“Tidak bisakah kita rundingkan ini dulu, Mas?” pinta Nur.
Suara Nur menggema di tengah keheningan subuh. Ketenangan yang diberikan alam pun hancur oleh perdebatan wanita itu dengan suaminya. Rumah yang semestinya hening menjadi gaduh. Berulang-ulang Nur mencegah, tapi Aryo menolak. Bajunya pun telah berserakan di mana-mana.
“Aku bisa ikutan kerja. Kau ingat dulu? Kita wisuda bersama dan aku pun termasuk salah satu mahasiswa berprestasi,” lanjut perempuan itu.
“Meski aku tidak pernah melarangmu untuk kerja, tapi aku tak akan sanggup melihatmu terlalu lelah. Aku tak ingin kamu menanggung beban anak, rumah, dan kerjamu kelak,” tanggap Aryo.
Lelaki dengan wajah teduh, mata bulat, dan hidung pesek itu sibuk berkemas-kemas. Sang istri tak tinggal diam. Walau berat hati, ia pun membantu suaminya mengemasi barang-barangnya.
“Nanti gimana kalau Dimas tanya? Dia kan nggak bisa tidur kalau nggak ada kamu.”
Aryo terhenti di daun lemari. Tangannya yang tengah memegang dasi terdiam. Ia ingat akan putra yang begitu ia sayangi. Tapi ini semua juga untuknya. Dengan Aryo pergi, Dimas akan bisa menatap masa depan yang lebih baik. Tahun depan ia dapat memasukkan anak itu ke sekolah terbaik.
Nur memeluk suaminya dari belakang. Dagu perempuan itu menyendeh di pundak Aryo, sedang tangannya melingkar di perut lelaki itu.
“Sudahlah, Mas. Jangan pergi. Kita bisa cari solusinya bersama-sama. Dan bukannya Mas sudah berjanji kita akan menemui kedua orang tuamu?” timpal Nur.
Aryo mengembuskan napas. Jujur ia ingin sekali menetapi janji itu dan memperbaiki masalahnya dengan orang tuanya, namun batinnya begitu berat. Kenangan tentang diusir dari rumah oleh mereka tak pernah hilang. Lelaki berwajah teduh itu perlu waktu, tapi ia tak bisa utarakan itu ke istrinya.
Aryo berbalik dan mencium pipi Nur.
“Jangan khawatir! Kamu pasti bisa ngurusi Dimas. Mas hanya pergi sebentar kok. Dan terkait janji itu, Mas pasti akan menepatinya. Ini hari ketiga, masih ada sebelas hari dari waktu yang ayahmu beri.”
Lelaki bermata teduh itu kembali mengemasi barangnya. Setelah semua siap, ia menghadap kaca hendak berpakaian serapi mungkin.
Hem putih hadiah ulang tahun dari Nur, ia kenakan lengkap dengan jas – yang juga hadiah pernikahan dari wanita itu. Aryo pun punya hadiah pernikahan untuk dia, tapi biarlah hadiah itu ia simpan dan merahasiakannya bersama Dimas. Tak lama, tubuh proporsial Aryo telah rapi nan gagah. Rambut lurusnya tersisir rapi. Aryo mematut dirinya sendiri di kaca. Tapi ia keburu menyadari sesuatu. Perjalanan yang dilakukannya adalah perjalanan jauh, terus mengapa ia harus memakai jas? Sial. Ia pun berganti pakaian lagi.
Nur duduk di samping Aryo. Tangannya menelungkup sedang jempolnya saling tumpang tindih bergantian. Wanita berwajah cantik itu ragu. Ia merasa serba salah. Ingin ia mencegah, tapi ia tahu suaminya melakukannya juga untuk Dimas. Hanya dengan perjalanan bisnis inilah mereka dapat memasukkan Dimas di salah satu sekolah favorit.
Melihat istrinya yang masih gelisah, Aryo duduk di sampingnya. Ia raih bahu perempuan bermata almond itu lalu menariknya perlahan. Serta-merta Nur menyendehkan kepalanya di bahu suami tercinta.
“Kamu kenapa?” tanya lelaki berwajah teduh itu. Suara besar nan lembut membuat Nur semakin trenyuh.
“Firasatku ndak enak, Mas.”
Aryo membisu. Napasnya menderu. Ia pun berdiri lalu berjongkok menghadap istrinya. Tangan kekar lelaki itu meraih telapak Nur. Matanya menatap penuh, mengantarkan hawa kasih sayang.
“Selama apa pun itu, sejauh apa pun itu, Mas pasti akan tetap kembali.”
Lelaki berwajah teduh itu kembali berdiri dan mengecup dahi istrinya
“Ayah, Ibu, ayo salat subuh!” sebuah teriakan kecil menengahi suasana haru itu.
Dimas berdiri di ambang pintu. Tangannya sibuk mengucek-ngucek mata, sementara mulutnya masih terus menguap.
“Eh sayang, sudah bangun?” perhatian Aryo teralihkan pada Dimas. “Ayah sudah salat, kamu salat sama Ibu, ya!”
“Nggak mau. Ibu suaranya nggak kedengeran. Aku kan mau ngikutin bacaan salat biar cepet hapal.”
“Ya sudah, nanti Ibu gedein suaranya,” timpal Nur seraya membesarkan suaranya. “Cepetan gih, kamu ambil wudu!”
“Loh, kok Ayah pakaiannya gini? Ayah mau ke mana?”
“Ayah mau bantu temen. Dimas masih inget sama Om Rama, kan?”
Pupil mata Dimas bergerak naik. Anak kecil itu berusaha mengingat nama yang ia dengar. Sedetik dua detik kemudian, ia mengangguk mantap.
“Ayah pergi dulu, ya!”
Aryo mendekatkan mulutnya di ambang telinga Dimas.
“Tetep jaga rahasia kita, ya!” bisiknya.
Meski samar, Nur bisa mendengar bisikan itu. Heningnya subuh membuat suara kecil pun terdengar nyaring.
“Rahasia apaan? Mas jangan aneh-aneh, ih,” celetuknya kemudian.
“Yee, Ibu. Namanya juga rahasia, ya nggak boleh dikasih tahu, dong.”
“Nggak ayah, nggak anak, sama aja, hih.”
“Sudah-sudah, sini! Masa Ayah mau pergi nggak dipeluk dulu.”
Nur langsung mendekat. Ia benamkan rasanya dalam dekapan itu. Sejenak ia beralih dan mengecup Dimas.
“Ayah jangan lama-lama, ya!”
Aryo mengangguk.
“Kalian baik-baik, ya!”
***
Pagi kian pergi dan siang mulai berjinjing. Di tengah nuanasa sepinya rumah, Nur memutar musik. Dendangan serta deguban bass yang begitu meggelegar membuat seisi rumah gaduh. Sabun berada di mana-mana, air tumpah di segala penjuru. Semua kain lap, keset, dan karpet telah berada di atas kursi. Ada juga yang di atas lemari. Inilah rahasia Nur. Setelah mengantar Dimas ke TK, tibalah waktu baginya untuk mengembangkan bakat. Bukan menyanyi di toilet hingga tenggorokan kering, tapi menyanyi sambil bersih-bersih.
Rumah mungil dengan enam ruangan. Tiga ruang kamar yang kecil, satu ruang tamu sekaligus ruang keluarga, satu dapur, dan satu kamar mandi. Semuanya dibersihkan wanita itu. Hal ini bukan semata-mata bersih-bersih, tapi juga untuk mencari rahasia kecil yang disembunyikan Dimas dan Aryo. Pembicaraan subuh tadi membuat Nur gregetan.
Nahas. Beberapa kali pun Dimas digoda dengan cokelat dan makanan, anak itu tetap saja menyembunyikan rahasianya. Tak terbayang betapa setianya bocah itu kepada ayahnya. Maka dari itu, hari ini, sebelum suaminya pulang, ia akan bongkar seisi rumah. Lumayan. Selain bisa mencari, rumah juga bersih. Satu kali sapu, dua tujuan terlampaui. Semoga saja rahasia itu bisa ditemukan.
Selain kedua hal itu, kebutuhan me time Nur juga bisa terpenuhi. Me time itu tak harus muluk-muluk pergi ke mal. Bagi Nur, ini juga sudah me time baginya. Rumah yang hanya tinggal ia seorang menjadi ladang baginya untuk menjadi anak kecil lagi. Ia bermain seluncuran di sepanjang ruangan. Kadang membuat diri jadi konyol itu perlu. Ya, yang penting orang lain tak tahu.
Lantai licin ditambah dengan kaki yang penuh sabun, membuat Nur tak bisa menghentikan seluncurannya. Ia pun menabrak lemari kecil sehingga foto diatasnya jatuh dan pecah. Nur sedikit merintih. Namun, takada raut muka kesal di wajahnya. Ia pungut foto itu lalu membersihkan pecahan bingkainya. Ketika telah rampung, Nur memandangi foto itu lagi. Foto lama tapi masih saja berkesan. Kesan malunya pun masih membekas hingga sekarang.
Foto tentang pesahabatan dan percintaan yang indah. Nur masih ingat bagaimana kejadian waktu itu. Jika mengenal masa itu, Nur sangat kesal. Tapi ketika mendengar cerita Rama tentang Aryo semasa organisasi membuta rasa itu luluh. Nur baru tahu kalau suaminya pernah dihukum berjoget di depan anggota mahasiswi. Nur pun baru tahu ternyata jogetan suaminya sangat parah hingga semua mahasiswi tertawa terpingkal-pingkal.
Ah, mengenang kisah cintanya, membuat Nur tertawa.
Aku tak menyangka akan menikah dengan orang bodoh, batin perempuan itu.
Kalimat yang sadis. Bahkan langit pun masih mengingat perkataan itu. Perkataan seorang gadis tanggung yang sedang kuliah. Luasnya cakrawala dan dalamnya bumi, masih menyimpan kisah itu secara detail. Sepotong kisah yang senantiasa dikagumi olehnya. Kisah tentang Nur dan Aryo.