Nadlyne memutuskan untuk tak berangkat ke kantor hari ini dengan alasan ia sedang tak enak badan. Padahal yang sebenarnya tak ingin melihat wajah Rifky hari ini karena ia sangat muak sekali pada pemuda itu.
Nadlyne juga merasa bingung dengan dirinya sendiri mengapa ia tak bisa menolak perlakuan seenaknya Rifky padanya. Ia malah membiarkan dan menikmati apapun yang pemuda itu lakukan pada tubuhnya.
Apakah Nadlyne mulai jatuh cinta pada Rifky? Nadlyne mendadak terkejut dengan pemikiran-pemiran yang ada di benaknya itu.
"Nggak lah itu nggak mungkin, aku mana mungkin bisa gampang banget jatuh cinta ke cowok bajing*n kayak dia," ucap Nadlyne menolak mentah-mentah pikirannya sendiri.
"Lagian si Rifky itu kan umurnya aja jauh lebih muda dari aku, jadi mana mungkin aku bisa suka sama dia, aku kan nggak suka sama berondong apalagi berondong tengil macem dia," lanjut Nadlyne lagi dengan ekspresi kesalnya itu.
Sementara itu di dalam kontrakannya sendiri terlihat Rifky yang tengah bersin beberapa kali.
"Kayaknya ada yang lagi ngomongin gua nih, tapi siape ye? Ah bomat dah!" gumam Rifky bermonolog sendiri. Ia kini terlihat duduk santai di sofa ruang tamu sambil bermain ponsel.
Kembali ke apartemen Nadlyne, ia bangun dari acara berbaring santainya itu lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Kayaknya aku hari ini mau masak masak aja deh mumpung lagi libur di rumah," ujar Nadlyne setelah ia selesai membasuh wajahnya itu sambil melihat pantulan wajah cantiknya sendiri di wastafel.
Nadlyne pergi ke dapur untuk mulai memasak, ia menyiapkan bumbu masakan dan juga sayur mayur dan sekalian lauk pauknya yaitu ayam.
Dengan telaten Nadlyne mengiris bawang putih dan juga bawang merah kemudian ia juga mengiris cabai merah dan juga cabai hijau.
"Nih ada cabe mau aku bikin sambel cabe ijo aja biar seger," ucap Nadlyne.
Beberapa saat kemudian, akhirnya Nadlyne selesai memasak dan ia pun segera mandi baru setelah itu ia sarapan sendirian di meja makan.
Baru kali ini Nadlyne merasakan kesepian karena biasanya ia sarapan bersama Andre namun pria itu pastilah sekarang ini sedang sarapan dengan Dinda. Ia memang sengaja tak masuk kerja karena ingin menutupi bekas merah yang Rifky tinggalkan di tubuhnya itu. Jika sampai orang lain terutama Andre melihatnya kan bisa gawat.
Setelah selesai makan, Nadlyne pun kembali ke kamar karena ia ingin berbaring santai santai di kamarnya itu. Namun ponselnya malah berdering, sambil berdecak kesal ia mengangkat telepon. Ia kesal karena merasa kegiatan santainya akan terganggu.
[ Hallo? ]
[ Hallo, Nad. Kamu hari ini nggak masuk juga ya? Kamu kenapa? Sakit? ] itu suara Rena, sahabat dekatnya Nadlyne yang juga bekerja di perusahaan yang sama dengan Nadlyne.
[ Iya aku lagi libur tapi aku nggak sakit kok. Ada apa, Ren? ]
[ Wah kalau gitu pas nih! Gimana kalau kita ke kafe aja nongki santai gitu? ] usul Rena dengan antusias.
[ Oke deh. ] dengan terpaksa Nadlyne setuju.
[ Oke deh aku tunggu di kafe biasa ya! ]
[ Oke. ]
Nadlyne menghela napas berat setelah obrolan di telepon berakhir. Sebenarnya ia sedang ingin di rumah saja namun ia juga tak enak hati untuk menolak ajakan Rena.
Di lain tempat, Rifky tampak heran karena seharian ini ia belum melihat keberadaan Nadlyne. Biasanya kan wanita itu sering terlihat di mana mana terutama di ruangan Andre. Mau tak mau ia jadi bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Di sisi lain, Nadlyne telah sampai di kafe dan ia pun segera menghampiri meja Rena dan duduk di kursi seberang.
"Maaf ya, Ren aku agak lama," ucap Nadlyne.
"Nggak kok, aku juga belum lama sampai di sini jadi santai aja. Oh iya kamu mau minum apa biar aku yang pesen deh."
"Kayak biasanya aja," balas Nadlyne.
"Oke deh bentar ya."
"Iya."
Nadlyne menghela napas panjang. Ia kemudian dikejutkan oleh bunyi ponselnya itu, lantas ia mengambil ponselnya itu dari dalem tasnya. Begitu ia memeriksa notifikasi ponselnya itu ia pun terkejut dan matanya terbelalak melihat pesan tak senonoh dari nomor tak dikenal.
[ Sayang, kamu ke mana kok seharian ini aku nggak liat kamu di kantor? Aku kangen banget sama kamu. ] begitulah isi pesan dari nomor tak dikenal itu yang disertakan sebuah foto Rifky yang sedang berpose berpose sok keren itu.
Nadlyne merasa kesal jadinya, bisa-bisanya Rifky nekat melakukan hal seperti itu padanya. Namun ia juga merasa heran, dari mana Rifky tahu nomor teleponnya?
Waduh bisa gawat nih kalau dia terus menerus neror ke hp aku bisa stress aku hadapin nih bocah batin Nadlyne kalut.
"Kamu kenapa sih, Nad? Kok kayak orang bingung gitu?" tegur Rena yang baru saja datang sambil meletakkan makanan ringan dan juga minuman mereka ke atas meja lalu ia duduk.
Nadlyne tampak panik lalu ia segera menggelengkan kepalanya. "Nggak kok nggak ada apa-apa," dustanya.
"Kamu yakin?"
Nadlyne mengangguk sambil tersenyum paksa. "Iya. Ya udah yuk kita mulai lanjut ngobrol aja ngobrol apa gitu kek."
"Oke deh."
Setibanya Nadlyne di apartemennya, ia langsung masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat.
"Dari mana aja kamu? Kamu abis pergi ke mana?"
Nadlyne terkejut mendengar suara berat yang sangat familier di telinganya itu. Ia pun membalikkan tubuhnya dan melihat Rifky yang sudah berdiri di belakangnya itu.
"Rifky? Kamu ngapain lagi dateng ke sini? Sekarang juga kamu pergi dari sini! Pergi dari rumah aku!" usir Nadlyne. Ia sudah sangat jengah menghadapi sikap Rifky. Pemuda itu selalu saja seenaknya keluar masuk apartemennya itu.
"Kalau aku nggak mau gimana?" tantang Rifky sambil berjalan mendekati Nadlyne.
Nadlyne refleks menjauh dari Rifky, ia melangkah mundur sambil menatap pemuda itu sedikit takut sekarang. Jelaslah ia takut, bagaimana jika pemuda itu kembali mengulangi perbuatan buruknya itu padanya?
"Cukup, Rifky kamu jangan maju lagi! Aku peringatin ke kamu ya!"
Rifky menyeringai licik melihat wajah Nadlyne yang terlihat panik tersebut. Ia terus mendekati Nadlyne hingga akhirnya wanita itu terpojok karena belakang tubuh Nadlyne tembok.
"Kenapa, Sayang? Kok kamu panik gitu? Bukannya kamu harusnya ngerasa seneng ya kalau aku dateng lagi ke sini? Kamu itu kan pastinya udah ketagihan sama sentuhan aku," ujar Rifky dengan pedenya sambil mengelus wajah Nadlyne dengan lembut yang membuat wanita itu memejamkan matanya.
Dan lagi lagi ternyata Nadlyne tak bisa menolak sentuhan Rifky, ia membiarkan pemuda itu memeluk pinggangnya erat dan bibirnya kembali dicium oleh Rifky dengan penuh kelembutan. Ia bahkan membalas ciuman itu dan balas memeluk pemuda bertubuh tinggi atletis itu. Satu desahan lolos dari bibir montok Nadlyne saat Rifky mulai menyentuhnya.
"Kita ke kamar kamu," bisik Rifky yang nafasnya memburu tanda gairahnya sudah di puncak dan harus segera dituntaskan.
Nadlyne mengangguk pelan dan tubuhnya diangkat oleh Rifky, dibawanya ke kamarnya.