Saling Memuaskan

1024 Words
Rifky menutup pintu kamar Nadlyne dengan kakinya karena ia asyik berciuman dengan Nadlyne. Ia pun membaringkan tubuh Nadlyne di atas ranjang kemudian ia mulai membuka pakaian yang dikenakan wanita itu hingga tanpa sehelai benangpun. Mereka berdua yang sudah bernafsu itu pun mulai saling memuaskan di atas ranjang hingga mencapai puncaknya dengan penuh rasa puas. Rifky kemudian berada di atas tubuh Nadlyne lagi dan mulai mencium bibir Nadlyne. Mereka terus berciuman dengan mesra namun suara dering telepon membuat Nadlyne panik dan menghentikan ciuman mereka. Rifky tentu saja kesal. "Kenapa?" tanyanya marah. Ia tak suka kesenangannya itu diganggu oleh siapapun. "Bentar dulu aku angkat telepon dulu takutnya itu dari Mas Andre," balas Nadlyne. "Bisa-bisanya pas kamu lagi lakuin ini sama aku tapi kamu malah mikirin laki-laki lain. Kamu itu emamg perempuan gatel!" maki Rifky karena ia sangatlah kesal dan tak terima Nadlyne memikirkan pria lain saat mereka sedang asyik bermesraan seperti itu. Nadlyne yang tak terima ia pun menamp*r Rifky. "Pergi kamu! Pergi dan jangan pernah dateng ke sini lagi aku muak liat muka kamu itu! Aku benci banget sama kamu!" bentaknya marah. Matanya juga berkaca-kaca saat mengatakan hal itu. Betapa sakit hatinya mendapatkan penghinaan dari Rifky. Rifky pun segera memakai pakaiannya lagi kemudian ia berlalu pergi meninggalkan Nadlyne yang menangis pilu di kamar itu. Nadlyne menangis sejadi-jadinya dan tiba-tiba ia menyesali apa yang baru saja sudah terjadi. Ia merasa sudah menjadi wanita yang sangat bod*h dan murahan menurutnya. Ya, ia mau mau saja disentuh sedemikian rupa oleh Rifky padahal pemuda sudah itu terlalu sering menyakitinya dengan penghinaan dan perkataannya yang kasar menyakitkan hatinya. "Bisa-bisanya aku hampir aja nyerahin tubuh aku ke si bajing*n brengs*k itu. Aku kok kesannya murahan gini sih jadi perempuan," ucap Nadlyne di sela-sela tangisannya itu. Ia lalu mengacak-acak rambutnya sendiri frustasi. Ia merasa heran karena setiap kali Rifky menyentuhnya ia malah selalu berakhir dengan pasrah saja seperti tadi itu padahal ia tak pernah mengijinkan pria manapun menyentuhnya bahkan Andre orang yang ia cintai sekalipun tak pernah menyentuhnya sama sekali. Ia dan Andre hanya sebatas berpelukan saja selama ini meski ia sangat tergila-gila pada pria itu. Teringat Andre membuat Nadlyne semakin dan menyalahkan dirinya sendiri karena ia ternyata tak bisa menjaga diri sendiri, ia tak bisa menjaga kehormatannya sendiri hampir saja ia kelepasan membiarkan Rifky yang akan merenggut kesuciannya itu. Rifky mengendarai motor sportnya itu dengan kecepatan yang tinggi, ia sangat marah karena libidonya sudah di ujung namun malah Nadlyne menghancurkan semuanya. Ia sangat kesal sekali rasanya lalu ia pun memuk*l-m*kul motornya untuk melampiaskan rasa marahnya itu. "Padahal tinggal sedikit lagi gua bakalan masuk tuh tapi malah..." Rifky semakin kesal sendiri memikirkan hal itu. Akhirnya setelah Rifky sampai di kontrakannya itu ia langsung pergi ke dapur untuk minum agar pikiran kalutnya segera hilang dengan minum air dingin dari dalam kulkas. Bahkan dengan minuman pun ia masih saja belum puas, akhirnya ia pergi ke kamar mandi untuk mandi keramas dengan air dingin agar tubuhnya segar dan berharap pikiran mes*mnya tentang Nadlyne itu sehari hilang. Setelah mandi Rifky pergi ke dapur untuk minum air dingin lagi, rupanya wajah cantik Nadlyne benar-benar telah membuatnya kacau karena selalu terbayang-bayang oleh wanita yang sangat ia benci itu. Ia sendiri heran mengapa ia bisa sampai seperti itu, padahal ia mendekati Nadlyne hanya untuk mengerjainya saja dan tak lebih. Besoknya Hari ini Nadlyne memutuskan untuk berangkat kerja lagi karena ia merasa ia sudah tenang meski hatinya masih kalut karena Rifky. "Semoga aja hari ini dan kalau bisa selamanya nggak ketemu atau liat si Rifky lagi," ujar Nadlyne. "Nad? Kamu udah sehat udah baikan?" tegur Andre. Nadlyne menghela napas berat. Ia juga sebenarnya tak ingin bertemu dengan Andre lagi karena ia sekarang jadi merasa bersalah pada pria itu. Ya, menurutnya dengan ia mengijinkan tubuhnya disentuh oleh Rifky itu artinya ia sudah mengkhianati Andre. Nadlyne berbalik namun ia tak berani menatap wajah Andre. "Iya, Pak. Saya udah sembuh kok makanya udah bisa masuk kerja lagi," katanya. Andre terlihat kaget namun ia baru menyadari jika mereka kini sedang berada di koridor kantor jadi Nadlyne bersikap formal padanya agar orang lain tak curiga pada hubungan mereka berdua. "Bagus deh kalau gitu," balas Andre. "Ya udah kalau gitu saya ke ruangan kerja saya dulu ya, Pak!" pamit Nadlyne dan Andre mengangguk. Andre menghela napas panjang. "Maafin aku ya, Nad. Aku belum bisa bikin hubungan kita diketahui banyak orang karena aku sendiri statusnya masih suami orang," ucapnya sedih. Setibanya Nadlyne di dalam ruangan kerjanya ia mendapat pesan dari nomor telepon tak dikenal lagi saat ia memeriksa ponselnya itu. Matanya terbelalak melihat Rifky yang sedang berpose tak senonoh itu dan sepertinya bocah itu sedang berada di dalam ruang kerjanya sendiri. [ Lebih enak lagi kalau kamu yang pegangin nih. ] Nadlyne membaca pesan dari Rifky itu dalam hatinya yang membuatnya shock berat. "Si Rifky itu beneran kurang ajar banget," ucap Nadlyne kesal. "Beneran ngelunjak nih bocah kampret! Aku harus kasih pelajaran ke dia!" Nadlyne pergi ke ruangan kerjanya Rifky dengan wajah yang marah. Ia semakin marah saat melihat pemuda tampan itu malah sedang duduk santai seperti itu. "Pastiin kamu kunci dulu pintunya takutnya ada yang masuk ke sini karena kita abis ini mau panas panasan lagi," ujar Rifky lalu ia terkekeh. "Kamu tuh maunya apa sih? Kenapa kamu ganggu aku terus? Ngapain kamu kirim foto kayak gituan ke aku!" tegur Nadlyne sambil mendelik marah. "Sini dong ke sini aku nggak denger kamu ngomong apa," pinta Rifky dengan seenaknya. Nadlyne menghela napas kasar, ia pun malah menuruti Rifky, ia menghampiri pemuda itu dan berdiri di hadapannya. "Lebih deketan lagi!" pinta Rifky lagi. Nadlyne mendesah kesal namun ia menuruti Rifky. Ia kemudian memekik saat pinggangnya ditarik oleh Rifky sehingga ia jatuh terduduk di atas pangkuan pemuda itu membuatnya terbelalak panik. "Kamu tuh apa-apaan sih! hmph!" seru Nadlyne namun bibirnya langsung dibungkam oleh Rifky dengan ciuman yang panas. Tok tok tok! Nadlyne panik mendengar suara ketukan di pintu namun Rifky yang kesal lantas mulai menyentuh tubuhnya hingga membuatnya terbuai dan mendesah pelan. Tok Tok Tok! Ternyata yang mengetuk pintu ruangan kerja Rifky adalah Dinda. "Rifky lagi ngapain sih kok dia malah nggak mau bukain pintu? Apa dia itu lagi sibuk banget kali ya kerjaannya banyak," ujar Dinda yang heran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD