Nadlyne melenggang santai keluar dari toko pakaian dalam itu sementara di belakangnya Rifky yang membawakan belanjaannya itu. Bukan ia yang minta namun Rifky yang menawarkan diri untuk membawakan barang belanjaannya yang lumayan banyak itu. Rifky juga yang membayar semuanya meski Nadlyne sudah menolaknya karena rasa tak enak hati.
"Kita makan dulu yuk? Aku tau tempat makan yang enak di sini," ajak Rifky.
"Aduh nggak usah deh aku udah kenyang kok nggak perlu makan lagi," tolak Nadlyne. Ia menolak karena takutnya Rifky akan mentraktirnya makan.
"Udah nurut aja kamu itu udah pasti laper," balas Rifky.
"Ya udah deh iya."
Nadlyne terpaksa mengikuti Rifky, pemuda itu membawanya ke dalam restoran yang mewah yang pastinya mahal, ia jadi tak enak hati.
Tak lama datang pelayan restoran itu yang datang ke meja mereka berdua dengan membawa daftar menu.
Nadlyne yang melihat daftar menu itu merasa kaget karena seperti yang ia duga itu mahal semua.
"Aku pesen air putih aja deh," ucap Nadlyne.
Rifky menghela napas, ia kemudian memesankan makanan juga minuman untuk mereka berdua dan pelayan pun mengangguk paham dan pergi untuk membuatkan makanan pesanan mereka.
"Kamu kenapa gitu sih?" tegur Nadlyne.
"Gitu gimana?"
"Ngapain kamu pesen makanan yang mahal buat aku? Aku kan tadi udah bilang aku nggak mau makan karena udah kenyang."
"Udah jangan banyak alesan, kalau lapar ya tinggal makan lah," balas Rifky santai.
"Tapi kan aku nggak enak sama kamu, Ky. Udah pasti kamu yang bayarin makanan aku juga kan?"
"Ngapain nggak enak sama aku? Aku kan udah sering dibikin enak sama kamu," balas Rifky dengan tatapan yang mes*m.
Nadlyne memerah malu mendengarnya, refleks ia mencub*t pelan lengan kekar Rifky yang membuat pemuda itu mengaduh sakit.
"Kamu tuh ya kebiasaan deh kalau ngomong, inget kita itu sekarang lagi di tempat umum tapi kamu malah ngomong sembarangan kayak gitu! Malu tau kalau ada yang denger!" omel Nadlyne.
Rifky malah tertawa cengengesan. "Biarin aja orang nggak ada yang denger ini mereka semua pada sibuk masing-masing."
Nadlyne hanya cemberut kesal menghadapi sikap Rifky.
Tak lama makanan pesanan mereka sudah datang segera mereka berdua makan dengan tenang.
Setelah selesai makan, Rifky yang membayarnya lalu mereka segera pergi dari tempat itu.
"Kita mau ke mana lagi nih?" tanya Rifky pada Nadlyne.
"Pulang aja deh aku udah capek banget nih," balas Nadlyne.
"Oke."
Mereka berdua masuk ke dalam lift, karena sepi Rifky dengan berani memeluk tubuh Nadlyne lalu mencium bibir Nadlyne dengan liar. Nadlyne hanya pasrah itung-itung itu sebagai rasa balas budi atas kebaikan pemuda itu padanya.
Nadlyne mendesah saat tangan Rifky menjamah tubuhnya, menyentuh bagian atas tubuhnya yang sensitif.
"Kita lanjut di apartemen kamu," bisik Rifky dan Nadlyne mengangguk pelan seolah ia sedang terhipnotis.
Rifky membonceng Nadlyne dengan motornya, ia tersenyum menang saat melihat wanita itu memeluknya dengan erat bahkan Nadlyne tak segan-segan menyandarkan kepalanya di punggungnya. Mereka sudah seperti pasangan yang jatuh cinta saja.
Setibanya di apartemen Nadlyne, Rifky langsung memeluk tubuh Nadlyne kemudian menciumnya dengan penuh gairah. Mereka terus berciuman hingga mereka berada di atas ranjang Nadlyne.
Namun lagi dan lagi bunyi ponsel milik Nadlyne menginterupsi kegiatan mereka berdua yang membuat Rifky mengumpat kesal.
"Aku mau angkat telepon dulu," kata Nadlyne takut-takut.
Rifky hanya diam saja namun sudah jelas ia sangat marah terlihat jelas dari raut wajahnya itu.
Nadlyne mengangkat telepon dari Andre yang membuat Rifky semakin marah saat ia mendengar obrolan Nadlyne dengan pria lain terutama Andre. Apalagi obrolan mereka berdua terdengar sangat mesra sekali membuat amarahnya memuncak.
"Udahlah aku pulang aja!" kata Rifky kesal setelah Nadlyne mengakhiri sambungan telepon.
"Maaf, Ky," ucap Nadlyne tak enak hati pada Rifky.
Rifky kemudian mencium paksa bibir Nadlyne dan menjamah seluruh tubuh indah Nadlyne sehingga membuat Nadlyne mendesah desah dengan mata terpejam.
"Aku udah bilang ke kamu kan buat jauhin dia, kenapa kamu masih aja terima telepon dari dia!" teriak Rifky setelah ia mengakhiri ciuman mereka.
Nadlyne terkejut mendengarnya namun ia tak bisa membalas ucapan Rifky karena pemuda itu kembali membungkamnya dengan ciuman yang liar.
"Kamu udah punya aku tapi kamu masih belum puas kamu masih berharap ditiduri dia kan? Dasar kamu perempuan gatel perempuan murahan! Kamu itu ternyata hyper!" ucap Rifky dengan marah.
Nadlyne yang tak terima dirinya dihina seperti itu lantas ia menamp*r Rifky membuat pemuda itu terkejut dan semakin marah padanya. Sudah cukup ia selalu dihina oleh pemuda b*jingan itu.
"Kamu beneran udah keterlaluan aku bukan perempuan kayak gitu! Pergi kamu dari sini pergi!" bentak Nadlyne sambil mendelik marah dan matanya juga berkaca-kaca menahan tangis.
"Kamu itu udah nggak perawan, bukan kayak gitu gimana hah! Udah jelas kok kamu itu udah bekasnya si Andre itu atau jangan-jangan kamu juga udah sering tidur sama laki-laki lain iya kan!" bentak Rifky sambil menatap tajam Nadlyne.
"Jangan sok tau kamu jadi orang hmmph!"
Rifky membalas perkataan Nadlyne dengan ciuman paksa, ia kemudian kembali menindih tubuh Nadlyne dan menyatukan tubuh mereka berdua dengan susah payah. Ia terkejut mengetahui jika ternyata Nadlyne masih perawan. Ia meneruskan aksinya itu hingga membuat mereka berdua mencapai puncak bersama.
Nadlyne terus menangis setelah kegiatan mereka selesai. Tubuhnya terasa seperti remuk redam dan perih. Hatinya juga hancur berkeping-keping sekarang, ia sekarang ini sudah seperti tubuh yang kosong tanpa nyawa karena kehormatannya sudah direnggut dengan paksa oleh Rifky. Ia sangat kecewa dan menyalahkan dirinya sendiri karena malah menyerahkan kehormatannya itu pada pemuda yang sangat jahat itu.
"Nad, maaf. Maafin aku aku nggak tau kalau kamu ternyata masih perawan," ucap Rifky yang sangat merasa bersalah pada Nadlyne. Kentara sekali ia sangat merasa bersalah pada Nadlyne bisa dilihat dari sorot matanya itu.
"Pergi kamu! Pergi kamu dari sini aku udah nggak mau liat muka kamu lagi! Pergi! Pergi sekarang juga pergi!" teriak Nadlyne yang di akhiri dengan tangisan pilunya.
Rifky menuruti Nadlyne, ia segera memakai pakaiannya lalu pergi dari apartemen Nadlyne dengan membawa perasaan bersalahnya itu.
"Aku udah hancur sekarang, aku udah nggak punya harga diri lagi, kehormatan aku juga udah hilang. Gimana aku bisa ketemu sama Mas Andre, dia udah pasti udah nggak mau nerima aku lagi," lirih Nadlyne dengan sedih lalu ia menangis sejadi-jadinya.
Nadlyne terus menerus kecewa pada dirinya sendiri karena ia tak becus menjaga kesuciannya. Ia malah memberikan keperawanannya itu pada Rifky orang yang sering menghinanya itu.