Part 6 - Merahasiakannya

1957 Words
Adnan pov Aku kembali keruangaku dengan perasaan yang berbunga-bunga, tidak tau kenapa hari ini aku senang sekali, Anin memang selalu membuat moodku baik. Satu bulan sudah aku menikah dengan Anin dan aku menyayanginya dan mulai mencintainya walapun terasa terlalu cepat tetapi aku yakin ini perasaan cinta karena aku selalu merasakan hal yang beda jika didekatnya dan selalu nyaman jika didekatnya. Apa Anin memiliki perasaan yang sama denganku? Aku harap iya Satu yang ku suka darinya dia penurut selalu menuruti perintahku, namun ada juga yang ia tolak, Anin wanita cantik yang baru kuketahui bahwa ia adalah karyawati ku dikantor ia menolak untuk mengumumkan perihal status pernikahan kami padahal baru saja aku ingin mengumumkannya tapi ia menolak dengan sebuah alasan yang tak masuk akal menurutku, aku mengiyakan saja tetapi dengan syarat tentunya. Anin sempat menolak untuk makan siang, berangkat dan pulang bareng karena takut dicurigai, siapa suruh dia mau menyembunyikan statusnya jadi aku beri saja syarat seperti itu dan pada akhirnya Anin mau untuk mengikuti syarat yang kubuat. Setelah menyelesaikan pekerjaanku aku melihat jam ditangan kiriku jam sudah menunjukan pukul 12.00 waktunya istirahat, aku dan Anin sering makan siang berdua direstaurant tetapi kami selalu langsung bertemu disana Anin selalu menolak untukku jemput ia lebih suka menaiki motor maticnya dari pada aku jemput tapi kali ini dan seterusnya jangan harap aku tak menjemputnya. Aku sudah menelponnya untuk menunggu di lobby tadi ia sempat menolak lagi tetapi akhirnya istriku itu menurut juga. Aku sudah berada di lift khusus pejabat kantor, gak sabar aku ingin bertemunya untuk pertama kali dilobby kantor. Aku berjalan seperti biasanya menghadap lurus kedepan dengan wajahku yang datar, banyak yang menyapaku dan tersenyum kepadaku tetapi aku cuek. Dan kulihat wanita yang kucari sedang duduk di sofa lobby sambil menundukkan kepalanya. Aku sudah berdiri disampingnya tetapi ia belum menyadari kedatanganku dan ia masih menundukkan kepalanya, kulihat banyak orang sedang memperhatikan kearahku tapi aku tak peduli. Anin belum juga mengangkat kepalanya, aku pun berdehem kecil sampai akhirnya ia mengangkat kepalanya lalu tersenyum kecil "Assalamualaikum Anin ku say..." ucapanku terpotong karena Anin melototiku aku pun tersenyum, sungguh lucu wajah Anin kalau sedang melotot "Waalaikumsalam" ucapnya lalu ia berdiri dan sedikit membungkukan badannya seperti memberi hormat, aku bingung melihatnya kenapa dia harus melakukan ini coba? "Maaf pak apa kita bisa pergi sekarang?" Yaampun Aninku sayang memakai bahasa formal ah aku tau pasti dia malu karena banyak mata yang memperhatikan kami, aku pun mengikuti permainannya "Ya ayo," ucapku lalu berjalan meninggalkannya Anin pun berdiri lalu mengikutiku dari belakang, aku berbalik dan berjalan berdampingan dengan Anin. Aku ingin sekali menggandeng istriku ini tapi aku sadar diri masih berada di kantor. Anin menggerutu dalam hati kenapa sih mas Adnan malah jalan di samping aku, pasti besok banyak yang nanya. "Jangan nunduk," ucapku, Anin pun menoleh lalu menatap lurus kedepan. Banyak orang-orang di lobby yang berbisik tetapi aku tak peduli beda dengan Anin yang sudah keringet dingin. Ya ampun Aninku sayang sampai segitunya maafkan mas mu ini ya. Kami pun berjalan berdampingan ke parkiran "Kamu parkir mobil dimana sih jauh banget," ucapku disela sela kami jalan "Disana paling ujung, karena yang tersisa itu," unjuk Anin "Lain kali yang di VIP aja parkiran khusus mobil pejabat kantor," ucapku sambil terus berjalan, Anin berhenti sejenak dan aku menengok kearahnya lalu ia menatapku sinis "Yeehh emang aku pejabat kantor apa," gerutu Anin aku pun hanya tersenyum Anin baru tersadar satu hal berarti selama ini ia tak pernah menyadari mobil yang berada di parkiran VIP adalah mobil suaminya. Anin merasa bodoh karena tak menyadari keberadaan mobil itu karena ia selalu berfikir mungkin mobil itu bisa saja sama dengan suaminya padahal ia sering melihat mobil itu di parkiran VIP   Author POV Diparkiran khususnya tepat didepan mobil Adnan banyak orang yang berkumpul, sedang bergosip karena mengetahui mobil CEO nya terparkir di parkiran paling ujung yang membuatnya heboh tadi ada karyawan yang melihat karyawati biasa yaitu Anin yang turun dari mobil itu pagi tadi. Semuanya pun bergosip sampai Adnan didepan mobilnya mereka pun langsung diam dan memberi hormat, Adnan hanya menatap karyawannya tak suka, Anin masih berjalan pelan sambil nunduk karena takut jadi bahan omongan oleh karyawan lain. "Anin kunci mobilnya mana?" Ucap Adnan pelan, Anin pun memandang Adnan dan langsung menghampiri dan memberikan kuncinya. Semua karyawan yang ada disitu memperhatikan Adnan dan Anin. Adnan pun dengan cepat masuk kedalam mobil, sedangkan Anin hanya tersenyum gak jelas kepada karyawan yang menatapnya "Anin ayo masuk," teriak Adnan yang mengeluarkan kepalanya dari jendela mobilnya, Anin pun mengangguk lalu melangkahkan kakinya dengan cepat, Anin bernafas lega dari dalam mobil ia melihat para karyawan tengah berbisik-bisik. Adnan yang melihat kekhawatiran istrinya hanya tersenyum cuek. Dengan cepat Adnan pun melajukan mobilnya meninggakan parkiran. Diperjalanan menuju restoran tempat biasa tiba-tiba Anin merasa dirinya ingin makan bakso di dekat kantornya sudah lama sekali ia tak makan disana "Mas," "Apa sayang," "Hemm aku pengen makan bakso dekat kantor mas," ucap Anin pelan, Adnan menengok sebentar "Kamu ngidam yang? Yasudah ayo," ucap Adnan lalu memutar balik mobilnya "Ngidam? Baru saja minggu lalu aku halangan mas," "Ehh emang ya? Aku kira kamu hamil hehe," Dan akhirnya mereka sudah berada didepan kedai bakso yang tak terlalu besar yang berada tidak jauh dari kantor, disaat Adnan ingin keluar Anin memegang tangan suaminya "Kamu gak malu makan disini mas? Terus kamu gak takut nanti kalau ada orang kantor?" Adnan tersenyum memandang istrinya, ia gemas karena kelakuan Anin hari ini yang tidak seperti biasanya "Gak sayang, sudah ayo turun," Adnan dan Anin sudah duduk di meja dan kursi yang terbuat dari kayu saling berhadapan setelah memesan dua mangkok bakso. Banyak orang yang melihati Adnan termasuk pegawai kedai baksonya. Mungkin heran karena ada pria berjas mahal turun dari mobil mewah makan di kedai bakso yang tempatnya tak terlalu besar. Anin memulai makan baksonya dengan lahap setelah berdoa. Adnan yang belum makan hanya melihati sang istri yang sedang menikmati baksonya "Enak ya yang? " Anin mengangguk "Kamu sering makan disini?" "Sering mas tapi dulu sebelum nikah hehehe," Seorang pegawainya datang membawa 2 gelas es teh manis "Mba Anin tumben gak sama temannya, ini siapanya mba?" Ucap pegawai wanita itu ramah sambil memberikan es teh manisnya "Iya mba, ini suami saya hehe," ucap Anin pelan, pegawainya itu mengangguk lalu tersenyum kepada Adnan dan Adnan hanya tersenyum tipis "Mas risih ya dilihati terus maaf ya mas," ucap Anin yang merasa bersalah karena dari tadi Adnan tak bisa diam dan belum memulai makannya "Eh i yya enggak kok yang gpp," Adnan yang memang baru pertama kali makan di kedai atau pinggir jalan agak risih karena suasana nya yang berbeda. Ia juga risih karena banyak yang melihati, Adnan mencoba cuek karena melihat sang istri yang makan dengan lahap. Adnan pun memulai mencoba makan baksonya. "Ternyata enak ya yang baksonya," "Memang mas makannya dulu aku suka banget kesini, pasti nanti kamu ketagihan," Benar saja Adnan yang merasakan nikmatnya makan bakso bersama sang istri meminta nambah satu mangkok, Anin tertawa kecil melihat perubahan suaminya "Hemm makannya kita gak harus makan diresto mas nanti kita coba ya tempat lain," "Iya sayang ternyata enak juga ya makan dipinggir jalan begini, aku baru pertama kali tau hehehe," ucap Adnan sambil melanjutkan makannya. Ada dua orang pria dan wanita yang baru saja duduk di samping Adnan dan Anin yang ternyata pegawai kantor dan mereka mendengar percakapan bos dan temannya, mereka kaget melihat bosnya sedang makan bersama Anin, salah satu perempuan berhijab dikantor. Adnan dan Anin belum menyadarinya "iya mas, buktinya mas sampai nambah," "Iya sayang abisnya enak apalagi makan bareng kamu," ucap Adnan sambil mengusap tangan Anin di atas meja, Anin tersenyum malu "Huh gombal kalau gak ada aku pasti mas gak mau makan disini iyakan?" Canda Anin "Hemm iya mungkin, iya deh iya istri aku tau aja.." ucap Adnan sambil mencubit hidung Anin mereka pun melanjutkan makannya sambil mengobrol ria. Dua orang yang berada disamping Adnan dan Anin kaget dan mereka hanya bisa saling pandang tak berbicara apapun sampai-sampai tanpa sengaja wanita yang duduk di samping Adnan menumpahkan minuman dan terkena meja Adnan membuat Anin dan Adnan sadar lalu menengok. Orang tersebut menunduk lalu meminta maaf sedangkan Anin khawatir karena ia kenal betul itu pegawai kantornya "Maaf pak maaf," ucapnya pelan dan gugup, Adnan sedikit agak kesal untung saja tidak mengenai bajunya dan Adnan tidak menyadari bahwa perempuan itu pegawai kantornya "Lain kali hati-hati dong mba untung gak kena baju saya," ucap Adnan kesal, Anin memegang tangan Adnan, Anin tau betul suaminya kalau kesal bagaimana "Sudah gpp Len," ucap Anin menatap teman kantornya yang menunduk takut, lalu orang yang dipanggil Len itu mengangkat kepalanya "Anin, maaf ya pak," ucap Lena gugup sedangkan pria yang didepan Lena hanya menunduk "Kalian mendengarkan pembicaraan kami?" Tanya Anin langsung sambil menatap Lena temannya, Adnan yang baru menyadari istrinya kenal dengan kedua orang disampingnya diam saja, Lena dan Adit mengangguk takut-takut, Anin menghela nafasnya "Hemm kalian bisa kan rahasiain ini?" ucap Anin memandang Lena yang dipandang diam saja lantaran bingung "Sudah sih yang biarin aja mereka semua pada tahu," ucap Adnan sewot, Anin melotot ke arah suaminya yang dipelototi hanya nyengir "Plis ya Len, Dit jangan kasih tau siapa-siapa kalau gue istri pak Adnan," Anin memandang mereka berdua sambil memohon, Adnan kesal melihat istrinya harus memohon langsung memandang tajam Lena dan Adit. "Saya harap kalian bisa merahasiakannya," ucap Adnan yang dipandang mengangguk takut "Iya pak," "Thanks ya Len, Dit, gue harap kalian gak bocor," Lena dan Adit mengangguk "Yasudah yuk yang kita pulang," kata Adnan manja sambil menarik tangan Anin. Mereka pun keluar setelah membayar dengan tangan Adnan menggandeng istrinya. Adnan ini kalau sudah bersama istrinya sifat manjanya pasti keluar tak ada sikap tegasnya. Anin pun merasakannya hari ini tadi pagi tegas banget giliran sudah ketemu manja banget. Mereka pun pulang bukan berarti pulang dalam arti sebenarnya tetapi pulang ke kantor. Mereka pun sudah sampai di depan kantornya yang masih ramai. Anin sudah melepaskan seat beltnya dan hendak keluar tetapi ditahan suaminya. "Cium" Anin mengelengkan kepalanya, Adnan langsung cemberut Anin yang gak mau suaminya ngambek mengecup pipinya pelan Cupp "Semangat kerjanya yang, jangan pikirin omongan orang nanti ya," Anin mengangguk, Adnan menarik istrinya lalu mengecup bibir istrinya singkat "Mas ihh m***m nanti kalau dilihat orang gimana," ucap Anin khawatir "Gak akan sayang kan kacanya gelap," disaat Anin mau berbicara lagi Adnan menciumnya dan melumatnya, Anin terbawa suasana jadi menikmatinya "Makasih istriku, kita lanjutin dirumah ya," Adnan langsung keluar mobil sebelum istrinya berteriak "Masss Adnannn, awas kamu!!" Teriak Anin saat ia keluar dari mobil hendak menyusul suaminya yang berjalan pelan tanpa menyadari bahwa dirinya ada didepan kantor. Saat Anin sudah setengah jalan banyak yang melihatinya, Anin jadi salah tingkah sendiri, ia malu karena baru menyadari bahwa ia tadi berteriak apalagi berteriak memanggil suaminya "Aduhh gawat nih, pasti nanti banyak yang tanya" batin Anin Sedangkan Adnan yang mendengar berhenti sebentar membalikan badannya hanya tersenyum tipis sambil kedua tangannya yang dimasukan kedalam saku celananya ia gemas melihat tingkah istrinya yang salah tingkah. Anin yang malu buru-buru masuk kedalam kantor dan segera menaiki lift untuk keruangannya. Sesampainya di ruangan ia menemukan banyak temannya yang sedang berkumpul disalah satu meja. "Nih dia orangnya," ucap Tito yang melihat Anin baru saja masuk, semua orang yang sedang berkumpul langsung menyerbu Anin banyak pertanyaan "Wihh Nin gimana rasanya naik mobil pak Adnan?" "Kok lo bisa kenal si sama pak Adnan?" "Terus kok lo panggil pak Adnan, mas?" "Liat nih lo jadi gosip di grup kantor Nin," "Pak Adnan yang biasanya gak senyum kok bisa senyum sama lo Nin," "Lo pacar pak Adnan ya?" Anin berusaha mengindar dari pertanyaan teman-temannya ia memilih langsung duduk dikursinya "Anin jawab dong," "Hemm sorry ya gue gak ada apa-apa kok sama pak Adnan," ucap Anin lalu ia mengambil mukena diloker mejanya dan hendak sholat karena memang Anin belum sholat. Anin pun meninggalkan teman-temannya yang masih saja bertanya. Anin berharap gak ada yang bertanya lagi setelah ini. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD