Kau lupa? Hatiku sudah kau ambil 6 tahun lalu. Kalimat itu terus menghantui pikiran Jenara. Ia masih tak mengerti, masih berusaha mencernanya. 6 tahun lalu? Aku mencuri hatinya? Mencuri bagaimana? Mencuri sampai dia sekarang tidak punya hati gitu? Tidak punya perasaan? Jenara mendengus kecil. Jadi maksud lelaki itu dia jadi kejam itu karena aku? Salahku? Begitu? Tapi kenapa? Dulu aku pergi karena keinginanmu sendiri, karena kau yang mengusirku! Lalu kau mengatakan aku mengambil? KAU MENUDUHKU MENCURI LAGI HAH?! “Sialan!” “Huh!” Jenara mendengus kecil. “Terus saja kau tuduh aku pencuri!” Jenara mengatupkan rahang, mengingat kejadian masa lalu. Hatinya sakit, rasanya masih tetap sama. Dicaci, dihina, direndahkan. Ia sudah memakan semuanya. Jenara pun tak naif. Ia akui, begitu Jeremy

