Nadlyne malah memejamkan matanya saat Rifky mendekatkan wajahnya, bersiap untuk sebuah ciuman. Ia menunggu bila bocah itu menciumnya.
"Dasar perempuan memalukan!" ejek Rifky sambil menjauhkan dirinya dari Nadlyne.
Nadlyne terkejut dan membuka matanya mendengar penghinaan Rifky yang membuatnya sakit hati. Bukankah dari awal bocah itu yang berniat mendekatinya lalu mengapa sekarang malah ia yang dihina?
"Apa maksudnya kamu bilang gitu?" tanya Nadlyne dengan tatapan yang datar.
"Pakai nanya lagi, udah jelas kan kamu itu perempuan memalukan? Kamu tadi merem itu kan berarti kamu itu ngarep mau aja dicium aku, padahal aku ini kan bukan siapa-siapa kamu. Kamu juga udah pasti mau mau aja digrepe-grepe sama si Andre itu, udah ketebak itu!" ejek Rifky lagi dengan kata-katanya yang amat kasar.
"Jaga ya mulut kamu! Aku bukan perempuan kayak gitu!" bentak Nadlyne.
"Kalau emang kamu bukan perempuan murahan, kamu tinggalin si Andre dan pacaran sama aku!" balas Rifky.
"Nggak bisa segampang itu, dan maaf hatiku ini cuma buat dia."
"Omong kosong! Bilang aja kamu itu udah ditidurin berkali-kali sama dia makanya kamu itu nggak bisa lepas dari dia iya kan?" tuding Rifky lagi.
Dan tudingan dari Rifky sungguh membuat hati Nadlyne seperti tersayat pis*u. Bisa-bisanya Rifky sampai tega mengatakan hal kasar seperti itu padanya.
"Aku bukan perempuan gampangan asal kamu tau itu! Sekarang juga kamu pergi dari sini!"
"Kalau aku nggak mau gimana? Hm?" bisik Rifky yang kali ini sambil mengelus pipi chubby Nadlyne dengan lembut.
"Aku ini bisa muasin kamu, malah jauh lebih jago dari pada Andre," lanjut Rifky lagi sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Nadlyne.
Rifky ternyata berhasil membuat Nadlyne terbuai oleh rayuannya itu, ia kembali mencium bibir Nadlyne dan perempuan itu membalas ciumannya. Mereka terus berciuman hingga berada di atas tempat tidur Nadlyne.
Rifky mulai membuka kancing baju Nadlyne lalu ia mendengus kesal melihat perempuan yang berada di bawah tubuhnya itu menikmati setiap sentuhannya itu.
"Bener kan kamu itu perempuan nakal yang hobinya gituan makanya kamu gatel banget godain suami orang!" ejek Rifky sambil bangkit berdiri.
Nadlyne tampak marah sekarang lalu ia pun duduk. "Mau kamu itu apa sih?" bentaknya marah. Bukankah Rifky sendiri yang merayunya lalu mengapa ia juga yang marah padanya?
"Lupain Andre selamanya dan jadilah pacarku!" balas Rifky sambil menatap tajam Nadlyne.
"Kalau aku nggak mau?" tantang Nadlyne kesal.
"Aku bakalan bilang ke Andre kalau kamu itu udah tidur sama aku. Kalau dia tau, udah pasti hubungan gelap kalian berakhir," ancam Rifky lalu ia menyeringai licik.
"Kurang ajar banget kamu!" maki Nadlyne.
Rifky tak menanggapi Nadlyne dan ia berlalu pergi meninggalkan Nadlyne yang terguncang itu.
"Bocah kurang ajar!" seru Nadlyne marah.
Besoknya Nadlyne masuk ke dalam ruangan kerja Rifky di kantor. Ia terkejut begitu ia melihat ternyata ada Dinda di dalam ruangan itu. Ada hubungan apa di antara mereka berdua karena kelihatannya sudah akrab sekali. Dan tampaknya wanita itu baru saja menangis karena wanita itu langsung menghapus air matanya. Sedangkan Rifky tampak kesal melihat kedatangan Nadlyne. Ia menatap Nadlyne dengan tatapan tajamnya yang menusuk.
"Nadlyne?" sapa Dinda sambil tersenyum manis.
Nadlyne tampak tak enak hati melihat Dinda, apakah mungkin wanita itu menangis karena ulahnya? Namun apa yang bisa ia lakukan jika cinta yang membawanya untuk terus bersama Andre dan ia takkan peduli bila perasaan terlarangnya itu melukai hati Dinda.
"Iya, Buk," balas Nadlyne memaksakan senyumannya itu.
"Kamu mau ngomong sama Rifky?" tanya Dinda dengan nada yang lembut. Ya, Dinda itu merupakan wanita yang lemah lembut.
"Iya," jawab Nadlyne sambil mengangguk.
"Ya udah kalau gitu aku mau pulang dulu," pamit Dinda pada Rifky.
"Oke, nanti kalau ada apa-apa tinggal telepon aku ya, Mbak," balas Rifky sambil tersenyum lembut. Dan Dinda mengangguk sambil tersenyum juga.
Nadlyne tampak terkejut melihat sikap baik Rifky kepada Dinda. Ia baru tahu ternyata bocah itu bisa bersikap baik kepada orang lain.
Setelah kepergian Dinda, barulah Nadlyne berjalan mendekati Rifky.
"Kamu mau ngomong apa?" tanya Rifky tanpa minat.
"Dinda belum tau kan soal hubungan aku sama Mas Andre?" tanya Nadlyne ingin memastikan.
Rifky tampak marah mendengarnya. "Terus kalau aku jawab dia udah tau hubungan kalian berdua kamu mau langsung putusin Andre?" tanyanya kesal.
Nadlyne terdiam, namun yang pasti ia tak akan pernah meninggalkan Andre sampai kapanpun meski semua orang menentangnya termasuk juga Rifky yang akhir-akhir ini selalu saja nekat mendekatinya itu.
"Aku tau kamu nggak akan pernah bilang ke Dinda," kata Nadlyne dengan penuh percaya diri.
"Ya iyalah itu kan nggak penting! Yang paling penting itu kalau aku bisa dapetin kamu. Aku itu tergila-gila sama kamu," balas Rifky.
"Aku pengen miliki kamu seutuhnya," lanjut Rifky sambil menarik pinggangnya Nadlyne hingga wanita itu jatuh di atas pangkuannya diiringi pekikan Nadlyne.
Rifky tersenyum licik melihat wajah panik Nadlyne, ia mengelus sisi wajah Nadlyne sambil terus menatap matanya. Mereka saling bertatapan cukup lama hingga terlihat semburat merah di wajah Nadlyne.
Nadlyne memejamkan matanya ketika Rifky mulai menciumnya dengan lembut dan entah mengapa ia malah terbuai hingga ia membalas ciuman itu.