Lepas Kendali Di Kamar

805 Words
"Jangan macem-macem kamu! Awas aja ya kalau kamu..." Nadlyne tak bisa melanjutkan ancamannya itu dan ia terkejut dengan ciuman tiba-tiba dari Rifky tersebu. Ia pun memberontak namun tenaganya jelas kalah jauh dengan Rifky. Ia pun hanya bisa pasrah dan lagi lagi ia membalas ciuman Rifky. Entah mengapa ia selalu menikmatinya dan membuatnya terbuai. Tangan nakal Rifky juga menyentuh tubuh Nadlyne di mana mana membuat Nadlyne semakin menikmati sentuhannya itu. Rifky yang sudah tak bisa menahan diri lagi ia pun mengangkat tubuh Nadlyne tanpa melepas ciuman mereka. Ia kemudian membaringkan Nadlyne ke tempat tidur dan memperdalam ciumannya itu. Mereka terus melakukan kegiatan panas itu hingga suara dering ponsel membuat Nadlyne panik dan refleks ia mendorong d**a bidang Rifky menjauh darinya dan menghentikan ciuman mereka. "Kenapa?" tanya Rifky dengan kesal. Nadlyne berdecak kesal. "Kamu nggak denger suara telepon bunyi? Itu pasti dari Mas Andre, aku baru inget kalau bentar lagi dia mau ke sini," balasnya dingin. "Terus kenapa? Kamu mau lanjut gituannya sama dia? Nggak boleh! Kamu itu milik aku, Nadlyne! Kamu nggak boleh tidur sama dia," titah Rifky kemudian ia berniat mencium Nadlyne namun Nadlyne menolehkan kepalanya ke arah samping sehingga ia gagal menciumnya dan membuatnya mengumpat marah. "Pergi kamu dari sini!" perintah Nadlyne mengusir Rifky. "Kamu itu pasti udah nggak perawan lagi jadi kamu nggak usah sok suci, kamu itu nggak usah sok polos! Kamu juga udah sering kan gituan sama si Andre itu!" tuding Rifky kemudian ia mencoba untuk mencium Nadlyne lagi namun ia gagal karena refleks Nadlyne mendorongnya menjauh. "Pergi dari sini aku nggak mau liat muka kamu lagi! Pergi!" seru Nadlyne. "Oke." Rifky pun segera pergi dari kamarnya Nadlyne dengan wajah yang teramat kesal. Setelah ia hanya sendirian di kamarnya itu, Nadlyne menangis sejadi-jadinya. Ia duduk di atas tempat tidurnya lalu mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia merasa harga dirinya itu sudah diinjak-injak dengan seenaknya oleh Rifky. Dan ia sangat menyesali perbuatannya sendiri yang malah menikmati sentuhan pemuda jahat itu. Ia juga sangat merasa bersalah pada Andre karena ia merasa ia kini sudah mengkhianati pria itu. "Brengs*k!" maki Nadlyne di tengah tangisannya itu. Beberapa lama kemudian Andre datang dan ia tampak bingung melihat wajah Nadlyne yang sendu itu saat membuka pintu untuknya. Mereka berdua kemudian duduk di sofa ruang tamu. "Nad, kamu kenapa? Kok wajah kamu gitu sih? Aku salah sama kamu? Iya? Ya udah kalau gitu aku minta maaf," ucap Andre sambil memegang tangan Nadlyne. Nadlyne menggelengkan kepalanya dengan pelan. Di tambah sikap Andre yang seperti itu semakin membuatnya menyesali perbuatannya sendiri karena telah berkhianat pada pria itu. "Nggak kok, kamu nggak salah justru aku yang salah selama ini karena udah maksa kamu buat selalu sama aku. Aku harusnya tau diri tapi aku ini cinta banget sama kamu," balas Nadlyne, tanpa terasa air mata mengalir di pipinya. Andre langsung menghapus air mata Nadlyne dengan lembut lalu ia memeluk wanita itu dengan mesra. "Kamu nggak usah bilang gitu, Sayang. Aku janji aku bakalan ngomong sama Dinda tentang hubungan kita," ujar Andre dengan setengah hati. Ya, ia sebetulnya memang berat mengatakan hal tersebut. Dulu mungkin kalimat itulah yang Nadlyne harapkan keluar dari mulut Andre sendiri. Namun kini mengapa rasanya hambar? Hatinya seperti merasa tak sebahagia yang seharusnya. Ya, ia sangat mencintai Andre jadi sudah seharusnya ia merasa bahagia mendengar janji pria itu padanya namun kenyataannya tidak. Apakah mungkin karena Rifky? Nadlyne dengan refleks menggelengkan kepalanya menolak pikirannya itu. Itu tidak mungkin! "Kamu kenapa?" tegur Andre yang melihat Nadlyne yang kini tampak aneh tak seperti biasanya. Biasanya jika ia datang maka Nadlyne akan sangat antusias menyambutnya dan banyak bercerita namun sekarang mengapa tak seperti itu lagi? Apakah Nadlyne sudah bosan padanya? "Aku nggak apa-apa kok," jawab Nadlyne berdusta. "Serius?" Nadlyne mencoba untuk tersenyum. "Iya, Mas. Ya udah kalau gitu aku ambilin kamu minum dulu ya." "Oke. Setelah Nadlyne pergi ke dapur, Andre terdiam. Ia merasa ada sesuatu yang sudah terjadi dengan Nadlyne karena tak biasanya kekasihnya seperti itu. "Mungkin dia cuma kecapean aja." Nadlyne memekik pelan ketika Rifky memeluknya dari belakang dan pemuda itu mulai mencium pipinya itu. Ia hanya mengenakan daster tipis karena itulah mudah untuk Rifky menyentuhnya. Alhasil ia menghentikan acara mengaduk kopinya itu dan matanya terpejam menikmati sentuhan Rifky. "Ada Mas Andre...udah..." "Udah diem! Jangan sebut nama dia pas lagi sama aku!" Rifky terus menyentuh tubuh Nadlyne dengan brutal. "Tapi..." Nadlyne tak bisa meneruskan ucapannya itu, ia hanya khawatir bila Andre pergi ke dapur dan melihat kegiatan panas dirinya dengan Rifky. Rifky terus menyentuh Nadlyne membuat wanita di pelukannya itu pasrah saja. Ia lalu menggendong Nadlyne menuju ke kamar dan lanjut di atas ranjang. Rifky kemudian melepaskan kaos hitam yang ia kenakan dan juga mulai melucuti daster yang Nadlyne kenakan itu. "Malam ini kamu milik aku seutuhnya, Nadlyne," ucap Rifky yang kini telah berada di atas tubuh Nadlyne. Tok tok tok! Mereka berdua menoleh namun hanya Nadlyne yang panik sedangkan Rifky mengumpat kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD