Part 3 - Malam Istimewa

1566 Words
Malam telah tiba pengantin baru ini keluar dari mobilnya menuju ballroom hotel. Adnan sudah menggandeng istrinya untuk memasuki ballroom. Anin memakai gaun pengantin berwarna biru muda dengan hijab dan mahkota kecil dikepalanya membuat Anin semakin cantik dan anggun sedangkan Adnan memakai tuxedo yang berwarna sama dengan Anin mereka menjadi raja dan ratu malam ini. Mereka berdua sangat serasi yang satu cantik dan yang satu tampan, mereka terlihat bahagia dengan menampilkan senyum diwajahnya masing-masing. Mereka pun naik ke pelaminan dan duduk disana bebarengan dengan kedua orangtua masing-masing. Anin dan Adnan pun mulai menyalami para undangan yang telah hadir dan bebaris ingin memberi ucapan selamat pada sang pengantin. Adnan sudah bertekad untuk menjadikan malam ini malam yang paling berkesan untuk hidupnya begitu juga dengan Anin. Mereka sudah berjanji saat tadi siang bahwa akan menjadikan pernikahan ini sekali seumur hidup. Dan mencoba untuk membina rumah tangganya untuk menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah seperti ucapan yang diberikan para tamu saat ini, walau mereka baru kenal dan belum ada cinta yang hadir tetapi mereka percaya cinta akan hadir sendirinya. Untuk itu mereka berniat untuk menghadirkan cinta ditengah kehidupan mereka dengan saling mempercayai, dan saling terbuka satu sama lain. Hari pun makin malam namun masih banyak tamu undangan yang hadir. Anin mulai merasakan sakit di kakinya karena terlalu lama berdiri dengan high heels dikakinya tetapi ia masih berusaha menampilkan senyum dan membalas ucapan tamu undangan. Teman-teman Anin sudah pada datang mereka turut senang dengan pernikahan Anin walau pertamanya mereka kaget karena menurut teman-temannya Anin sangat menutup diri terhadap lelaki setelah berpisah oleh pacarnya dulu waktu SMA dan kini Anin telah menikah. Dan akhirnya acara pun selesai pukul 11 malam Anin bernafas lega duduk di kursi pelaminan dan akhirnya para tamu undangan yang banyak Anin tak kenal sudah pulang. "Kamu capek ya Nin?" Tanya Adnan melihat istrinya duduk menyender di kursi pelaminan "Hehe iya mas banyak banget sih tamunya,"  ucap Anin lalu membetulkan posisi duduknya "Iya itu kebanyakan kolega papa, rekan bisnis aku dan teman ayah juga banyak," ucap Adnan sambil menyengir "Iya kayanya tadi teman aku cuma sedikit dibanding teman-teman kamu," Anin menatap suaminya, suaminya tersenyum "Iya, Yasudah yuk kekamar cape kan?" Anin mengangguk, Adnan pun langsung mengangkat tubuh Anin, menggendong Anin tanpa persetujuan darinya menuju kamar hotel yang akan mereka tempati malam ini. Anin sempat berteriak minta diturunkan tetapi Adnan tidak mendengarkannya. Suara menggoda pun terdengar dari para orangtua dan adiknya. "Adnan gak sabaran banget sih kamu," "Mbak semangat buat keponakannya," "Bang kasian kakak ipar, jangan diapa-apain," Dan masih banyak godaan lain yang didengar Adnan dan Anin tetapi mereka menghiraukan godaan mereka. Anin hanya bersembunyi malu didada Adnan dan tangannya sudah melingkar dileher Adnan, Adnan tersenyum kecil dan melanjutkan jalannya menuju kamar hotel. Adnan menggendong Anin sampai kamar hotel lalu ia menurunkan Anin di ranjang hotel dengan perlahan. Anin yang malu karena digendong tadi langsung menutup wajahnya dengan bantal tetapi Adnan menarik bantal yang menutupi wajah cantik istrinya "Kenapa ditutupin sih Nin," tanya Adnan yang hanya menggoda karena ia tahu pasti Anin malu "Ihh aku malu mas, ngapain sih gendong-gendong," ucap Anin sambil menutup kembali wajahnya dengan bantal "Heyy jangan ditutup gitu, kan tadi katanya kamu capek jadi ya aku gendong," "Hemm iya," Anin menampilkan senyumnya walau sedikit dipaksakan "Sholat isya dulu yuk, terus sholat sunah terus…" ucapan Adnan terpotong oleh ucapan Anin "Iya aku tahu kok," ucap Anin tanpa melihat kearah suaminya "Tahu apa emang?" Ucap Adnan yang makin menggoda Anin. Anin dengan cepat bangun dari tidurannya lalu beralih ke kamar mandi. Adnan tertawa melihat tingkah istrinya. Setelah sholat berjamaah Adnan dan Anin melakukan malam pertama mereka sebagai pasangan suami istri. Walau belum ada cinta yang hadir dikeduanya tetapi mereka melakukannya dengan ikhlas mereka yakin cinta akan datang sendirinya. **** Hari ini Adnan dan Anin sudah berada dirumah Adnan setelah dua hari menginap dihotel, mulai hari ini dan seterusnya Anin akan tinggal di rumah Adnan rumah yang cukup besar jika mereka tinggali berdua. Adnan memang sudah menyiapkan rumah untuk istrinya kelak. Anin memasuki kamarnya bersama Adnan suaminya. Ia melihat kamar Adnan yang begitu rapi setelah melihat-lihat ruangan yang lain dirumah Adnan yang sekarang merupakan rumah mereka berdua. Anin duduk dibawah membuka kopernya dan mulai membereskan pakaiannya kedalam lemari pakaian Adnan yang masih kosong. Adnan menghampiri istrinya yang sedang duduk di karpet yang mulai membongkar kopernya "Hai istriku, aku lapar apa bisa kamu menyiapkan makan untukku?" Ucap Adnan dan duduk didepan istrinya, Anin melirik ke arah suaminya "Iya suamiku, aku akan memasak, sebentar ya," Adnan menggeleng "Sekarang istriku, ini nanti aja diberesinnya nanti aku bantuin," ucap Adnan sambil menutup koper Anin "Iya iya sebentar ya aku akan memasak," lalu Anin beranjak dari duduknya "Iya aku tunggu sini ya, nanti bawain aja kesini makasih," Anin mengangguk patuh Anin pun meninggalkan Adnan dikamar untuk memasak, sedangkan Adnan dikamar berniat untuk merapihkan pakaian istrinya kedalam lemari. Adnan membuka kembali koper Anin dilihatnya banyak pakaian dan jilbab disana. Pelan-pelan Adnan memindahkan pakaian yang sudah terlipat rapi kedalam lemari. Tanpa sengaja Adnan melihat pakaian dalam istrinya, iseng ia mengambil dan menjembrengkannya Adnan tertawa sendiri melihat pakaian dalam istrinya yang menurutnya lucu-lucu. Ia melihat-lihat yang lainnya juga. Tepat saat itu Anin masuk kedalam kamar dengan membawa nampan. Ditaruhnya nampan dimeja dekat pintu. Anin kaget melihat suaminya sedang memegang pakaian dalamnya, langsung berlari menghampiri suaminya "Kyaaa apa yang kaulakukan mas," ucap Anin marah lalu merebut bra yang dipegang Adnan dan memasukan kekoper lalu menutupnya. Adnan tertawa "Hahaha aku tadi…" ucapan Adnan terpotong "Ngapain kamu pegang-pegang pakaian dalamku, itu barang privasiku mas," ucap Anin sambil melotot kearah suaminya "Dengerin dulu kenapa, tadi tuh aku gak sengaja  abis pindahin pakaian kamu ke lemari terus aku liat pakaian dalam kamu deh, aku penasaran ya aku lihat," ucap Adnan santai, Anin menggerutu kesal "Ihh dasar gak sopan, aku malu tahu," gumam Anin pelan, Adnan mendengarnya hanya tertawa sambil memandang istrinya. Adnan baru tahu sekarang istrinya cerewet dan kalau lagi marah itu sangat menggemaskan "Apa lihat-lihat, sudah sana makan itu ada dimeja," ucap Anin yang masih cemberut "Iya iya maaf ya tadi jangan ngambek dong jelek tau," ucap Adnan lalu mengelus kepala istrinya "Hemm," Adnan menggelengkan kepala melihat istrinya ngambek, lalu ia beralih mengambil nampan dimeja lalu dibawa ke dekat istrinya. "Ayo kita makan bareng Nin," "Kamu duluan saja mas, aku mau merapihkan ini dulu," ucap Anin lalu mengangkat kopernya "Tapi jangan marah lagi ya," "Iya," Adnan tersenyum  "Lagi kenapa harus malu, nanti aku juga akan sering melihatnya," gumam Adnan pelan "Anin denger loh mas," "Iya iya," **** "Anin kamu dapat cuti berapa hari?" Tanya Adnan yang sudah berada diranjang, Anin menghampirinya lalu duduk didekat suaminya. Hari ini mereka hanya melakukan aktivitas dirumah sampai malam hari dengan mengobrol dan bercanda bersama membuat kedekatan diantara mereka. Anin menjawab pertanyaan suaminya "2 hari mas, aku masih baru jadi belum boleh ngambil cuti banyak," Adnan tampak berfikir "Emang kamu sudah berapa lama disana?" Anin diam sejenak sambil menghitung jarinya lalu menunjukkan 4 jari kanannya kearah Adnan "Hemm 4 bulanan mas," "Berati masih lama dong kalau sampai 2 tahun, emang kamu kerja dimana sih?" Tanya Adnan penasaran memang Adnan belum mengetahui istrinya kerja dimana "Iya memang masih lama aku kerja di perusaha..." ucapan Anin terpotong karena suara deringan telpon Kringg kringg "Bentar ya mas angkat telpon dulu," ucap Adnan lalu berdiri menjauh mengangkat telponnya didekat jendela kamarnya. Setelah menutup telponnya ia pun meletakan hpnya kembali di nakas lalu kembali tiduran diranjang tetapi ia tiduran diatas paha istrinya. Anin sempat kaget tetapi ia tak bisa menolak, ia mengelus rambut Adnan pelan "Mas besok harus kerja Nin, kamu gpp kalau liburannya kita tunda dulu?" Tanya Adnan sambil memainkan kancing baju Anin "Iya gpp mas, lagi pula lusa aku juga sudah kerja," ucap Anin yang masih mengelus rambut suaminya. Adnan menatap wajah istrinya. Tiba-tiba Adnan menarik kepala Anin hingga wajah mereka berdekatan membuat Anin sedikit kaget, Adnan yang masih berada di atas paha Anin mengecup bibir Anin sebentar lalu melepasnya dan menatap lekat mata istrinya sebagai sebuah tanda permintaan. Anin yang tak mengerti hanya terpelongo menampilkan wajah bingungnya, Adnan yang mengetahui istrinya bingung membisikan sesuatu ditelinga Anin membuat Anin mengangguk malu. "Terimakasih Anin," Adnan mencium kening istrinya dan selanjutnya hanya mereka lah yang tahu. **** Pagi harinya Anin sudah bangun dan segera merapihkan kamarnya yang berantakan ulah semalam, Adnan juga sudah bangun ia sedang mandi sekarang dan bersiap untuk bekerja. Anin menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya lalu setelah itu ia akan memasak untuk sarapan mereka berdua. Adnan menghampiri istrinya yang sedang menata meja makan ia menghampiri istrinya dengan dasi yang menggantung dilehernya. "Istriku tolong pasangin dasi dong," ucap Adnan, Anin menengok lalu tersenyum, senyuman manis Anin membuat pagi hari Adnan menyenangkan "Cie yang sudah punya istri, sekarang ada yang masangin dasi deh," cibir Anin meledek "Iya dong, yang makein cantik lagi," ucap Adnan lalu mengecup kening istrinya, Anin dia merasakan hatinya berbunga-bunga setiap kata dan sikap Adnan kepada dirinya. Benar kata ayah ibunya Adnan memang pria yang baik. Walau Adnan dan Anin belum saling mencintai tetapi mereka berusaha membuat rumah tangganya harmonis dengan hal-hal mesra yang dibuat Adnan. Anin sudah selesai memakaikan dasi suaminya kemudian ia mengajak suaminya sarapan. Setelah sarapan Adnan langsung pamit untuk bekerja, Anin mengantarkannya sampai depan rumah lalu mengambil tangan suaminya dan menciumnya setelah itu Adnan pergi memasuki mobilnya tak lupa ciuman di kening istrinya. Adnan sudah berangkat kerja dan sekarang Anin akan melakukan kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga sebelum besok ia mulai bekerja lagi dengan status menjadi seorang istri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD