Jam istirahat mereka makan bersama dengan makanan yang sudah dipesan dari rumah makan yang tidak jauh dari bengkel mereka. Mereka terlihat sangat menikmati makan diisi dengan obrolan dan candaan ringan. Tiba tiba handphone salah satu dari mereka berbunyi
"Ya bu?" Dafi menerima panggilan dari seseorang di seberang sana, setelah mengambil benda kecil tersebut dari atas meja samping tempat makannya.
"Kamu kapan sih pulangnya mas? Kamu lupa minggu depan itu sudah pernikahan adik kamu loh. Kamu juga yang akan menjadi wali pernikahannya Mira" Dafi tentu saja ingat apalagi dia yang akan menjadi wali pernikahan adik satu satunya menggantikan posisi bapaknya yang sudah lama meninggal.
"Tenang aja bu, aku ingat kok bu. Besok lusa aku akan pulang, hari ini memang belum bisa kerjaan di bengkel masih banyak bu" Dafi berusaha meyakinkan ibunya. Memang sekarang masih banyak mobil yang harus diperbaiki, dia tidak mungkin menyerahkan pada bawahannya begitu saja, Dafi memang sangat bertanggung jawab untuk pekerjaannya.
"Mas..mas alasan kamu itu toh selalu saja pekerjaan. Kapan kamu juga memikirkan pendamping hidup, kalau kamu sudah punya istri dia yang urusin kamu disana. Jadi ibu tidak perlu khawatir lagi. Masa kamu dilangkahin adik kamu, usia kamu sudah 27 loh mas" haahh Dafi menarik napas kencang frustasi dengan sikap ibunya. Ibunya kalau sudah ngomong panjangnya sudah kaya kereta, lagi pula Dafi masih belum kepikiran tentang pendamping yang ada di kepalanya hanya bengkel dan pekerjaan.
"Buk, aku belum kepikiran tentang itu. Lagipula aku bisa ngurus diri sendiri ibu tidak perlu khawatir dan aku juga tidak masalah dilangkahin Mira" ya Dafi sama sekali tidak masalah kalau harus dilangkahi adiknya toh dia laki laki dan selama 27 tahun hidupnya ini tidak ada perempuan yang mampu mengisi hatinya, bukannya Dafi tidak normal dia masih normal kok. Hanya saja memang belum ada perempuan yang mampu mengambil alih seluruh pikirannya dari pekerjaan. Hanya sebatas suka terhadap beberapa perempuan memang pernah tetapi saat tidak melihatnya lagi dia juga sangat mudah untuk lupa. Sebagai laki laki Dafi memenuhi kebutuhan biologisnya dengan cara yang hanya di ketahui oleh laki laki tentu saja tidak dengan membayar perempuan tidak benar dia paling anti dengan hal itu. Dafi tidak mau tubuhnya bersentuhan dengan perempuan yang sudah di pake banyak orang. Dia ingin melakukan dengan perempuan yang hanya miliknya jiwa dan raga. Untuk sekarang Dafi lebih memilih bercinta dengan sabun.
"Ya sudah.. Ya sudah.. Pokoknya mas ibu tunggu dirumah besok lusa kamu sudah ada di sini, ibu tidak mau tau"
"Iya bu, besok lusa"
"Ya sudah ibu tutup ya, kamu baik baik di sana. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
"Kenapa bos, bos disuruh pulang kampung ya?" tanya Fandy
"Hmm.." mode males bicara Dafi muncul kepermukaan
"Bos pasti disuruh kawin nih" kali ini si Aksa nyeletuk
"Nikah dulu baru kawin" koreksi Angga melengkungkan bibirnya ke atas
"Sudah ketinggalan zaman mah itu, Denger ya Ngga zaman sekarang orang orang itu kawin dulu baru nikah" Fandi menimpali, dia memang selalu asal kalau ngomong.
"Ya itu kamu kan" tuduh Sam
"Hahaa.. Bang Sam memang selalu benar" Aksa ketawa diikuti yang lainnya. Fandy melempar serbet ke muka Aksa pengennya sih ke muka Samudera tapi bisa bisa dia dijadikan ayam penyet kalau sampai melakukannya.
"Itu fakta 8 dari 10 orang melakukannya" Fandy tidak mau kalah "Kalau kalian sudah menemukan orang yang kalian cinta kalian pasti akan berpikiran yang sama" Fandy memang bukan orang yang suci diantara teman temannya Fandy lah yang pernah melakukannya tapi itu hanya dilakukannya dengan pacarnya.
"Sam kuserahkan bengkel selama aku pergi" Dafi memotong pembicaraan yang sudah mulai menjurus ke hal yang berbau s****l.
"Oke berapa lama?" tanya Sam
"Satu minggu mungkin juga lebih, nanti akan ku kabari lagi kalau ada perubahan" Dafi memang sering mempercayakan bengkel pada Sam selain dia bisa diandalkan cuma Sam yang bisa mengatur anak anak selain dirinya tidak ada yang bisa membantah perintah Sam.
* * * *
Beberapa hari ini Arum sering diganggu sama rentenir tua itu, dia tidak berhenti untuk meminta Arum jadi istri keduanya. Tentu saja Arum tidak mau, kemarin saja pak tua itu berusaha mengancamnya dan bik Irah akan membuat masalah untuk mereka kalau tetap menolak menikah dengannya. Arum sangat takut kalau dia sampai membawa masalah untuk bik Irah dan teh Mira apalagi kalau Arum terpaksa nikah sama rentenir itu. Arum bahkan tidak berani untuk keluar rumah dan hanya bisa membantu bik Irah di rumah.
"Rum sudah jangan sedih lagi, bibik dan Mira tidak akan biarin kamu dipaksa nikah sama si tua itu" bik Irah membelai rambut Arum dengan sayang, sekarang mereka ada dikamarnya Arum yang dulunya juga kamar Dafi, dari tadi Arum terlihat murung dan lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar dan duduk di atas kasur karena itu bik Irah dan teh Mira mencoba untuk menenangkan Arum.
"Iya Rum, lagi pula kamu sudah tidak punya hutang lagi sama rentenir itu, dia tidak berhak gangguin kamu lagi" sambung teh Mira
"Iya bik, teh Mira Arum hanya takut kalau pak tua itu buat masalah sama bibik" cemas Arum
"Kamu tenang saja mereka tidak akan berani nyakitin kita" aku hanya mengangguk senyum teh Mira menenangkanku.
Bik Irah dan Mira berada di ruang tamu, mereka baru saja keluar dari kamar Arum membiarkan dia beristirahat. Arum baru saja kehilangan ibunya sekarang adalagi masalah, rentenir tua itu tidak ada habisnya membuat batin Arum terluka. Tiba tiba terlintas begitu saja dipikiran bik Irah
"Mir bagaimana kalau kita jodohkan saja Arum, dengan begitu bandot tua itu tidak akan bisa lagi mengganggu Arum, dan kalau bisa Arum lebih baik pergi jauh dari desa ini" bik irah memandang putrinya Mira berharap usulnya adalah jalan terbaik untuk Arum. Meskipun itu artinya dia tidak akan bisa menjaga Arum lagi.
"Iya sih bu, ada baiknya Arum segera menikah dan pergi dari desa ini. Kalau Arum tetap di sini takutnya bandot tua itu akan memaksakan kehendaknya dengan segala cara" Mira tidak rela kalau sampai itu terjadi walau bagaimanapun selama ini Mira sudah menganggap Arum sebagai adiknya.
"Tapi siapa bu? Laki laki di desa ini jelas tidak mau berurusan dengan rentenir itu"
"Ibu sih kepikiran inginnya menjodohkan Arum dengan mas mu mir, bagaimana menurutmu?" tanya bik Irah.
"Apa bu, mas Dafi?" Mira tidak percaya dengan pendengarannya, bukannya Mira tidak setuju hanya saja mas Dafi nya itu sangat tidak ramah terhadap perempuan. Bahkan beberapa temannya di desa ini mendapatkan kata kata penolakan yang kasar saat mencoba mendekati mas nya itu. Bagaimana dengan Arum yang bahkan jarak usia mereka sangat jauh 9 tahun, Mira sangat tahu mas nya itu tidak suka dengan gadis manja, kekanak kanakan apalagi cengeng dan Arum memiliki sifat semua itu wajar karena dia baru lulus SMA dan usianya masih 18 tahun.
"Ibu tidak salah? Mas Dafi kan gitu bu. Ibu tau sendiri sifatnya mas Dafi seperti apa? Yang ada kasihan Arumnya dimarahin terus" hahh desahnya semakin pusing kalau dipikirkan.
"Ibu akan berusaha membujuk mas mu, usia mas mu itu sudah tidak muda lagi sudah saatnya dia cari pasangan, sampai kapan dia mikirin pekerjaannya terus sampai ibu sudah di liang lahat?"
"Ibu jangan ngomong gitu" Mira juga sedih melihat ibunya. Ibunya selalu berharap agar mas nya cepat menikah, tapi sampai saat ini mas nya tidak tampak terlihat bersama seorang gadis bukan karena tidak ada yang suka sama masnya, Mira tahu banget banyak yang menyatakan cinta pada kakaknya tapi semuanya di tolak mentah mentah tapi kalau di kota dia sama sekali tidak tahu kehidupan cinta kakaknya.
"Ibu sudah sangat sayang sama Arum, sejak dia kecil ibu juga ikut membantu menjaganya saat ibunya pergi ke kebun apalagi sekarang dia tidak punya siapa siapa. Meskipun Arum usianya masih sangat muda kadang kadang juga manja tapi ibu percaya Arum bisa mengurus mas mu" teringat masa masa perjuangan Arum sejak kematian ayahnya, Arum berusaha membantu pekerjaan rumah mengurangi beban ibunya. Sedangkan ibunya harus pergi ke kebun hanya untuk sekedar mendapat beberapa rupiah. Apalagi setelah ibunya sakit sakitan Arumlah yang menggantikan posisi ibunya meskipun dia juga harus sekolah.
"Iya bu, Mira juga sayang sama Arum. Mas Dafi pasti bisa luluh sama ibu, mas Dafi kan sayang banget sama ibu" Mira memeluk ibunya dengan sayang.
"Kriing...kriing.." Arum berusaha bangun dan menggapai handphone jadulnya yang dari tadi bunyi alarmnya semakin kencang meskipun matanya masih sangat berat apalagi suhu udaranya sangat dingin.
"Jam 5, Arum harus buat kue" Arum bergegas ke kamar mandi yang ada di samping dapur dengan handuk tersampir dibahu kirinya. Di rumah ini memang hanya ada satu toilet dan kamar mandi yang letaknya ada di paling ujung rumah ini. Hari ini Arum mau buat kue kue untuk hidangan nikahan teh Mira besok lusa.
Selesai mandi Arum bergegas keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang cuma menutupi sebagian tubuh putihnya dan handuk kecil yang membungkus kepalanya. Arum tidak malu ataupun khawatir karena di rumah ini cuma ada perempuan dan tidak ada laki laki yang tinggal. Di kamarnya Arum mengambil pakaian dalam dan baju yang akan dipakainya hari ini tapi tiba tiba ada yang membuka pintu. Arum segera menoleh ke arah pintu yang di duganya adalah teh Mira. Biasanya teh Mira memang langsung masuk beda sama bik Irah yang akan mengetuk pintu terlebih dahulu walaupun ini rumah bik Irah sendiri.
Arum kaget sekaligus terpesona dengan laki laki yang ada tidak jauh dari jarak pandangnya, karena kamar ini memang tidak terlalu besar cuma muat satu ranjang dan lemari pakainnya. Laki laki itu terus melangkah mendekati Arum dengan tas ransel yang melekat di bahu kanannya tidak lupa pandangannya yang seakan mencekik lehernya yang kecil.
"Kau siapa? Kenapa ada di kamarku? Tanya laki laki itu dingin, seakan ada Elsa yang membekukan seluruh udara di kamar ini sehingga aku sulit untuk mengeluarkan kata kata, dan dia terus memandangiku tanpa rasa canggung sedikitpun cuma aku yang merasa malu jangan lupa sekarang aku hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuhku.
* * * * *