Berciuman Di Kantor

815 Words
Nadlyne terbelalak karena ia tersadar sedang berciuman dengan Rifky. Ia pun memberontak namun Rifky memperdalam ciuman mereka sehingga ia pun akhirnya pasrah. Ia bahkan membalas ciuman pemuda itu dengan tak kalah ganasnya. Saat ciuman Rifky turun ke leher jenjangnya ia pun mendesah dibuatnya. Mendengar desahan manja Nadlyne membuat gairah Rifky semakin memanas hingga ia pun semakin berani untuk bertindak lebih. Dengan erat ia memeluk pinggang Nadlyne lalu melanjutkan aksinya mencium wanita cantik itu. Nadlyne yang terbawa suasana sehingga ia mulai melucuti dasi yang Rifky kenakan itu lalu ia juga membuka kancing kemeja putih pemuda tampan itu lalu ia membalas mencium leher Rifky dengan liar yang membuat pemuda itu memejamkan matanya. Tok tok tok! Suara ketukan di pintu itu membuat Nadlyne terkejut dan panik. Ia pun berniat untuk beranjak dari pangkuan Rifky namun pemuda itu semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Nadlyne. "Rifky udah..." "Udah biarin aja, aku masih mau lanjut," balas Rifky memotong ucapan Nadlyne. Tok tok tok! Nadlyne menoleh ke arah pintu itu lalu ia pun memberontak sehingga Rifky terpaksa melepaskannya. Nadlyne merapikan rambutnya dan roknya yang berantakan itu lalu ia berjalan ke arah pintu untuk membuka pintunya. "Sh*t!" umpat Rifky karena ia kesal. "Loh? Mas Andre?" Nadlyne terkejut melihat Andre yang sudah berdiri di luar ruangan Rifky itu. Andre juga dibuat terkejut melihat Nadlyne. "Kamu ngapain di dalem ruangan si Rifky?" tanyanya sambil menatap tajam kekasih gelapnya itu. Nadlyne tampak gugup dan juga panik. "Em aku...itu...itu nggak penting, Mas. Yuk kita ke ruangan kamu aja yuk!" ia pergi sambil menggandeng tangan Andre menjauh dari ruangan kerjanya Rifky. "Kamu ngapain ada di ruangannya si Rifky itu?" tanya Andre lagi setelah ia dan Nadlyne sudah berada di ruangan kerjanya sendiri. Mereka berdua duduk di sofa yang sama. Nadlyne memeluk Andre agar pria itu bisa bersikap tenang lagi. Andre terus mendesaknya agar memberitahu ada hubungan apa antara ia dengan Rifky dan ia terus mengatakan pada Andre bahwa ia sama sekali tak ada hubungan apapun dengan Rifky, ia datang ke ruangan kerja bocah itu karena ingin meminta tanda tangan saja dan tak lebih dari itu. Ia terus mencoba untuk meyakinkan Andre agar kekasihnya itu percaya padanya hingga akhirnya Andre pun percaya padanya. "Aku ini kan pacaran sama kamu jadi mana mungkin aku bisa ada hubungan sama Rifky. Lagian dia itu kan umurnya jauh di bawah aku, Mas. Aku ini kan nggak suka sama berondong aku lebih suka sama kamu yang hot ini," ucap Nadlyne sambil merayu Andre lalu ia mengedip genit pada pria itu. Andre terlihat senang dibuatnya. Ia menjawil pipi chubby Nadlyne dengan gemas. "Kamu ini bisa aja sih, Nad." "Iya dong, dia itu kan cuma anak magang di kantor ini jadi mana mungkin sih aku bisa suka sama dia." "Iya iya aku percaya kok sama kamu, kamu itu kan cuma cinta ke aku doang," balas Andre dengan rasa bangga. Nadlyne yang mendengar hal itu bukannya ia merasa bahagia tapi ia justru terlihat sedih. Jika Andre tahu perasaannya itu mengapa hingga kini pria itu masih enggan untuk menikah dengannya? Itulah yang ia pikirkan yang membuat suasana hatinya menjadi buruk. Jika memang Andre sangat mencintainya seharusnya pria datang melamarnya dan menikahinya bukan hanya sekedar mengatakan janji manis yang tak ada gunanya. "Mas, udah dulu ya soalnya aku mau ke ruangan aku sendiri mau nerusin kerjaan aku yang banyak banget itu," pamit Nadlyne masih dalam suasana hati yang buruk. Andre tampak kecewa namun ia mengangguk. "Oke deh, nanti malem aku ke tempat kamu ya." "Oke." Setelah Nadlyne keluar dari ruangannya itu, Andre pun menghela napas panjang. "Aku minta maaf, Nad. Aku tau kamu pasti sedih tapi maaf aku belum bisa nurutin apa mau kamu. Aku cinta sama istriku juga." Malamnya Nadlyne pulang ke apartemennya, setibanya ia di kamarnya ia dibuat terkejut oleh kehadiran Rifky yang berbaring santai di atas tempat tidurnya itu. "Rifky? Kamu...kamu ngapain di kamar aku?" seru Nadlyne sambil mendelik marah. Rifky hanya tersenyum tipis. "Jangan banyak nanya, sini dong temenin aku tidur," pintanya sambil menepuk-nepuk tempat di sebelahnya itu. Nadlyne tampak kesal sekarang. "Pergi dari sini atau aku panggil satpam buat ngusir kamu!" "Aku ke sini karena mau lanjutin kegiatan kita yang tadi itu, sayang. Aku juga yakin banget kalau kamu itu masih pengen lagi kan?" goda Rifky sambil menaik turunkan alisnya itu. Wajah Nadlyne langsung merah padam mendengar ucapan Rifky yang frontal tersebut. "Diem kamu!" balas Nadlyne. Rifky lantas bangun dari tempat tidur lalu ia berjalan mendekati Nadlyne. Ia tersenyum licik saat melihat wanita itu terlihat panik dan mundur menjauh darinya. "Mau ngapain lagi kamu hah?" bentak Nadlyne. "Putusin si Andre itu dan pacaran sama aku!" balas Rifky dengan tegas. "Aku nggak mau lah enak aja!" bentak Nadlyne lagi. Mendengarnya membuat Rifky marah, ia pun kemudian mengambil ponselnya lalu menatap ke arah Nadlyne. Dan senyuman licik muncul di bibirnya begitu ia melihat wajah bingung Nadlyne. "Kamu mau ngapain?" tanya Nadlyne heran. "Aku mau nelepon Dinda mau ngasih tau hubungan terlarang kamu sama si Andre itu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD