"Arum..Arum" bik Irah mencoba membangunkan Arum yang tidurnya lelap banget.
"Ehhh..bibik" Arum menggeliat khas orang baru bangun tidur "Eh maksudnya ibu" kata Arum malu malu karena belum terbiasa memanggil bik Irah dengan panggilan ibu. Arum duduk dan menoleh ke jendela yang sedikit terbuka tirainya dan dilihatnya cahaya menembus ke kamarnya. Sesaat Arum tersadar "sudah pagi ya bik? Maaf Arum tidurnya lama" katanya tidak enak
"Tidak apa apa Arum, kamu pasti lelah banget seharian kemarin sudah bantuin acara nikahan Mira" Arum cuma mengangguk tidak semuanya salah, Arum memang cape banget karena acara kemarin tapi yang membuat dia tidak bisa tidur semalaman karena teringat ciuman dari kak Dafi. Seumur hidupnya Arum tidak pernah merasakan hal itu. Dan itu adalah ciuman pertamanya. Sehingga dia baru bisa memejamkan matanya saat menjelang subuh. Hasilnya dia bangun kesiangan dan lebih memalukan calon mertuanyalah yang membangunkan.
"Arum belum buat sarapan buat ibu dan kak Dafi" Arum baru tersadar, biasanya dia bangun pagi dan bantuin calon ibu mertuanya.
"Tidak usah, tadi ibu sudah buat. Kamu cuma harus temani mas mu itu sarapan. Ibu mau ke rumah bu Eni sebentar mau nganter barang yang kemarin di pinjam".
"Nanti biar Arum aja yang antar bu, ibu istirahat saja di rumah" ucap Arum takut calon ibu mertuanya kelelahan.
"Tidak usah. Ibu kalau kebanyakan istirahat malah badan ibu sakit sakit. Jadi selama ibu mampu ya ibu kerjain" jawab ibu semangat "sudah kamu mandi dulu, mas mu masih di luar bantu bantu angkat kursi yang di sewa kemarin, nanti ajak sarapan" suruh ibu
Selesai mandi Arum memakai gaun rumahan yang nyaman di pakai dan menyiapkan makanan di atas meja. Dia lihat kak Dafi ada di luar sedang mengobrol dengan bapak bapak dan ada juga dua gadis sepertinya teman kak Mira dan kelihatannya tertarik dengan kak Dafi. Membuat Arum cemberut melihat nya tapi untunglah sepertinya kak Dafi tidak menghiraukan gadis gadis itu. Arum mencoba mengintip di belakang pintu. Tidak lama dua bapak yang mengobrol dengan kak Dafi tadi berpamitan pergi sehingga memberikan peluang dua gadis itu untuk mendekati kak Dafi.
Setelah membantu dan sedikit mengobrol dengan dua bapak yang menyewakan kursi maupun tenda untuk acara nikahan kemarin mereka pun berpamitan pergi. Dan setelahnya dua gadis yang dia tau teman temannya Mira yang juga menyukainya yang dari tadi berdiri tidak jauh darinya mulai mendekat. Dafi menatap dua gadis di depannya dengan malas.
"Mas Dafi apa kabarnya? Tanya salah satu gadis yang berambut panjang.
"Baik" jawab Dafi malas
"Mas, masih ingat Nia gak? Tanyanya lagi
"Tidak" lagi lagi singkat
"Nia temannya Mira mas, waktu itu Nia pernah nitip surat sama Mira. Apa mas sudah baca? Tanyanya malu malu.
"Sudah" jawab Dafi. Ingin secepatnya mengakhiri pembicaraan ini
"Lalu, jawaban mas apa?" Tanyanya lagi dengan pipi yang memerah dan terlihat percaya diri
"Saya tidak suka sama kamu lagi pula saya sudah punya tunangan" jawab Dafi sambil mengangkat tangannya dan memperlihatkan jari manisnya yang dilingkari cincin pertunangannya dengan Arum. Membuat gadis itu pucat pasi dan tanpa cape cape memikirkan perasaan gadis itu Dafi langsung berlalu dan masuk ke rumahnya. Karena buatnya Arum satu satunya yang membuatnya tertarik. Saat Dafi membuka pintu "Duk.. aww" teriaknya. Ternyata Arumnya ada di belakang pintu sambil mengusap usap pelipisnya yang terlihat memerah.
"Kamu kenapa di depan pintu?" tanya Dafi menyelidik ikut mengusap pelipis Arum
"Oh itu.. Arum mau memanggil kakak buat makan. Tapi karena kakak lagi mengobrol dengan mbak cantik tadi jadinya Arum cuma menunggu di depan pintu" katanya polos.
"Sekalian menguping kan" godaku
"Sedikit" ucap Arum dengan wajah malu. Membuatku ingin menciumnya seperti semalam.
"Cup..cup" kecupanku bersarang di bibir mungil Arum "Kamu bahkan lebih cantik darinya" ucapku. membuat pipi Arumku semakin memerah.
"Apa sakit?" tanyaku sambil mengusap pelipis Arum yang memerah.
"Sedikit tapi sudah tidak apa apa" jawabnya, Arum bukan gadis manja yang akan kesakitan hanya karena kejedot pintu "ayo kak kita makan dulu" ajak Arum menarik tanganku ke meja makan. Namun saat di depan meja makan, aku menarik tangan Arum duduk di pangkuanku dan menghadapku "cup" lagi, aku mencium Arum tapi kali ini dengan lebih lembut dari pada semalam. Seolah Arum adalah candu baginya. Aku terus melumat bibirnya cukup lama saat Arum dirasanya mulai kehabisan napas bibirnya berpindah turun ke bawah mengecup lehernya yang putih bahkan tangannya mulai meremas bagian tubuh Arum dari pinggulnya yang berisi perlahan naik dan berhenti di dadanya Arum yang terasa kencang dan kenyal meskipun masih terhalang bra dan kaos yang dikenakan Arum. Aku merasa ini sesuatu yang baru dan akan menjadi mainan baru favoritnya. Ingin rasanya aku membuang benda yang sudah menghalanginya untuk menyentuh Arum secara langsung. Penisnya pun terasa mengeras di bawah sana, aku ingin melampiaskannya pada Arum. Memasukannya kedalam milik Arum yang sempit hingga Arum terus mendesahkan namaku.
"Ahh.." Arum mendesah saat kak Dafi terus meremas lembut payudaranya. Bibirnya kak Dafi pun masih mencium lembut lehernya dan sesekali menggigitnya. Arum pertama kali merasakan hal ini dan rasanya membuat Arum ingin mengeluarkan sesuatu dari bawah tubuhnya. Arum terbuai saat tangan kak Dafi terus memijat payudaranya yang kencang dengan lembut walaupun dengan tekanan yang cukup kuat. Sedangkan tangannya berada di rambut panjang kak Dafi meremasnya pelan untuk melampiaskan rasa nikmat yang di berikan tunangannya saat ini. Arum bahkan merasakan tekanan yang terus menggeliat di pantatnya yang berisi hingga membuatnya kaget.
"Kak Dafi" cicitnya pelan, Arum merasa malu saat dirinya menyadari mereka sedang saling menikmati tubuh masing masing, atau hanya kak Dafi yang menikmati dirinya. Walaupun mereka masih berpakaian lengkap.
"Hmm.." jawab kak Dafi yang menenggelamkan wajahnya di ceruk leher putihnya rasanya geli, namun aku tahan. Kak Dafi menyesap wangi tubuhku yang sedikit berkeringat akibat ulahnya. Bahkan tangan kak Dafi pun belum mau berpindah sama sekali dari dua gundukan payudaraku yang sangat pas di telapak tangannya.
"Nanti ibu datang, Arum malu" ucapku pelan
"Jadi kalau ibu tidak ada, kamu tidak malu?" tanya kak Dafi lagi.
"Tapi kan tidak boleh, kita belum menikah kak" jawabku. Aku harap kak Dafi tidak marah
"Kau tunangan kakak, dan kakak berhak atas kamu" tegas kak Dafi dengan tatapannya yang mengintimidasi dan aku tidak mampu untuk membantah lagi.
"Iya, tapi Arum lapar" jawabku, selain aku beneran lapar aku juga ingin mengalihkan pikiran kak Dafi, kalau sampai kepergok ibu kan malu terus bagaimana kalau ibu marah.
"Ya sudah, kamu memang harus banyak makan biar tambah kencang" kak Dafi meremas payudaraku sebentar dan menjauhkanku dari pangkuannya.
"Kamu makan duluan, nanti kakak menyusul" kak Dafi beranjak dan masuk ke kamar mandi. Kak Dafi kok mesum ya, kenapa cium aku terus pikirku. Bagaimana nanti kalau aku tinggal bersama kak Dafi.