Nur tak bisa lagi menahan ayahnya. Dalam waktu dekat, Pak Hasan pasti akan bertindak. Beliau sudah sering mempertanyakan hal ini kepada Nur, tapi wanita itu selalu menolak. Sekarang, perempuan itu benar-benar terjepit. Jika ia tak menanyakan perihal mertuanya, ayahnya akan langsung menunaikan syarat yang dulu ia ajukan. Lelaki paruh baya itu akan memisahkan Aryo dengan anaknya.
Sayangnya, Nur ragu. Ia sama sekali tak mau mengulangi kejadian itu. Setiap kali ia hendak menanyakan perihal mertuanya, Nur selalu teringat akan raut suaminya. Tubuh yang bergetar hebat, sikap yang serta-merta berubah dingin, dan kebisuan yang merajalela. Wanita itu pun ingat bagaimana suaminya menangis tersedu-sedu di kamar mandi, setelah mendengarkan pertanyaan Nur itu.
Deru mesin mobil, menyadarkan Nur dari lamunannya. Ia pun langsung memeluk suaminya kembali. Tak lupa, wanita itu menghapus kegundahan dari wajahnya. Namun tampaknya, Nur telah didahului oleh Dimas. Anak itu sungguh bersemangat kala melihat ayahnya pulang.
“Ayah-Ayah, panggul!” rengek si bocah.
“Nggak boleh Dimas, Ayah kan baru pulang,” larang Nur.
Aryo tersenyum memandang kelakuan anak semata wayangnya. Dalam hati, ia ingin sekali mewujudkan permintaan kecil Dimas, tapi sendinya sudah seperti robot, kaku di mana-mana.
“Hari ini Dimas masakin sesautu loh, Mas,” celetuk sang istri, “katanya khusus buat Ayah. Aku mau nyicip aja nggak boleh.”
Anak kecil itu langsung berkacak pinggang, dadanya membusung. Ia bangga dengan dirinya.
“Makanya Ayah panggul aku, dong!” pintanya kemudian.
Aryo memandang istrinya lalu tertawa bersama. Rasa lelah karena seharian bekerja mendadak pergi begitu saja.
“Iya-iya, sini,” Aryo melingkarkan tangannya di pinggang Dimas lalu mengangkatnya.
“Asyik!”
Satu keluarga kecil itu masuk ke rumah. Rumah kecil yang hanya memiliki enam ruangan. Sengaja memang disusun demikian, agar keceriaan selalu dapat terikat dan terperangkap di dalamnya. Aryo tak akan pernah lupa bagaimana dirinya berdebat hebat dengan Nur ketika membangun rumah ini. Dimulai dari kamar mereka sendiri, ruang tamu, kamar mandi, dan dapur.
“Catnya harus pink, Mas!” usul Nur.
“Ini kan bakal jadi kamar kita, masa pink. Cokelat aja gimana?”
“Ya ampun, masa kamar catnya gelap. Nanti banyak nyamuk.”
“Banyak nyamuk kalau jarang dibersihin. Lagian kan ada ventilasi sama kacanya.”
“Lah kalau malam, hayo .... Belum lagi kalau mati lampu.”
“Hmm ... ok. Kita pilih warna biru muda aja, gimana? Kalau kamu mau warna pink, kamu bisa ngecat dapur, deal?”
“Ok, deal.”
Sepasang suami istri itu berjabat tangan.
Meski sering cerewet dan selalu berkomentar, Aryo senang memiliki istri yang mau berunding dengannya. Walaupun ia tahu kalau lelaki ditakdirkan sebagai pemimpin rumah tangga, tapi ia tak pernah menganggap sepele saran dari istrinya. Aryo tahu pasti, tiada pemimpin hebat, tanpa penasehat agung di sampingnya.
Maka jadilah rumah sederhana namun penuh dengan lukisan dinding. Hanya satu ruangan resmi yang dicat dengan satu kuas saja. Tidak lain dan tidak bukan itulah ruang tamu. Sedang kamar mandi, kamar tidur, dan musala disusun sedemikian rupa agar fungsinya kian kentara.
Rumah kecil yang menawan dengan segenap kenangan yang terjebak di dalamnya. Kenangan yang dirajut atas kekompakan keluarga. Inilah yang direncakan Aryo selama bertahun-tahun. Perlu usaha besar memang. Namun semakin besar usahanya, semakin manis pula hasil yang didapat. Rumah kecil itu tak pernah absen dengan yang namanya salat magrib berjemaah. Selepas sang kepala keluarga pulang, Nur dan Dimas langsung bersiap di musala.
“Mas, masih lama ya?”
Aryo terbangun dari lamunannya. Ia diam tak menjawab dan langsung pergi mandi secepat yang ia bisa.
Selang beberapa menit, ia pun menghampiri anak dan istrinya yang telah rapi di atas sajadah.
“Mas ngelamun lagi ya?”
Aryo hanya terkekeh. Ia sibuk melilitkan sarung kemudian menata diri untuk mengimami salat. Alunan takbir serta bacaan salat yang merdu menyeruak, memenuhi ruangan. Meski agak terbata-bata, si kecil Dimas mengikuti bacaan ayahnya.
***
“Ayo, Yah! Dimas mau ngaji!”
“Baru aja selesai salat, kita makan dulu, ya!”
“Nanti aja! Entar Dimas malah ketinggalan episode Kyuranger.”
“Acaranya kan baru mulai jam delapan.”
“Nggak mau.”
“Gini aja. Kita adu gunting, batu, kertas, nanti kalau Ayah kalah, kita ngaji dulu, kalau Ayah menang, kita makan dulu. Setuju?”
Dimas mengangguk. Aryo pun mengepalkan tangannya lalu menggerakkannya ke atas dan ke bawah.
“Tu Ting Tas, batu-gunting-ker ... tas,” ucap Ayah dan putranya bersama-sama.
Tangan Aryo membentuk kertas sedangkan Dimas mengepal, membentuk batu. Spontan tangan lelaki berwajah teduh itu membungkus tangan putranya dan ia pun menang.
Wajah Dimas terlipat. Bibirnya mengulum ke atas. Ia tidak terima atas kekalahan yang ia peroleh.
“Ayo dong, senyum! Kan nanti kalau nggak makan, perutnya akit.”
Jemari Aryo menggelitiki perut Dimas. Gelak tawa terdengar. Anak lelaki itu pun tak bisa menahan tawa. Sedetik, dua detik, ia telah lupa dengan kesedihannya.
Meski telah sering melihat itu, Nur tetap terharu melihat cara suaminya menghadapi Dimas. Setiap hari, ia merasa bahwa cintanya kian bertambah. Sempat dulu ia merasa cintanya salah berlabuh, namun sekarang pikiran itu tertepis jauh dari benaknya. Aryo memang berbeda dan agak di luar logika, tapi entah kenapa pada saat itu Nur mengiyakan ajakannya untuk menikah. Cinta memang aneh.
“Nah, mana nih yang masakannya, Dimas?” tanya Aryo bersemangat.
“Itu loh, Mas, itu!” timpal Nur.
“Yang mana? Yang ini? Ini? Atau ini?”
Aryo menunjuk-nunjuk semua makanan. Ia bingung, sementara istrinya hanya bilang “Ituloh-ituloh”. Nur pun merasa jengkel dan langsung mengambil lalu menyodorkan mangkok makanan yang ia maksud.
“Nih,” katanya.
“Oh ini, bilang dong!”
Nur mendengkus.
“Dasar laki-laki. Kapan mereka peka?” batinnya.
Walaupun sering merasa kesal, Nur selalu suka dengan kekonyolan yang dibuat Aryo. Hanya saja setelah semua kebahagiaan yang ia peroleh, ia masih belum puas. Jauh dalam benaknya, ia merasa tak berguna menjadi seorang istri. Istri yang baik akan selalu membuat suaminya melewati semua masalahnya. Namun, Nur belum bisa menyelesaikan masalah suaminya.
“A-a-a,” Aryo hendak menyuapi Dimas. “Haem,” tapi akhirnya makanan itu berubah haluan dan masuk ke mulut istrinya.
“Iih Ayah curang!” Dimas bersungut-sungut.
“Dimas kan udah gede, masa minta disuapin,” seloroh Nur.
“Dimas sama Ibu gedean mana?” timpal Dimas polos.
“Iih pinter banget sih jawabnya,” ujar Nur sembari mencubit pipi Dimas, gemas.
“Kan ayah yang ngajarin ....”
“Ouh, ayah ya!”
Tangan Nur beralih ke pipi suaminya. Ia pun mencubitnya agak keras.
“Mas pinter banget ya, ngajarin anak kita.”
“Hehehe,” kekeh Aryo.