Rindu dan Cemburu

1140 Words
Bagaimana kabar Gio? Sedang apa anak itu sekarang? Apakah makan dengan baik? Istirahat yang cukup? Ah! Memikirkan itu rasanya Jeremy hampir gila. Tidak pernah satu kali pun ia memikirkan anak kecil sedalam ini. Apalagi anak orang asing yang baru ia temui satu kali. Ini seperti terkena sihir, atau ia benar-benar kena tulah? Aku ingin menemuinya lagi. Pikir Jeremy lalu melihat arloji di tangan kanannya. Ah sebentar lagi sudah waktunya pulang sekolah. “Mau kemana?” Begitu ia berdiri Gabriel bertanya. “Rapat belum selesai Mr. Jeremy.” “Rapat ditunda. Aku ada urusan penting.” “Mr. Jeremy.” “Kembali ke ruangan masing-masing dan rapihkan seluruh laporan kalian. Aku tidak mau melihat typo satu kata pun.” Ujar Jeremy sebelum meninggalkan ruangan rapat. Semua orang saling bertatapan, saling berbisik heran. “Tumben sekali Mr. Jeremy meninggalkan rapat penting begini. Padahal biasanya ada tamu pun tidak mau diterima.” “Kamu benar.” “Jangan bergosip! Mr. Jeremy bilang kalian kembali ke ruangan kalian masing-masing.” Viona—salah satu asisten Jeremy menghardik, tak membiarkan karyawan-karyawan itu berkata yang tidak-tidak. “Mau kemana? Tumben menunda rapat?” Tanya Gabriel begitu mereka sampai di ruangan utama sang CEO. “Menjemput Kai.” “Aku sudah meminta Hariz.” “Tidak perlu, katakan pada Hariz aku yang akan menjemput Kai.” “Menjemput Kai atau ingin melihat anak itu?” “Jangan ikut campur Gabriel.” Berarti benar. Simpul Gabriel. “Mr. Jeremy. Saya ingatkan sekali lagi don’t cross the line. Jangan sampai tindakan anda ini justru akan membahayakan anak itu. Berapa kali anda diam-diam datang ke sekolah itu cuma untuk melihatnya? Big boss bisa curiga. Apalagi anda sampai membatalkan rapat penting begini. Ingat. Anak itu hanya orang asing Mr. Jeremy. Jangan sampai karena kegegabahan anda membuatnya dalam bahaya.” Jeremy mendengus. “Mama tidak akan curiga kalau salah satu diantara kalian tidak ada yang membuka mulut.” “Anda pikir saya pengkhianat?” “Aku tidak bilang begitu.” “Kalaupun ada yang memberitahu, itu bukan saya. Bisa jadi mata-mata bigboss. Anda seperti tidak mengenal ibu anda sendiri.” Jeremy memejamkan matanya sekilas. “Kamu benar.” “Jadi kita kembali rapat?” “Tidak. Kita jemput Kai. Lagipula selama ini aku tidak datang diam-diam Gabriel, aku benar-benar menjemput Kai. Jangan terlalu dramatis.” “Tapi anda diam-diam mencari anak itukan? Anda bahkan berkeliling sekolah cuma untuk memastikan anak itu masih ada atau tidak.” Gabriel menghembuskan napas, melihat boss nya itu diam ia tahu boss nya itu marah besar. Ia sudah sangat tahu tabiat bossnya itu—Jeremy tak suka saat ia mengomel. “Saya mengatakan ini demi kebaikan anda dan Gio Mr. Jeremy. Memang anda mau musuh anda melakukan sesuatu pada anak itu karena menganggap dia hal penting untuk anda?” “Saingan bisnis anda itu gila-gila. Anda tidak ingat? Viona bahkan diculik hanya karena dikira kalau Viona adalah kekasih anda. Mereka ingin merendahkan anda dan membuat anda memohon melepaskannya. Bagaimana kalau hal itu juga terjadi pada Gio?” “Tidak akan.” Jeremy menoleh, menatapnya tajam. “Aku juga tak bodoh Gabriel, aku tahu apa yang harus dan tidak harus kulakukan.” Gabriel hanya mampu menghela napas panjang. Ia tak kaget, keras kepalanya Jeremy memang melebihi kerasnya batu. *** “Gio kamu gak naik bus sekolah?” Tanya Kai saat Gio duduk di sampingnya, di pos khusus penjemputan. “Hari ini aku di jemput Mama sama Papi.” “Oh begitu.” Kai merengut. “Padahal aku pikir kita bisa pulang bersama lagi.” “Mm… maaf. Kai dijemput siapa?” “Tidak apa-apa. Kakek.” Mata Gio berbinar. “Om Je?” Kai mengangguk. “Selama Mama masih di rumah sakit dan Suster Risa pulang kampung aku dijemput Kakek.” “Wah.” “Kenapa?” Wajah Gio mendadak merona. “Gio ingin bertemu Om Je. Gio rindu Om Je.” Kaisar terkekeh kecil. “Kalau begitu tunggu saja. Sebentar lagi sampai kok.” Berhari-hari tidak bertemu dengan Jeremy, entah kenapa Gio merasa rindu, ia ingin sekali bertemu dengan lelaki itu, ingin menggenggam tangannya lagi. Ia rindu hangatnya, juga nyamannya. Tanpa sadar Gio terus tersenyum, membayangkan bagaimana ia akan bertemu lagi dengan kakeknya Kai itu. “Kakek juga sering banget nanyain kamu. Katanya kamu kok jadi gak mau numpang lagi? Apa kakek berbuat salah?” Senyuman Gio memudar. Ia ingat kembali ucapan ibunya yang tidak memperbolehkan menumpang pada Kai. “Bukan apa-apa Gio, kan sekolah sudah kasih Gio fasilitas untuk berangkat dan pulang dengan nyaman. Mama bilang begini bukan larang Gio main dengan Kai, Mama cuma tidak mau kamu merepotkan mereka. Tidak baik loh merepotkan orang lain itu.” Setelah dipikir-pikir oleh Gio, memang benar. Tidak baik kalau terus merepotkan orang lain. “Tidak Kai. Aku cuma ingin memakai fasilitas sekolah saja kok. Lagian naik bus itu seru tahu! Kita jadi tahu rumah temen-temen.” “Begitukah?” “Lain kali aku juga harus nyobain bus sekolah!” Seru Kai. “Kai.” “Om Je!” Gio berseru nyaring, kemudian merentangkan tangan hendak memeluk, tapi ia urungkan dan hanya mendongak menatap Jeremy. “Gio rindu Om Je. Lama sekali kita tidak ketemu ya?” Jeremy terkekeh, lalu berjongkok di depan Gio. “Iya ya? Om juga rindu Gio. Sini peluk.” “Boleh?” “Boleh dong.” “Gio rindu Om.” Bisik anak itu lagi. “Om juga.” “Kai tidak dipeluk Kek?” Jeremy terkekeh lalu mengusak kepala Kai. “Cemburuan sekali cucu kakek ini.” “Gio pulang bareng kita lagi?” “Hm… itu.” “Gio.” Seketika ketiganya menoleh bersamaan, menatap ke arah lelaki asing yang memanggil Gio. “Papi.” Ah. Jeremy menatap binar mata Gio saat menatap lelaki itu—hatinya mendadak panas, bergemuruh, tak suka. “Kai, Om. Gio duluan ya. Papi udah jemput.” Jeremy dan lelaki itu bertatapan beberapa saat sampai lelaki itu memalingkan wajah menatap Gio yang mulai mendekat. “Mama mana Pi?” “Masih di kantor katanya ada kerjaan mendadak. Jadi Papi aja yang jemput Gio.” “Yah, gak jadi dong makan siang barengnya?” “Jadi kok. Kita makan di resto deket kantor Mama.” “Yeyy!!!” “Kek! Kakek!” “Eh—iya Kai?” “Kenapa Kakek liatin mereka terus?” Jeremy berdiri. “Gapapa. Ayo kita pulang. Om masih ada rapat jadi gak bisa nemenin Kai di rumah ya?” “Gapapa, sama Om Hariz aja.” Diam-diam Jeremy mencuri pandang pada mobil berwarna merah merona itu, menatap Gio yang sedang dipasangkan safety belt. Dadanya kembali bergemuruh, rasanya begitu panas apalagi saat ia melihat bagaimana tawa Gio terbentuk karena usakan yang diberikan lelaki itu. Sungguh. Ia tidak terima. “Ada apa dengan wajah anda itu Mr. Jeremy?” “Cari tahu tentang lelaki itu.” Jeremy menatap Gabriel. “Sampai detail terkecil.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD