Part 5 - Pertemuan Yang Tak Disangka

1951 Words
"Aduh mas aku kesiangan, kok kamu gak bangunin aku sih mas, sudah jam 7 dan aku meninggalkan sholat subuhku terus aku ada meeting jam 8 nanti lagi," teriak Anin yang baru saja bangun dari tidurnya, Adnan yang sudah siap dengan pakaian kantornya menghampiri istrinya "Aku sudah bangunin Anin, kamu pules banget tidurnya, tadi juga aku kesiangan sudah jangan panik tarik nafas dulu, tenang dah setelah itu kamu cepetan mandi sana ntar telat loh," ucap Adnan, Anin bangun setelah menarik nafasnya supaya gak panik lalu menguncir rambutnya asal. Dan Anin baru sadar ia tak memakai baju semalaman, ditutupi tubuh polosnya dengan selimut "Dahh Anin aku berangkat duluan ya," Anin mengangguk lalu mencium tangan suaminya dan Adnan mencium kening Anin lalu Anin bergegas kekamar mandi dengan selimut yang melekat ditubuhnya. Adnan tertawa kecil melihat istrinya kelimpungan karena bangun kesiangan. Adnan pun segera berangkat ke kantor karena hari ini ia juga ada meeting pagi. Adnan juga sudah berpamitan kepada istrinya. Sesampainya dikantor Adnan memasuki ruangannya terlebih dahulu. Didepan ruangannya sudah ada Asri asisten sekaligus adik sepupu Adnan. Meeting dimulai pukul 8 pagi. Adnan sudah siap mendengarkan presentasi karyawannya yang katanya cukup membantu saat memberikan solusi untuk penjualan barang perusahaan. Adnan POV 5 menit lagi jam sudah menunjukkan pukul 8 tepat, dengan sigap aku memasuki ruangan meeting. Saat aku masuk ternyata kursi masih ada yang kosong. Aku paling benci melihat keadaan seperti ini dimana saat mau meeting belum ada yang siap. Kulihat Nindy Atasan yang bertanggung jawab atas meeting duduk lalu ia berdiri dan membungkuk sedikit memberi salam bersama dua karyawan lainnya. "Mana yang lainnya?" Kataku sambil menatap tajam Nindy "Maaf pak karyawati yang bertanggung jawab atas presentasi belum datang," ucap Nindy lalu menunduk "Kenapa begitu, seharusnya ia tahu dong waktunya meeting jam berapa," ucapku kesal, aku paling gak suka ada keterlambatan saat meeting. Dengan kesal aku duduk di kursi kebesaranku sebagai pemimpin. Asri asisten sekaligus adik sepupuku juga sudah duduk dikursinya "10 menit tidak datang, pecat karyawati itu," ucapku tegas pada Nindy, Nindy hanya mengangguk pelan Aku pun menunggu dan memperhatikan jam ditanganku, 5 menit sudah berjalan dari waktu yang kutentukan pasti karyawati itu telat. Tok tok dan ternyata dugaanku salah ia sudah datang "Permisi maaf kami telat pak," ucap karyawati itu dengan nadanya yang sedikit ngos-ngosan tunggu kok seperti suara yang kukenal ya. Aku pun menengok dan menatap wajahnya "Anin" gumamku pelan kulihat ia sama kagetnya juga dan kudengar temannya berbicara tetapi disenggol oleh Anin dan dipotong oleh perkataan Anin "Itu kan sua.." "Sekali lagi maaf pak kami telat, saya Anindya penanggung jawab meeting hari ini," Saat ku lihat wajah Anin gak tau kenapa aku ingin menjahilinya dan melupakan kekesalanku tadi, dengan tajam aku menatapnya, ah hari ini dia cantik sekali dengan setelan kantornya. "Kenapa kalian telat? Kalian tahu saya sudah menunggu hampir 15 menit," ucapku tegas dan mataku masih menatap Anin "Maaf pak tadi saya.." belum selesai dia berbicara sudah kupotong, kulihat dia menghela nafasnya pasrah "Sudahlah cepat duduk dan mulai meetingnya," kulihat Anin dan temannya mengangguk lalu segera duduk. Anin sempat melirik kearahku aku hanya tersenyum meledek. Aku pun mulai memperhatikanya presentasi saat dia menatapku aku senyum mengarah kepadanya tetapi ia tak membalas dan melanjutkan presentasinya. Aku memperhatikannya saat dia menjelaskan persentasinya dan hasilnya bagus aku menyukainya. Tak salah memang Anin bisa bekerja disini walau hanya sebagai karyawan biasa. Setelah itu berlanjut kepada temannya. Lalu aku akan memberikan komentarku Aku berkomentar sedikit dan singkat membuat Anin menghela nafasnya mungkin dia kesal hahaha Anin POV Hari ini kenapa aku harus telat bangun sih, mas Adnan juga bukannya bangunin aku sudah tau aku ada meeting pagi hari ini, ini semua gara-gara semalam mas Adnan mengajakku  bergadang sampai jam 2 pagi. Setelah mas Adnan berpamitan kepadaku dengan cepat aku berlari kekamar mandi dan cepat bersiap-siap kekantor. Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi masih ada waktu setengah jam, dengan cepat aku merapihkan laptop dan berkas berkasku yang lainnya dan aku tidak sempat untuk membereskan kamar. Aku pun segera turun dan bergegas ke garasi. Bi Minah menyapaku dan menawarkanku untuk sarapan, aku kembali menyapanya dan menolak untuk sarapan karena tak ada waktu lagi untuk sarapan. Saat di garasi kulihat ban motorku kempes. Ya ampun bagaimana ini aku harus naik apa? Kulihat mobil mas Adnan terparkir didepan rumah, kok tumben ya mas Adnan gak naik mobil apa dia naik motor tapi gak mungkin masa bos naik motor, sudahlah itu tak penting, bisa aku tanyakan nanti. Tanpa berfikir panjang aku pun mengambil kunci mobil lalu segera menaiki mobil mas Adnan. Maafin aku mas aku pakai mobil kamu. Aku pun mengemudi dengan kecepatan lumayan tinggi. Rere tadi bilang kalau sampai telat kita bakalan dipecat. Ya Allah jangan sampai aku dipecat gara-gara terlambat. Jam sudah menunjukkan pukul 8 tepat dengan cepat aku memarkirkan mobil lalu turun  dari mobil. Banyak orang yang memperhatikanku sambil bisik-bisik aku bingung apa ada yang salah denganku, ah aku tahu mungkin mereka bingung aku turun dari mobil mewah. Ah yasudahlah itu aku pikirkan nanti, yang penting aku harus cepat. Kulihat Rere sudah menunggu dilobby, dengan sigap ia membantuku membawa laptop. Kami pun berlari menuju lift dan sialnya lift sudah tertutup tak mau menunggu lama kami, aku dan Rere pun naik tangga menuju lantai 4 tempat ruang meeting berada Akhirnya kami sampai didepan pintu dengan ngos-ngosan aku dan Rere pun menarik nafas dan sedikit merapikan pakaian kami "Re sorry ya telat gue kesiangan," ucapku merasa bersalah "Iya sudahlah yang penting lo sudah dateng ayo kita masuk Nin," aku mengangguk aku pun mengetuk pintu duluan dan segera masuk kedalam diikuti Rere dibelakangku "Permisi maaf kami telat pak," ucapku dengan nada yang sedikit ngos-ngosan maklum abis naik tangga. Pak bos yang dari tadi menunduk pun menengok dan menatap wajahku "mas Adnan" gumamku pelan, aku sedikit kaget ngapain suamiku disini jangan- jangan, tapi aku berusaha formal kulihat mas Adnan juga bergumam pelan dan menatapku tajam Si Rere pasti juga kaget "Itu kan sua.." kusenggol lengannya pelan lalu dengan cepat kupotong ucapannya "Sekali lagi maaf pak kami telat, saya Anindya penanggung jawab meeting hari ini," "Kenapa kalian telat? Kalian tahu saya sudah menunggu hampir 15 menit," ucap mas Adnan tegas, huh aku kesal sekali sudah tau aku telat gara-gara dia mengajakku bergadang "Maaf pak tadi saya.." belum selesai ku berbicara mas Adnan sudah memotong pembicaraanku. Mas Adnan ngeselin banget sih awas aja ya kamu mas, eh gak boleh deng kan harus profesional "Sudahlah cepat duduk dan mulai meetingnya," kata mas Adnan eh maksudnya pak Adnan. aku mengangguk lalu segera duduk begitu juga dengan Rere ia duduk disampingku. Aku sempat sempatnya melirik pak bos dan melihatnya lalu ia  tersenyum seperti meledek. "Baiklah selamat pagi semuanya, kita mulai saja meetingnya, mohon maaf karena sudah menunggu," aku pun membuka lalu menyalakan laptop setelah itu aku menyambungkannya dengan proyektor. Setelah tampilan sudah ada di layar proyektor aku pun mempresentasikannya didepan. Kulihat mas Adnan memperhatikanku saat aku menatap matanya ia tersenyum gak tau senyuman apa aku tak membalasnya dan melanjutkan penjelasanku Setelah selesai aku pun duduk kembali dan giliran yang lain yang presentasi setelah itu aku akan mendengarkan komentar dari pak boss langsung "Bagus nona, siapa tadi nama anda?" Tanyanya mengarahku, sengaja banget nih orang "Anindya pak," kataku singkat sambil tersenyum tipis, Rere menyenggolku pelan sambil tersenyum gak jelas dan matanya mengkodeku agar melirik ke mas Adnan "Ah iya Anindya bagus sekali hasil presentasi kamu dan yang lainnya saya terima solusi kamu, selamat untuk semuanya yang sudah bekerja keras meeting boleh ditutup," aku menghela nafas sudah komentarnya begitu doang ya Allah ngeselin banget nih pak boss gerutuku dalam hati, bayangkan saja aku mengerjakan presentasi itu cukup lama tetapi komentarnya begitu doang, astaga Aku pun tersenyum kearahnya "Terimakasih bapak siapa maaf?" Tanyaku karena memang aku gak tau nama bos ku hihihi Pak Adnan menatapku tajam "Kamu bagaimana bos sendiri saja gak kenal, saya Adnan Syafi Amzari Pratama" dia menyebutkan namanya lengkap dan menatapku sinis "Maaf pak memang saya tidak tahu, baik terimakasih pak Adnan, terimakasih juga untuk yang lainnya yang sudah bekerja keras, saya tutup meeting kali ini terimakasih," semuanya pun mengangguk dan membereskan berkas masing-masing Semuanya pun meninggalkan ruangan meeting kecuali aku, Rere, pak Adnan dan asistennya yang masih merapihkan bekas presentasi tadi. "Kamu boleh keluar duluan Asri," ucap mas Adnan lalu perempuan yang dipanggil Asri itupun keluar ruangan. Aku masih merapihkan laptop dan berkas lainnya. "Bapak bukannya suaminya Anin ya?" Tanya Rere langsung, membuatku kaget karena ia langsung bertanya, aku pun memukul tanganya pelan sambil menggelengkan kepala "Ihh apa sih Nin," gerutunya "Pak Adnan benar kan suaminya Anin, saya Rere pak temannya," ucap Rere sambil senyum-senyum gak jelas membuatku makin kesal "Ayo, Re," ajakku agar cepat meninggalkan ruangan ini, tetapi suara mas Adnan memberhentikan kami "Iya saya Adnan suami Anin, oh kamu yang namanya Rere ya," ucap mas Adnan, Rere mengangguk sambil tersenyum "Kami permisi ya pak," ucapku sambil menarik tangan Rere untuk keluar ruangan "Tunggu Anin, kamu bisa keluar Rere," Rere pun mengangguk  "Re tunggu jangan bilang kesiapa-siapa kalau pak Adnan suami gue," Rere mengangguk lalu keluar ruangan dan menutup pintunya "Duduk Anindya," aku pun hanya bisa menurut lalu duduk didekatnya "Ada apa ya pak?" Tanyaku malas "Jangan panggil saya pak emang saya bapak kamu," isshh ngeselin banget sih mas Adnan "Iya baik ada apa ya mas? Ini dikantor saya mau melanjutkan kerja lagi," kataku tanpa melihat kearahnya, dan aku masih berusaha formal "Kamu kenapa gak bilang kalau kerja disini?" Tanyanya Aku menatap mas Adnan lalu menghela nafasku "Hemm mana aku tahu mas, kan mas gak pernah nanya," "Ahh iya ya," ucapnya sambil nyengir gak jelas "Mas sendiri gak bilang kalau mas CEO disini," kataku menanyakan hal sama, karena aku baru tahu mas Adnan adalah CEO diperusahaan ini "Emang mas belum cerita ya?" Tanyanya, Aku mengangguk "Hmm iya deh.. bagus deh kalau kamu memang kerja disini berati aku setiap hari bakalan ketemu istri aku," ucap mas Adnan lalu memegang tanganku diatas meja, aku menarik tanganku tapi mas Adnan malah menggenggam tanganku "Mas ini kantor, oh iya mas pliss banget ya jangan kasih tahu yang lainnya ya kalau aku istri kamu," mas Adnan memandangku heran sambil mengerutkan dahinya "Lho kenapa baru mas mau mengumumkannya," aku menggeleng sambil memasang wajah melasku "Jangan mas aku gak mau karyawan lain berubah gara-gara status aku," jawabku langsung, mas Adnan tampak berfikir "Hemm boleh tapi ada syaratnya," "Apa?" "Kita harus berangkat dan pulang bareng setiap hari lalu makan siang bareng setiap hari," what sama aja itu mah "Gak ada yang lain mas, itukan sama saja nanti kalau pada curiga gimana?" Kataku karena mana mungkin kan kalau bos besarnya berangkat pulang bareng dengan karyawan biasanya "Biarin aja, terserah kamu mau apa enggak," ucap mas Adnan, kalau sudah seperti itu aku tak bisa membantahnya "Iya iya," ucapku pasrah "Pulang nanti bareng, kamu bawa mobil aku kan?" Tanyanya, aku kaget kok mas Adnan bisa tahu "Lho kok mas tahu?" "Iyalah tahu tadi mas memang sengaja meninggalkan mobil didepan rumah karena melihat ban motor kamu kempes jadi mas sengaja parkirin mobil diluar biar kamu langsung pakai mobil, mas naik gojek tau sampai kantor pada ngelihatin semua," ohh ternyata mas Adnan sengaja ninggalin mobilnya, ahh baiknya suamiku "Makasih lho mas kalau gak tadi aku bisa telat terus dipecat deh, oh ya mas naik gojek? Aku juga tau mas waktu turun dari mobil pada ngelihatin aku," "Iya kalau kamu tadi telat mungkin kita gak ketemu, haha iyalah masa karyawan biasa turun dari mobil bosnya," dia tertawa mengejekku "Iya iya dah tau bosnya siapa sih, sudah ah aku kembali kerja ya mas," aku pun berdiri ingin keluar ruangan, mas Adnan pun ikut berdiri lalu mencium pipiku "Semangat kerjanya istriku," ahh mas Adnan selalu bikin aku terbang, padahal cuma di semangatin begitu tetapi aku seneng banget "Mas juga, aku duluan ya dah," aku pun mencium pipinya sebentar dan langsung keluar ruangan. Bodo deh dengan cctv diruangan ini.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD