Nadlyne memutuskan untuk izin tak berangkat kerja lagi karena ia sedang tak enak badan. Setelah kejadian malam itu ia menjadi susah tidur karena perasaan dan juga hatinya sedang hancur berantakan. Bahkan tubuhnya juga masih terasa sakit akibat perbuatan brutal Rifky padanya. Ia jadi sulit juga berjalan sampai mau ke ke kamar mandi, mau ke dapur pun ia berjalan sambil berpegangan pada dinding.
Nadlyne menangis lagi saat tubuh bagian bawahnya itu terasa perih lagi. Ia masih tak menyangka kehormatannya ia berikan pada Rifky padahal pemuda itu sering menghinanya dengan perkataannya yang kasar.
"Kalau udah begini siapa lagi yang mau nerima keadaan aku? Aku ini udah nggak perawan lagi terus apa lagi yang bisa aku banggain dari diri aku ini?" Nadlyne kembali meratapi nasibnya itu yang di akhiri dengan tangis pilu.
Bahkan Nadlyne langsung berpikir untuk bertemu dengan Andre ia sudah tak sanggup lagi menampakkan wajahnya itu di depan sang kekasih itu. Ia selalu menyesali perbuatannya yang mudah sekali terbuai oleh sentuhan Rifky.
Sementara itu di tempat kerja, tampak Rifky juga sedang gelisah memikirkan Nadlyne. Ia khawatir dengan keadaan wanita yang sudah ia rusak itu. Apakah Nadlyne sudah makan dan baik-baik saja?
Karena itulah Rifky nekat pergi ke ruangan Nadlyne namun ia harus merasakan perasaan kecewa karena ia tak melihat keberadaan wanita cantik itu.
"Kamu ngapain ke sini? Kamu lagi nyari siapa?" tegur Rena yang baru saja masuk ke ruangan kerjanya itu. Ya, ia dan Nadlyne kan bekerja di satu ruangan yang sama.
Rifky tampak gugup, ia bingung harus menjawab apa.
"Nadlyne ke mana?" tanya Rifky memberanikan diri bertanya seperti itu.
Rena juga tampak heran karena tak biasanya bocah itu datang ke ruangan mereka apalagi untuk menanyakan Nadlyne. Ada apa dengan mereka berdua? pikirnya.
"Ngapain kamu tanya soal Nadlyne?" tanya Rena ingin tahu.
"Cuma pengen tau aja," jawab Rifky cuek. Ia kesal pada Rena karena malah bertanya padanya.
"Dia nggak masuk katanya lagi sakit, nanti sore abis kerja aku juga mau jenguk dia," balas Rena.
Rifky mengangguk paham. "Oke makasih, maaf kalau saya ganggu."
"It's ok." Meski Rena masih bingung namun ia mengangguk saja.
Rifky kembali ke ruangan kerjanya sendiri, ia menghela napas panjang. Itu semua pasti karena dirinya sehingga Nadlyne tidak masuk kerja. Ia kemudian mengumpat kesal, ia marah pada dirinya sendiri.
"Sekarang juga gua harus liat keadaan Nadlyne, gua nggak bisa kek gini terus," tekad Rifky.
Akhirnya Rifky izin untuk pulang lebih cepat hari ini, ia mengendarai motornya dengan kecepatan yang sedang. Di tengah jalan yang lumayan sepi tiba-tiba saja sebuah mobil mewah berwarna merah menghalangi jalannya sehingga ia terpaksa mengerem motornya mendadak.
Rifky mengumpat kesal karena perjalanannya terganggu.
Seorang perempuan cantik yang memakai rok mini juga tank top berwarna pink itu keluar dari mobil mewah itu. Ia tersenyum lebar melihat Rifky.
"Hallo, honey! Gimana kabar kamu, honey? Kamu baik-baik aja kan?" perempuan cantik itu, Cindy namanya. Ia berjalan menghampiri Rifky yang masih duduk santai di atas motornya itu.
Rifky menatap jengah ke arah Cindy. "Kamu ngapain ngalangin jalan aku?" kesalnya.
Cindy cemberut manja. "Kok kamu malah bilang gitu sih, honey? Kita itu udah lumayan lama nggak ketemu nggak saling ngobrol karena tiap aku telepon tapi kamu nggak mau angkat eh sekarang kita udah ketemu tapi kamu malah gitu responnya," protesnya.
"Mau kamu apa?" tanya Rifky tanpa minat. "Aku tuh lagi buru-buru sekarang ada urusan penting."
"Aku mau kamu pulang, kasihan loh Mama kamu nungguin kamu pulang. Kamu nggak kasihan apa sama beliau?"
"Ngapain pulang? Aku kan udah diusir dari rumah itu," balas Rifky dengan nada dinginnya itu.
Cindy cemberut lagi mendengar jawaban Rifky.
"Tapi kan aku ini masih tunangan kamu, nih liat nih di jari aku masih ada cincin pertunangan kita. Kamu harus hargain hubungan kita dong!" balas Cindy lagi. Ya, memang ia adalah tunangannya Rifky.
"Udahlah aku pergi dulu," balas Rifky kemudian ia melanjutkan pekerjaannya itu meninggalkan Cindy yang cemberut kesal.
"Ihhhh kamu tuh jahat banget sih! Ngeselin deh ah!" rengek Cindy.
Di apartemennya terlihat Nadlyne yang masih berbaring di atas tempat tidurnya itu. Ia juga masih menangis.
Terdengar suara pintu dibuka dan membuat Nadlyne terkejut. Apakah itu Andre yang datang ke apartemennya? Ia harus bagaimana sekarang? Ia lantas menghapus air matanya itu agar tak membuat kekasihnya itu khawatir padanya. Kekasih? Apa ia masih layak disebut kekasihnya Andre? Sementara dirinya kini sudah tak punya harga diri lagi menurutnya. Memikirkan hal tersebut semakin membuatnya marah pada Rifky.
"Nad?"
Nadlyne terkejut melihat Rifky yang memasuki kamarnya itu. Ia lantas mundur berusaha untuk menjauh dari pemuda jahat itu.
Rifky yang melihat reaksi Nadlyne tersebut menjadi sedih dan semakin merasa bersalah. Karena dirinya Nadlyne menjadi ketakutan seperti itu.
"Mau ngapain lagi kamu dateng ke rumah aku? Kamu mau ngapain lagi? Kamu belum puas udah hancurin aku? Hidupku sekarang ini udah hancur tau nggak! Dan ini semua gara-gara kamu!" teriak Nadlyne sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Iya, Nad. Makanya aku dateng ke sini aku mau minta maaf ke kamu. Maafin aku, aku nggak bisa kontrol emosi aku sendiri," ucap Rifky.
"Aku nggak butuh kata maaf kamu itu mendingan kamu sekarang pergi dari sini!" teriak Nadlyne yang mengeratkan selimutnya itu.
"Kamu udah makan?" tanya Rifky. Ia kemudian menunjukkan kantung plastik yang berisi makanan dan minuman. "Ini aku bawain makanan buat kamu."
"Aku nggak butuh," tolak Nadlyne sambil membuang muka.
Rifky menghela napas panjang, ia berusaha untuk bersabar menghadapi sikap Nadlyne padanya. Lagipula Nadlyne seperti itu karena ulahnya.
Rifky kemudian pergi ke dapur untuk mengambil piring dan juga gelas besar dan kembali ke kamarnya Nadlyne. Dengan telaten ia meletakan makanan itu ke piring dan minumannya ia masukkan ke dalam gelas.
"Kamu makan dulu biar aku suapin," bujuk Rifky sambil memegang piring itu dan ia duduk di tepi tempat tidur.
"Aku bilang aku nggak mau, aku nggak laper kok," tolak Nadlyne mentah-mentah.
"Please biar kamu cepat sembuh," bujuk Rifky lagi penuh perhatian.
Akhirnya terpaksa Nadlyne mau disuapi oleh Rifky karena ia merasa lapar. Ia memang belum makan karena tak nafsu makan. Ia makan dengan lahap membuat Rifky tersenyum lega menyuapinya. Setelah itu ia minum dari gelas yang Rifky sodorkan padanya.
"Nah gitu dong makan," kata Rifky namun Nadlyne diam saja dan membuang muka.
"Aku minta maaf, Nad."
Namun Nadlyne masih diam dan tak mau menanggapi ucapan maaf dari Rifky.