Sakit

1402 Words
Wajah Jenara sudah pucat pasi, air matanya pun mengalir deras ketika menyaksikan bagaimana tubuh putranya kejang-kejang. Panik. Tak pernah satu kalipun Gio begini. Biasanya jika Gio sakit hanya pilek atau hanya demam biasa. Tapi sekarang Gio sampai kejang-kejang, mata anak itu hampir terbalik. “Gio sayang ya Tuhan. Tolong anak saya Tuhan. Sembuhkan Gio.” Hanya itu kalimat yang berulang kali Jenara ucapkan. Sungguh, ia tak sanggup lagi melihat keadaan anaknya, hatinya sakit, perih sekali. Jika bisa, ia rela menggantikan posisi Gio. Biarlah dia yang sakit, yang terpenting Gio baik-baik saja. Sebuah rangkulan Jenara terima, siapa lagi? Tentu saja dari Gama. “Gio tidak apa-apa. Sebentar lagi pasti akan sembuh.” Benar saja, setelah beberapa saat ditangani Dokter Anak, kejang-kejang Gio mulai mereda, keadaan anak itu tenang kembali. “Anda bisa tenang Bu. Anak anda tidak apa-apa, sekarang hanya sedang tidur.” Jenara menyeka air matanya cepat kemudian mendekat ke arah Gio. “Dokter Gama tetap pantau, jangan sampai anakmu ditinggalkan sendiri. Jika membutuhkan sesuatu segera hubungi saya.” “Baik, terima kasih Dok.” Jenara tak hentinya mengelus kepala Gio, dengan sesekali mengecup kening sang putra. “Gio… cepat sembuh ya sayang.” “Pa—papa.” “Gio.” Jenara memanggil putranya yang mengigau. “Papa.” “Papa?” Tanya Gama. Jenara menggeleng kecil. “Aku juga gak ngerti Kak.” Gama menghela napas. “Jangan dipikirkan. Pikiran anak yang sedang sakit memang sering kacau begitu. Wajar saja jika mengigau yang tidak-tidak.” Jenara mengangguk kecil. Semoga. Batinnya. *** Sementara itu di tempat lain… Weekend biasanya tak jadi halangan bagi Jeremy untuk bekerja. Lelaki itu akan tetap produktif dan sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Namun sudah Gabriel tunggu sampai jam 9 Jeremy tak juga turun dari apartemennya. Ia bahkan berulang kali menghubungi bosnya itu tapi tak ada satu pun panggilan yang dijawab. Saat memutuskan untuk menyusul Jeremy ke unit apartemennya, Gabriel menemukan Jeremy sedang bergelung di bawah selimut dalam keadaan demam dan tubuh yang berkeringat hebat. “Bagaimana keadaan Mr. Jeremy Dok?” “Jeremy cuma kelelahan. Dia membutuhkan waktu untuk istirahat setidaknya paling sedikit tiga hari.” Ujar Alea, Dokter pribadi Jeremy. “Baik Dok.” “Aku sudah pasangkan infus, sekarang aku harus berangkat ke rumah sakit dulu, setelah pekerjaanku selesai aku akan kembali malam ini. Jika terjadi sesuatu kabari saja langsung nanti aku akan langsung datang.” “Siap. Terima kasih Dok. Mari saya antar.” Bertahun-tahun Gabriel bekerja dengan Jeremy, baru kali ini ia menyaksikan Jeremy sakit sampai tak bisa membuka mata. Biasanya meskipun Jeremy sakit, itu hanya sakit yang bisa tetap Jeremy bawa untuk bekerja. Ya… Jeremy jarang sekali sakit. Meski sibuk, lelaki itu sangat disiplin dalam mengatur waktu, dia tak pernah melewatkan jam makan, dan istirahat. Lelaki itu juga sangat rutin olah raga. Tapi kali ini… entahlah. Gabriel juga tidak mengerti. Padahal kemarin Gabriel rasa Jeremy baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda Jeremy mengalami sakit. “Mr. Jeremy makan dulu, setelah itu anda makan obat dan istirahat lagi.” Jeremy bergeming, bosnya itu hanya meringis kecil dan memalingkan wajah. Gabriel menghembuskan napas panjang. Jujur saja, ia tak bisa merawat orang sakit. “Viona dimana?” “Saya ada di apartemen Mr. Gabriel.” Jawab Viona di ujung panggilan. “Datanglah ke apartemen Mr. Jeremy.” “Apa ini terkait kerjasama dengan PT. Arsri?” “Bukan. Mr. Jeremy sakit. Saya tidak bisa merawat orang sakit.” “Mr. Jeremy sakit?! Baik. Saya naik sekarang.” “Gio.” Seketika Gabriel menoleh ke arah suara Jeremy. “Gio.” Gio? Jeremy memimpikan Gio? *** Jeremy tak ingat apapun. Begitu matanya terbuka ia menyadari hari telah berlalu dan kini langit sudah berwarna jingga. Jeremy ingat, hari ini ia tak sanggup hanya untuk membuka mata. Kepalanya sakit, sekujur tubuhnya panas, berkeringat dingin juga lemas. Ia tak bisa melakukan apapun selain hanya memejamkan mata. Yang Jeremy ingat hanya Gio, tangisan anak itu, dan rintihan rasa sakitnya. “Mr. Jeremy anda sudah sadar?” Jeremy mengangguk kecil, tenggorokannya kering. “Minum.” “Sebentar.” Viona membantu Jeremy duduk lebih dulu, mengambil bantal lain untuk tumpuan punggung Jeremy sebelum mengambil segelas air dengan sedotan di dalamnya. Setelah itu Jeremy barulah bisa membuka mata lebih lebar. Menatap Viona yang sedang duduk di ujung ranjang, di sampingnya. “Dimana Gabriel?” “Sedang menjemput Dokter Alea ke bawah.” “Bagaimana keadaan anda sekarang Mr. Jeremy? Apa yang anda rasakan?” Kepalanya masih pening, tapi sudah jauh lebih baik. Namun Jeremy tak mengatakan apapun. “Jangan beritahu Mama.” “Maaf Mr. Jeremy.” Jeremy mendengus. “Kenapa kamu selalu saja melaporkan apapun pada ibuku?” “Tidak Mr. Jeremy, tadi Mrs. Rosseane menelpon, bertanya keadaan anda. Saya rasa beliau sudah tahu keadaan anda tanpa saya beritahu.” “Alea.“ “Apa? Aku baru datang langsung kamu panggil.” Perempuan berparas cantik itu muncul seraya menggulung lengan kemeja lalu mengikat rambutnya yang terurai. “Viona tinggalkan kami.” Alea mengambil alih, ia berdiri di samping ranjang Jeremy. “Bagaimana keadaanmu sekarang?” “Kau yang dokter kenapa tanya padaku?” Tak! “Aw! Kenapa menjitak kepalaku? Dokter macam apa kamu itu?!” “Oh sudah sembuh.” “Kepalaku masih sakit!” “Tidak apa-apa, yang terpenting cangkangnya masih keras.” Jeremy mendesis mendengar jawaban random itu. Ia kemudian melirik ke arah cairan infus yang hampir habis. “Lagian tumben sekali kau sakit. Apakah akhir-akhir ini sangat sibuk?” “Sedikit.” “Tapi akhir-akhir ini memang demam sedang populer. Banyak yang datang dan di rawat inap karena demam dan sakit kepala sepertimu. Kemarin anak rekan kerjaku juga masuk rumah sakit, demam gak turun-turun, puncaknya tadi pagi sampai kejang.” “Oh.” “Kalau keadaanmu tidak membaik juga sebaiknya dirawat intensif di rumah sakit. Supaya ada yang menjagamu 24 jam penuh.” “Tidak. Kamu saja nginap di sini.” “Tidak! Enak saja kamu!” Itu bukan jawaban Alea, tapi Rossean. “Menikah dulu! Baru Alea boleh tinggal di sini.” Menikah lagi. Apa tidak bosan? “Mama bercanda? Aku menikah dengan Alea? Tidak mungkin.” “Emang siapa yang mau nikah sama kamu?” Alea mendesis kecil. “Infusnya sudah kuganti, aku mau makan dulu setelah itu pulang. Kalau butuh sesuatu langsung telpon saja. Bye Jer. Sampai jumpa tante.” “Alea kurang apa lagi Jer? Dia cantik, badannya bagus, karirnya cemerlang. Dia bahkan nunggu kamu dari lama, tapi kamu gak peka-peka.” “Kalau itu alasan saja Ma. Dia sebenarnya belum mau menikah karena ingin mengejar karir. Mama tahu sendiri aku temenan lama sama Alea. Aku kenal banget sama dia.” “Justru itu. Kenapa kamu gak mau?” “Ma, Mama sudah setuju gak bahas soal nikah lagi.” “Ok. Sorry. Kalau begitu bagaimana dengan anak? Kalau kamu tidak mau punya istri bagaimana kalau cari ibu pengganti saja untuk melahirkan anakmu.” “Tidak mudah Ma, mencari ibu penggantinya juga harus yang benar-benar baik bibit bebet bobotnya.” “Kamu tuh alasan saja terus! Mama mau cucu Jer.” Jeremy menghembuskan napas. “Demi Tuhan Ma, Mama masih mau membicarakan ini? Apa tidak lelah? Lagian apa Mama gak liat keadaan Jeremy?” Rosseane menghembuskan napas. “Mama akan berhenti membahas cucu setelah kamu membawa cucu—anak kandungmu ke hadapan Mama.” *** Senin keadaan Jeremy mulai membaik, dan seperti biasa ia menjemput Kai—sebenarnya ia memaksakan diri karena ia sangat merindukan Gio, ia terus kepikiran Gio. Terlebih dua malam belakangan ini Gio selalu muncul di mimpinya. Namun… “Gio tidak sekolah Kek. Sakit.” Jawab Kaisar setelah Jeremy menanyakan keberadaan anak itu. Jeremy terdiam. Gio sakit? Bagaimana bisa ia dan anak itu sakit secara bersamaan begini? Dari sekian banyak kebetulan yang ada di dunia ini bagaimana bisa mereka sakit dalam waktu bersamaan? Apakah ini hanya kebetulan? Atau… “Kek ayo pulang.” “Oh. Ayo.” “Loh! Kakek Demam?!” Seru Kai begitu Jeremy menggenggam tangan Kai. “Katanya Gio juga demam Kek, sampe kejang-kejang gitu padahal udah di bawa ke rumah sakit.” “Rumah sakit?” Kai mengangguk. “Kai, apa Kai tahu dimana Gio dirawat?” Kai terdiam beberapa saat tapi kemudian menggeleng. “Miss tidak bilang. Jadi Kai tidak tahu. Tapi mungkin di rawat di rumah sakit Papinya Kek. Papinya Gio kan dokter.” Sebelah alis Jeremy naik. Tak suka mendengar gagasan itu. “Gabriel kita ke Royal’s Hospital.” “Baik Mr. Jeremy.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD