BAB. 3. Perempuan Telanjang

1985 Words
     "Kau siapa? Kenapa ada di kamarku?"Tanya laki laki itu dingin, seakan ada Elsa yang membekukan seluruh udara di kamar ini sehingga aku sulit untuk mengeluarkan kata kata, dan dia terus memandangiku tanpa rasa canggung sedikitpun cuma aku yang merasa malu jangan lupa sekarang aku hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuhku.      "Kamarmu?" tanyaku balik, setelah beberapa detik ketertegunanku baru aku bisa mengeluarkan kata dengan tanganku yang masih melekat di dadaku menahan kalau tiba tiba handuk ku terlepas di hadapan laki laki ini. Entah kenapa aku tidak merasa takut padanya justru aku ingin selalu memandangnya, berada di dalam pelukannya. Oh tuhan kurasa aku sudah gila. Ini pertama kalinya aku sangat menyukai laki laki.      "Hmm.. Setahuku ini masih kamarku sebelum 3 bulan yang lalu" jawabnya. Tiga bulan yang lalu? Oh aku ingat! Teh Mira pernah cerita.      "Kak Dafi?" Ingatanku kembali pada sembilan tahun yang lalu saat itu usiaku masih sembilan tahun dan Kak Dafi sudah SMA. Setelah beberapa hari kemudian aku tidak pernah melihatnya lagi katanya sih cari kerja di kota. Sekarang kak Dafi terlihat layaknya laki laki dewasa dan sangat menawan apalagi dengan rambut panjangnya yang terikat. Jantungku kenapa?      "Gadis penggoda" tatapannya terarah padaku. aku kah yang ka Dafi maksud? Tanyaku dalam hati      "Mas Dafi?" itu suara bik Irah yang ada di belakang kak Dafi, syukurlah aku terselamatkan.      "Ibu kira kamu lupa pulang mas? Padahal ibu sudah mau kutuk kamu jadi batu" itu cuma candaan aku tahu bik Irah tidak akan melakukannya dan terlihat bik Irah sangat bahagia. Oh Tuhan aku lupa sekarang aku masih menggunakan handuk dan aku tidak tahu harus kemana, kalau keluar berarti aku harus melewati Kak Dafi.      "Bu kenapa di kamarku ada perempuan telanjang?" Oh Tuhan bolehkah aku menenggelamkan kepalaku dalam ember dan tak keluar. Aku malu sangat dan ingin menangis.      "Huss..kamu ini Mas, omonganmu itu dijaga loh. Rum kamu pakai bajumu ya dan jangan lupa tutup pintunya" bik Irah langsung menarik tangannya kak Dafi keluar. Akupun bergegas menutup pintu dan secepatnya memakai bajuku.      "Mas Dafi sudah pulang? aku kira Mas lupa dengan pernikahanku" itu teh Mira yang bicara mereka sepertinya melepas rindu bertiga, aku tidak berani keluar selain menggangu kebersamaan mereka aku juga masih sangat malu karena tadi.      "Tok..tok..Arum..?" Itu teh Mira, aku segera membuka kunci pintu      "Arum, ayo di luar ada mas Dafi. Kamu belum pernah ketemu lagikan semenjak mas Dafi lulus SMA" aku ingin menolaknya tapi teh Mira langsung menarik tanganku.      "Arum sini" bik Irah menyuruhku mendekat dan duduk di kursi samping bik Irah. Kak Dafi ada di kursi depan kursiku kami cuma terhalang meja kecil tapi aku malu menatapnya.      "Mas kamu masih ingatkan sama Arum? Itu loh anaknya pakde Anto dan bude Marni, kamu dulunya sering bantu pakde Anto di kebun" oh aku baru tau kalau Kak Dafi dekat sama bapak, mungkin waktu itu aku kecil banget.      "Hmm..aku ingat, jadi dia anak kecil yang cengeng itu. Kurasa sekarang pun masih" katanya sinis.      "Aku sudah tidak cengeng" entah keberanian dari mana aku menjawabnya, aku tidak suka kalau dibilang cengeng sudah lama aku tidak menangis semenjak sakitnya ibu aku berusaha untuk kuat. Tapi aku kembali menangis saat ibu meninggal.      Aku kembali menunduk saat kak Dafi terus menatapku apalagi dengan matanya menyipit seolah memperhatikan keseluruhan tubuhku. Tahukah kak Dafi kalau jantungku rasanya mau copot, apakah aku jatuh cinta sama kak Dafi? Secepat ini? Berarti kak Dafi cinta pertamaku?     "Iya mas, Arum sudah tidak cengeng lagi, Arumkan sudah lulus SMA. Ya kan Rum?" Sambung teh Mira sambil ketawa misterius itu yang aku tangkap. Kak Dafi cuma mengedikan bahu lalu beranjak.      "Aku ngantuk, aku tidur dulu bu nanti saja kita bicaranya" kak Dafi masuk ke kamarku, oh bukan itu memang kamar kak Dafi aku cuma menumpang di sini.      "Kamu tidak makan dulu mas? biar ibu siapin"      "Tidak usah bu, aku sudah makan kok di jalan" jawab kak Dafi sambil menutup pintu.      "Rum kamu di kamar teteh saja ya?"      "Iya teh, aku juga mau buat kue buat hidangan besok lusa" ucapku dan bergegas ke dapur, aku sudah membeli bahan bahannya kemarin sampai sampai ketemu rentenir itu hampir saja aku di bawa paksa untung saja ada beberapa tetangga yang bantuin aku melepaskan diri"           *   *   *  *      Dafi akhirnya sampai ke kampung halaman nya setelah lima jam perjalan dari Bandung dengan menggunakan mobil Allan sahabatnya. Allan memang menawari untuk meminjamkan mobilnya yang lebih dari satu terpajang cantik di garasinya. Meski mereka beda tempat kerja dan jarang ketemu mereka kadang masih hang out bareng hanya untuk bercerita. Dan saat tau Dafi akan pulang ke kampungnya dia dengan senang hati meminjamkannya.      Sekarang sudah pukul 5.30 pagi biasanya ibunya sudah bangun jam segini, Dafi memarkirkan mobilnya di depan rumah untungnya halaman rumahnya memang cukup luas. Saat keluar mobil dan menguncinya Dafi bergegas menuju rumahnya dan melihat pintunya tidak tertutup rapat. Pasti ibunya sudah keluar, ibunya kadang ceroboh lupa menutup pintu untungnya kampungnya selalu aman dari pencurian. Meski tidak dipungkiri kejahatan bisa terjadi dimana saja dan kapan saja seperti selogan pesan bang napi. Biasanya jam segini ibunya memang sudah pergi ke pasar subuh di ujung sana ga jauh dari sini dan Dafi masih ingat kebiasaan ibunya itu. Karena lelah Dafi akhirnya memutuskan langsung ke kamarnya untuk istirahat tanpa menunggu ibunya.      "Cekrek.." Dafi membuka pintu dan ada pemandangan yang sangat indah di hadapannya sekarang meski jantungnya berdetak kencang dan ada yang berdenyut keras di bagian tubuhnya paling bawah dia berusaha untuk tenang, bagaimana tidak, ada seorang gadis muda yang cantik dengan hanya handuk yang menutup sebagian tubuh indahnya itupun masih memperlihatkan paha mulusnya dan dadanya yang terlihat cukup untuk memenuhi tanganku dan sekarang dia berada di kamarku. Hahh aku harus mengembalikan kewarasanku saat ini juga.      "Kau siapa? Kenapa berada di kamarku?" tanyaku dingin, padahal aku sedang berusaha mengendalikan bagian tubuhku untuk tidak menerkamnya saat ini dan membaringkan tubuh telanjangnya di bawahku. Seorang Dafi tidak pernah kehilangan kendali seperti ini, di luar sana banyak gadis yang bahkan memakai pakaian minim hanya untuk mendekatinya dan Dafi tidak pernah tergoda sama sekali karena fokusnya adalah pekerjaan. Dia punya prinsip sebelum dia sukses tidak akan memikirkan gadis manapun. Walaupun sekarang dia sudah cukup sukses Dafi merasa itu belum cukup. Tapi sekarang sepertinya dia harus memikirkan untuk memiliki gadis itu.      Cukup lama gadis itu terdiam dia terlihat gugup dan malu malu dan ya ampun bisakah tangannya menjauh dari simpul handuk di dadanya itu. Aku tidak masalah kalau harus melihatnya. Aku tidak bisa melepaskan pandangan dari tubuh mungilnya tapi terlihat pas dan berisi itu.     "Kamarmu?" Tanyanya balik, Kurasa dia baru sadar dari keterpakuannya.      "Hmm...Setahuku ini masih kamarku sebelum 3 bulan yang lalu" jawabku. Terakhir aku pulang ke desa ini memang tiga bulan yang lalu tapi aku tidak ingat pernah melihat gadis ini.      "Kak Dafi?" oh kurasa gadis ini mengenalku, apa mungkin dia salah satu teman Mira adikku tapi sepertinya dia jauh lebih muda. Ya ampun kenapa bibir mungilnya sangat indah bisakah aku melumatnya?      "Gadis penggoda" gadis manis itu terlihat bingung dengan ucapanku. Faktanya dia memang sangat menggoda. Bagaimana bisa gadis kecil ini membuatku berfantasi liar usianya bahkan jauh dibawahku tapi kurasa itu tidak masalah dia terlihat sudah cukup dewasa.      "Mas Dafi?" itu suara ibu ku, wanita yang sangat aku sayangi dan sangat kurindukan. Sudah beberapa kali aku membujuk ibuku untuk tinggal bersamaku di kota tapi ibu selau menolak, katanya kota tidak cocok untuknya dia suka berada di desa ini, dan ada banyak kenangan bapaknya di rumah ini makanya ibu tidak mau pergi dan untungnya ada adikku yang selalu bersamanya. Padahal andai saja ibu dan adikku mau ikut ke kota aku akan membeli rumah yang cukup untuk kami bertiga. Selama ini aku memang menjadikan bengkel sebagai rumahku. Bangunan bengkel itu ada dua lantai dan lantai ataslah yang ku jadikan tempat tinggal. Aku memalingkan badanku menghadapnya karena ibuku ada di belakangku      "Ibu kira kamu lupa pulang mas?" kata ibu, aku pun mencium tangan ibuku, tidak mungkin aku lupa pernikahan adikku satu satunya apalagi aku yang harus jadi walinya.      "Padahal ibu sudah mau kutuk kamu jadi batu" aku tahu ibu bercanda, ibu terlalu sayang padaku.      "Bu kenapa di kamarku ada perempuan telanjang?" tanyaku blak blakan, seorang Dafi memang seperti ini, apa yang ada di isi kepalanya langsung dia keluarkan kata Allan sih mulutku tidak ada filternya. Dan kulihat wajah cantiknya tampak memerah menahan malu dan matanya pun merah ingin menangis. Bolehkah aku menciumnya?      "Huss.. Kamu ini Mas, omonganmu itu dijaga loh. Rum kamu pakai bajumu ya dan jangan lupa tutup pintunya" suruh ibu dengan sayang. Kenapa harus tutup pintu itukan juga kamarku.      Ibu membawaku ke ruang tamu yang terdapat kursi sederhana dan televisi yang kubeli dua tahun yang lalu, rumah ini tidak banyak berubah hanya ada sedikit renovasi karena sudah rusak dan lapuk termakan waktu.      "Mas Dafi sudah pulang? Aku kira mas lupa dengan pernikahanku? Sambutnya dan mencium tanganku.      "Mana mungkin mas lupa, siapa yang akan jadi wali mu nanti" tanyaku      "Kan ada pakde Sidiq mas" ucap adikku tertawa, iya kami memang masih punya pakde saudara ibuku yang juga tinggal di desa ini, karena itu aku tidak terlalu khawatir meninggalkan ibu dan adikku di sini, karena pakde Sidik dan istrinya bude Dian selalu memperhatikan ibuku dan kami selama ini. Mereka memilki tiga anak dan semuanya sudah menikah dan tinggal di Desa sebelah.      "Oh jadi sekarang mas sudah tidak diperlukan lagi nih?" candaku      "Bercanda mas, mas kan pengganti bapak buat aku" ucap adikku dengan senyumnya.      "Bu Arum mana? Sambung adikku. Arum.. rasanya aku pernah dengar nama itu.      "Ada di kamarnya, kamu panggil deh" suruh ibu pada Mira adikku      "Siapa Arum?" tanyaku penasaran      "Sebentar ya mas?" Mira beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar ku atau sekarang menjadi kamar gadis itu. Kurasa aku tidak masalah harus sekamar dengannya dan mungkin kami bisa bikin bayi. Hahh sekarang pikiranku kotor gara gara gadis itu. Selama dua puluh tujuh tahun hidupku ini pertama kali aku benar benar memikirkan hubungan s*x dengan gadis yang ada di dunia nyata bukan dunia maya.      Mira keluar dengan menarik gadis tadi yang baru aku tau namanya Arum, namanya cantik secantik wajahnya.      "Arum sini duduk samping ibu" ibu terlihat memperlakukan Arum dengan sayang begitupun Mira. Aku terus menatap Arum entahlah dia seperti magnet membuatku ingin selalu menatap ke arahnya.      "Mas kamu masih ingatkan sama Arum? Itu loh anaknya pakde Anto dan bude Marni, kamu dulunya sering bantu pakde Anto di kebun"      "Hmm..aku ingat, jadi dia anak kecil yang cengeng itu. Kurasa sekarang pun masih" sulit dipercaya gadis kecil yang dulu selalu takut melihatku dan selalu menangis saat diganggu teman temannya justru yang membuatku tergoda. Aku sudah tahu dari cerita ibuku lewat telepon kalau bu Marni baru meninggal yang aku tidak tahu kalau anaknya tinggal di rumah ini tepatnya di kamarku ada rasa senang karena secara tidak langsung Arum sudah tidur di kasur yang sama dengannya, aneh memang kalau sudah terkena yang nananya virus cinta.       "Aku sudah tidak cengeng" ucapnya, sangat manis, aku menatap keseluruhan dirinya dari kaki sampai ujung kepalanya dan hanya melihat tubuhnya yang dibalut kaos lengan pendek dan rok selututnya saja sudah membuat celana ku sesak. Apalagi dadanya yang terlihat kencang itu. Oh shitt sebaiknya aku mandi air dingin.      "Iya mas. Arum sudah tidak cengeng lagi, Arumkan sudah lulus SMA ya kan Rum?" goda adikku sambil tertawa. Syukurlah Arum sudah lulus SMA berarti aku bisa memilikinya. Aku harus secepatnya pergi ke kamar, mungkin dengan tidur otakku tidak kotor lagi. Aku cuma mengedikkan bahuku dan beranjak ke kamar      "Aku ngantuk, aku tidur dulu bu nanti saja kita bicaranya"      "Kamu tidak makan dulu mas? biar ibu siapin"      "Tidak usah bu, aku sudah makan kok di jalan" jawabku, aku memang singgah di warteg pinggir jalan untuk mengisi perutku. Aku masuk kamar dan mengunci pintunya dan benar saja ini sudah tidak seperti kamarku yang dulu selain poster poster ku yang sudah menghilang dan tergantikan hiasan dinding cantik berupa kupu kupu berterbangan dan boneka boneka yang terbaring memenuhi ranjang serta aroma peminim si pemilik yang memenuhi isi kamar ini. Aku meletakan ransel di samping lemari dan membaringkan tubuhku di ranjang. Ah rasanya nyaman banget semalaman aku harus menyetir hingga mataku rasa nya berat sekali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD