Aku, teh Mira dan bik Irah baru pulang dari rumah pak Bagus juragan teh di desa ini, beliau orang yang baik dan suka membantu warga di sini. Karenanya waktu mendapat kabar kalau pak Bagus sakit bik Irah langsung mengajak aku dan teh Mira ke kediaman beliau hanya untuk sekedar silaturahmi, bukankah menjenguk orang sakit suatu keharusan. Apalagi selama ini pak Bagus juga sangat baik pada keluarga bik Irah. Tapi saat di tengah jalan ada tiga orang yang mecegat kami, mereka rentenir yang selalu menggangguku.
"Apakabar Arum? kamu makin cantik saja akhir akhir ini" ucap bandot tua itu, aku benar benar muak dengan rayuannya.
"Jangan ganggu Arum lagi, bukankah kamu sudah mendapatkan rumah itu" kata bik Irah berusaha meindungiku
"Saya tidak butuh rumah itu. Yang saya mau kamu Arum, menikahlah dengan saya maka semua yang kamu mau akan saya berikan" kata bandot tua itu dan aku sama sekali tidak tertarik dengan semua itu.
"Saya tidak sudi menikah dengan anda. Anda bahkan lebih pantas jadi kakek saya" jawabku lantang. Dan bandot tua itu terlihat marah.
"Bawa dia" perintahnya pada dua anak buah premannya itu. Tanganku ditarik secara paksa oleh dua orang itu dan bik Irah juga Teh Mira berusaha melepas tarikan mereka. Oh Tuhan tolong aku seandainya ada Kak Dafi di sini, entah kenapa yang kuingat adalah wajah kak Dafi.
"Apa yang kalian lakukan hah,,?" ya Tuhan itu beneran kak Dafi. Setelah itu semuanya terjadi begitu cepat, kak Dafi dengan mudah menjatuhkan mereka dan memukul mereka secara brutal untunglah ada bik Irah dan teh Mira yang menyadarkan kak Dafi rasanya aku ingin memeluk kak Dafi saat ini juga dan menangis di dadanya. Kak Dafi menatap ke arahku dengan rambut panjang berantakannya yang berusaha dia rapikan kembali dengan karet yang mengikat rambutnya. Bolehkah aku yang melakukannya? Ya tapi itu hanya terucap di dalam hatiku saja.
"Terima kasih kak Dafi" ucapku pelan
"Hmm.. Ayo kita pulang!" kata kak Dafi sambil terus menatapku kemudian beralih ke bik Irah dan teh Mira. Tuhan aku ingin memiikinya kurasa aku benar benar jatuh cinta sama kak Dafi dan dari tadi jantungku terus berdetak keras memandang punggung lebar kak Dafi dari belakang.
Sekarang aku sedang berada di kamar bersama teh Mira, sebenarnya aku ingin mengobati lebam lebam yang ada di tangan kak Dafi tapi aku malu melakukannya jadi biarlah bik Irah yang melakukannya. Aku merebahkan tubuhku dan berusaha untuk memejamkan mataku namun yang ada aku terus membayangkan wajah kak Dafi. Teh Mira duduk di disampingku.
"Rum menurutmu bagaimana mas Dafi?" aku membuka mataku menatap teh Mira, apa yang harus ku jawab coba, masa aku bilang mas Dafi ganteng yang ada aku akan di ketawakan teh Mira.
"Mas Dafi baik" jawabku.
" Masa cuma baik itu jawaban standar Rum" celoteh teh Mira
"Harusnya.."
"Rum ada yang ingin bibik bicarakan sama kamu" di saat yang sama bik Irah bersuara setelah membuka pintu kamar. Jadilah teh Mira diam tidak melanjutkan omongannya tadi, Selamaaat.
"Iya bik, ada apa?" Tanyaku beranjak dari rebahanku dan duduk disamping teh Mira dengan senyum yang selalu menghias bibirku
"Kalau bibik menjodohkanmu dengan mas Dafi Arum mau? Aku menatap bik Irah juga teh Mira yang tersenyum menggoda, tapi aku belum mampu untuk menjawab pertanyaan bik Irah. Ini terlalu cepat aku sama sekali tidak dekat dengan mas Dafi. Aku takut mas Dafi tidak suka padaku.
"Tadi bibik sudah bertanya pada mas mu dan dia sudah setuju dengan perjodohan kalian, kalian cuma harus bertunangan dulu untuk saling mengenal. Setelah kalian siap maka kalian berdua harus menikah" jelas bik Irah, benarkah mas Dafi sudah setuju? Apakah itu artinya mas Dafi juga suka sama Arum?
"Arum ayo jawab" teh Mira menjawil tanganku dan menyadarkan dari lamunanku. Aku menganggukkan kepalaku
"Iya bu, Arum mau" jawabku bahagia. Aku akan menjadi gadis paling bodoh kalau melewatkan kesempatan yang diberikan Tuhan untukku saat ini.
"Syukurlah" ucap mereka berdua bersamaan dengan wajah bahagia seperti aku.
"Tidak perlu ada pesta yang penting kalian tukar cincin dulu, nanti saat pernikahan kalian baru ada pesta. Tidak apa apakan Arum?"
"Tidak apa apa bik, Arum sama sekali tidak masalah" buatku asal bisa bersama mas Dafi sudah cukup.
"Ayo kita temui mas mu di luar" bik Irah menggengam tanganku dan menarik ku keluar menuju ruang tamu di mana Kak Dafi duduk. Kak Dafi terus menatapku tanpa sedikit pun memalingkan pandangannya padaku
"Jangan dipandang terus mas, nanti Arumnya kabur lagi" kata teh Mira entah menggoda kak Dafi atau Arum. Setelah itu teh Mira tertawa lebar melihat mukaku yang sudah merah seperti tomat. Sedangkan mas Dafi dia tetap seperti biasa sama sekali tidak terusik dengan godaan Mira. Untungnya orang orang yang tadi memenuhi rumah ini sudah pada balik ke rumah masing masing termasuk bude Dian yang dari pagi tadi sudah datang membantu persiapan acara pernikahan besok lusa.
"Arum kamu duduk disini" bik Irah membimbingku duduk di samping kak Dafi dan lagi lagi jantungku tidak bisa di ajak kerjasama.
"Ibu ingin kalian bertunangan hari ini juga tidak apa apa cuma bertukar cincin, setidaknya dengan ini ibu yakin kalian berdua akan secepatnya menikah, ingat janjimu lo mas enam bulan lagi kamu harus menikahi Arum"
"Iya bu aku janji, tapi masalahnya.." mas Dafi menggaruk kepalanya yang kurasa tidak gatal.
"Apa toh mas" tanya ibu yang juga membuatku penasaran
"Aku kan belum beli cincin bu" jadi masalahnya cincin toh, padahal aku tidak masalah tanpa cincin bahkan kalau kak Dafi cuma memberikan cincin hadiah dari kinderjoy pun akan tetap ku pakai.
"Oh iya. ibu sampai lupa" bik Irah beranjak kekamar dan kembali dengan membawa kotak kayu kecil dengan senyuman. ibu duduk di kursi depan kami dan membuka kotak itu yang isinya ternyata cincin emas.
"Ini cincin nikah ibu sama bapakmu, tapi karena sudah kekecilan ibu tidak pernah memakainya lagi, lagi pula ibu kan sudah punya cincin yang baru"
"Tapi inikan cincin ibu dan bapak?" kata kak Dafi merasa tidak enak
"Tidak apa apa, lagi pula ini memang ingin ibu wariskan sama kamu mas, nanti kalau kamu sudah punya banyak uang kamu belikan Arum yang lebih bagus"
"Ini juga sudah cukup buat Arum bik" sahutku
"Tuh kan mas, Arum itu bukan gadis yang suka menuntut" bik Irah memandangku dengan sayang
"Sudah, kamu pakaikan nih ke jari Arum" suruh bik Irah. kak Dafi memakaikan cincin ke jari manisku dan Alhamdulillah pas di jariku.
"Arum, kamu juga" aku mengambil cincin itu dengan gugup rasanya seperti aku ketahuan nyontek mungkin lebih. Dengan tangan gemetar aku memasang cincin ke jari manisnya kak Dafi dan untungnya juga pas. Sekarang kami resmi bertunangan dan ini seperti mimpi bahkan aku belum berani untuk memandang kak Dafi.
Hari ini adalah hari pernikahan adikku Mira, satu jam yang lalu adalah dimana tugas dan tanggung jawabku berpindah pada Aryo laki laki yang telah menjadi suami adikku, namun begitu aku akan tetap memperhatikannya walau dari jauh. Acara masih berlangsung, banyak tamu yang berdatangan untuk memberikan selamat pada mempelai. Keluarga, tetangga dan teman teman dekatku juga berkumpul di acara pernikahan adikku ini, bisa dikatakan ini juga menjadi ajang silaturahmi diantara kami. Namun pandanganku tidak pernah lepas dari tunangan cantikku itu, dia ikut membantu dalam acara ini. Semenjak pertunangan sederhana kami itu tidak sekalipun kami berbicara apalagi berdekatan. Dia disibukan banyak hal untuk menyiapkan pernikahan ini begitupun aku. Lagi pula ibu atau pun Mira bahkan kadang kadang bude Dian selalu ada di dekatnya secara bergantian, benar benar tidak ada kesempatan berdua dua an. Mungkin tidak sekarang. Setelah aku dan Arum pergi ke kota, Mira dan suaminya akan tinggal di sini karena ibu sendirian di rumah ini dan untungnya suami Mira tidak keberatan dari pada mereka harus menyewa rumah dan rumah ini juga cukup besar untuk mereka tinggali.