Hasan Shadiki tak pernah menyangka menantunya berbuat demikian. Seorang pria yang selama enam tahun selalu memegang teguh apa yang ia katakan, kini untuk pertama kalinya berkhianat. Dengan begitu teganya, ia menikahi Nur tanpa mengutarakan hal sebenarnya tentang keluarganya. Sungguh memuakkan.
Pernikahan itu ikatan yang suci. Dengan terikatnya dua insan, mereka menjadi saling menutupi kekurangan. Tiada rahasia lagi setelah terjalinnya pernikahan. Suami berhak tahu rahasia istri pun sebaliknya. Maka dari itu, Hasan bergidik mendengar rahasia yang selama ini Aryo pendam.
Sudah lama – bahkan setelah pernikahan anaknya terjadi, Hasan selalu bertanya-tanya, kenapa besannya langsung pergi begitu saja. Tanpa kata. Tanpa sapa. Mereka seakan hanya perlu menghadiri pernikahan – layaknya tamu biasa, bukan yang punya acara. Saat ayahnya Nur menyapa mereka, mereka hanya senyum dan terlihat bahagia. Tiada rona penuntutan sama sekali.
Sejak saat itu, Hasan itu ingin menanyakan ini, tapi selalu dicegah oleh putrinya. Dan kini rahasia itu terungkap.
“Apa maksudmu hah! Jadi selama ini kamu membohongi kami?” nada bicara Hasan semakin meninggi, “baiklah kalau begitu. Pergilah! Selesaikan masalahmu dulu, baru setelah itu, kamu bisa mengambil Nur dan Dimas kembali.”
“Ayah! Cukup! Kami datang ke sini, bukan untuk mendengar Ayah marah-marah. Rumah tangga kami, biar kami yang menyelesaikan masalahnya. Aku sama sekali tak mau menuruti perintah Ayah. Surgaku adalah suamiku,” tukas Nur.
Hening. Hanya semilir angin yang berani bersuara.
“Baiklah, jika itu keputusan kalian. Ayah tak akan menghalangi. Tugasku hanyalah mengingatkan apa yang salah. Tapi jika lelaki ini tak segera berdamai dengan orang tuanya, lebih baik kalian pisah. Kuberi waktu dua minggu untuk berdamai dengan mereka. Ayah tak mau melihat kalian bersama-sama di neraka besok.”
Hasan pun bangkit dan menuju halaman belakang. Mungkin ia hendak menyusul Dimas. Aryo ikut berdiri. Ia keluar. Wajahnya pias. Sedang Nur hanya bingung menatap kepergian suaminya. Ia sangat hafal. Di saat seperti ini, Aryo hanya akan menyendiri, mencari tempat, di mana ia bisa menumpahkan air matanya tanpa diketahui oleh anak dan istrinya.
Tapi sepertinya, kali ini Aryo tak menemukan tempat itu. Satu-satunya pilihan, hanyalah mobil. Ia pun masuk dan menyungkurkan kepalanya ke setir. Wajahnya merah, menahan marah. Tapi tak ada hak baginya untuk membela diri. Ia yang salah. Mertuanya yang benar. Dan kini penyesalan mulai menggelayuti dirinya. Kenapa ia tak berdamai dengan orang tuanya saat itu juga?
Kenangan tentang masa lalu, masa di mana kecupan seorang ayah selalu tersemat kala dirinya ketakutan. Peluk hangat selalu ia dapatkan ketika ia pulang membawa selembar kertas ujian dengan nilai tinggi. Curahan kasih sayang selalu terbagi rata antara dia dan saudaranya. Namun semua itu sirna gara-gara uang b******n itu. Andai saudaranya yang lahir terlebih dahulu sebelum dirinya, pastilah Aryo tak akan mengalami hal seburuk ini.
“Ha!” Aryo mendebrak setir.
Selang beberapa saat, Nur menggedor kaca mobil.
“Mas ...,” lirihnya.
Serta-merta Aryo membelakangi istrinya dan menyeka air matanya. Lelaki itu kemudian mencoba tersenyum lalu keluar dari mobil.
“Mas ndak apa-apa, kan?”
Aryo menggeleng. Ia tak mau berbicara dulu, takut serak suaranya terdengar.
“Apa pun yang terjadi, aku akan tetap di sampingmu, Mas.” Nur memeluk Aryo.
Aryo mengecup kening sembari membalas pelukan istrinya.
“Ayah! Ikannya baru dapat sedikit, bantu Dimas dong!” teriak Dimas lantang dari daun pintu.
Sejenak Aryo menghirup napas. “Iya bentar!” serunya.
***
Terdengar untaian salam dari luar. Serta merta Nur menjawab lalu mencuci tangan. Sejenak ia mengibas-ngibaskannya lalu membukakan pintu. Kilau mentari yang berbondong-bondong masuk, membuat Nur memicingkan matanya. Tanpa berpikir panjang, ia raih tangan seseorang di depannya lalu mengecupnya.
“Mas kok nggak bilang kalau pulang lebih awal sih? Aku kan jadi kurang persiapan. Lihat tuh belum ada makanan. Kalau kelaparan jangan salahin aku, ya!” cerocos Nur tanpa memandang wajah lelaki di depannya.
“Aku di sini Nur!” kata Aryo setengah berteriak. Mulutnya memadat, menahan tawa yang siap meledak.
Nur menoleh ke belakang sosok laki-laki di depannya. Saat ia melihat suaminya di belakang, wajah perempuan itu mendadak merah. Perlahan ia mendongakkan kepalanya ke atas.
“E-e-eh, maaf saya salah orang.” Nur salah tingkah.
“Ndak apa, dulu kita juga sering dikatakan kembar kok,” balas laki-laki itu.
“Sila-sila-silakan masuk!” Nur beringsut memberikan jalan. Wajahnya memerah. Matanya tak berani memandang ke atas. Ia mengutuki dirinya sendiri yang selalu tak memandang orang ketika berbicara.
Aryo pun ikut masuk. Saat ia berpapasan dengan istrinya, tawanya pecah tak tertahankan. Spontan Nur mencubit lengannya, gemas. Matanya melotot melempar kesal.
“Aduh-aduh-aduh, maaf deh istriku cayang,” pinta Aryo sembari berusaha melepaskan cubitan istrinya.
“Nih kenalin, bosku, Rama!” kata Aryo, sesaat setelah istrinya melepaskan cubitannya.
“Halah apaan kau ini. Saya hanya teman organisasi mahasiswa suami Anda dulu,” sangkal Rama.
“Maafkan suami saya yang keterlaluan ya, Mas. Masa ada tamu nggak bilang-bilang.”
“Saya yang harusnya minta maaf. Saya yang memaksa Aryo untuk menunjukkan rumahnya.”
“Justru alhamdulillah dong. Karena kamu, aku bisa pulang lebih awal. Untung saja kamu yang jadi bosku, hahaha,” kelakar Aryo.
Nur menatap lamat-lamat dua lelaki yang di depannya. Sekilas mereka sama. Mirip malah. Tubuh dan tinggi mereka sepadan, hanya wajahnya saja yang agak berbeda. Andai tadi matahari tak menyilaukan matanya, ia pasti tak semalu ini.
“Karena rumah nggak ada makanan, sana pergi cari makan, ini uangnya!” suruh Aryo.
“Enak aja!” protes Nur.
“Weh-weh, kehangatan pasutri baru memang bikin iri ya,” sambung Rama.
“Makanya cepet nikah, Bos. Udah punya perusahaan segede itu masih jomblo mulu, hahaha.”
“Inilah susahnya jadi orang kaya, Yo. Susah cari wanita yang tulus mencintai. Rata-rata wanita kan matre, hahaha.”
Kuping Nur gatal mendengar itu. Teman suaminya sama kacaunya dengan Aryo. Tapi sebagai wanita yang merdeka dan berdaulat, ia pun harus bisa membela diri.
“Halo, kaum lelaki yang budiman. Kami para wanita nggak matre ya, tapi lengkapnya kebutuhan kan membuktikan kalau kalian itu serius,” debatnya.
“Kau memang hebat cari istri ya, Yo.”
“Iya dong, sepesies langka!”
Kedua laki-laki itu kembali tertawa. Nur mendengkus. Kesal. Ia memilih ke belakang, menyiapkan minum untuk mereka berdua.
“Sudah-sudah, waktuku tak banyak. Sebenarnya memaksamu untuk pulang lebih awal karena kita perlu berunding sebentar.” Nada dan raut wajah Rama mendadak serius.
“Tentang tawaran kerja sama itu, kan?” sambung Aryo.
“Iya, kamu benar. Sebenarnya tanpa kontrak kerja sama itu pun, perusahan kita akan baik-baik saja. Tapi kalau berhasil mengembangkan kerja sama itu, keuntungan kita akan berlipat ganda.”
“Tapi apa tak terlalu beresiko?”
“Maka dari itu, sebelum kita menandatangani kontrak yang mereka tawarkan, kita perlu observasi dulu ke perusahaan mereka. Risiko berani diambil, jika kita mempunyai data lengkap.”
Aryo diam. Keningnya berkerut. Deru napasnya terasa berat. Banyak hal yang ia pikirkan.
“Ayo lah, Yo. Kamu seorang arsitek hebat. Hanya kamulah yang bisa menentukan arah terjun bisnis properti kita. Kamu juga orang yang tahu bagaimana bahan yang berkualitas. Jika memang bahan mereka benar-benar berkualitas, kita bisa memakmurkan seluruh karyawan yang bekerja pada kita. Apalagi harga yang ditawarkan mereka benar-benar menggiurkan.”
Benar. Argumen Rama memang tak bisa ditolak. Sejak awal membangun bisnis ini, mereka berambisi untuk membantu semua orang. Hal itu yang diajarkan oleh kyai saat mereka minta restu dulu. Selain itu, Aryo rasa ini kesempatan bagus untuk menghindari paksaan istrinya. Meski waktu yang diberi mertuanya sangat sempit, tapi lelaki berwajah teduh itu tak mau segera bertemu orang tuanya.
Ini perjalanan bisnis yang panjang. Perusahaan yang menawarkan kerja sama itu memiliki beberapa cabang. Maka, untuk memastikan hal itu tidak merugikan, Aryo dan Rama perlu mengecek semua cabang. Benar-benar waktu yang pas. Aryo berharap dia akan bisa menemukan jiwa keberaniannya untuk bertatap muka lagi dengan ayah dan ibunya.
“Baik, aku setuju. Lagian aku juga perlu biaya untuk anakku sekolah besok. Tahun depan dia akan aku masukkan ke sekolah elit.”
Rama dan Aryo bersalaman.