Rencana yang sudah direncanakan itu tak boleh gagal. Salah sedikit pun tak boleh. Hanya dengan ke sanalah, mungkin ada kunci untuk menyelesaikan semua ini. Maka dari itu, untuk hari sabtu ini, keluarga mungil itu menuju rumah Pak Hasan. Meski pada akhrinya nanti akan menghasilkan perdebatan, tapi Nur akan sekuat tenaga membela suaminya. Ia hanya butuh suaminya untuk jujur dan inilah satu-satunya jalan.
Ban mobil meluncur cepat. Percikan air seketika mengambang, menyembur ke samping. Hujan tadi malam, membersihkan udara pagi ini. Mobil sedan berwarna putih itu, tak perlu memakai AC. Cukup jendela dibuka dan udara segar akan masuk. Pemandangan sawah yang tersiram cahaya mentari, terpantau dari jendela. Indah sekali.
Pilar-pilar cahaya yang menembus sela-sela dedaunan terlihat menyejukkan. Dedaunan pohon angsana di pinggir jalan terlihat bercahaya akibat terpaan matahari. Suasana sunyi jalan di pagi hari, membuat rileks. Burung cawu merentangkan sayapnya, menari indah di cakrawala biru. Dimas mendongakkan kepalanya ke luar. Ia membuka mulutnya seraya mencoba bicara.
“Dimas!” pekik sang ibu.
Yang diteriaki langsung masuk kembali ke mobil dan duduk manis. Aryo hanya tertawa melihat amarah istrinya yang menggebu-gebu. Aura manis yang tadi menghiasi wajahnya, sirna seketika.
“Dimas di belakang yang tenang, ya!” ujar Aryo sembari menengok anaknya dari spion dalam.
“Aku ingin lihat luar, Ayah!” rengek si bocah.
“Kan bisa dari dalam. Jendelanya aja bening.”
“Ok, deh!”
Dimas pun duduk tenang. Meski ia masih saja melihat ke jendela, dia kini tak membukanya. Anak kecil itu hanya diam dan lamanya perjalanan serta kenyangnya perut, membuat anak itu tertidur pulas.
Dengan diamnya si bocah, Aryo dan Nur dapat menikmati perjalanan dengan tenang. Tapi sunyinya perjalanan ini, membuat Nur teringat akan kecanggungan suaminya yang tak pernah hilang saat bertemu ayahnya. Ancaman Pak Hasan, tentu masih ada dalam pikiran Aryo.
Perempuan bermata almond itu menggenggam tangan Aryo. Kehangatan serta kelembutan sentuhan istrinya, membuat Aryo berangsur tenang. Ia mengembuskan napas lalu memperbaiki posisi duduknya. Di tatapnya nuansa jalan yang lengang. Lelaki berwajah teduh itu berharap mendapatkan sebuah jawaban untuk mertuanya nanti.
“Dia juga ayahmu Mas, santai saja!”
Aryo mengangguk. Walau badai di hatinya masih berkecamuk. Aryo sangat tahu Pak Hasan juga menyayanginya. Kalau tidak mana mungkin dia diam saja selama enam tahun ini. Bahkan waktu dirinya sakit, Pak Hasan yang menggantikan Nur menjaga dirinya.
Orang tua itu memang jarang bicara. Mungkin karena dia mantan militer, sehingga ia terbiasa bicara jika diperlukan saja. Pak Hasan memang tak pernah mengatakan kalau dia sayang kepada menantunya itu. Tapi Aryo masih sangat ingat kalau dia yang mendonorkan darahnya saat Aryo kekurangan darah. Dia juga yang mengatasi kebun bunga milik Aryo di rumah. Bahkan ketika Aryo pulang ke rumah sehabis sakit, Pak Hasan sudah menata rumah dengan baik dan juga memasakkan sesuatu.
Namun mungkin saja kali ini berbeda. Aryo belum sekali pun bisa mewujudkan impian Pak Hasan yang sangat sederhana, mendatangkan besannya.
Aryo mengembuskan napas panjang. Mata teduhnya menatap jalanan yang lengang. Sekilas ia menengok ke arah Nur. Dia amat tenang.
“Ya Allah …,” desahnya.
Semoga dengan perjalanan ini dan dengan pertemuan nanti, Pak Hasan akan menyerah dengan harapannya. Aryo benar-benar tak bisa bertemu dengan orang tuanya. Tidak akan pernah bisa.
***
Laju mobil melambat. Perlahan, Aryo memarkirkan mobilnya di bawah pohon mangga. Saat mobil benar-benar berhenti, Dimas bergegas turun. Ia langsung berlari menuju kakeknya yang tengah menyirami tanamannya.
“Kakek!” bocah itu merentangkan tangan lalau menghambur dalam pelukan kakeknya.
“Ouh cucuku, sudah berat kali kamu ini.” Tawa sang kakek pecah seketika.
Aryo dan Nur turut menghampiri. Mereka berdua sungkem.
“Sudah lama sekali kalian tidak mengunjungi orang tua ini. Apa kabar orang tuamu, Yo?”
Mendengar itu, Aryo bungkam. Mendadak napasnya berat. Pandangannya pun menunduk.
“Mereka …,” kata-kata Aryo menanggantung. Ia tak mungkin bisa berbohong di depan mantan tentara. Pernah sekali ia berbohong kalau Nur belum hamil, Pak Hasan malah sudah tahu terlebih dahulu.
Nur meraba tangan suaminya, lalu mengenggamnya erat-erat. Lalu dengan manja kepalanya menyendeh ke bahu Aryo. Ia benar-benar tidak mau Aryo memikirkan hal berat.
Pak Hasan menatap datar kelakuan anaknya. “Ah, sudahlah. Mari kita bahas itu di dalam! Mari masuk!”
Mereka berempat meninggalkan halaman dan masuk ke dalam rumah bergaya kolonial. Rumah dengan bentuk simetris serta tak bertingkat. Lantai marmer dengan warna krem yang indah. Pernak-pernik lampu kuning nampak menghiasi langit-langit. Indah nian. Tembok yang setengahnya dilapisi dengan pecahan keramik hitam, amat menawan. Sayang, tak ada satu pun yang memperhatikan keindahan itu.
“Dimas, Kakek punya ikan besar di belakang. Kamu tangkap ya, pake jaring ikan! Nanti kalau sudah kita bakar. Cepat sana! Anak lelaki harus tangguh, nggak boleh ngeluh sebelum dapat apa yang ia tuju.”
“Siap, Bos!”
Dimas dengan riangnya berlari. Setelah anak kecil itu hilang dari pandangan, sorot mata Pak Hasan langsung berubah. Alis lurus nan lebat. Mata elang, tajam menusuk. Bibir bungkam, menggaris. Wajah tegas, khas seorang mantan perwira. Semua itu, ia hujamkan ke Aryo.
“Apakah kamu sudah selesaikan masalah keluargamu, kalau belum cepatlah pergi! Aku tak sudi membiarkan putriku bersama dengan laki-laki pengecut sepertimu.”
“Ayah!” cegah Nur. Wanita itu tidak terima ayahnya berkata yang jelek di depan suaminya. Jangankan di depan, di belakang aja, dia pasti akan memprotesnya.
“Sudahlah Nur. Ayah memang suka dia sudah bertanggung jawab sepenuhnya terhadapmu. Tapi apakah kamu tidak malu? Seorang suami itu surganya ada di ibunya. Ayah ingin menanyakan hal ini langsung kepada suamimu sejak dulu, tapi selalu kamu cegah. Untuk sekarang, Ayah tak akan menahan diri lagi. Aryo! Apa yang sebenarnya kamu dan orang tuamu sembunyikan, hah?”
Hening. Hanya deru napas mereka bertiga yang terdengar. Hangatnya mentari pagi tak lagi terasa. Ruang tamu Pak Hasan terasa seperti penjara bagi Aryo. Bahkan kini tubuh lelaki itu tak bisa bergerak.
Aryo sama sekali tak berani menatap wajah mertuanya. Raut muka ceria yang selalu ia tampakkan luntur sudah. Senyumnya hilang. Keteguhannya runtuh. Wajah yang selama ini ia sembunyikan dari istri dan anaknya, tampak sudah.
“Maafkan saya, Pak. Sudah lama saya tidak dianggap anak lagi oleh mereka,” lirih Aryo.
Pak Hasan membelalak. Begitu juga dengan Nur. Mereka berdua tak menyangka dengan apa yang mereka dengar. Mereka kira Aryo hanyalah anak angkat orang tuanya yang mana orang tua angkat itu tidak menganggap Aryo lagi karena dia sudah dewasa. Dan kehadiran mereka di perta pernikahan hanyalah formalitas. Tapi ternyata lebih buruk dari itu. Orang tua kandungnya. Benar-benar orang tua kandung Aryo yang datang ke pernikahan itu dan mereka sudah tak menganggap Aryo sebagai darah daging mereka. Sebenarnya sebesar apa dosa Aryo kepada mereka?