Pukul empat sore dan aku baru terbangun setelah merasa lapar, untungnya ada banyak makanan yang tersedia dalam tudung saji. Ternyata ada banyak ibu ibu tetangga dan juga bude Dian di rumahku untuk membantu persiapan pernikahannya Mira.
"Eh Dafi kamu sudah pulang nak? Bude kira kamu tidak datang, ibu kamu sempat khawatir lo nak?" bude Dian memang sangat perhatian pada keluarga kami sama seperti pakde Sidiq satu satunya saudara ibuku.
"Iya bude, aku baru pulang tadi pagi. Soalnya aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan di bengkel"
"Iya tidak apa apa nak, yang penting kamu sudah datang sekarang"
"Oh ya bude, ibu mana? Dari tadi aku tidak melihat ibu?" tanyaku
"Ibu kamu tadi pergi sama Mira dan Arum katanya sih mau menjenguk pak Bagus yang sedang sakit"
"Oh pak Bagus sakit apa bude?" aku sedikit mengenal pak Bagus beliau orang yang dihormati di desa ini selain itu pak Bagus juga sangat baik sama warga sini bahkan sama keluarga kami.
"Kalau itu bude juga tidak tahu" jawab bude Dian
Setelah membersihkan badan akupun memakan makanan yang ada. Rasanya enak, sudah lama tidak makan makanan rumah. Sepertinya ibu, Mira dan Arum pergi saat aku tidur tadi. Selesai makan aku mengambil jaketku dan keluar jalan jalan sebentar. Aku terus menapak desa ini yang tidak banyak berubah masih alami dan udaranya masih segar beda sama di kota. Aku berpapasan dengan beberapa orang yang kukenal di desa ini dan sedikit mengobrol dengan mereka sebelum aku melanjutkan menyusuri jalan setapak desa ini. Tidak jauh dari tempatku sekarang aku melihat dua orang laki laki terlihat seperti preman dan pria tua dengan gaya soknya memerintah dua orang tadi, sepertinya dia adalah bosnya. Menyuruh dua anak buahnya membawa paksa gadisku, ya aku mengklaimnya sebagai gadisku dan tidak ada yang boleh menyentuhnya selain aku. Selain itu ada ibu dan adikku yang mencoba melindungi Arum. Aku bergegas menuju ke arah mereka.
"Apa yang kalian lakukan hah..? Ucapku dengan nada marah
"Bukan urusanmu, sebaiknya kau pergi kalau tidak mau berurusan dengan kami!" ucap salah satu preman itu yang masih memegang tangan Arum yang sangat ketakutan.
"Mas tolongin Arum mas, kasihan Arum" ucap adikku yang hampir menangis.
Aku segera melepaskan tangan tangan preman itu dari Arumku aku tidak sudi mereka menyentuhnya sedikitpun. Untungnya aku bisa melepaskannya dan menariknya kebelakang. Tentu saja preman preman itu tidak tinggal diam, mereka berusaha memukul perutku tapi aku berhasil menangkis dan memukul balik ke arah mereka, aku memelintir salah satu tangan preman dan menendang satu preman lagi mereka jatuh dan mengaduh kesakitan tapi aku terus memukul mereka dengan brutal sampai mereka minta ampun. Sedangkan pak tua itu lari ketakutan melihatku, aku memang sulit mengendalikan emosiku kalau itu berhubungan dengan orang yang kusayang.
"Ampun.. Ampun kami minta maaf, kami tidak akan melakukannya lagi" ucap mereka dengan kesakitan
"Mas sudah, kamu bisa membunuh mereka" ibuku mencoba untuk menyadarkanku begitupun adikku yang melepaskan tanganku untuk memukul dua preman itu lagi.
"Sudah mas, mereka juga sudah babak belur gitu" ucap adikku "rasain kalian, makanya jangan macam dengan masku" sambungnya dengan mengejek para preman itu. Akupun menjauhi mereka dan melihat ke arah Arum yang tertegun melihatku dengan rambut panjang berantakan yang coba kurapikan kembali. Dari kecil aku memang sudah mempelajari pencak silat jadi tidak sulit menghadapi dua preman yang bahkan tidak menguasai beladiri apapun cuma mengandalkan tampang sangar preman mereka saja.
"Terimakasih kak Dafi" cicit nya pelan tapi masih bisa kudengar, ingin aku memeluknya dan menciumnya sekarang juga tapi itu hanya ada dalam pikiranku, bisa direbus ibuku kalau sampai aku melakukannya jadi yang bisa kulakukan cuma mengangguk.
"Hmm..ayo pulang" kataku menatap Arum kemudian kearah ibu dan adikku
Dirumah ibu memberikan obat anti septik pada kedua tanganku yang terlihat lebam, ibu menyuruh Arum untuk istirhat di kamar adikku yang masih terlihat syok dan Mira menemaninya dikamar.
"Untung kamu datang mas, coba kalau tidak Arum pasti di bawa paksa oleh bandot tua itu"
"Mereka siapa bu?" aku ingin tahu kenapa mereka ingin membawa Arum
"Mereka itu rentenir di desa ini, yang tua itu adalah bos nya. Dia memiliki banyak tanah di desa ini makanya bisa bersikap seenaknya. Tidak ada yang berani melawan karena takut dengan para preman"
"Arum punya hutang?" tanyaku
"Dulu waktu ibunya sakit dan memerlukan banyak uang untuk pengobatan, Arum terpaksa menggadaikan rumahnya. Tapi setelah ibunya meninggal Arum sudah menyerahkan rumah satu satunya itu berarti Arum sudah tidak punya hutang lagi. Tapi dasar bandot tua itu tidak tahu diri dia malah menginginkan Arum jadi istri keduanya. Usianya bahkan lebih pantas jadi kakeknya Arum" cerita ibu panjang lebar dengan sedikit emosi. Aku juga merasa emosi bagaimana kalau seandainya aku tidak datang ke desa ini, apa Arum akan jadi istri kedua bandot tua itu, membayangkannya saja membuatku ingin membunuh mereka.
"Karena itu ibu mau menikahkan Arum" apa? Tidak. Arum tidak boleh menikah dengan siapapun selain Dafi Rahandi.
"Arum masih kecil bu" jawabku berusaha menggagalkan rencana ibu
"Arum sudah 18 tahun mas, bahkan gadis di desa ini banyak yang sudah menikah di usia 15 tahun" ya orang orang di desa ini memilih menikah muda bahkan teman teman SMA ku saja sudah memiliki banyak anak. Aku bersandar di kursi sambil memejamkan mata.
"Kamu mau ya mas menikah dengan Arum?" Sambung ibuku
"Hmm.." menikah denganku?, maksudnya Arum? Aku membuka mataku kembali dan menatap ibuku
"Ya ampun, ibu senang akhirnya kamu mau menikah apalagi dengan Arum" ibu antusias.
"Tunggu dulu, maksudnya aku bu dan Arum?" Tanyaku kaget. Bukannya aku tidak mau, aku memang sangat menginginkan Arum dan bisa memilikinya. Tapi tidak sekarang, aku harus mempersiapkan banyak hal dari rumah sampai uang mahar. Uang tabunganku kemarin baru saja terpakai untuk renovasi bengkel agar lebih luas serta penambahan karyawan baru di bengkel, alat alat penunjang yang lebih modern untuk bengkel kami dan itu menghabiskan hampir seluruh tabungannya. Belum lagi untuk acara pernikahan adiknya, tentu saja itu adalah tanggung jawabnya sebagai kakak dan dia sama sekali tidak mempersalahkannya.
"Siapa lagi selain kamu, pemuda di desa ini bahkan tidak berani mendekati Arum karena ancaman bandot tua itu" oh baguslah setidaknya aki aki tua itu ada gunanya dengan menjauhkan Arumku dari cowok cowok di desa ini.
"Baik, aku akan menikahi Arum tapi tidak sekarang bu, aku harus mengumpulkan uang dulu untuk biaya pernikahan kami selain itu aku juga harus menyiapkan rumah untuknya" ucapku panjang lebar
"Arum itu bukan gadis yang suka menuntut mas, Arum bahkan tidak pernah mengeluh walau dia harus hidup susah selama ini"
"Justru itu bu, apa ibu tega melihatnya hidup susah denganku"
"Jangan kaya orang susah kamu mas" tegur ibuku sambil ketawa " kamu masih punya bengkelmu itu, ibu percaya kamu anak laki laki ibu yang bertanggung jawab dan tidak akan membiarkan Arum kelaparan"
"Tidak segitunya juga bu, kalau soal makan aku masih sanggup memberinya" aku hanya tidak bisa memberikannya kemewahan yang di idamkan banyak perempuan.
"Kalian cuma harus melakukan akad nikah sederhana, ibu yakin Arum tidak akan keberatan" rayu ibu lagi
"Beri aku waktu bu, setidaknya enam bulan lagi. Lagipula pernikahan Mira itu besok masa ditambah pernikahan aku juga?" Ibu terlihat berpikir mudahan saja ibu menyetujui usulku.
"Baiklah ibu setuju, tapi kalian harus bertunangan dulu" itu final tapi aku tidak merasa keberatan setidaknya aku sudah mengkikat Arum sebelum menikahinya.
"Dan kamu harus membawanya serta ikut kamu tinggal di kota" apa?
"Arum mau tinggal dimana bu? Ibu kan tahu aku masih tinggal di atas bengkel"
"Ya tinggal bersama kamu lah mas, ibu percaya kamu bisa menjaga Arum?" ibu tidak tahu saja kalau aku lagi memikirkan Arum berada di bawah kuasaku, yang benar saja seorang Dafi masihlah laki laki normal yang akan tergoda melihat gadis yang di sukainyanya terus berkeliaran di sekitarnya.
"Atau kamu mau Arum di culik tuh sama bandot tua? setau ibu dia melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia mau" itu tidak akan pernah terjadi. Arum adalah milik Dafi selamanya.
"Aku akan membawanya bersamaku" tegasku
"Syukurlah, ibu akan bicara dulu sama Arum" ibu beranjak ke kamar Mira dimana ada Arum di dalamnya. Mudahan ini yang terbaik.