"Kamu masih sakit?" tanya Rifky dengan penuh perhatian.
"Masih lah," balas Nadlyne kesal. "Aku aja susah mau jalan ke mana-mana dan itu semua gara-gara kamu!" serunya sambil memuk*l-p*kul lengan kekar Rifky namun Rifky menerimanya dengan sabar.
"Aku minta maaf, Nad."
Nadlyne menangis lagi sekarang namun ia tak memberontak saat tubuhnya didekap oleh Rifky.
"Aku minta maaf, Nad. Aku sadar aku yang salah," ucap Rifky sambil mengusap punggung Nadlyne.
"Aku takut kalau aku hamil nantinya, aku takut sama tanggapan orang lain. Kenapa aku malah ngasih kehormatan aku itu ke kamu padahal aku ini kan cinta mati sama Mas Andre. Aku ini meskipun udah pacaran lama sama dia tapi aku nggak pernah sedikitpun biarin dia cium aku, aku nggak pernah ciuman sama dia tapi cuma cukup pelukan aja aku masih ngebolehin tapi sama kamu aku malah udah nyerahin semuanya," ucap Nadlyne di sela-sela tangisannya itu.
Mendengar ucapan Nadlyne tentu saja membuat Rifky merasa lega dan juga senang. Itu berarti ia yang pertama menyentuh Nadlyne.
"Aku janji aku bakalan tanggung jawab, aku janji sama kamu," balas Rifky tanpa keraguan sedikitpun.
"Gimana aku bisa nunjukin muka aku di depan Mas Andre, aku nggak bisa," ujar Nadlyne.
Rifky memang langsung marah saat mendengar nama pria lain yang keluar dari mulut Nadlyne itu namun ia sebisa mungkin berusaha untuk tetap bersikap sabar. Jika ia terpancing emosi lagi sudah pasti ia akan membuat Nadlyne semakin marah padanya dan ia tak ingin hal itu terjadi.
Rifky hanya diam mendengarkan semua ucapan Nadlyne tersebut.
"Aku nggak tau apa hubungan aku sama Mas Andre masih bisa diselamatkan?"
Rifky menghela napas panjang. "Nadlyne dengerin aku, dia itu laki-laki yang udah nikah dia udah punya istri jadi buat apa lagi kamu mikirin dia. Dia aja nggak mikirin kamu kan?"
Nadlyne melepaskan diri dari pelukan Rifky. "Apa maksud kamu bilang gitu?" tanyanya marah.
Rifky menelan ludah gugup. "Maksud aku kamu lupain aja dia, kamu liat kan harusnya kalau dia tau kamu lagi sakit dia dateng ke sini jenguk kamu tapi nyatanya nggak kan? Aku yang ada di sini di samping kamu," katanya.
Nadlyne sedih mendengar ucapan Rifky tersebut yang memang nyata benarnya namun ia enggan menerimanya. Walaupun ia merasa dirinya sudah tak berharga lagi namun rasa cintanya pada Andre tetap tak bisa pudar sedikitpun. Ia masih sangat berharap hubungan asmaranya dengan Andre tetap masih bisa bertahan bahkan ia juga masih berharap pria itu akan datang untuk melamarnya dan menikahinya.
"Aku masih berharap dia dateng dan lamar aku kok," balas Nadlyne sambil menoleh ke arah lain.
Rifky tampaknya kesal dan putus asa. "Aku harus bilang apa lagi biar kamu itu mau lupain dia?"
"Nggak ada, kamu nggak perlu lakuin apapun kamu cukup diem aja dan nggak usah ikut campur urusan aku sama dia!" bentak Nadlyne sambil mendelik kesal.
Rifky sampai terkejut mendengar Nadlyne membentak dirinya.
"Kamu denger ya, Rifky kalau aja kamu dari awal nggak gangguin aku terus terusan hubungan aku sama Mas Andre bakalan baik-baik aja kok langgeng malahan. Tapi kamu malah dengan lancang dateng ke hidup aku dan hancurin aku! Kamu itu jahat banget tau nggak!" seru Nadlyne lagi lalu ia menangis terisak-isak.
Rifky diam saja dan ia hanya menundukkan kepalanya karena ia sedang berusaha sekuat tenaga untuk bersabar menghadapi Nadlyne.
Ponsel Nadlyne berdering membuat mereka berdua menoleh ke arah ponsel milik Nadlyne yang tergeletak di atas meja nakas itu.
Segera Nadlyne mengambil ponsel itu dan memeriksanya, ternyata itu panggilan dari Rena.
[ Hallo, Ren? Ada apa? ]
[ Nad, kamu di rumah kan? Kamu jangan kemana-mana ya soalnya entar sore abis pulang kerja aku mau mampir ke apartemen kamu. ]
Nadlyne menghela napas lalu ia melirik ke arah Rifky.
[ Oke. ]
[ Ya udah aku mau bilang gitu aja, aku mau lanjut kerja dulu, bye! ]
Sambungan telepon berakhir, Nadlyne tampak sedih sekarang. Bahkan Andre belum menghubunginya lagi, apa pria itu sedang sangat sibuk sekarang atau sedang ada Dinda di samping Andre?
"Kenapa? Kamu masih ngarep si Andre hubungin kamu?" tanya Rifky saat ia melihat Nadlyne yang terus memandangi ponselnya itu.
"Enggak kok," bohong Nadlyne.
"Udah lah kamu nggak usah ngarepin dia lagi," kata Rifky.
Nadlyne menatap Rifky dengan tatapan marah. "Udah deh kamu nggak usah banyak omong, mendingan kamu sekarang pergi karena sebentar lagi Rena sahabat aku itu mau dateng ke sini," usirnya.
Sementara itu, di ruang kerjanya sendiri Andre tampak terdiam dan merenung. Ia masih bertanya-tanya tentang apa yang ia lihat saat di mall itu. Ia melihat sendiri bagaimana Nadlyne bisa seakrab itu dengan Rifky.
"Mereka berdua ada hubungan apa ya? Kok kayaknya ada sesuatu di antara mereka?" gumam Andre.
"Lagipula kalau mereka itu cuma teman tapi kok bisa sih si Rifky itu ikut Nadlyne masuk ke toko baju daleman gitu? Kan nggak mungkin banget kalau dia itu mau masuk ke sana kalau nggak lagi nemenin Nadlyne."
Jujur saja Andre merasa sangat cemburu melihat kedekatan Rifky dan Nadlyne. Ia sangat mencintai Nadlyne jadi ya wajar jika ia tak suka melihat wanitanya dekat dengan pria lain.
"Apa iya aku ini secinta itu ke Nadlyne?" tanya Andre pada dirinya sendiri.
Kembali ke apartemen Nadlyne, ternyata Rifky masih berada di sana di kamar Nadlyne menemani wanita itu.
"Kenapa kamu nggak mau pergi juga padahal udah aku usir?" tanya Nadlyne putus asa mengahadapi bocah itu.
"Aku kan udah bilang kalau aku di sini mau nemenin kamu," balas Rifky dengan lembut.
"Kan aku nggak butuh ditemenin kamu."
"Nggak apa-apa yang penting aku masih mau di sini, kalau Rena udah ke sini nggak apa-apa aku pulang."
"Terserah kamu deh!"
Rifky tersenyum lembut. "Kamu butuh apa atau mau ke mana biar aku bantuin," tawarnya.
"Aku nggak butuh apa-apa kok."
"Emangnya kamu nggak mau mandi atau apa gitu?"
"Kenapa? Kamu mau ngintipin aku mandi gitu? Iya? Emang dasar mes*m kamu!"
"Nggak kok, siapa juga yang mau ngintip." Rifky menatap ke arah lain karena ia gugup.
Sementara itu Andre berjalan menuju ke apartemen Nadlyne. Ia datang ke sana karena ia rindu pada kekasihnya itu. Ia pun membuka pintu apartment itu karena ia memang mempunyai akses untuk bisa masuk ke dalam apartemen milik Nadlyne tersebut. Saat ia membuka pintu kamar Nadlyne, ia terkejut melihat kehadiran Rifky di kamar itu.
"Kamu ngapain di kamarnya Nadlyne?" seru Andre marah.
Nadlyne menoleh dan ia panik melihat kehadiran Andre yang tiba-tiba itu. "Mas?"
Sedangkan Rifky tampak santai meski ia kesal melihat Andre.