Kebahagiaan Mama

1325 Words
Jenara tersenyum lega ketika Dokter mengatakan Gio dinyatakan sembuh setelah satu minggu dirawat. Sungguh, tidak ada hal yang lebih membuat Jenara bahagia selain kesehatan dan kebahagiaan anak terkasihnya itu. Sekarang ia bisa merasa lebih tenang, tak perlu menghiraukan apapun lagi. “Sekarang Gio memang sudah bisa pulang tapi tolong dijaga pola makan dan istirahatnya ya. Gio juga kalau ada yang Gio pikirkan cerita dengan Mama ya sayang? Jangan dipikirkan sendiri. Terutama kalau Gio sedih. Gio harus cerita sama Mama.” “Gio benar-benar tertekan Dok?” “Dugaan saya begitu, tapi akhir-akhir ini Gio terlihat sangat ceria. Saya rasa sekarang keadaan Gio sudah mulai membaik. Jadi tidak masalah. Kalian hanya perlu menjaganya dengan baik dan lebih memberikan Gio perhatian. Saya yakin kalian sangat sibuk, tapi tolong luangkan waktu untuk Gio ya?” Jenara merasa tersentil oleh ucapan Dokter cantik itu. Ia mulai merasa bersalah pada putranya. “Baik terima kasih Dokter.” “Kalau begitu saya permisi. Gio cepat pulih jagoan! Dokter pergi dulu ya.” Pamit Dokter cantik dengan nametag dr. Alea Lesham Shaenette, Sp.A Jenara memandang Gio yang menatapnya dengan senyuman lebar. Beberapa hari ini Gio memang mulai berubah seperti Gio yang sedia kala lagi. Tidak banyak merengut, atau melamun. Gio kembali jadi Gio-nya yang selalu tersenyum ceria dengan binar mata yang indah. “Biar aku yang tebus obatnya. Kamu di sini aja dulu sama Gio.” Ujar Gama setelah Dokter Alea beranjak pergi. Jenara duduk kembali di bangsal, mengangkat tubuh Gio, membiarkan anaknya duduk di atas kedua paha. “Gio, Mama senang sekali Gio sudah sembuh. Mama bahagia melihat Gio sekarang tidak pucat lagi.” Gio menghembuskan napas, tangan mungil itu terulur menangkup wajahnya. “Mama pasti sedih. Maafin Gio Mama. Gio janji Gio gak akan sakit lagi. Gio akan kuat!” “Makasih sayang.” Jenara mengecup kedua pipi Gio. “Hm… Gio, Mama boleh tanya?” “Tanya apa?” “Gio memikirkan apa sampai Gio sedih dan sakit begini? Apa ada masalah di sekolah? Apa ada yang mengganggu Gio di sekolah?” Gio tak langsung menjawab, anak itu menatapnya lamat-lamat kemudian menggeleng kecil. “Tidak apa-apa Gio, Mama pasti dengerin Gio kok. Mama tidak akan memarahi Gio.” “Gio gapapa Mama. Kemarin cuma lelah.” “Mama bakalan sedih kalo ternyata Gio bohong.” Kali ini Gio menghela napas panjang kemudian menundukkan kepalanya dalam. Jenara pikir Gio akan mengeluarkan suara, tapi tak ada satu pun kata yang keluar dari mulut Gio. “Apa Gio benar-benar ingin Papa?” Tanya Jenara memberanikan diri. “Saat sakit Gio manggil Papa terus. Apa Gio ingin punya Papa?” “Gio bermimpi ketemu Papa.” Mata Jenara membulat. “A—apa?” Gio mengangguk kecil. “Tapi Gio tidak bisa melihat wajah Papa. Gio cuma bisa peluk Papa, Papa juga peluk Gio erat sekali.” “Darimana Gio tahu itu Papa?” “Hangat, pelukan Papa juga sangat lembut. Gio sangat nyaman. Gio… sebenarnya tidak tahu, tapi Gio yakin itu Papa.” Tangan Jenara terulur memeluk tubuh sang putra dengan sangat lembut. Hatinya terenyuh, dan terluka secara bersamaan. Ia merasa berdosa pda Gio, ia merasa bersalah. Apa ini karena ia menjauhkan Gio dari Jeremy? Tapi bagaimana bisa? Gio bahkan tidak tahu kalau Jeremy adalah ayahnya. Jeremy pun sama. Dia tidak tahu kalau Gio adalah anaknya. Tidak mungkin kan ikatan mereka sudah sekuat itu? “Ra ayo. Aku antar pulang.” “Eh Kak. Sudah?” “Sudah. Ayo.” “Gak perlu kak. Sekarang jadwalnya kak Gama bertugas. Aku sama Gio biar baik taksi saja.” “Tidak perlu, aku sudah ijin untuk mengantar kalian lebih dulu dan minta tolong pada temanku untuk berjaga menggantikanku sebentar.” “Kamu yakin? Tidak ada pekerjaan mendadak?” Akhir-akhir ini Gama memang sering dipanggil manager untuk mengerjakan sesuatu. “Yakin. Maaf ya. Aku jadi jarang nemenin Gio. Sekarang aku bisa kok nemenin kalian. Kamu juga bilang mau beli bahan makanan buat di rumahkan? Biar sekalian aku anter.” “Gak perlu Kak.” “Aku juga belum belanja bulanan, jadi biar sekalian. Kalo sama kamu kan suka diingetin beli apa aja.“ Jenara memang sering kali menemani Gama untuk belanja, lelaki itu selalu saja ada cara mengajaknya pergi. “Yasudah, tapi jangan lama-lama ya. Gio masih harus banyak istirahat.” “Kita belanja di mall sebelah saja biar gak perlu putar arah. Yuk.” Gama mengalihkan perhatiannya pada Gio. “Ayo Gio. Papi gendong.” Sayangnya Gio menggeleng. “Gio mau jalan saja.” *** Selayaknya keluarga harmonis Gio berjalan di depan troller mengikuti Jenara yang sedang memilih bahan makanan sementara Gama mendorong troller di belakang. Sesekali Gio memekik tak suka saat melihat Jenara banyak memilih sayuran hijau, tapi kemudian tersenyum lebar saat dipilihkan daging segar dan beberapa lauk lainnya. “Mama Mama mau pisang, mau anggur juga.” “Alpukat mau?” Gio buru-buru menggeleng cepat. “Gio kamu itu harus makan alpukat sesekali, alpukat itu bagus untuk kesehatan.” “Gak enak Mama, Gio gak suka. Huek!” Jenara mendesis. “Kamu ini makanan enak gak suka. Huh.” “Kalau Mama aku ajak makan buah naga mau tidak?” “Tidak, buah naga itu hambar Gio.” “Alpulat juga hambar.” Balas Gio. “Aw Mama!” Seru Gio saat Jenara mencubit hidungnya gemas. “Kamu itu bisa ya balasnya. Dasar!” Tak hentinya Gama tersenyum simpul melihat pemandangan itu, hatinya menghangat, sungguh ia begitu bahagia dan sangat senang ketika mereka berjalan bersama seperti ini. Lima tahun Gama sudah memalui hari-hari seperti ini, tapi rasanya ia tak akan bosan melalui ini semua. “Mama… Gio mau cari cemilan di sebelah sana boleh?” “Papi temani mau?” “Papi temani Mama saja, Mama belanjanya lama.” “Kamu ini. Jangan jauh-jauh ya.” “Iya Mama. Cuma cari cemilan sebentar.” Jenara mengikuti punggung Gio dengan tatapannya, begitu juga Gama. Setelah Gio sampai di rak yang di maksud barulah Jenara kembali memilih buah dan beberapa bumbu yang belum sempat ia beli. “Gak kerasa ya Ra Gio udah besar aja?” Jenara mengangguk kecil. “Sampai Gio sekarang mau apa-apa sendiri. Rasanya masih gak rela, aku pengen Gio kecil aja, masih pengen manjain Gio. Tapi anaknya malah pengen cepet dewasa.” “Sama, aku juga. Rasanya masih gak rela Gio sekarang gak mau aku gendong. Padahal dulu paling lengket. Kalau ketemu pasti pengennya digendong, dipeluk terus.” Ungkap Gama. “Maaf ya kak.” “Kok minta maaf?” “Gio sekarang kayak gitu sama kamu.” Gama terkekeh kecil. “Gapapalah namanya proses perkembangan anak. Apalagi anak laki-laki. Dia pasti pengen jadi jagoan Mamanya.” “Iya. Katanya Gio pengen cepet besar, pengen lindungin Mamanya ini.” “Aku juga Ra.” “Hm?” Jenara menoleh, menatap Gama. “Aku pengen lindungin kamu, dan Gio.” Jenara termenung. Gama… selalu saja begitu. “Aku gak akan nyerah Ra. Aku akan tetap berusaha yakini kamu.” Jenara memalingkan wajah. “Ah—aku harus beli peralatan mandi. Kak Gama bisa tolong susul Gio gak? Oh ya apa Kak Gama mau beli alat mandi juga?” Gama menghela napas panjang, sudah biasa menghadapi Jenara yang menghindari ucapannya. “Oke. Ini.” Troller ditangannya diberikan pada Jenara. “Aku nitip yang biasa ya. Aku susul Gio dulu.” “Jangan biarin dia bawa banyak permen sama—.” “Coklat, bolehin Gio beli snack tapi cuma dua.” Gama tersenyum tipis, menyambung kalimat Jenara yang sudah sangat sering ia dengar. Jenara mengerjapkan mata. “A—aku beli sabun dulu.” Sesuai perintah, Gama mengusul Gio yang berada disekitar rak snack. Sesekali ia menengok ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan anak itu. Sampai… “Om Je iya yang itu!” Gama melihat bagaimana Gio dengan begitu nyaman berada di dalam gendongan pria asing yang pernah ditemuinya dulu di sekolah Gio. Dadanya mencelos, sedih. Mengingat bagaimana Gio tak ingin digendongnya lagi tapi Gio mau digendong orang asing itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD