"Aku mau...hmmph!" Nadlyne tak bisa menyelesaikan ucapannya karena Rifky membungkamnya dengan ciuman paksa.
Nadlyne mencoba untuk memberontak dengan memuk*l pelan lengan kekar Rifky namun pemuda itu tetap saja menciumnya dengan brutal hingga akhirnya ia pun pasrah. Lagi dan lagi ia tak bisa menolak sentuhan panas Rifky.
Rifky bahkan meninggalkan tanda merah di leher juga pundak Nadlyne.
Tok tok tok!
Sementara itu di luar pintu kamar Nadlyne, Andre terus saja mengetuk pintu. Ia bingung mengapa kekasihnya itu lama sekali perginya. Bukankah tadi Nadlyne mengatakan akan membuatkan minuman untuknya? Lalu mengapa lama sekali? Apa dia marah sama aku ya?batin Andre.
"Rifky udah lepasin aku!" teriak Nadlyne, ia tak takut suara teriakannya itu akan membuat Andre mendengarnya karena kamarnya itu kedap suara.
"Aku nggak mau lepasin kamu, Nad. Ayolah kamu itu jangan munafik kamu juga udah nggak tahan kan mau lanjut sama aku?" balas Rifky lalu ia mencium kening Nadlyne dengan lembut.
"Jangan harap!" bentak Nadlyne yang mendelik kesal.
Rifky terpaksa beranjak bangun dari atas tubuh Nadlyne lalu ia berbaring di atas tempat tidur.
Nadlyne kemudian memakai kembali dasternya itu lalu membenahi rambutnya dan pergi untuk membuka pintu. Ia kembali menutup pintu kamarnya itu agar Andre tak melihat ada Rifky di dalam kamarnya.
"Kamu kok lama banget sih, Yang? Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Andre. Rasa khawatirnya tergambar jelas di wajahnya itu.
Nadlyne menghela napas panjang. "Iya aku nggak apa-apa kok, Mas kamu nggak usah khawatir."
Andre terkejut begitu ia melihat ada tanda merah di leher juga pundak Nadlyne. "Loh itu apa? Kok ada merah merah di leher dan pundak kamu?" tanyanya.
Nadlyne langsung panik, ia baru ingat tadi Rifky memang membuat tanda merah itu di lehernya. Aduh gimana nih? Aku takut kalau Mas Andre jadi curiga sama aku dan ninggalin aku! batinnya kalut. Si Rifky itu emang beneran bocah kurang ajar!
"Oh ini? Ini tuh aku barusan aja kerokan di kamar, iya aku tadi kerokan di kamar aku makanya aku lama. Soalnya aku agak masuk angin abis bikin minuman buat kamu, Mas," dusta Nadlyne.
"Makanya itu kamu jangan pakai baju yang pendek gitu biar nggak masuk angin," balas Andre. Ia percaya pada kebohongan Nadlyne.
Nadlyne menghela napas lega karena kebohongannya itu bisa dipercaya oleh Andre.
"Iya, Mas. Aku lain kali nggak pakai baju pendek lagi deh, abisnya tadi rasanya panas tapi malah langsung masuk angin aku," balas Nadlyne lagi.
"Ya udah kalau gitu yuk kita ke kamar kamu aja, biar aku yang nemenin kamu tidur istirahat," kata Andre dengan lembut.
Nadlyne panik lagi, ia harus mencari cara agar bisa menolak ajakan dari Andre tersebut. Bukan berarti ia tak ingin pria itu menemaninya namun ia tak ingin keberadaan Rifky di dalam kamarnya itu diketahui oleh Andre.
"Aduh nggak usah, Mas. Aku nggak mau bikin kamu repot," tolak Nadlyne halus.
Andre merasa heran dengan penolakan dari Nadlyne tersebut karena biasanya kekasih gelapnya itu akan mencari cara untuk bisa selalu dekat dan menempel padanya entah itu dengan alasan sakit atau apa tapi mengapa hari ini tak begitu? Nadlyne malah seolah seperti sedang ingin menjauh darinya.
"Gitu ya? Ya udah kalau gitu kamu istirahat dulu aja biar aku pulang," kata Andre dengan sedih.
Nadlyne mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Mas. Maaf ya kamu dateng ke sini malah akunya sakit."
Andre juga memaksakan untuk tersenyum. "Iya nggak apa-apa kok, semoga kamu cepat sembuh ya."
"Iya."
"Kamu nggak usah anterin aku ke depan kamu istirahat aja ya langsung masuk kamar aja tidur," ujar Andre dan Nadlyne mengangguk.
Setelah Andre pergi Nadlyne merasakan perasaan sedih, harusnya ia bisa bermesraan dengan Andre seperti biasanya malah tak bisa karena ada Rifky di apartemennya itu. Ia merasa kesal sekali pada bocah yang selalu seenaknya padanya itu.
Nadlyne kembali masuk ke dalam kamarnya, rasa marahnya semakin menjadi saat melihat Rifky yang sedang minum dengan santainya sambil duduk di sofa dekat tempat tidurnya itu.
"Ngapain kamu masih di sini? Cepetan kamu pergi deh aku muak liat muka kamu itu!" usir Nadlyne.
Rifky bukannya takut atau apa namun ia malah tertawa mengejek.
"Kamu yakin pengen aku pulang? Bukannya kamu itu ngusir si Andre biar bisa berduaan sama aku?"
"Diem kamu!" bentak Nadlyne.
Rifky lantas berdiri dari duduknya lalu ia meletakkan gelasnya di meja nakas. Ia kemudian berjalan menghampiri Nadlyne.
"Kamu itu nggak usah munafik, kamu itu udah sering gituan sama si Andre itu kan? Udah berapa kali kamu tidur sama dia?" tuding Rifky.
Nadlyne mendelik marah mendengar tudingan Rifky tersebut. Itu merupakan penghinaan yang teramat sangat padanya.
"Kamu denger ya, Rifky. Kamu jangan sok tau deh jadi orang! Kamu itu nggak tau apapun soal hidup aku! Sekarang juga kamu pergi dari sini dan jangan pernah dateng ke sini lagi paham kamu!" bentak Nadlyne.
Rifky terdiam sejenak lalu ia pun berlalu pergi sementara Nadlyne menangis pilu di lantai yang dingin.
Rifky pergi ke kafe untuk menemui Dinda karena tadi wanita itu mengubunginya memintanya untuk bertemu.
Rifky sangat sedih dan merasa kasihan melihat Dinda yang terlihat murung itu. Ia pun segera duduk di depan wanita cantik berambut sebahu itu.
"Kamu kenapa lagi, Din? Si brengs*k itu nyakitin kamu lagi?" tanya Rifky.
"Bukan itu, Ky," balas Dinda.
"Terus apa?"
Dinda menghela napas panjang. "Aku cuma bingung kenapa Mas Andre kok nggak mau ngasih tau siapa perempuan itu ke aku," katanya.
Rifky terdiam. Ia sendiri memang sudah tahu tentang perempuan yang menjadi selingkuhan Andre namun ia tak mungkin mengatakannya pada Dinda.
"Kamu nggak usah nyari tau biar dia sendiri yang bilang ke kamu," ujar Rifky.
"Tapi aku penasaran, Ky."
"Terus kalau kamu pada akhirnya tau terus kamu mau ngapain? Kamu kan nggak mungkin minta pisah ke dia kan?" balas Rifky.
"Ya iya sih."
"Kalau aja kamu mau buka hati kamu buat laki-laki lain, jadi kalau kamu tau pun kamu nggak akan sakit hati," ujar Rifky dengan sedih.
"Aku nggak mungkin pisah sama dia, aku itu cinta mati sama dia. Aku tuh cuma pengin tau aja sebenernya perempuan itu kayak gimana kok bisa sampai bikin suami aku berpaling dari aku," ucap Dinda lagi dan diakhiri dengan tangisan.
Rifky yang melihat Dinda menangis hatinya kembali sakit. Dalam hatinya ia sangat marah pada Nadlyne karena sudah membuat Dinda yaitu wanita yang sangat ia cintai itu menangis seperti itu.