BAB 1. Kak Dafi

2139 Words
     Seakan tak mau kalah dengan suara kicauan burung yang terdengar merdu begitu pula kokok ayam yang bersahutan, beginilah suasana desa yang akan di temukan tiap paginya. Suhu yang tadinya bagai berada di dalam pendingin yang membekukan tergeser oleh hangatnya bias mentari. Seorang gadis yang masih dalam dukanya terlelap lelah karena semalaman dia bahkan tidak mampu untuk memejamkan matanya, namun saat pagi menjelang barulah dia bisa menutup matanya. Untuk sesaat Arum melupakan kesedihannya sekaligus mengistirahat lelahnya.      "Dok...dok...dok... suara ketukan pintu semakin keras, bukan ketukan lagi tapi berubah menjadi gedoran pintu.      "Ayo keluar" teriakan lebih dari satu orang laki laki yang terdengar kasar      "Cepat keluar" suara teriakan lagi. Akupun yang baru terbangun dari tidurku karena lelah batin secepatnya pergi ke kamar mandi hanya sekedar cuci muka dan bergegas membuka pintu.      "Aa ada apa?" gugup dan takut itulah yang kurasakan saat melihat dua orang seperti preman sekarang berada di depan pintuku. Untunglah ada beberapa tetangga yang juga datang karena khawatir padaku, di desa ini memang satu sama lain saling peduli, kecuali untuk urusan uang karena warga di sini juga tidak berpenghasilan yang mencukupi, penduduk di sini cuma mengandalkan hasil kebun dan pertaniannya yang tidak seberapa, ada juga yang bekerja di kebun teh.      "Kau punya hutang kepada tuan kami" ucap orang yang badannya lebih besar dengan mukanya yang terlihat seram.      "Kau ingat?" ucapnya lagi      "I iya.. aku akan membayarnya nanti" jawabku takut takut.      "KAPAN!" teriaknya      "Ini sudah jatuh tempo, seperti perjanjiannya kau harus mengosongkan rumah ini" aku tidak bisa bicara apa apa lagi, bahkan para tetanggaku pun berusaha untuk membantuku namun tidak ada yang bisa mereka lakukan.      "Kecuali kau mau jadi istri muda tuan kami, tuan kami pasti senang menerima kamu jadi istrinya" Kata laki laki yang badannya lebih kecil dan seringainya yang terlihat cabul. Aku takut melihatnya dan kalau bisa aku segera pergi dari sini. Tapi yang kulakukan hanya bisa menangis.      "Nak, kau bisa tinggal di rumah bibik, berikan saja rumah itu dari pada kamu harus jadi istri muda laki laki tua itu itu" Kata bik irah salah satu tetanggaku yang bekerja di perkebunan teh. Dari aku kecil bik Irah memang sangat sayang sama aku.      "Iya bik" aku mengangguk dan membiarkan dua orang itu mengacak acak rumahku, sekarang tidak ada yang bisa ku pertahankan dari rumah penuh kenangan itu.Semua orang desa tahu, kalau tuan rentenir tua itu sangat menyukai Arum, dan saat Arum menggadaikan rumahnya, baginya itu adalah kesempatan emas untuk memiliki gadis muda itu.      Arum memang cantik, memilki tubuh yang indah dan kulit yang putih serta hidung yang mancung dan bibir yang kecil ditambah rambut hitamnya yang panjang menambah dirinya terlihat menawan. Hanya saja pakaian yang lusuh mengurangi kesempurnaannya.      "Besok kami datang lagi, dan rumah ini harus dengan keadaan kosong, tapi sebaiknya kau pikirkan lagi, kau akan hidup enak kalau menikah dengan tuan kami" mereka tertawa dan menjauh dari rumah ku. Akhirnya mereka pulang juga. Sungguh, aku muak dengan ucapan mereka, hidup enak mereka bilang? Yang ada aku akan memilih mati.      "Ayo, kau harus mengemasi semua pakaianmu" bik Irah menggandeng tanganku kembali masuk ke rumah yang tampak berantakan akibat dua orang preman suruhan pak Didik tuan rentenir Desa ini.      "Iya bik, Arum cuma mengambil barang yang di butuhkan saja" lagi pula tidak banyak barang yang ada di rumah ini. Bik Irah membantuku mengangkat beberapa barang yang sudah di kemas, dan membawaku ke rumah beliau yang sederhana tapi nyaman. Bik Irah cuma tinggal berdua dengan anak perempuan nya di rumah ini, dulu beliau tinggal dengan suaminya dan dua anaknya, anak pertama laki laki namanya Dafi Rahandi sudah lama merantau ke kota lain setelah lulus SMA, kata bik Irah sih Bandung tapi ga tau tepatnya di mana. Walau demikian anak laki laki bik Irah selalu mengirimi uang tiap bulannya jadi meskipun bik Irah tidak bekerja beliau tidak akan kekurangan apapun, hanya saja bik Irah tidak suka berdiam diri makanya beliau mencari kegiatan dengan bekerja di kebun teh. Aku masih ingat sih dulu waktu aku kecil, aku tidak suka dekat dekat kak Dafi karena dia tidak suka anak kecil, kak Dafi akan membuat anak kecil menangis kalau ada di sekitarnya, dia galak dan suka melotot. Itu sedikit ingatanku tentang kak Dafi, yang saat itu sudah SMA . Sedangkan anak kedua bik Irah adalah perempuan namanya mira wati dan aku memanggilnya teh Mira, dan aku sudah menganggapnya sebagai kakakku sendiri. Teh mira usianya lima tahun lebih tua dari aku dan dari kecil kami memang sangat akrab dan seminggu lagi teh Mira akan melangsungkan pernikahan dengan temannya sewaktu SMA dulu. Sedangkan paman Ali suaminya bik Irah memang sudah meninggal sejak lama, seminggu setelah kelulusan Kak Dafi dari SMA.      "Ayo Rum masuk" teh mira menyambutku dengan senyumnya dan membantuku mengangkat tas berisi pakaian dan membawaku kesalah satu kamar yang ada di rumah ini.      "Nah mulai sekarang kamu bisa tinggal di kamar ini Rum" teh Mira meletakan tasku di sudut dekat lemari. Aku terus memperhatikan kamar ini, banyak poster gambar tengkorak dan simbol yang tidak aku mengerti, seperti jangkar bajak laut atau apalah khas anak cowok kayaknya.      "Terimakasih teh, tapi ini kamar siapa ya teh? Kok banyak tengkoraknya, Arum jadi takut melihatnya" polosku, jujur aku takut dengan gambar gambar seperti itu buatku merinding.      "Hahaa.. Iya nih, soalnya ini tuh dulunya kamarnya mas Dafi, waktu SMA dulu mas Dafi suka banget hal hal kayak gini, tapi kalau Arum takut nanti teteh bantuin untuk melepas poster poster ini" Jelas teh Mira      "Oh, ga usah teh, nanti kalau kak Dafi pulang dia bisa marah sama Arum. Apalagi Arum sudah seenaknya menempati kamarnya" duh gimana kalau kak Dafi datang dan melihat Arum ada di kamarnya, kak Dafi pasti akan melotot kayak dulu pikirku.      "Mas mu itu tidak akan pulang kalau tidak dipaksa, alasannya banyak pekerjaanlah, inilah, itulah ada saja alasannya" jawab bik Irah yang berdiri di depan pintu.      "Oh, memangnya kak Dafi tidak pernah pulang bik?" tanyaku, aku makin penasaran karena sejak lulus SMA dulu sampai sekarang aku tidak pernah melihatnya lagi. Aku memanggil kak Dafi bukan dengan sebutan mas soalnya aku memang tidak dekat dengan kak Dafi bahkan waktu kecilpun tidak dekat.      "Pernah kok beberapa kali, cuma satu sampai dua hari setelah itu balik lagi ke kota" kata bik Irah      "Iya, tapi sayang kamu masih di sekolah jadi ga pernah lihat" sambung teh Mira sambil tersenyum.      "Sudah. ayo kita bersihin ini gambar gambar, masa gambar kaya gini di pajang" bik Irah mulai melepas poster di sampingnya. Akupun ikut melepaskan beberapa poster walau agak ragu, mudah mudahan kak Dafi gak marah kalau nanti datang dan melihat kamarnya.      "Sebenarnya bibik sudah dari dulu pengen buang ini gambar tapi memang belum ada waktu" jelas bik Irah. Tapi tentu saja bukan karena tidak punya waktu, alasan sebenarnya adalah ibu ini berharap kalau anak lelakinya itu kelak akan pulang dan tinggal bersamanya, karena itu bik Irah tidak mengubah apapun di kamar ini. Tetapi apa yang bisa diharapkan di desa ini, cuma bisa jadi pemetik daun teh atau menjadi buruh pabrik teh, anak lelakinya tentu punya impiannya sendiri, dan sebagai ibu tentu dia akan selalu mendukung.      Mulai hari ini aku akan tinggal di kamar ini entah sampai kapan aku akan merepotkan bik Irah. Kurasa besok aku akan minta temani bik Irah ke rumah juragan Bagus untuk minta pekerjaan di kebun teh, mudah mudahan saja di terima biar tidak merepotkan bik Irah lagi. Hari ini kuhabiskan waktu untuk berkemas barang dan membantu kak Mira membersihkan rumah soalnya minggu depan adalah akad nikahan kak Mira dan untuk acaranya cuma diadakan secara sederhana. Hahh.. Sudah beberapa kali aku menguap kurasa waktunya tidur biar besok aku punya semangat lagi.      Pagi pagi sekali aku sudah bangun, membantu bik Irah membuat sarapan. Teh Mira juga sudah siap mau pergi katanya mau mengurus serba serbi pernikahan.      "Ayo sarapan" kami pun duduk lesehan di ruang tengah, sarapan sambil mengobrol ringan.      "Bik, hari ini bisa tidak temani Arum ke rumah Pak Bagus? Arum mau minta pekerjaan"      "Kamu mau bekerja di kebun teh Rum? Tanya teh Mira      "Iya teh, tidak mungkin aku terus terusan di rumah malas malasan dan merepotkan kalian" kalaupun aku mencari pekerjaan lain berarti aku harus pergi ke kota, di sini tidak banyak pekerjaan yang bisa dikerjakan.      "Kamu istirahat dulu saja ya Rum, ibu kamu kan baru meninggal, kamu pasti butuh waktu untuk menenangkan diri dulu" kata bik Irah.      "Iya Rum, kamu bisa bantu bantu di rumah dulu untuk persiapan pernikahan teteh ya?" tidak mungkin aku menolak permintaan teh Mira.      "Iya teh, Arum akan bantu bantu persiapan pernikahan teteh" ucapku senang      "Ya sudah, selesai sarapan bantu bibik ke rumah bu Ida ya Rum mengambil jahitan yang akan di pakai untuk acara minggu depan".      " iya bik" sahutku, aku senang bisa membantu bik Irah dan teh Mira setidaknya cuma ini yang bisa kulakukan untuk kebaikan mereka.                                  * * * * * * * * * *      "Bos, tuh cewek cewek mintanya bos yang perbaikin mobilnya"      "Kalian tidak lihat, saya juga sedang ngerjain nih mobil" dengan tatapan menusuk dan kata kata yang ketus itu sudah biasa diterima para bawahannya. Bos mereka ini memang terkesan diam dan tidak banyak bicara, seperlunya saja. Dan kalau bicarapun bawaannya selalu ketus dan sarkas tidak pernah bersikap ramah sama cewek cewek yang jelas jelas menyukainya.      "Iya tau bos" Fandi meringis sambil garuk garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.      "Ya terus kenapa masih di sini, kalian tidak bisa kerjain tuh mobil" jawabnya ketus. Untuk sementara dia menghentikan pekerjaannya dan menatap dua anak buahnya dengan berkacak pinggang dan salah satu kunci pas yang masih ada digenggamannya jangan lupakan tangan dan wajahnya yang terkena sedikit kotoran oli.      Dia adalah Dafi Rahandi bos dari bengkel yang cukup besar Angkasa Raya, berusia 27 tahun. Dia memfokuskan dirinya untuk membangun bengkel ini yang tadinya cuma bengkel kecil hingga bisa sebesar sekarang. Dulunya setelah dia lulus SMA saat itu usianya baru 18 tahun. Dafi merantau ke kota dan melamar pekerjaan di sebuah bengkel kecil karena dari SMA Dafi suka mengotak atik motor bapaknya ataupun motor temannya yang rusak. Satu tahun kerja dibengkel akhirnya Dafi memutuskan melanjutkan kuliahnya dengan jurusan teknik mesin walaupun harus kerja sambilan sore sampai malam harinya pahit manis jatuh bangun sudah dilaluinya . Setelah lulus kuliah Dafi dan sahabat baiknya Allan yang juga teman kuliahnya membangun sebuah bengkel yang sederhana dengan uang tabunganya dan bantuan papanya Allan. Namun setelah dua tahun berjalan Allan harus menggantikan posisi papanya yang meninggal sebagai pemilik saham terbesar di perusahaan. Sekarang Dafi lah yang menjadi satu satunya pemilik bengkel Angkasa Raya dengan catatan bagi hasil, meskipun Allan pernah menolak usulan itu karena baginya tidak masalah memberikan bengkel itu untuk sahabatnya.      Dafi memperkerjakan empat karyawan dibengkelnya. Fandy Dianngga adik tingkatnya waktu kuliah sekaligus karyawan yang paling setia dari awal bengkel dibuka sampai sekarang orangnya cerewet, suka bergosip dan playboy usianya 25 tahun.      Samudera Bangsa sifatnya dewasa, pendiam, suka menyendiri, tapi kalau sudah marah teman temannya lebih memilih kabur. Fandy menjulukinya psikopat karena sifatnya itu. Usianya 26 tahun.      Anggara Dewa tidak jauh sifatnya dari Samudera hanya saja dia lebih terbuka dan ramah pada orang. Usia 24 tahun.      Yang terakhir Aksa Antara yang paling muda usianya masih 22 tahun tidak bisa diam, tapi sering di bully oleh ketiga temannya.      Jadi tidak salah kalau banyak perempuan perempuan lebih suka membawa mobilnya ke bengkel ini selain bengkel ini memiliki standar cukup tinggi para montirnya pun ganteng ganteng terutama bos pemilik bengkel ini. "Bisa bos, tapi cewek cewek itu maunya bos yang memperbaikinya. Mereka mengancam akan cari bengkel lain kalau bos tidak menangani mobil mereka" kali ini si Aksa yang angkat bicara dengan wajah kesalnya.      "Kurasa cewek itu suka deh sama bos" sambung Fandi      "Padahal aku lebih tampan dari bos" Aksa tidak mau kalah, Dafi cuma memandang Aksa dengan tatapan yang mengatakan suka suka kamulah.      "Ya..ya.ya.. Kau lebih tampan dari bos tapi kalau dilihat dari ujung monas sana" haa haa haa Fandi memang suka ngebuly si Aksa dia tidak akan pernah mengakui kalau si Aksa lebih tampan dari bosnya kecuali kepaksa, tapi mesti begitu fandi lah yang paling dekat dengan Aksa.      "Kalau begitu suruh mereka cari bengkel lain, saya tidak punya waktu menuruti keinginan mereka" Dafi memang seperti itu, dia tidak suka melakukan apa yang tidak dia suka alih alih melakukan apa saja untuk tidak kehilangan pelanggan.      "Serius bos, kita akan kehilangan pelanggan lo bos?" tanya Aksa dengan kening berkerut.      "Iya bos kan sayang mereka cantik cantik lo bos" timpal Fandi      "Ckk..ckk... Ya sudah kalian berdua saja yang pergi dan jangan kembali lagi" Dafi tidak punya kesabaran seperti dua bawahan lainnya Sam dan Angga kalau sudah menghadapi dua curut ini. Mereka berdua Aksa dan Fandi saling berpadangan bertanya.      "Tidak..tidak...bos tenang, kami berdua akan menyuruh mereka cari bengkel lain yang lebih adem" mereka berdua ngancir sesegera mungkin, lebih baik kehilangan dua pelanggan cantik dari pada harus kehilangan pekerjaan. Zaman sekarangkan susah cari pekerjaan, lulusan Sarjana saja tidak menjamin bebas pengangguran. Tentu saja si bos tidak serius dengan ucapannya, kehilangan dua bawahan yang kerjanya bisa diandalkan hanya karena hal sepele sangatlah tidak mungkin. Dafi cuma menggertak mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD