"Bisa diem nggak sih? Berisik tau nggak!" tegur Rifky. Ya, pemuda tampan yang berada satu tempat tidur dengan Nadlyne itu adalah Rifky. Ia juga duduk dan menatap Nadlyne dengan tajam.
"Diem kamu bilang? Diem? Gimana aku bisa diem kalau kamu itu satu kamar dan yang lebih parahnya lagi kita itu satu ranjang!" bentak Nadlyne dengan marah dan tak terima.
Rifky mendengus kesal. "Kenapa? Bukannya ini ya yang selama ini kamu lakuin sama Andre? Jadi nggak usah munafik deh!" ejeknya.
Nadlyne mendelik marah. "Eh bocah bau kencur, jaga omongan kamu ya! Nggak usah asal nuduh gitu deh!"
"Emang bener kan? Kamu itu sering tidur sama dia," balas Rifky lagi.
"Nggak pernah ya, kamu jangan...ach!" pekik Nadlyne yang kaget saat tiba-tiba saja Rifky mendorong tubuhnya hingga terbaring di tempat tidur.
"Jangan apa hah? Udahlah kamu itu nggak usah munafik, ini kan yang kamu mau? Aku bisa muasin kamu asal kamu jauhin si brengs*k Andre itu!" ucap Rifky sambil berniat untuk mencium bibir Nadlyne.
Nadlyne yang marah itu lantas menghindar dengan cara membuang muka lalu ia menamp*r pipi Rifky dengan keras.
"Pergi kamu dari sini! Cepetan pergi!" bentak Nadlyne marah.
"Sh*t!" Rifky mengumpat kesal lalu ia pun beranjak dari atas tubuh Nadlyne dan segera pergi setelah ia memakai pakaiannya itu.
"Brengs*k!" umpat Nadlyne dengan penuh rasa amarah lalu ia pun menangis sejadi-jadinya. Ia merasa sudah dilec*hkan oleh Rifky.
"Kurang ajar banget tuh bocah si*lan! Beraninya dia hina aku kayak gitu."
Nadlyne pun pergi ke toilet untuk membersihkan diri, ia merasa marah lagi saat ia melihat ada banyak tanda merah di leher juga di atas dadanya itu dan itu pasti perbuatan Rifky semalam. Ia menangis lagi sejadi-jadinya karena kini ia merasa kotor. Namun satu hal yang membuatnya lega yaitu ia tak merasakan rasa sakit di tubuh bawahnya yang berarti mereka berdua tak sampai melakukan hal yang lebih intim lagi.
"Duh tapi kalau bocah itu sampai bilang tentang kejadian ini ke Mas Andre gimana nih? Aku bisa langsung diputusin pastinya," ujar Nadlyne yang khawatir sekarang.
Nadlyne kemudian menyipitkan matanya. "Pokoknya dia nggak boleh cerita ke siapapun terutama ke Mas Andre."
Nadlyne pun memutuskan untuk pulang setelah ia selesai membersihkan diri di kamar mandi, ia berusaha keras untuk menghilangkan tanda merah yang sudah Rifky buat itu di tubuhnya.
"Kurang ajar emang dia, nyari kesempatan dalam kesempitan!" umpat Nadlyne lagi.
Tak berapa lama kemudian akhirnya Nadlyne tiba di apartemen miliknya yang sebenarnya itu diberikan oleh Andre.
"Kamu dari mana aja, Nad? Kok handphone kamu mati sih?" tegur Andre yang mengejutkan Nadlyne. Ia malah santai duduk di sofa ruang tamu.
"Mas Andre? Kamu bikin aku kaget aja deh," omel Nadlyne.
Nadlyne mendadak teringat sesuatu yang membuatnya panik. Lantas ia menutupi tanda merah itu dengan syal agar Andre tak curiga padanya.
"Maaf, Sayang. Kamu kenapa kok berdiri aja? Sini dong, duduk di sini!" ajak Andre sambil menepuk tempat duduk di sofa.
"Iya, Mas."
Nadlyne menuruti Andre, ia duduk di sofa di samping kekasih hatinya itu. Namun saat Andre berniat akan menciumnya ia pun dengan cepat menghindar yang membuat Andre terkejut dan heran dengan reaksinya itu.
"Kamu kenapa, Sayang? Kok kayak gitu sih?" tegur Andre yang merasa sedikit kesal.
"Aduh maaf, Mas. Aku kan udah bilang sama kamu, aku nggak bakalan mau dicium kamu kecuali kamu mau nikahin aku," balas Nadlyne sambil bersilang d**a.
Andre berdecak kesal. "Maaf, Sayang. Tapi kan kamu tau aku ini udah punya istri sekarang jadi kamu itu harus bisa sabar."
"Aku ini kurang sabar gimana sih, Mas? Kita ini udah pacaran lama loh, lagian kamu kan tau sendiri kalau aku ini nggak masalah kalau misal dimadu aku mau kok. Aku nggak keberatan kan yang penting aku bisa jadi istri kamu, jadi istri kedua juga aku ok ok aja."
"Iya, makanya itu kamu harus sabar. Aku janji kok mau nikahin kamu, aku janji sama kamu," ucap Andre.
Nadlyne menghela napas panjang. "Ya udah kalau gitu mendingan sekarang juga kamu pulang dulu tinggalin aku sendiri karena aku ini mau istirahat ok?" usirnya halus.
"Tapi..."
"Udah aku nggak mau lagi denger apapun dari kamu, Mas. Udeh deh sekarang kamu pulang aja urus aja tuh istri kamu yang kamu cintai itu!"
"Aku minta maaf, Nad," ucap Andre sebelum akhirnya ia pergi dari apartemen milik Nadlyne.
Nadlyne menangis sekarang, selalu seperti itu yang ia terima dari Andre. Pria itu tak pernah punya pendirian menurutnya. Harusnya Andre tak mengimingi janji atau apapun padanya jika memang tak ingin lagi menjalin cinta.
"Sia*lan!" maki Nadlyne di sela-sela isakan tangisannya itu.
"Udah tau dia bajing*n terus kenapa kamu masih mau jadi simpenan dia?" ujar Rifky yang tiba-tiba saja sudah muncul di depan Nadlyne membuat Nadlyne terkejut.
"Kamu? Kenapa kamu bisa masuk ke apartemen aku?" tanya Nadlyne dengan kesal.
Rifky menyeringai licik. "Apa sih yang nggak bisa aku lakuin? Jelas aku bisa lah masuk ke rumah kamu ini," balasnya sombong.
Rifky menyeringai licik. "Apa sih yang nggak bisa aku lakuin? Jelas aku bisa lah masuk ke rumah kamu ini," kata Rifky sambil mendekati Nadlyne, menekan tubuhnya ke tubuh Nadlyne.
"Aku mau melanjutkan yang semalam, kamu juga pasti mau lagi kan?" ucap Rifky sambil mengelus pelan pipi chubby Nadlyne.
Nadlyne terbelalak lalu ia menelan ludah, tentu saja ia panik. Ia takut kejadian malam itu saat di hotel akan terulang lagi, jantungnya berdegup kencang dan keringat dingin mengucur di dahinya.