“Gio.”
“Mama!”
Jenara menyanbut putranya dengan pelukan hangat dan kecupan ringan. Sebelum akhirnya menggandeng anaknya itu duduk di meja yang sudah ia reservasi.
“Macet gak tadi di jalannya?” Jenara berbasa basi pada lelaki dewasa yang berjalan di belakang Gio, dia Gamaliel lelaki yang selalu Gio panggil Papi sejak anak itu bisa berbicara.
“Sedikit. Tapi cukup lancar sih. Iya kan Gio?”
Gio mengangguk semangat. Jenara tersenyum kecil. “Semangat banget kamu. Seneng ya di jenput Papi Gama?”
Anak itu tidak menjawab, dia hanya tersenyum lebar sebagai jawaban. Sementara Gama—panggilan lelaki itu—hanya diam. Ia tahu persis alasan anak itu bahagia, yang jelas bukan karenanya. Tapi karena lelaki asing yang selalu saja sedang memeluk Gio saat ia tiba menjemput anak itu. Dari mana ia tahu? Tentu saja dari Gio sendiri.
Lima hari ini Gio selalu menggumamkan kalimat yang hampir sama persis.
“Gio seneng banget, berkat Papi jemput sekarang jadi ketemu Om Je tiap hari. Gio jadi banyak ngobrol dulu tadi.”
Om Je, Om Je dan Om Je. Selalu saja Gio membahas orang itu. Lama-lama kesal juga. Apalagi lelaki itu hanya lelaki asing yang baru masuk ke dalam hidup Gio.
“Om Je baik?”
“Baik Pi! Tangannya hangat, nyaman, pelukannya juga sangat nyaman. Gio suka! Gio merasa kalau memeluk Om Je itu hm—bagaimana ya. Bahagia, lega seperti Gio menasang potongan puzzle terakhir.”
Aneh. Aneh sekali. Bagaimana bisa Gio yang sangat sulit dekat dengan orang baru justru lengket dengan orang itu? Kenapa? Dan apa tujuan orang itu mendekati Gio?
Ini terlalu aneh. Ini mencurigakan. Terutama caranya berinteraksi dengan Gio, dan caranya menatap Gio. Terlihat tidak biasa, terlalu mencurigakan untuk orang yang hanya sebatas wali dari temannya Gio.
Perasaannya semakin lama semakin terusik, ketika mereka menoleh bersama ke arahnya setiap kali ia memanggil Gio. Mereka terlihat sangat mirip, terutama bentuk wajah, mata, alis dan hidung.
Instingnya sebagai dokter terpacu, namun perasaannya segera menepis instingnya itu.
Hatinya terusik, perasaannya mendadak tak nyaman. Posisinya terasa terancam.
“Kak kenapa? Kok ngelamun?”
“Eh? Enggak kok. Aku tadi seneng aja liat Gio sebahagia itu. Dengan senang hati aku jemput dia tiap hari kalo emang Gio mau.”
“Jangan Kak. Jangan memanja Gio begitu. Lagipula Kakak pasti sibukkan? Gak mungkin Dokter bisa santai setiap hari.”
“Dokter juga manusia Ra, kita perlu istirahat dan ya… tentu saja kami punya waktu istirahat juga.”
“Aku gak mau ngerepotin kak.”
“Enggak kok. Aku justru seneng udah kamu kasih ijin buat jemput Gio lagi.” Gama tersenyum pada Jenara. “Nanti kalau semisal aku gak bisa aku kabarin. Aku beneran gak maksain diri kok. Aku jemput Gio karena emang senggang aja.”
“Beneran ya?”
“Iya Ara.” Gama tersenyum simpul. “Gimana kerjaan kamu lancar?”
“Ya begitulah. Namanya proyek baru jadi kerjaannya cukup banyak. Apalagi perusahaan optimis banget sama proyek ini, sampe jor-joran banget kasih dana ke proyek ini. Aku juga kayaknya gak bisa lama-lama makan siangnya. Gapapakan?”
“Gapapa, nanti aku yang anter Gio ke rumah sebelum balik ke rumah sakit.”
“Makasih Kak.”
“Oh ya Ra. Aku ketemu Hilda. Dia cerita banyak tentang kamu dan Gio.”
Hilda dan Gama kebetulan teman satu kuliah dan juga tetangga, sehingga tidak aneh kalau mereka memang teman dekat.
“Jangan dipikirin Kak.”
“Tapi yang Hilda bilang benar Ra. Gio sepertinya butuh sosok Ayah juga.” Gama mengulurkan tangan, menggenggam tangan Jenara yang ada di bawah meja. “Sampai sekarang aku belum berubah Ra, aku mau jadi ayah buat Gio.”
“Kan udah.”
“Dan suami buat kamu.” Lanjut Gama. “Ra… mau ya? Kita nikah. Aku mohon jangan tolak aku lagi. Dengan aku ajak kamu nikah ini udah jadi bukti kalo aku siap nerima kamu dan Gio apa adanya. Kamu gak perlu mikirin yang aneh-aneh.”
Jenara menundukkan kepala. “Kak boleh aku pikirin lagi?”
“Sampai kapan Ra? Apa gak cukup waktu lima tahun ini buat kamu berpikir?”
Jenara diam.
“Kamu masih cinta sama ayah kandungnya Gio?”
“Jangan bahas itu.” Jenara memalingkan wajah, menarik tangannya menjauh. “Dia sudah mati dan aku tidak mau mengingatnya lagi.”
“Kalau begitu ayo menikah denganku? Aku yakin bersama orang baru adalah cara yang paling ampuh untuk move on.”
“Dengan kamu menikah sama aku, aku yakin kamu bisa lupain semua masa lalu kamu.”
Jenara kembali diam. Sungguh Jenara tak ingin menjalin hubungan lagi. Bahkan sejak mengandung Gio Jenara sudah bertekad untuk tidak berhubungan dengan lelaki manapun lagi, apapun statusnya. Ia tidak mau, ia tak ingin merasa kecewa lagi, sakit lagi atau bahkan hancur lagi seperti dulu.
“Menikah itu apa?” Gio bertanya tiba-tiba.
Gama menoleh dengan cepat ke arah Gio. Tersenyum manis pada anaknya. “Menikah itu kita hidup bersama, Papi, Mama dan Gio nanti bisa tinggal bersama-sama, tidur bersama-sama, kemana-mana kita bisa bersama.”
Mata Gio mengerjap, keningnya mengerut, kepalanya miring, terlihat berusaha mencerna kalimat yang baru saja didengarnya.
“Gio… boleh tidak kalau Papi dan Mama menikah?”
Jantung Jenara berdebar mendengar pertanyaan itu. Sungguh, ia belum siap sekalipun Gio memang menginginkannya.
***
“Namanya Gamaliel Chandra Aditama. Dokter Umum di Royal’s Hospital. Usia 30 tahun.”
“Cukup.” Jeremy menghembuskan napas pelan, tangannya terangkat sesaat memijat keningnya.
“Cukup?”
“Setidaknya nama belakang Gio bukan nama belakang orang itu.” Dalam hati Jeremy lega, ia pun tersenyum.
Gabriel terperangah. “Hanya itu yang ingin anda tahu?”
“Tidak juga.”
Gabriel semakin dibuat bingung oleh bosnya sendiri. Ia menatap lamat pada Jeremy yang sedang menatap kosong ke arah dinding kaca di depannya, dengan tangan bersilangan di d**a dan bibir yang menyeringai kecil.
“Kau bilang tadi dia bekerja di salah satu rumah sakit milik keluargaku?”
Gabriel mengangguk kecil. “Benar. Dia bekerja di The Royal’s. Lebih tepatnya rumah sakit milik Mrs. Sofia, kakak tertua anda.”
Ujung bibir Jeremy naik, “Kalau begitu bukan masalah lagi, dia ada dalam genggamanku. Aku bisa melakukan apapun padanya kalau dia macam-macam.”
“Apa yang anda rencanakan?”
Bahu Jeremy mengedik. Setelah itu ia berbalik, kemudian duduk kembali di kursi kebanggaannya.
“Gabriel.”
“Saya Mr. Jeremy?”
“Waktu ke rumah Gio, kau melihat foto Gio dengan ibunya di dekat pintu masuk?” Tanya Jeremy.
Kening Gabriel mengerut. “Tidak Mr. Jeremy. Hanya anda yang melihatnya.”
Jeremy menghembuskan napas. “Kalau begitu cari tahu siapa ibunya Gio.”
Aku yakin, aku mengenalnya. Aku pernah bertemu dengan perempuan itu. Tapi kapan? Dan dimana?
“Dan juga cari tahu siapa ayah kandung Gio.”