Rumah Sakit

1069 Words
Tidak pernah satu kali pun dalam hidup Jeremy melaukan hal seimpulsif ini untuk sesuatu hal yang tidak penting—hanya untuk memenuhi rasa penasaran dirinya terhadap seorang anak. Memanfaatkan koneksi, dan jabatan hanya untuk mendapatan informasi yang dia inginkan. “Ruangan khusus anak, Kelas 1 A, ruangannya ada di lantai satu dari pintu masuk terus lurus lalu belok kanan, di pintu pertama sebelah kiri.” “Terima kasih.” Ucap Gabriel. “Mari Mr. Jeremy saya sudah tahu ruangan anak itu. Tidak hanya itu, ia bahkan sempat menelpon kakaknya untuk meminta menyibukkan lelaki yang bernama Gamaliel. “Untuk apa? Jelaskan dulu nanti kakak akan memenuhi keinginanmu.” “Tidak ada waktu. Turuti dulu keinginanku setelah itu aku akan menjelaskannya.” “Ck! Baiklah. Aku akan mengirimnya ke UGD untuk bertugas. Setelah urusanmu selesai segera ke ruanganku. Aku akan menagih janjimu.” “Ya, terima kasih. Aku akan ke sana nanti kalau sempat.” “Harus sempat.” Perempuan yang merupakan kakaknya itu mendesis kecil. “Kamu sangat mencurigakan.” “Dan jangan katakan apapun pada Mama jika kamu menginginkan jawabannya Kak.” “Iya iya! Sana urus urusanmu.” “Mr. Jeremy. Apa tidak bahaya? Saya takut anda bertemu dengan Jena lagi dan membuat kalian berdebat seperti terakhir kali. Apalagi perempuan itu sepertinya sangat membenci anda dan tidak ingin bertemu dengan anda lagi.” Gabriel melirik bosnya. “Lebih buruknya bagaimana kalau semisal anda semakin dijauhkan dengan Gio?” “Ekhm.” Gabriel berdehem saat tak ada jawaban dari Jeremy. “Saya menduga itu karena selama satu minggu kebelakang Jena seperti ingin menjauhkan anda dengan Gio.” “Kau juga merasakannya?” Ditanya begitu Gabriel mengangguk kaku. “Menurutmu alasan kuat apa yang membuat perempuan itu harus menjauhkan anaknya denganku?” “Karena Jena membenci anda? Dia tampaknya sangat kecewa dan menaruh sakit hati yang sangat dalam.” Jeremy menghela napas panjang. Langkahnya terhenti tepat di depan ruang rawat dengan angka 1 A. Diam-diam ia mendengar suara Gio dari dalam, sedang berbicara dengan seseorang melalui ponsel. *** “Gio maafkan Mama ya, Mama tidak bisa pulang dulu ke rumah sakit karena Mama ada banyak sekali pekerjaan yang harus Mama selesaikan. Mama janji setelah pekerjaan Mama selesai Mama akan segera ke rumah sakit dan menemani Gio. Ya sayang?” Gio memandangi wajah lelah ibunya di ujung panggilan. Anak laki-laki itu menghela napas, sejujurnya ia bosan hanya duduk di ruangan sempit ini sendirian, ia ingin setidaknya ada teman bicara. Sayang ibunya bahkan tak bisa menemaninya makan siang, mungkin tak akan bisa pulang cepat juga. “Jangan sedih, nanti ada Papi yang akan temenin kamu ya sayang.” “Papi sedang sibuk Ma, Papi tadi pamit katanya Dokter yang di UGD berhalangan hadir jadi Papi harus menggantikannya untuk bertugas.” “Jadi sekarang Gio sendiri?” Gio mengangguk kecil. “Tidak apa-apa Ma. Gio bisa tidur saja nanti sambil nunggu Mama pulang, atau menonton TV.” “Maaf ya sayang.” “Tapi Mama, tangan Gio sakit. Gio tidak mau disuntik begini. Lihat… berdarah. Tadi Gio tidak sengaja menggerakkan tangannya terlalu kencang.” Anak laki-laki itu menunjukkan tangan kanannya. “Ya Tuhan, sayang. Yasudah Mama kabari dulu suster di sana supaya melihat Gio ya. Mama janji Mama akan segera pulang. Sampai nanti sayang. I love you more baby.” Gio lagi-lagi hanya mengangguk kecil. “I love you too Mama.” Tok! Tok! Gio terperanjat, ponsel ditangannya bahkan hampir jatuh, begitu menoleh ke arah pintu seketika matanya berbinar diiringi senyuman yang terbentuk sempurna. “Om Je!” Pekik Gio. Jeremy tersenyum lebar. “Hai Gio. Apa kabar jagoan?” “Sakit.” Anak itu merengek, menunjukkan selang ditangannya yang berdarah. “Gabriel panggilkan suster.” Gabriel hanya mengangguk sebelum beranjak pergi mengikuti perintahnya. Jeremy berjalan mendekati bangsal, berdiri di samping anak itu, mengelus kepala dan menatap lamat wajah pucat Gio. “Gio masih demam.” “Tangan Om juga panas. Om demam?” Jeremy mengangguk kecil. “Tapi gapapa, sekarang sudah sembuh. Apalagi setelah melihat Gio.” “Gio juga. Gio sembuh sekarang.” Anak laki-laki itu mengulurkan tangan, yang sigap Jeremy raih kemudian menggendongnya. “Om Je. Gio kangen banget.” Bisik anak itu tepat di telinganya. “Gio terus memimpikan Om, tapi Om seperti tidak mau mendekati Gio. Gio juga memimpikan Papa.” “Papa?” Gio mengangguk. “Papa dari surga. Katanya Papa juga ingin bertemu Gio.” “Rasanya sedih sekali. Gio memimpikan Papa, tapi Gio tidak bisa melihat wajah Papa. Gio hanya mendengar suaranya. Mirip sekali dengan suara Om Je.” “Benarkah?” Gio mengangguk kecil. “Tapi kata Papi katanya itu cuma mimpi karena Gio sedang sakit. Katanya kalau anak kecil sakit memang suka mimpi aneh-aneh yang tidak masuk akal.” “Mama sama Papi Gio tahu Gio mendengar suara mirip Om?” “Tidak.” Gio menggeleng. “Gio tidak berani cerita sama siapa-siapa.” Jeremy menghela napas panjang. “Mama marah ya sama Gio? Mama larang Gio ketemu Om lagi ya?” Gio tidak langsung merespons, anak itu malah menelusupkan kepala di lehernya, Jeremy asumsikan dugaannya benar. Ia kemudian mengelus punggung Gio, mencium pelipisnya sesaat. Bertepatan dengan itu suster masuk dan segera mengatur kembali infus di tangan Gio. Sesekali Gio meringis kecil, tapi dengan telaten Jeremy mengelus punggung Gio. “Sakit.” “Tidak apa-apa, sakitnya hanya sebentar.” “S—sudah.” “Terima kasih suster.” “Sama-sama, saya permisi.” Gabriel berdiri di pintu masuk. “Mr. Jeremy jam 3 anda ada meeting dengan PT. Arsri. Viona mengabari kalau meeting tidak bisa ditunda lagi karena proyek harus segera dilanjutkan ketahap berikutnya.” Tangan kanan Gio memeluk leher Jeremy dengan sangat erat, sepertinya sadar kalau keberadaannya di sini tak akan lama. “Apa sakit sekali?” Gio mengangguk, tapi kemudian menggeleng dengan cepat. “Tidak. Sekarang tidak sakit.” “Gio.” “Hng.” “Gio jangan beritahu Mama ya kalau Om datang berkunjung. Besok Om akan berkunjung lagi melihat Gio.” “Om akan pergi sekarang?” “Maaf Gio.” “Tidak bisakah tinggal sebentar lagi? Gio mengantuk, tapi Gio tidak mau sendiri. Gio mau dipeluk Om Je. Gio rindu Om Je.” “Iya Om temani ya.” “Jangan dilepas.” Gio mengeratkan pelukannya lagi. “Pelukan Om Je, seperti pelukan Papa dalam mimpi Gio.” Jeremy terhenyak. Jantungnya mendadak berdegup lebih kencang dari biasanya. Ada apa lagi? Kenapa ia selalu saja merasakan hal ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD