“Gio ingat ya apa kata Mama? Kalau tidak ada Papi pulang baik bus sekolah, dan kalau Gio ketinggalan bus telpon Mama atau Papi. Nomor Papi sudah Mama tambahkan di buku catatan kamu.”
“Kenapa Papi?”
“Karena Mama belakangan sedang sibuk di kantor sayang. Jadi Mama titipkan Gio pada Papi. Takut-takut Mama pulang terlambat jadi nanti Gio ikut dulu sama Papi.”
“Bukan begitu…” Gio merengut.
Kening Jenara mengerut. “Lalu? Bagaimana maksud Gio?”
“Apa…” Baru satu kata keluar, Gio langsung menutup mulut kemudian menggelengkan kepala.
“Apa sayang? Coba cerita sama Mama.”
Gio menggeleng lagi.
“Gio ingat kata Dokter? Gio tidak boleh merahasiakan apa-apa dari Mama.”
Kali ini Gio menghela napas. “Gio hanya rindu main dengan Kai. Sudah lama sekali Gio tidak main dengan Kai.”
“Maaf sayang, tapi Mama tidak setuju kamu bermain ke rumah Kai.”
Gio mengangguk kecil. “Gio ke kelas dulu Ma. Sampai nanti ya… bye bye.”
“Semangat sayang!”
Jenara menghembuskan napas panjang, ia kemudian beranjak meninggalkan gerbang, ketika berbalik iris matanya bertabrakan dengan iris mata yang menatapnya tajam dan dingin.
Mengabaikan lelaki itu, Jenara beranjak pergi menuju halte bus tak jauh dari tempat itu.
***
“Kakek! Kenapa melamun?”
Jeremy menunduk menatap Kai yang menggoyangkan tangannya.
“Itu Mamanya Gio Kek, kenapa Kakek liatin Mamanya Gio? Kakek kenal?”
Jeremy berdehem kecil, lalu menggandeng tangan kecil cucu nya itu memasuki gerbang sekolah. Setelah memastikan anak itu masuk terlebih dulu ke dalam kelas, Jeremy segera kembali memasuki mobil mewahnya.
Pertemuan tak senganya dirinya dengan Gio saat di mall beberapa hari lalu sangat mengganggu pikirannya. Bukan, ia terganggu bukan karena Gio, tapi karena penuturan Alea.
“Kalian seperti pinang dibelah dua.” Ujar Alea saat Jeremy menggendong Gio—tadi Jeremy tanpa sengaja melihat Gio yabg kesusahan mengambil sesuatu.
“Semirip itu?”
“Tunggu, kau dengar reaksi orang asing.” Alea yang memang sangat usil memanggil seorang pelayan. “Mbak lihat, suami dan anakku tampankan? Mirip tidak?”
Mendengar pertanyaan aneh tersebut pelayan itu mengerutkan kening, memandang Alea dengan tatapan sangsi. Membuat Jeremy memalingkan wajah, malu.
Rasanya ia tak ingin kenal Alea lagi.
“Jawab jujur saja tidak apa-apa.”
“Iya tampan, sangat mirip. Tapi… ah tidak.”
“Tapi apa? Tidak mirip saya ya?”
Pelayan itu mengangguk kecil. “Maaf.”
“Tidak apa-apa aku sudah memintamu menjawab jujur. Terima kasih ya.”
“Dengar. Tidak hanya aku yang merasakannyakan?” Alea menatap Gio yang terlihat nyaman dalam pelukan Jeremy. “Sejak awal aku melihat anak ini aku merasa tidak asing, aku terus berpikir siapa yang mirip dengan anak ini. Ternyata kamu.”
“Mungkin kebetulan, di dunia ini memang katanya ada 7 orang yang miripkan?”
Alea berdecak, “Tapi kalian identik. 80% wajah Gio itu jiplakan wajahmu Jer. Sebagai Dokter instingku sangat kuat.“
Jeremy mendengus kecil. “Lantas aku harus melakukan apa kalau mirip?“
“Kamu tidak curiga?”
“Maksudmu?”
“Kau kan player. Sering menanam benih dimana-mana. Siapa tahu dia anakmu.”
“Aku tidak sebodoh itu Alea. Aku juga tidak seburuk itu. Aku tidak sembarangan berhubungan.”
“Oke. Oke. Kamu memang tidak sembarangan. Tapi kau yakin? Terakhir kali kamu hampir lupa pakai pengaman saat kita mau bermain.”
Jeremy terdiam sampai suara Gio terdengar di telinganya.
“Papi.”
“Hm?”
“Ada Papi.”
Jeremy segera menurunkan anak itu, membiarkannya mendekat pada sosok yang dipanggilnya Papi.
“Dokter Gama.”
“Selamat siang Dokter Alea. Saya tidak bisa lama-lama. Permisi.”
Jeremy hanya bisa memandang dalam diam ke arah Gio yang masih sesekali menoleh ke arahnya.
“Itu rekan kerjaku, yang waktu itu aku ceritakan anaknya kejang.”
Jeremy menoleh. “Jadi maksudmu anaknya itu Gio?”
Alea mengangguk. “Tapi tidak mirip ya? Padahal aku ingat betul anak itu katanya anaknya.”
“Bukan.”
“Hm?”
“Gio bilang Papa kandungnya sudah meninggal, dia cuma Papi yang merawatnya sejak kecil.”
Alea tiba-tiba terkekeh. “Kenapa aku tiba-tiba mencium sebuah drama? Gio menganggap ayah kandungnya sudah meninggal pasti karena ibunya mengatakan begitu, lalu datang Dokter Gama menggantikan posisi ayah anak itu. Aku tidak terkejut jika ayah kandung sebagai pemeran utama laki-laki sebentar lagi akan datang.”
Jengah, Jeremy memutar bola matanya. “Kau terlalu banyak menonton drama.”
Alea hanya mengedikkan bahu seraya beranjak meninggalkan Jeremy.
“Jangan terlalu banyak melamun, terakhir kali anda begini anda sakit sampai mendapatkan perawatan intensif.” Gabriel menegur, membuat Jeremy kembali ke alam sadarnya.
Akan tetapi hal itu tidak menghentikan Jeremy untuk kembali berpikir tentang Gio. Bahkan ia sudah memikirkan Gio sejak semalam.
Tidak hanya memikirkan perkataan Alea saja, tapi memikirkan hubungannya dengan Jenara di masa lalu. Ia menggali seluruh ingatannya, sampai detail terkecil yang mungkin sempat ia lupakan. Jeremy bahkan membuka kembali galeri online, tempat dimana ia pernah menyimpan beberapa potretnya dengan Jenara.
Saat membuka foto-foto itu, Jeremy tak bisa menyangkal lagi, dulu mereka saling mencintai—meski dengan awal hubungan yang buruk tapi saat itu mereka telah merasakan cinta yang sama. Ia sering kali menghabiskan waktu bersama Jenara, entah hanya sekedar makan siang, makan malam bersama, atau hanya mengobrol menghabiskan waktu dengan berpelukan.
“Jere. Kamu yakin sama hubungan kita? Kamu pengusaha sukses. Aku cuma mahasiswa yang bahkan belum lulus, belum lagi aku cuma dari keluarga miskin.”
“Keluargaku memang memandang strata sosial seseorang. Tapi aku penguasa di rumah. Aku satu-satunya anak laki-laki. Mereka tidak bisa mengaturku, mereka hanya bisa mengikuti permintaanku.”
“Kamu ini sedang pamer atau bagaimana?”
Jeremy terkekeh kecil. “Aku sedang meyakinkanmu kalau kita akan baik-baik saja sayang.”
“Terima kasih Jere.”
“Jadi bagaimana sekarang kamu sudah percaya sama aku?”
Jenara mengangguk kecil lalu membubuhkan kecupan ringan di bibir Jeremy. Kecupan yang kemudian berganti menjadi lumatan dalam, dan berlanjut hingga keduanya menghabiskan malam panas dan menggirahkan. Malam penuh desah yang mendamba, malam yang menjadi saksi persatuan cinta dua insan tersebut.
Jeremy terperanjat, matanya bergerak panik. Ia segera meraih ponsel, menghubungi Alea.
“Alea.”
“Kenapa Jer?”
“Saat pemeran utama laki-laki datang, apa yang akan terjadi selanjutnya?”
“Tergantung.”
“Tergantung siapa?”
“Tentu saja pemeran perempuan. Dari drama yang kulihat, ada yang bisa menerima dan ada yang tidak.”
Jeremy mengatupkan ragang, mencengkram ponsel dalam genggamannya. Sudah jelas ia ada di opsi kedua, dimana ia tak diterima oleh Jenara—dan ia pun masih kecewa pada perempuan itu.
“Gabriel.”
“Saya Mr. Jeremy?”
“Kembali ke sekolah.”
“Tapi anda—.”
“Kembali sekarang juga!”
“Baik Mr. Jeremy.”