mengalihkan pandangannya, Adnan yang melihat menghampiri istrinya yang sudah duduk di sofa lalu mencium pipi Anin, seketika pipi Anin merah karena baru kali ini Adnan menciumnya didepan keluarga
"Abang juga bisa emang kalian doang, kalian gak bisa kan seperti ini," cup Adnan mengecup bibir Anin singkat, Anin yang kaget mengambil bantal disofa lalu memukul suaminya dan Adnan hanya terkekeh
"Ihh Firman gua juga mau," ucap Alisha manja, Anin dan Adnan melotot
"Gak boleh," teriak keduanya
Sang orangtua hanya bisa menggeleng geleng melihat kelakuan kedua remaja itu dan pasangan dewasa itu, mereka sudah capek menasihati pasangan remaja itu jadi nikah memang jalan satu-satunya yang terbaik.
Adnan dan Anin pun pamit pulang setelah mengobrol banyak pada orangtua. Pernikahan Alisha dan Firman akan dilaksanakan besok pagi dirumah papa Adnan, pernikahan akan dilaksanakan sederhana hanya beberapa tetangga, saudara, teman dan kerabat dekat saja yang diundang.