Lingerie Merah

1032 Words
Nadlyne mengancingkan lagi kemeja putih ketatnya itu lalu ia menurunkan rok spannya karena ulah brutal Rifky beberapa saat yang lalu. Rifky juga kembali memakai kacamatanya. "Kenapa udahan sih kan aku masih pengen," protesnya frontal sekali sampai membuat Nadlyne terkejut dan menoleh ke arahnya. "Apaan sih!" ketus Nadlyne dengan wajah merahnya itu. Rifky terkekeh. "Bilang aja kamu juga masih pengen lagi kan?" "Apaan sih nggak lah enak aja!" bantah Nadlyne sambil menatap ke arah lain. Rifky hanya terkekeh saja saat Nadlyne keluar dari ruangan kerjanya itu. Nadlyne pergi ke kamar mandi terdekat untuk membersihkan diri. Ia kemudian melihat pantulan wajah cantiknya itu di cermin. Ia merasa kesal karena dirinya lagi dan lagi malah membiarkan dirinya terhipnotis oleh Rifky. Hampir saja mereka kelepasan kan! Nadlyne lalu kembali ke ruangan kerjanya sendiri, ia duduk dengan gelisah memikirkan tentang apa yang sudah terjadi dengan dirinya beberapa hari ini. Ia yang semakin dekat dengan Rifky dan justru agak jauh dari Andre. "Kamu kenapa, Nad? Kok ngelamun gitu?" tegur Rena yang heran melihat sahabatnya itu. Nadlyne terlihat terkejut lalu ia menoleh. "Nggak apa-apa kok," dustanya. Rena pun mengangguk meski ia masih terlihat tak mempercayai ucapan Nadlyne tersebut. Pasti ada sesuatu nih batinnya. Mereka kemudian melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing. Sementara itu Dinda masuk ke dalam ruang kerja Andre dengan senyuman yang dipaksakan. Ia melihat suaminya itu sedang sibuk dengan laptopnya. "Mas?" Panggil Dinda sambil duduk di sofa seberang meja kerja Andre. Andre kemudian menoleh mendengar panggilan dari sang istri tercinta. Ia lalu tersenyum lembut melihat kehadiran istrinya itu. "Sayang? Kamu ke sini? Kenapa nggak bilang? Aku kan bisa jemput kamu," kata Andre sambil beranjak dari duduknya lalu ia berjalan menghampiri Dinda dan duduk di samping istrinya itu. "Aku langsung ke sini aja dari pada nantinya kamu repot harus jemput aku segala," balas Dinda sambil memaksakan senyum. "Nanti sore abis aku pulang kerja kita ke Mall ya aku mau beliin sesuatu buat kamu," ucap Andre sambil tersenyum. Dinda mengangguk lalu ia tersenyum lembut. "Makasih, Mas. Aku nggak minta loh ke kamu tapi kamu yang mau ngasih," katanya. "Ya nggak apa-apa kan wajar seorang suami ngasih sesuatu ke istrinya sendiri," balas Andre. Keduanya kemudian saling menatap dan berciuman mesra. Di ruang Nadlyne, saat ia sibuk bekerja ponselnya malah berbunyi. Sambil berdecak kesal ia memeriksa ponselnya itu ternyata ia mendapat pesan dari nomor tak dikenal lagi yang sekarang ia tahu itu pasti dari Rifky. [ Sayang, nanti sore jalan yuk! ] Nadlyne membaca pesan itu dalam hatinya yang membuatnya kesal. "Dih apaan sih nih orang," lirih Nadlyne takut karyawan lain bisa mendengarnya. Muncul lagi pesan dari Rifky yang isinya mengajak Nadlyne untuk jalan naik motor pulang kerja nanti. "Idih ogah amat," lirih Nadlyne lagi. Pulang kerja, Nadlyne pun sudah menunggu taksi di depan kantor. Ia berkali-kali melihat ke arah jam tangannya itu yang sudah menunjukkan jam setengah lima sore. "Duh mana nih aku pengen banget pulang, eh nggak deh aku mau mampir mall dulu mau beli baju," ujar Nadlyne. Rifky tersenyum melihat Nadlyne, segera ia menghentikan motornya itu tepat di depan wanita cantik nan seksi itu. "Buruan naik!" perintah Rifky dengan seenaknya pada Nadlyne. Nadlyne terkejut melihat kehadiran Rifky, kemudian ia menoleh ke arah kanan dan kiri melihat sekitar takut jika ada orang lain yang melihat interaksi mereka berdua. "Kamu nyari siapa sih?" tanya Rifky heran melihat Nadlyne. Nadlyne berdecak kesal. "Eh Rifky, kamu gil* ya! Gimana kalau ada yang liat kita lagi ngobrol gini kan bisa gawat!" tegurnya was-was. "Ya emangnya kenapa?" balas Rifky yang terlihat kesal. "Kamu takut kalau si Andre liat kita lagi berduaan gini? Ya biarin aja apa urusan dia!" "Kamu tuh ya..." Nadlyne kesal sekali pada Rifky. "Udah buruan naik!" titah Rifky lagi dengan tak sabaran. "Ogah!" tolak Nadlyne mentah-mentah. Bertepatan dengan itu ada taksi datang lantas ia pun menghentikan taksi tersebut lalu ia masuk ke dalamnya pergi meninggalkan Rifky yang kesal. Rifky menghela napas panjang. "Udah enak bareng gua bisa boncengan pelukan mesra malah nggak mau," katanya. Setibanya Nadlyne di mall, ia segera pergi ke toko pakaian dalam. Ia mulai melihat-lihat baju tidur dan lain sebagainya yang terpajang di toko itu. Nadlyne tersenyum melihat ada baju tidur yang lucu menurutnya dan berwarna merah maroon, ia pun mendekat lalu memegang baju motif bunga itu. Ia menyukainya karena bahannya dingin dan lembut, sudah pasti nyaman bila dipakai. Nadlyne dikejutkan oleh kedatangan Rifky yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya itu. "Ngapain kamu masuk ke sini? Ini kan toko pakaian khusus perempuan?" tegur Nadlyne nampak kesal pada pemuda itu. "Aku ke sini ya mau nemenin kamu lah," balas Rifky sok polos. "Apaan sih siapa juga yang minta ditemenin sama kamu," balas Nadlyne. "Udah kamu beli yang ini gampang biar nanti aku yang bayarin," kata Rifky dengan sombongnya. Nadlyne berdecak kesal. "Aku nggak minta kamu bayarin jadi kamu nggak usah sok deh." "Sekalian lingerienya tuh ada yang bagus, bagus bagus semuanya malahan. Kamu beli aja yang banyak," ucap Rifky tanpa mempedulikan ucapan Nadlyne. "Nih yang ini bagus aku suka," kata Rifky sambil menunjukkan lingerie berenda warna merah dan juga hitam. Nadlyne semakin malu jadinya. "Aku nggak butuh tuh," bohongnya. "Kan udah bilang biar aku yang bayarin, kamu tinggal pilih pilih aja baju tidur sekalian sama lingerie tuh bagus kalau kamu yang pakai biar aku tambah seneng," kata Rifky yang di akhir kalimat ia menaik turunkan alisnya itu menggoda Nadlyne. "Apaan sih ah!" balas Nadlyne kesal sekaligus malu. Rifky kemudian mendekati Nadlyne. "Itung itung aku mau tanggung jawab," bisiknya di telinga Nadlyne yang membuat Nadlyne memerah malu karenanya. Nadlyne semakin kesal dan juga malu rasanya diperlakukan seperti itu oleh Rifky. Ia berulang kali menolak Rifky namun pemuda itu malah semakin menggodanya. Rifky hanya terkekeh senang melihat reaksi Nadlyne yang malu-malu itu. Ia tampak puas dan rasanya sangat menyenangkan menggoda Nadlyne. "Loh itu kan si Rifky?" ucap Dinda pada Andre yang saat itu ia dan suaminya itu sedang berjalan-jalan melewati toko pakaian khusus perempuan tersebut. Andre menoleh dan melihat Rifky, ia terkejut begitu ia melihat ada Nadlyne yang sedang bersama Rifky. Mereka tampak akrab dan terlibat obrolan yang sepertinya sangat seru. Hatinya sesak melihat pemandangan itu, ia sangatlah cemburu tentu saja. "Nadlyne?" gumam Andre dengan tatapan cemburu. Tanpa sadar tangannya mengepal erat karena kesal pada Rifky yang telah berani mendekati kekasih gelapnya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD