BAB. 6. Cuman Pertama

1000 Words
Hahh rasanya melelahkan, aku butuh istirahat setelah seharian menyambut tamu undangan. Bude Dian dan ibu ibu tetangga masih ada di luar untuk membantu membersihkan bekas dan sisa acara hari ini. Mira sudah pulang ke rumah mertuanya, mungkin dua hari ini dia tinggal di sana. Sedangkan aku besok harus pulang. Aku memejamkan mataku dan kesadaranku pun perlahan hilang. "Tok..tok.." bunyi ketukan pintu terdengar, aku membuka mataku meski berat. siapa yang ngetok pintu sih? Aku kembali memejamkan mataku "Masuk saja" perintahku, pintunya memang tidak aku kunci dan aku malas untuk membukanya, mungkin itu ibu. " kreek.. " bunyi suara pintu terbuka tapi belum ada suara yang memanggilku "Kak Dafi" suaranya pelan. Aku terlalu malas untuk menyahut. Tapi suara ini... Arum! Aku secepatnya membuka mataku walau aku masih mode berbaring telentang dengan pakaian adat lengkap, tadi rasanya aku sama sekali tidak memilki kekuatan bahkan hanya untuk mengganti baju. Aku menatap ke arahnya yang ternyata sudah berganti baju tidur bergambar hello kitty, lucu tapi aku lebih suka melihatnya memakai baju tidur yang lebih terbuka biar aku bisa menikmatinya. "Jam berapa sekarang?" tanyaku serak "Jam sembilan malam kak" jawab Arum dengan lembut, apa dia selalu secantik ini bahkan tanpa bedak diwajahnya itu "Kak Dafi tidak ganti baju atau kakak mau mandi? Biar Arum siapkan air panasnya dulu soalnya ini kan sudah malam" tanyanya. Aku bangun dari baringku duduk di atas ranjang dan menghadapnya, aku menggelengkan kepalaku. "Tidak usah, kakak akan mandi air dingin saja" aku memang memerlukan air dingin sekarang, hanya melihatnya saja sudah membuatku keras apalagi kalau menyentuhnya dan dia adalah tunanganku, milikku. "Kamu ada perlu sama kakak?" aku terus menatap wajahnya yang cantik dan dia tampak tersipu dan terlihat salah tingkah tapi aku suka melihatnya "Oh itu, aa Arum mau mengambil sebagian baju Arum yang masih ada di lamari" jawabnya gugup. Aku beranjak dari dudukku dan mengambil koper ku yang tersimpan di atas lemari "Masukkan semua bajumu ke koper, besok kita berangkat" "Berangkat kemana kak?" tanya Arum "Ibu belum bilang apa apa sama kamu? Tanyaku menyelidik. Arum menggeleng. "Ibu tidak ada bilang apa apa" tatapnya seolah bertanya, Arum sekarang sudah memanggil ibuku dengan sebutan ibu bukan bibik lagi itu memang permintaan ibuku. "Besok kita akan pergi ke kota, dan kamu harus ikut sama kakak" tegasku "kalau kamu tetap tinggal di desa ini, siap siap jadi istri kedua bandot tua itu, kamu mau?" Aku sengaja menakut nakuti Arum biar dia mau ikut secara sukarela. Dengan cepat Arum menggeleng "Aku akan ikut kak Dafi" Sesuai prediksikan? "Tapi ibu sendirian?" khawatirnya " Ada Mira dan suaminya. Mereka akan tinggal di sini bersama ibu" "Oh.. Kalau begitu Arum akan memasukan baju baju Arum ke koper" ucapnya. Inginku menciumnya tapi ini bukan waktunya pikirku "Kakak mau mandi dulu, kamu tetap di sini jangan kemana mana" perintahku. Aku mengambil handuk dan celanaku dan membawanya ke kamar mandi Ahh rasanya segar banget tidak lengket seperti tadi, aku tidak melihat ibu dari tadi, kemana ya? Aku mencari ibu ke kamarnya ternyata ibu sudah tertidur mungkin kelelahan, akupun menutup pintunya pelan tidak mau mengganggu tidur ibu. Aku kembali masuk ke kamarku dengan bertelanjang dada dan celana hitam selutut serta rambut yang masih setengah basah dan handuk ditangan. Saat kubuka pintu kamar ternyata Arum mematuhi perintahku untuk tidak pergi kemana mana, dia tetap pada posisi yang sama di samping lemari sambil menutup koper. "Kak Dafi, Arum boleh keluar? Arum sudah memasukkan baju Arum yang disini tingal yang ada di kamar teh Mira" Arum menatapku dengan muka yang memerah dan kembali menunduk. Aku mendekat dan duduk di atas ranjang dan aku memintanya untuk duduk di sampingku "Arum kesini!" Perintahku sambil menepuk kasur yang sedang ku duduki, tapi Arum cuma diam memandangku "Arum!" kali ini aku terpaksa bersikap galak. Seorang Dafi memang tidak suka dibantah apalagi sama gadis yang dia suka. Yah kecuali ibunya, Dafi justru akan bersikap lembut dan sayang pada ibunya. Akhirnya Arum menuruti perintah Dafi dengan gugup Arum duduk di sampingnya. "a ada ap..." belum sempat Arum menyelesaikan pertanyaannya Dafi sudah membaringkan tubuh Arum di sampingnya dengan cepat dan langsung melumat bibirnya dengan rakus dan tangannya berada di samping kepala Arum untuk menyangga tubuhnya. Manis itulah yang dirasakan Dafi bahkan dia kesulitan untuk melepas bibir gadis yang sedang di tindihnya ini. Dari hari pertama Dafi memang ingin melakukan ini namun saat itu gadisnya ini bukanlah miliknya tapi sekarang status Arum adalah tunangannya dan enam bulan lagi dia akan menikahinya sesuai janjinya kepada ibunya. Dafi terus melumat bibir Arum sesekali menggigitnya gemas "aahh.." karena gigitan Dafi Arum membuka bibirnya dan memberikan keleluasaan bagi Dafi untuk memasukan lidahnya ke mulut Arum menyusuri seluruh rongga mulut dan lidahnya seakan bibir arum adalah makanan terlezat. Dafi terus melumat bibir itu sampai Arum kesusahan bernapas dan berusaha melepaskan diri. Dengan terpaksa akhirnya Dafi melepaskan lumatannya pada Arum. Arum merasa seperti baru keluar dari lautan sangat dalam dan mengambil udara sebanyak banyaknya. Dafi tidak bisa mengontrol dirinya saat bersama Arum dan ini pertama kalinya dia seperti ini . Dafi terus memandangi wajah cantik tunangannya yang berada di bawahnya saat ini yang masih terlihat terengah engah dan itu membuat Arum terlihat jauh lebih sexy . Dafi masih ingin mencium gadisnya ini tapi dia tau Arum butuh bernapas. Saat Arum sudah bisa bernapas dengan normal Dafi kembali mencium Arum tapi kali ini hanya berupa kecupan kecupan kecil di bibir Arum dan seluruh wajah Arum. Arum bagaikan candu buatnya dan ini juga adalah ciuman pertamanya selama hidupnya dua puluh tujuh tahun ini. "Kak Dafi berat" cicitnya pelan dengan wajahnya yang tampak menahan malu untung telinga Dafi bisa mendengarnya. Dafi tersenyum dan sekali lagi memberikan ciuman di bibir Arum sebelum beranjak dari tubuh mungil Arum. Dafi duduk kembali dan membantu Arum untuk duduk di sampingnya, Dafi memperhatikan bibir Arum yang bengkak karena ulahnya tadi dan merapikan rambut Arum yang acak acakan dengan sayang membuat Arum malu setengah mati. "Arum kembali ke kamar teh Mira ya kak? Tanya Arum "Hmm.. tidurlah" ucapku. Kalau aku membiarkannya di sini yang ada Arum akan ku buat mendesah sepanjang malam. Kurasa aku harus mandi air dingin lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD