BAB 4

1060 Words
Sebenarnya Aryo sudah muak dengan aktingnya. Enam tahun sudah ia menyunggingkan senyum palsu di hadapan istri dan anaknya. Aryo mengerti akan kecemasan istrinya. Ia tahu Nur ingin membantu menuntaskan masalah ini, tapi Aryo ragu. Ia ragu akan dirinya. Ia ragu keluarganya bisa menerima dirinya kembali setelah berbuat sesuatu hal yang sangat merugikan mereka. Bahkan mengancam mereka waktu di pernikahan kemarin. Aryo mengerjap. Ia ingat tentang foto keluarganya. Satu saudaranya dan kedua orang tuanya. Mereka baik-baik saja saat miskin, tapi kini uang benar-benar sudah membuat mereka buta. Maka dari itu Aryo tak mau mengulang kesalahan yang sama. Ia akan buang seluruh uangnya jika itu perlu. Yang penting keluarganya selalu bahagia. Yang penting ia harus selalu bersama keluarganya. Aryo menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba mengusir gundah di dalam dadanya. Lelaki dengan hidung pesek dan mata teduh itu pun memiringkan badannya. Ia tatap punggung istrinya. Perlahan ia angkat tangannya dan menyentuh rambut Nur. “Maafkan Mas, ya!” batin Aryo, tangannya meraba halus rambut sang istri. Nur mengerjap. Ia sebenarnya belum tidur. Perempuan itu ragu untuk membalikkan badannya. Setelah apa yang diucapkannya tadi, Nur merasa suaminya membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya. Nur ingin menutup matanya kembali, tapi urung. Perempuan bermata almond itu lebih memilih menyapu pandang, melihat kamar yang telah ia dan suaminya desain bersama. Kamar mungil dengan spring bed putih menghadap ke jendela. Halus, harum selimutnya menutupi tubuh Nur dan Aryo. Memang inilah yang diharapkan perempuan itu. Sebuah kamar dengan jendela yang mengarah ke luar. Di dinding bagian kanan terpampang foto keluarga. Ada Nur, Aryo, Dimas, dan Pak Hasan. Sayang tak ada foto sang mertua di sana. Meski foto itu terkesan hangat, namun sebenarnya hambar. Sedari SD Nur tak merasakan kasih sayang seorang ibu. Ia harap setelah menikah ia dapat merasakannya lagi. Namun impian itu harus kandas di tengah jalan. Semakin Nur melihatnya, semakin ia ingat akan mendiang ibunya. Memorinya berputar, membawanya mengenang tentang kenangan saat ia kecil. Jemarinya masih ingat betul betapa hangat genggaman sang ibu. Bibirnya pun demikian. Ia masih ingat betapa halus pipi sang ibu kala ia kecup. Nur rindu, tapi ketika ia harap hal itu bisa ia raih kembali dari sang mertua, harapan itu malah raib begitu saja. Aryo pasti tak paham betapa ia ingin curhat masalah anak kepada sang ibu mertua. Membesarkan anak sendiri tanpa kehadiran seorang ibu itu sangat berat. Ia kadang bingung apa yang harus dia lakukan ketika anak demam. Nur pun bingung bagaimana mengatasi anak yang pilek. Padahal waktu itu Dimas hanya bisa menangis saja. Namun karena Aryo selalu tak membahas keluarganya, Nur pun diam dan memendamnya sendiri. Setetes air mata mengalir. Perlahan-lahan tubuh Nur bergetar. Ia terisak. “Sayang ... kamu kenapa?” Tangan Aryo membalikkan tubuh istrinya. Nur ingin sekali jujur bahwa ia rindu dengan ibunya, namun bibirnya kelu. Matanya menangkap ada kerinduan juga di mata suaminya, membuatnya urung. “Mas, boleh nggak besok kita ke rumah ayah?” akhirnya hanya kata itu yang terucap. Aryo hanya mengangguk, walau sebenarnya ia takut. Telinga laki-laki itu masih sangat hapal akan ancaman mertuanya. Enam tahun sudah beliau bungkam, mengurungkan ancamannya, tapi mungkin besok dia akan benar-benar mengabulkan ancaman itu. Akankah Aryo dan Nur benar-benar dipisahkan? *** Pagi yang terang. Ditemani dengan pelita mentari yang tenang. Indah nian. Semilir angin pagi menghempaskan aroma kopi ke seluruh ruangan. Burung kutilang di teras menyanyi indah hendak menyanjung sang mentari. Dimas yang sibuk menyemprotkan air ke burung itu tampak sangat senang. Sesekali ia mencoba ikut bernyanyi dengan siulannya yang hanya berbuah air liur – sama sekali tak ada suara yang keluar dari sana. Kepulan bau makanan bertebaran tiada tahu arah. Hilir-mudik, asal masuk ke hidung semua orang. Sengaknya bau bumbu rempah-rempah membuat hidung gatal. Kali ini Nur sengaja membuat seisi rumah bersin. Ia hendak mengusir awan mendung yang sedari malam masih belum pergi juga. “Sayang .... Jangan masak yang aneh-aneh deh!” seru Aryo dari ruang tamu. Nur terkekeh. Ia ambil satu saset kopi lalu diseduhnya perlahan. Sekilas ia melihat bumbu yang ia masak, ternyata sudah matang. Nur langsung mengambil kangkung dan memasukkannya lalu mengaduk-ngaduknya. Setelah merata, kompor ia kecilkan kemudian mengambil secangkir kopi itu dan pergi menyuguhkannya ke sang suami. Dengan hati-hati ia menaruh kopi itu di atas meja. “Siapa yang masak aneh-aneh, Mas?” Perempuan manis itu mengalungkan tangan ke bahu suaminya. Kepalanya ia sandarkan di bahu kanan lelaki itu, “Justru kalau masakan membuat bersin, tandanya masakannya lezat,” tukasnya kemudian. “Istriku yang bawel. Lezat itu, kalau masakannya nggak gosong.” “Nggak bakal gosong, kok.” “Kamu ninggalin masakanmu untuk membuatkanku kopi, mending aku buat sendiri daripada menyusahkan istri, apalagi nanti sampai harus makan masakan gosong. Duh!” “Iya-iya suamiku.” Nur mengecup pipi suaminya lalu pergi ke dapur lagi. Di balik seruputan kopinya, Aryo tengah tersenyum. Lagi-lagi istrinya mampu mengusir pikiran kabut dari otaknya. Sedari malam ia masih terpikir tentang bagaimana menghadapi mertuanya yang galak nanti, tapi lewat suguhan kopi, ia merasa tenang. Lelaki berwajah teduh itu merasa istrinya menitipkan sebuah dukungan lewat seduhan kopinya. “Dimas, sarapan dulu!” seru Nur sembari menata makanan di atas tikar pandan. “Bentar, Bu!” jawab Dimas setengah berteriak dari luar. Nur mendengkus kesal. Ia melirik ke suaminya yang tengah membaca koran sembari menyuruput kopi. Yang dilirik lantas menoleh seraya nyengir. Aryo pun menaruh kopi dan korannya lantas menghampiri Dimas. “Dimas ... ayo sarapan dulu!” “Aaah, Ayah, si Rawi aja belum makan, masa aku tinggal,” rajuk Dimas. Matanya membulat, menatap iba burung peliharaannya. “Rawi nggak mau makan karena Dimas juga nggak mau makan. Kan sarapan bareng-bareng lebih nikmat.” “Ya udah. Aku sarapan di sini ya, Yah, bareng Rawi.” “Rawi nanti malu. Rawi makannya kan dikit nah kalau Dimas kan makannya banyak. Ayo bareng sama Ayah dan Ibu aja di dalem!” Sekilas Dimas tampak keberatan, namun uluran tangan ayahnya, ia raih. “Dah Rawi, nanti aku temenin lagi!” seru anak itu. Dimas berjingkrak-jingkrak ke meja makan. Ia melepas genggaman ayahnya dan duduk sila. Satu keluarga itu pun mengelilingi nampan makanan yang telah disediakan. Sengaja memang mereka memilih lesehan, pun tak ada sendok di samping atau depan mereka. Keluarga mungil itu telah bersepakat bahwa makan harus bersama di atas tikar pandan, bukan di atas meja. “Eh, Dimas sama Ayah belum cuci tangan, kan?” ingat Nur. “Hehe belum, Bu.” Aryo terkekeh. Ia bangun dan mengajak Dimas cuci tangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD