Kejadian itu sudah berlangsung lama. Kini Nur dan Aryo telah resmi menjadi suami istri. Mereka dikaruniai putra yang lucu dan menggemaskan. Namun, setiap kali Nur mengingat prosesi lamaran itu, pipinya merona merah. Bibirnya pun ikut merekahkan senyuman. Tangan halus wanita bermata almond itu masih ingat, betapa hangat dan eratnya genggaman Aryo ketika mendapat restu. Harum punggung tangan lelaki berwajah teduh itu, masih sangat kental di indra pencium Nur.
Hanya satu yang mengganjal di ingatan Nur. Mertuanya tak bicara sepatah kata pun ketika mereka menikah. Seakan-akan mereka itu hanya turut hadir seperti itu saja. Bahkan ketika Nur sungkem, mereka memandang ke arah lain.
“Itu orang tuamu kenapa, Mas?” tanya Nur memastikan.
Aryo lebih sibuk berbicara dengan orang lain daripada berbicara dengan orang tuanya sendiri. Nur pun menyentuh pundak suaminya, meminta waktu. Aryo menoleh.
“Mereka lagi sariawan.”
Nur memincingkan alisnya, “Dua-duanya?” Nur memastikan.
“Iya.”
Nur langsung menyubit pipi suaminya. “Iih aku serius. Masa dua-duanya sariawan sampe nggak mau ngomong sama aku.”
Aryo tersenyum. Ia pun berbalik dan menghadapkan tubuhnya penuh ke arah Nur. “Mau aku buat kamu nggak banyak bicara juga?”
“Hah? Caranya?”
Aryo tertawa jahat. Ia pun memandang Nur dengan pandangan nakal. Perlahan Aryo mendekatkan wajahnya ke wajah Nur. Ia pun memejamkan mata dan dengan lembutnya bibirnya menangkap bibir Nur.
Wajah Nur langsung bersemu merah. Para hadirin pun langsung bertepuk tangan. Serta merta Nur dan Aryo langsung menjadi pusat perhatian. Nur mengalihkan pandangan. Ia pun mendorong tubuh Aryo dengan halus.
Aryo menaikkan alisnya, heran. Nur tersenyum. Ia menggigit bibirnya sendiri lantas dengan manja mengecup pipi suaminya.
“Nanti malam aja!” ujarnya sambil tertawa lalu melangkah menjauh, menemui teman-temannya yang sudah menunggunya di meja yang lain.
***
Kini kenangan tentang pernikahannya, terpampang gagah di tembok. Seringkali perempuan bermata almond itu menatapnya lekat-lekat. Ketika ia marah, foto itu selalu dapat menenangkannya. Tak ada satu pun wanita yang disukai suaminya selain dirinya. Namun, jauh dalam hatinya, Nur kian menyadari bahwa Aryo menanggung pedih yang begitu dalam di hatinya.
Aryo memang tak pernah mengatakannya, tapi mata lelaki itu mengatakan banyak hal. Apalagi ketika mereka jalan-jalan di taman dan Aryo melihat orang tua yang mengemban cucunya. Air wajahnya langsung berubah, ia buru-buru mengalihkan pandangan dan mengembuskan napas berat.
Nur
makin bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi. Apalagi dulu ketika wisuda,
Aryo digelandang oleh orang tuanya. Ia dimarahi habis-habisan, entah apa
sebabnya. Sebelum sempat berfoto bersama teman-temannya, lelaki berwajah teduh
itu telah dipaksa masuk ke mobil oleh ayahnya.
Bahkan
setelah menikah, ayahnya Nur tak henti-hentinya menanyakan perihal mertua
kepada Nur. Untungnya, wanita itu selalu bisa mengelak. Ia selalu bisa
meyakinkan urusan ini kepada dirinya.
“Biar
masalah ini aku dan Mas Aryo yang selesaikan, ya, Yah!” lirihnya
Sayangnya,
saat perempuan bermata almond itu bertanya tentang apa yang terjadi, suaminya
selalu mengelak. Dia cuma bilang bahwa semua ini hanyalah masalah dirinya
dengan orang tuanya. Bahkan, masalah ini jauh sudah dimulai sebelum ia kenal
dengan Nur.
Nur
mendesah. Ingin sekali dirinya menjadi Khadijah yang sempurna. Ia ingin
menyuguhkan hidangan ke hadapan mertuanya. Nabi Muhammad memang sudah tidak
memiliki orang tua kandung lagi. Tapi beliau memiliki kakek yang senantiasa
mendampinginya. Dan Dewi Khadijah selalu menghormati kakek suaminya itu. Sayang
tak hanya orang tua, seluruh keluarga Aryo menghilang begitu saja, bak ditelan
bumi. Nur ingin memeluk mertuanya dengan kasih sayang lalu mengaduhkan segala
masalah tentang suaminya. Sayang, hal itu tak pernah terwujud. Mereka hanya
datang ketika pernikahan dan setelah itu menghilang.
Berangsur-angsur matahari menapaki ranjangnya. Rona jingganya menyepuh langit. Bertahap-tahap binar lampu menggantikan cahaya mentari. Tepat ketika tarhim mulai berdendang, roda mobil lelaki berumur tiga puluhan itu sampai di rumahnya. Deru mesin sontak menggema, membuat keributan kecil di dalam rumah.
“Ayah!” teriak
seorang bocah.
Nur yang
mendengarnya tersenyum simpul. Ia pun langsung mengekor di belakang putranya.
Perempuan berumur dua puluh sembilan tahun itu memasang wajah sumringah.
Senyumnya tulus. Begitu segar. Ronanya sempurna mengembang. Matanya menatap
penuh ke arah suaminya.
“Alhamdulillah,
Mas sudah sampai.” Nur mengecup tangan suaminya. Ia pun tersenyum manis,
semanis mungkin. Nur juga ingin menjadi Aryo yang selalu bisa tersenyum apa pun
masalah yang ditanggungnya.
Dengan lembut,
Aryo mengusap kepala istrinya. Ia lamat-lamat berdoa, mendoakan agar Nur selalu
bahagia dan tak usah ikut campur dengan masalah yang ia bawa sebelum bertemu
dengan wanita ini. Aryo tak ingin Nur sedih. Untuk itu, Aryo juga membuat orang
tuanya tak berbicara sepatah kata pun ketika mereka menikah. Aryo bahkan pernah
mengancam orang tuanya. Jika mereka sampai berani melakukan sesuatu yang bisa
membatalkan pernikahannya, Aryo tak segan akan mengungkapkan fakta tentang keluarganya
di depan orang banyak. Maka dari itu orang tua Aryo langsung pergi, begitu
pernikahan telah usai. Mereka juga tak pernah muncul lagi. Begitu juga dengan
keluarga Aryo yang lain.
Aryo mengembuskan napas. Ia menyentuh pundak istrinya lalu mengangkat Nur hingga pandangan mereka saling bertemu. Lalu dengan segenap perasaan, Aryo menyunggingkan senyuman.
“Sudah masak?” tanya Aryo jahil.
Nur tertawa. Pertanyaan bodoh itu keluar lagi. Tentu ia sudah masak. “Nggak. Mending kita makan di luar yuk!”
Aryo tertawa lebar. “Boleh, tapi kamu yang harus tetap masak di sana.”
“Iih curang!” Nur mencubit pipi Aryo gemas.
Mereka bukan lagi pengantin baru, tapi kehangatan mereka sama sekali tak berkurang. Nur merasa hidupnya sudah sempurna. Andai saja suaminya tak menyembunyikan rahasia tentang dirinya dan orang tuanya, pasti perempuan bermata almond itu sudah merasa seperti Khadijah kedua.
“Aku sudah masak kok. Tinggal kamunya aja suka atau nggak,” tambah Nur.
Aryo menggulung bibirnya. “Alah itu mah gampang. Jika nggak enak, aku tinggal nyium kamu sekali. Setelah itu pasti masakannya enak.”
“Iih, dasar gatel.”
Aryo tertawa. Ia pun mengecup leher istrinya dan menghirup aroma badan Nur yang selalu membuatnya tenang.
Iya. Aku tak akan membiarkan sesuatu apa pun membuatmu sedih, batin Aryo.
Dimas tak mau kalah dengan ibunya. Ia pun langsung memeluk ayahnya dan menggapit tangannya. Dimas pun mencium punggung ayahnya. Senyuman terpancar begitu indah dari wajahnya. Inilah yang membuat Aryo betah pulang cepat. Bodo amat dengan kata orang yang lebih enak nongkrong setelah kerja daripada langsung pulang. Bagi Aryo penghilang stres dari pekerjaannya hanyalah dengan melihat istri serta anaknya.